
"Gilbran?" ucap Ira tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Bangun, nggak pantes cewek cantik duduk di sini."
Gilbran membantu Ira untuk bangun dari tempatnya duduk, dihapusnya air mata Ira yang masih mengalir di pipinya.
"Ayo pulang, kamu relain semuanya."
Ira hanya mengangguk, kemudian Gilbran membawa Ira masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya membelah jalanan Jakarta. Selama perjalanan, Ira hanya terdiam sambil menatap kearah luar, melihat jalanan yang seakan membuat pikirannya tenang.
"Kamu bisa cerita sama aku kalau ada masalah," ucap Gilbran.
"Aku lagi nggak mood buat cerita, kak. Maaf."
"Gilbran, nggak usah pakai kak."
Gilbran membelokkan mobilnya kesebuah kafe, ia parkirkan dan mengajak Ira untuk turun. Ira hanya terdiam dan mengikuti Gilbran, setidaknya ia ingin menginginkan seseorang yang dapat membuatnya sedikit meredakan rasa nyeri di hatinya.
"Ngapain ke sini?" tanya Ira.
"Mau nenangin kamu."
Gilbran memesan segelas cokelat panas dan juga segelas kopi.
"Aku nggak suka kopi, kak."
"Just Gilbran."
Ira mengangguk, ditatapnya butiran air yang mulai turun ke bumi. Saling berlomba untuk cepat sampai ke tanah. Menemukan tempat barunya dari awan di atas sana. Mulai hari ini, bagi Ira hujan adalah kutukan. Hujan yang dulunya mampu membuatnya tenang, sekarang berubah menjadi hujan yang mengingatkannya pada lukanya dengan Aldan.
Baginya, hujan hanyalah sebuah tetesan air tak berirama yang mengejeknya disaat dirinya sedang sedih.
"Kenapa?"
"Nggak suka hujan."
"Kenapa?"
"Karena hujan mengingatkan luka yang kak Aldan buat untukku, kak."
...***...
"Ira kamu habis jalan sama siapa?" tanya Sena saat melihat Ira yang baru saja pulang setelah mengantar Aldan di bandara.
"Sama temen, bun."
"Oh yaudah ganti baju dulu sana, terus mandi."
"Iy—"
"Breaking News! Pagi tadi, sebuah pesawat Singapore Airlines menghilang dari jalur penerbangan. Diduga pilot dan co-pilot kehilangan sinyal dan keluar dari jalur. Saat dihubungi kembali, ternyata pesawat mengalami kecelakaan di Samudra Hindia. Sampai saat ini, belum dapat dipastikan berapa jumlah korban...."
Ira berhenti melangkahkan kakinya saat sebuah siaran televisi menayangkan berita terbaru saat ini. Ia mengingat-ingat maskapai mana yang Aldan Pakai untuk ke Jerman.
"Kamu kenapa?" tanya Sena.
"Pesawat bun! Pesawat yang Bang Regha kalau enggak Kak Aldan naiki bun!"
Air mata Ira menetes, piring yang ia pegang melesat jatuh ke lantai. Menyebabkan suara pecahan kaca yang keras. Ira jatuh tersungkur ke lantai, matanya terus mengeluarkan airnya. Sedangkan tangannya sudah bergetar, semua fakta itu membuatnya ingin pergi saat ini juga. Sena memeluk tubuh Ira dan mendekapnya dalam pelukannya.
"Kita doakan dia nggak bakal kenapa-napa."
"Tapi, itu pesawat," suara Ira terhenti perlahan. Ia tak dapat melanjutkannya lagi.
Kak Aldan!
Bang Regha!
Kepergian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah awal yang akan membawa kita ke dalam lembaran yang baru. Alnira, sosok wanita kuat yang selalu memaafkan kesalahan Aldan, harus kembali menerima kenyataan bahwa satu dari antara orang yang ia sayang harus pergi karena kecelakaan pesawat.
Baginya, kepergian sudah menjadi makanannya beberapa bulan ini, yang dapat ia lakukan hanyalah berdoa dan mencoba untuk ikhlas semuanya. Karena Tuhan akan memberikan pelangi setelah hujan.
Alnira Putri Maharani, tetap di sini bersama jutaan kenangan yang membawanya pada perjalanan kisah hidup yang baru, bersama kehidupannya yang lain. Karena kepergian dan kehilangan, mengajarkannya untuk ikhlas dan juga melupakan.
...End of the story...