4K

4K
First Season•Bab IX



Reina membaca beberapa judul novel yang akan dia beli dan jadikan teman untuk malam minggunya nanti.


Reina lebih memilih menghabiskan berjam-jam waktunya dengan buku daripada harus menemani mamanya keliling mall, selain keliling mall akan membuat kakinya pegal, dia juga bukan cewek yang maniak belanja.


Jadi, Reina sekarang memilih menunggu mamanya selesai berbelanja di toko buku ini.


“Nih” seorang cowok memberikan satu buah novel kepada Reina


Reina menatap cowok itu lalu dia tersenyum dan mengambil novel itu,


“Lo ko tau gue cari ini Al?” tanya Reina


Aldo tersenyum lalu mengacak rambut Reina gemas,


“Lupa lo harus panggil gue apa?”


“Ronal” jawab Reina sambil memamerkan sederet gigi putihnya.


“Gue kenal lo udah lama Reina, jadi gue pasti tau apa yang lo suka dan lo gak suka” ucap Aldo


Reina mengangguk pelan,


“Tapi terkadang gue yang gak bisa ngerti, atau mengartikan apa maksud di balik kebaikan lo selama ini” jawab Reina


Aldo merangkulkan tangannya di pundak Reina,


“Tanpa lo mengerti sekalipun, gue akan tetap berada di sisi lo Na. Tak peduli seberapa keras lo menolak, atau orang lain mencibir. Gue tetep ada di pihak lo.” ucap Aldo yakin


Reina tertawa dia tidak menyangka bahwa perubahan dari Aldo sangat jelas terlihat, Aldo membuat pandangan Reina terhadap cowok famous berangsur membaik


awalnya Reina menganggap bahwa cowok famous hanya bisa memamerkan tampang dan kelebihan ekonomi yang mereka miliki, tapi dengan adanya Aldo semua itu berhasil dia patahkan.


“Nyokap lo mana Na?” tanya Aldo, karena dia tau bahwa Reina tidak akan pernah mau jika berangkat kemana-mana sendirian.


“Lagi belanja bulanan dan yang lainnya” jawab Reina


“Na, kenapa lo gak coba pindah dari zona nyaman lo?”


Reina menautkan kedua alisnya lalu menatap kearah Aldo,


“Pindah? Untuk apa? Kalo di zona yang sekarang aja gue udah bahagia?”


Aldo menghela nafasnya, lalu dia menatap kearah Reina,


“Siapa tau lo lebih nyaman di zona yang lain, kalo lo tetep berada disitu kehidupan lo tidak akan berubah. Lagipula Na, apa yang lo takutin?”


Reina menggeleng pelan,


“Gak ada yang gue takutin Ron, tapi gue ngerasa kehidupan gue akan berbeda kalo pindah zona nyaman”


“Iyalah pasti berbeda namanya aja pindah zona nyaman Na. Tapi, sekarang lo udah pindah Na, jadi seberapa kuat lo batesin diri untuk gak keluar dari zona nyaman lo sekarang semuanya akan sia-sia. Selamat datang Reina di dunia baru lo” ucap Aldo sambil menampilkan senyum manisnya.


“Maksud lo apa?” tanya Reina


“Udah saatnya lo pindah” jawab Aldo, lalu dia menggenggam tangan Reina,


“lo ikut gue sekarang”


Reina membulatkan matanya karena saat dia ingin protes dan melepaskan genggaman tangan Aldo dari tangannya, tangan Aldo sudah menarik tangan Reina untuk keluar dari toko buku tersebut.


Aldo menyuruh Reina masuk di sebuah butik, Reina menautkan kedua alisnya tidak mengerti.


Tapi Aldo hanya menganggukan kepalanya, lalu dia ikut masuk dan memilihkan beberapa pakaian yang pas untuk Reina.


“Coba deh lo cobain yang ini” Aldo memberikan satu dress atas lutut berwarna soft pink ke tangan Reina


Reina menggeleng pelan,


“Ngapain sih kita harus kesini? Gue kan gak niat beli baju Ron”


Aldo menghlela nafasnya lalu dia menatap Reina,


“Percaya sama gue, lo akan menyukai perubahan baru lo”


Reina mengangguk pelan, dia menuruti kemauan Aldo lalu dia masuk ke ruang ganti untuk mencoba dress yang di pilihkan oleh Aldo barusan.


Selang lima menit Reina keluar dari kamar ganti, dan memperlihatkan penampilan barunya kepada Aldo.


Aldo hanya mengangguk lalu memberikan jempolnya, tanda dia menyukai dengan penampilan Reina yang sekarang.


“Gue gak terlihat aneh Ron?” tanya Reina


Aldo menggeleng,


“Gue bosen ngeliat lo pake jeans sama kaos atau kemeja, kali-kali kaya gini kan lebih cantik” puji Aldo


Pipi Reina memanas, dia blushing karena pujian Aldo barusan.


“Na potong rambut ya?” pinta Aldo


“Kenapa?” tanya Reina


“Ya perubahan lo kurang drastis, ikut yuk”


Setelah Aldo membayar beberapa potong baju di butik itu, dia membawa Reina ke salon tempat dia mengantar mama atau kakaknya pergi.


Reina awalnya menolak tapi dia sekarang pasrah karena Aldo merayu Reina dengan berbagai cara.


Setelah satu jam berlalu sekarang penampilan Reina sudah baru, potongan rambut yang membuat wajahnya fresh dan terlihat babyface sekali, tak mengurangi kecantikan dan kemanisan seorang Reina.


“Udah kan Ron?” tanya Reina


Aldo mengangguk,


“Udah dong, mau lagi?”


“Gak lah, ribet”


Ponsel Reina berbunyi, lalu dia membaca pesan yang masuk.


“Nyokap gue nunggu di foodcourt , lo mau ikut nemuin nyokap atau lo mau balik?” tanya Reina


“Ikut dong, ketemu sama calon mertua kan Na” goda Aldo sambil mengedipkan sebelah matanya


Reina dan Aldo berjalan menuju area foodcourt untuk menemui Reni (Mama Reina) yang sudah menunggu disana.


Reina memperhatikan setiap orang yang berada di foodcourt untuk mencari tempat duduk Reni, dan akhirnya dia menemukan, Reni duduk di kursi paling ujung dengan beberapa kantong belanjaan di sampingnya.


“Buruan Ron, itu nyokap gue nunggu disana” ajak Reina, Aldo mengangguk lalu mereka berjalan ke meja Reni.


“Eh ada Ronal disini, ko bisa ketemu sama Nana?” sapa Reni pertama kali, karena dia melihat Aldo ikut dengan anaknya.


“Iya nih Tan, tadi ketemu Reina di depan yaudah ikut aja” jawab Aldo


Reni mengerutkan keningnya, lalu dia menatap dan menilai anaknya dari ujung kaki hingga ujung kepala berulang-ulang.


“Nana, kamu belanja ini semua uangnya dari mana? Mama kan hanya kasih uang buat beli buku aja?” tanya Reni, karena dia bingung dengan penampilan baru anaknya ditambah Reina membawa beberapa kantong belanjaan di tangan kanan dan kirinya.


Reina tersenyum lalu dia duduk di sebelah Reni,


“Ronal yang traktir Reina”


Kini tatapan Reni melihat kearah Aldo,


“Ronal yang beliin Reina sebanyak ini? Ada apa ? Duh Tante jadi gak enak gini”


Aldo menggeleng lalu dia duduk di depan Reni dan Reina,


“Gapapa tante, Ronal emang bosen aja liat penampilan Reina yang selalu pake jeans melulu, jadi udah aja Ronal culik dan dandanin Reina kaya gini” jawab Aldo


Reni hanya tertawa mendengar jawaban Aldo barusan, sejujurnya dia juga bosan karena anak gadisnya tidak terlalu memperhatikan penampilan, Reina terlalu cuek untuk hal itu.


“Sebagai gantinya, tante traktir kamu makan sekarang” ucap Reni


Aldo mengangguk,


“Tapi kalo bonusnya sama anak tante aja Ronal ikhlas tante”


Reni menautkan kedua alisnya, lalu dia menoleh ke sampingnya melihat Reina mengerucutkan bibirnya karena godaan Aldo barusan, lalu Reni mengangguk.


“Kamu mau sama Reina yang moodnya gampang berubah?” tanya Reni


“Gak masalah tante, lagian Ronal kan udah kenal Reina dari dulu” jawab Aldo percaya diri.


Dia memang telah mengenal Reina dari dulu, dan juga telah memperhatikan setiap aktivitas yang dilakukan oleh Reina selama ini. Karena Reina adalah candu untuk Ronaldo.


Reina tersenyum kecut, Aldo memang dekat sekali dengan Reni. Hal itu membuat dia berpikir, bagaimana jika nanti dia di jodohkan dengan Aldo atas kemauan dari orangtuanya dan juga orang tua Aldo.


“Tante sih setuju aja kalo Reina sama kamu. Lagipula tante juga udah kenal sama orang tua kamu, dan tante tau gimana sifat dan karaker kamu”


Reina membulatkan matanya, bahaya jika Reni sudah memberi lampu hijau dan memberi hati untuk Aldo.


Aldo hanya tinggal meluluhkan hati papahnya saja untuk mendapatkan restu, Reina tidak akan menolak jika itu perintah dan kemauan dari kedua orangtuanya.


Apa Aldo akan melakukan tindakan selicik itu hanya untuk mendapatkan Reina?


“Nananya suka sama Ronal gak?” tanya Reni kepada anak gadisnya.


Reina hanya diam dia fokus kepada makanan yang kali itu baru datang, dia mengabaikan pertanyaan Reni karena Reina tidak tau harus menjawab apa.


Masalah ini, adalah masalah Reina dan Aldo, Reni tidak perlu ikut campur.


“Ronal, tante mau tanya kemarin Reina beneran jatoh apa gimana? Kok sudut bibirnya luka kaya gitu?”


UHUK,, Reina tersendat saat sedang makan karena pertanyaan Reni barusan.


Aldo menatap kearah Reina, terlihat Reina meminta tolong agar Aldo tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi kepada Reni karena itu akan semakin membuat Reni khawatir, atau yang lebih mengerikan bisa terjadi seperti Reni datang ke sekolahnya dan memarahi orang-orang yang telah menyebabkan bibir Reina terluka.


Aldo menghela nafasnya, lalu dia menggeleng pelan,


“Ronal gak tau tante, tapi kemarin ada yang bilang sama Ronal bahwa....”


Aldo dengan sengaja menggantungkan ucapannya, dia ingin melihat reaksi terkejut Reina.


Aldo menatap kearah Reina dengan satu alisnya terangkat, Reina menggelengkan kepalanya, dia sangat takut jika Aldo mengatakan yang sebenarnya.


“Bahwa apa Ronal, jangan bikin tante penasaran”


“Bahwa ada orang yang jatoh di toilet, mungkin itu Reina” sambung Aldo, akhirnya Reina bisa bernafas dengan lega


Reni mengerutkan keningnya tak percaya,


“Nana bukannya kamu bilang sama mama jatoh di perpustakaan gara-gara ke pentok sama meja ya?” tanya Reni


Aldo membulatkan matanya lalu dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali,


“Kan Ronal bilang kalo ada orang yang jatoh di toilet, bukan berati itu Reina tante”


Reni mengangguk mengerti lalu dia menatap kearah Reina dan Aldo yang kini sedang bernafas dengan lega karena alibinya berjalan dengan mulus.


“Ronal boleh tante minta sesuatu hal sama kamu?”


Aldo mengangguk pelan,


“Boleh dong tante, buat calon mertua apa sih yang gak boleh?”


Reina menginjak kaki Aldo supaya dia tidak cari muka di depan mamanya, sedangkan Aldo hanya tersenyum tanpa dosa kearah Reina.


“Tolong kamu jagain Reina selama di sekolah, tante khawatir akhir-akhir ini mood Reina terlalu gampang berubah, tante takut terjadi apa-apa di sekolahnya. Kamu tau sendiri Ronal kalo lagi ada masalah Reina gak akan cerita sama tante"


“Mama kepo sih jadi Reina males cerita sama mama” cibir Reina


“Siap tante, tante tenang aja bersama dengan Ronal Reina akan aman” jawab Aldo


“Ma”


“Kamu gak boleh jauh-jauh dari Ronal selama di sekolah, mama takut nanti ada yang bikin kamu sakit hati. Kalo Ronal mama percaya, dia gak akan sakitin hati kamu”


Reina hanya bisa mendesah pelan, kali ini dia harus membiarkan kemenangan Aldo.


Reina tau dan dia percaya bahwa Aldo tidak akan pernah menyakitinya, karena Reina mengerti betul orang seperti apa dan bagaimana Aldo.


Tetapi tetap bersama Aldo di sekolah bukan pilihan terbaik, itu akan semakin membuat Reina sulit selama berada di sekolah.