Aldan

Aldan
Part 26



"Lo serius? Udah enggak?" ucap Monic sambil menggebrak meja kantin.


Banyak pasang mata yang menatap jengkel ke arah Monic. Lagi-lagi ia membuat rusuh. Hal itu membuat Ira harus menahan malunya lagi. Sudah sering kali Monic membuatnya terkena masalah hanya karena malu.


"Enggak apa woy?" tanya Ira pelan sambil menggeret Monic untuk duduk.


"Kemarin gue tanya sama Aldan. Dan dia bilang lo sama dia ena-ena!"


Ira langsung membulatkan matanya tak percaya. Reflek ia membekap mulut sahabatnya itu. Membuat Monic kesusahan bernafas.


"Hoax itu! Mana ada gue main sama kak Aldan!"


Ira melepaskan bekapannya lalu mencubit lengan Monic. Monic mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan pesan Aldan semalam.


Gila itu anak bisa-bisanya nyebar aib sendiri! Orang enggak ditidurin juga, cuman pelukan sambil tidur doang! Ira bangun dari duduknya lalu bersiap untuk pergi. Namun Monic lebih cepat memegang lengannya dan menahannya.


"Mau kemana?" ucap Monic.


"Nemuin kak Al—"


"Kenapa mau nemuin aku?" ucap Aldan dari arah belakang mereka.


Monic melepaskan pegangannya dan Ira berhenti melakukan kegiatannya. Seketika keduanya kembali terdiam. Sedangkan Monic perlahan jalan mundur dari Ira, membuat jarak sejauh mungkin.


"Au ah! Aku marah sama kakak," ucap Ira lalu berjalan meninggalkan Aldan.


"Kenapa dia?" tanya Aldan kepada Monic.


"Nggak tau kak, tadi katanya pengen ketemu kakak, tapi sekarang malah pergi sendiri."


"Emang dia aneh," ucap Aldan sambil geleng-geleng kepala.


"Tapi gue suka," lanjutnya lalu meninggalkan Monic.


Kok jadi gue yang di tinggal sendiri? *** ah! Aldan mengejar Ira sambil ke taman samping sekolah. Ia berlari mendekati Ira lalu memeluknya dari belakang.


"Kamu kenapa?" ucap Aldan.


"Ish! Gara-gara kakak!" ucap Ira lalu mengalihkan pandangannya.


Itu siapa yang main gitar sih! Ngerusak suasana banget! Dah gitu galau banget lagi lagunya! Ira menatap jauh ke arah seorang laki-laki yang sedang memainkan gitar di bawah pohon.


"Jadi dia lebih menarik perhatian kamu? Perlu aku main gitar biar kamu liat ke aku? Atau perlu aku nyanyi lagi biar kamu nggak marah sama aku?" ucap Aldan sambil menarik dagu Ira agar menatapnya.


Ira mengerucutkan bibirnya. "Buat apa sih kakak jadi orang lain buat bikin aku seneng? Buat apa?"


"Ya biar kamu bisa jadiin aku prioritas."


Aldan memeluk tubuh Ira dan membawanya agak menjauh dari cowok yang bermain gitar tadi.


"Lebih baik kakak jadi diri sendiri, apa adanya. Aku lebih suka kakak yang apa adanya. Kakak udah mulai nggak dingin aja aku udah mulai nggak suka. Aku kangen kakak yang dingin," ucap Ira lalu memeluk tubuh Aldan.


Bukannya gue tadi lagi marah? Kok bisa gue luluh cuman karena ucapan Aldan? Kamvret! Ira melepaskan pelukan Aldan lalu menyilangkan tangannya di dada.


"Aku masih marah! Jangan godain apalagi cari kesempatan buat peluk-peluk!" ucap Ira sambil melangkah mundur 3 langkah.


"Kenapa?" tanya Aldan sambil mengikuti Ira.


"Siapa suruh Kak Aldan bilang ke Monic kalau kita tidur di UKS! Kan Monic ngiranya aku udah nggak virgin!" ucap Ira sambil menahan dada Aldan yang semakin mendekat. Aldan tertawa, namun dia tetap saja mendekat ke arah Ira.


"Oh jadi gara-gara semalem? Kan kita emang tidur kan? Tidur bareng di kasur. Kan aku yang nemenin kamu tidur, bukan berarti tidur itu aku apa-apain kamu. Aku emang mesum, tapi aku bisa bedain, mana yang udah halal, mana yang belom halal."


Ira tersandung kakinya sendiri, membuat dirinya memegang erat lengan Aldan. Namun sayang, mereka berdua tidak bisa saling menyangga. Ira jatuh ke atas tanah, sedangkan Aldan memeluk tubuh Ira dan membuat kepala Ira tidak sampai menyentuh tanah.


"Aww!" ucap Ira.


Aldan malah tertawa, menertawakan raut muka Ira yang lucu saat ia mengerucutkan bibirnya. Untung masih bisa nahan khilaf!


"Kenapa? Sakit?" tanta Aldan.


"Enggak," ucap Ira.


"Au ah! Aku makin ngambek sama kakak!" ucap Ira lalu berbalik badan.


"Yakin nih ngambek?" goda Aldan.


Aldan berdiri dan berada di sebelah kiri Ira. Kemudian ia mentoel dagu Ira.


"Apaan sih!" protes Ira.


"Kamu lucu kalau marah," ucap Aldan.


Ira menahan sebisa mungkin untuk tidak terpancing gombalan receh Aldan. Namun sayang, pipinya menghianati. Semburat merah mulai terbentuk di kedua pipi Ira. "Nah gitu dong kalau dihibur itu seneng, buktinya itu pipi aja sampe luluh," ucap Aldan lalu memeluk tubuh Ira.


"Maaf kalau misalkan aku bikin Monic salah kira tentang kita. Aku janji nggak bakal ulangin lagi, maafin aku ya," ucap Aldan.


"Janji?"


Aldan mengangguk.


"Bener ya!" ucap Ira.


"Iya sayang," balas Aldan sambil mencium kening Ira.


"Awas sampe bohong!"


"Apa bolong?" tanya Aldan sambil menatap mata Ira.


Ira mengerucutkan bibirnya. "Bohong kak! Bukan bolong!" protes Ira.


Aldan tertawa lalu berfikir, "Bencong? Siapa yang bencong? Kayaknya nggak ada bencong di sini?" tanya Aldan.


Ira mencubit lengan Aldan, membuat Aldan meringis kesakitan.


"Kak Aldan nah bencong!" ucap Ira dengan masih mencubit lengan Aldan.


"Mana ada bencong, ku bikin tuh perut jadi aldan junior baru tahu rasa nah!"


"Apa hubungannya bencong!" ucap Ira.


Aldan tertawa terbahak-bahak. Membuat beberapa orang yang berada di sekitar mereka menatap bingung ke arah Aldan. Apalagi Ira. Jarang sekali dia melihat Aldan yang cerita seperti ini.


"Nah kamu tuh bahagia kayak gini, sering senyum. Aku kangen sama senyuman kamu. Sering-sering ya senyum." Aldan mengacak-acak rambut Ira lalu kembali memeluknya.


"Iyain," ucap Ira masih dengan nada ketus namun hati berbunga-bunga. Gombal dari mana sih nih bencong! Sa ae bikin hati lope-lope!


"Ehh sayang," ucap Aldan. Ira menatap wajah Aldan dengan penuh tampang bertanya.


"Gimana kabar bunda?" tanya Aldan.


"Bunda siapa?"


"Bunda piara, piara akan daku, sehinga aku besarlah."


Ira mencubit lengan Aldan. "Ish bisa nggak sih serius dikit," ucap Ira.


"Iya besok kalau kamu udah lulus aku seriusin."Tanpa Ira sadari pipinya kembali menghangat. Bahkan semburat merah itu semakin saja terlihat jelas.


"Iya Tante Sena apa kabar," ulang Aldan.


"Baik kok, kenapa? Kangen?"


Aldan mengangguk.


"Iya kangen sama calon mertua," ucap Aldan.


Tanpa mereka berdua sadari dari tadi, ada seseorang dengan hati yang sangat terluka. Ada pula seseorang dengan nasib yang menderita. Menyimpan segala bentuk perasaan tanpa bisa berkata. Dan mereka ini, akan hadir tak akan lama lagi.


...***...