Aldan

Aldan
Part 34



Regha memasuki kamar Ira yang tidak terkunci. Ira masih merebahkan dirinya di kasur dan memilih untuk terus diam. "Lo kenapa sih, dek?" Regha mendekati Ira dan duduk di sebelahnya.


"Kak Aldan," ucap Ira pelan.


"Kenapa lagi dia?" balas Regha sambil menatap Ira.


"Mau ke Jerman, dapet beasiswa dia."


Regha tertawa mendegarnya. "Makanya cari pacar itu yang nggak pinter-pinter banget. Jadi nggak ditinggal dapet beasiswa!"


Ira cemberut lalu memukul lengan Regha.


"Biarin! Yang penting Ira punya pacar, emang Abang? 21 tahun jomblo!"


Regha berhenti tertawa lalu menatap Ira sinis.


"Biarin! Jomblo itu free!" Regha membalas tatapan tak suka Ira.


Ira tertawa terbahak-bahak. "Free ndasmu! Freehatin iya!"


"Tau ae lo dugong!"


Ira masih saja tertawa dan mencoba mengubah posisinya untuk duduk di sebelah Regha. "Kalau Ira dugong, berarti abang itu, abangnya dugong!"


Regha tahu, pasti dia akan selalu kalah jika sudah menyangkut debat bersama Ira. Namun, hanya ini yang bisa ia lakukan agar Ira dapat kembali tersenyum. Bahkan bisa kembali tertawa.


"Lo sayang banget ya sama Aldan?" tanya Regha saat tawa Ira mulai mereda.


Ira mengangguk. "Iya bang, gue udah sayang sama dia. Makanya gue nggak mau ditinggal pas lagi sayang-sayangnya ke dia."


Regha mengangguk. "Sayang itu apa sih menurut lo, dek?"


Regha mulai masuk ke pembicaraan serius jika mata elang miliknya mulai menyipit dan menatap tajam lawan bicaranya. Terkadang Ira sering merasa terintimidasi jika Regha melakukan pandangan itu padanya.


"Sayang itu, saat gue punya seseorang yang berarti untuk hidup gue. Dan gue nggak bisa hidup, tanpa orang itu, bang."


"Lo sayang Aldan?" Regha bertanya lagi.


"Iya."


"Berarti lo nggak sayang gue, ayah, bunda, sama yang lainnya dong?"


"Sayang juga kok. Makanya gue nggak bisa lepasin kalian, karena gue nggak bisa hidup tanpa kalian."


Ira memeluk tubuh Regha. Perlahan Regha juga membalas pelukan Ira. Sorry dek.


Ira melepaskan pelukannya pada Regha lalu menatap mata Regha. "Kenapa?"


"Abang, mau ngomong."


Ira menatap bingung Regha. "Kenapa bang?"


"Kalau abang pergi gimana?" tanya Regha.


Ira langsung memeluk kembali Regha erat. "Nggak! Nggak boleh! Abang mau kemana?!"


"Abang dapet tawaran kerja ke Inggris," ucap Regha sambil mengelus rambut Ira.


"Tawaran kerja apaan? Abang kan udah kerja di perusahaan papa itu!"


Ira mempererat pelukannya pada tubuh Regha. Ia hanya ingin orang yang ia sayangi, tak lagi pergi meninggalkan dia.


"Abang dipindah sama ayah. Kata ayah, abang disuruh ke inggris, suruh belajar di sana dulu sekalian ngembangin wawasan. Habis itu abang baru disuruh kerja di Indo."


"Tapi kan, Ira nggak mau abang ninggalin Ira. Nanti Ira sama siapa kalau abang nggak ada?"


"Bunda."


Ira mengerucutkan bibirnya lalu mencubit lengan Regha. "Yaudah lah, tapi jangan lupa selalu kabarin rumah. Terus abang kapan berangkat?"


Mau tidak mau Ira harus melepaskan Regha. Cepat atau lambat semua juga akan pergi. Entah pergi untuk meraih cita-citanya, atau pergi karena kemauan orang lain. Ira paham, kepergian pasti akan hadir padanya suatu saat nanti, karena sebuah pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Karena sebuah awal pasti akan ada akhir.


Ira hanya dapat menikmati sisa-sisa hari yang baginya sangat berarti hingga orang yang ia sayangi pergi meninggalkan dirinya. Entah untuk waktu yang lama, atau waktu yang sebenatar.


"Abang pergi, bentar lagi."


"Iya kapan?" tanya Ira.


"Bulan Mei."


Bulan itu, Aldan juga pergi kak. Kenapa harus pergi barengan? Kenapa nggak sendiri dulu? Kenapa harus pergi secara bersamaan? Lo tau kan bang gue sayang kalian berdua. Gue nggak mau kalian pergi bareng dari hidup gue!


"Sorry, dan abang emang harus pergi."


Regha memeluk Ira erat dan mencium ujung kepalanya. "Abang juga sayang sama lo, dek."


...***...