4K

4K
First Season•Bab V



Rino menatap kearah Aldo yang kini tengah mengetikkan sesuatu di ponselnya, raut wajahnya gelisah membuat Rino terus memperhatikan setiap gerak gerik yang dilakukan oleh Aldo.


“Kenapa lo Al?” tanya Rino penasaran


Aldo mendesah pelan, lalu dia menutup matanya dan menghela nafasnya berat.


“Al jangan hanya karena di tolak sama Reina lo jadi stres kaya gini deh” ucap Adam


“Aldo ditolak Reina?” tanya Rino tak percaya


Leon mengangguk pelan,


“Lo gak tau apa? Video Aldo waktu di tolak Reina kan kesebar, katanya si Siska nyebarin terus jualin video itu”


Aldo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tatapan matanya beralih dari layar ponsel ke teman-temannya.


“Bukan, bukan karena Reina nolak gue. Tapi, gue gak mau Reina kena bully di media sosial hanya karena dia nolak gue, itu hak dia kalo nolak gue, gue sama sekali gak marah sama Reina”


Rino menghela nafasnya gusar, dia tidak mengerti mengapa Reina begitu menjadi candu untuk Aldo, sampai dia lebih mementingkan Reina daripada dirinya sendiri.


“Al, gue ada solusi supaya lo bisa deket lagi sama Reina, mau tau gak?” tawar Rino


Aldo menoleh ke sumber suara, lalu dia menaikkan sebelah alisnya untuk menjawab pertanyaan Rino barusan.


“Kita jadiin dia taruhan, gimana?”


Aldo menggeleng tegas, dia tidak menyangka bahwa solusi dari Rino sangat keterlaluan.


Aldo sangat sayang kepada Reina mana mungkin dia tega menjadikan Reina sebagai bahan taruhan Rino.


“Dam, Eon lo berdua setuju sama usul gue?” tanya Rino


“Apa keuntungannya kalo gue menang?” Adam menjawabnya dengan pertanyaan lagi


Rino terlihat berpikir sejenak, lalu dia mengangguk,


“Selain bisa mendapatkan Reina yang sangat di gilai oleh Aldo, yang menang juga bisa meminta apapun kepada yang kalah, menguntungkan bukan?” tawar Rino


Adam dan Leon langsung mengangguk setuju mendengar kata ‘apapun’, itu artinya mereka bisa meminta apapun nantinya jika mereka yang menang, dan mereka pikir untuk mendapatkan Reina tidaklah sulit hanya mendekatinya, karena semua cewek sama aja.


“Al lo setuju gak?”


Aldo tetap menggeleng tegas, dia sama sekali tidak setuju dengan usul Rino barusan.


Dia tidak mau jika nanti Reina tau dia akan marah kepada Aldo, kemarahan Reina yang Aldo hindari, sudah cukup Reina menolak perasaannya, Aldo tidak mau Reina menjauh darinya.


“Al, dengan gini kesempatan lo dapetin Reina, semakin besar” Rino terus membujuk Aldo


“Sekali enggak ya enggak”


Rino menghela nafasnya, lalu dia menepuk pundak Aldo,


“Al denger, dengan lo jadiin Reina taruhan kesempatan lo dapetin Reina menjadi sangat besar, lo sendiri yang bilang bahwa Reina benci menjadi fokus utama, secara tidak langsung taruhan ini begitu menguntungkan lo”


Aldo menautkan kedua alisnya bingung dengan ucapan Rino barusan.


“Jadi gini Al, yang akan mendekati Reina gak cuma gue atau lo aja tapi Adam dan Leon ikut andil disini. Kita adalah fokus utama di sekolah, secara tidak langsung Reina akan semakin dekat dengan lo, gue, Adam dan Leon.


Jika Reina di suruh memilih diantara kita berempat dia pasti akan memilih lo, karena dia udah kenal lo dari lama.


Selain lo bisa mendapatkan Reina, lo juga bisa mendapatkan apapun dari gue, Adam dan Leon, sangat menguntungkan bukan?”


Aldo terdiam sejenak, dia terus memikirkan penawaran dari Rino barusan.


hampir semua yang diucapkan Rino barusan memang benar, taruhan ini bisa menjadi peluang besar untuk Aldo bisa mendapatkan Reina.


tapi Aldo takut bagaimana jika Reina mengetahui ide gila Rino, Aldo yakin Reina akan sangat marah nantinya.


“Tapi, kalau Reina tau dia di jadiin taruhan gimana?” tanya Aldo khawatir


“Kalo diantara kita gak ada yang ngasih tau dia, dia gak akan tau”


Akhirnya Aldo mengangguk setuju dengan alasan bahwa rahasia ini tidak boleh sampai ke telinga Reina.


-4 R-


Rino memperhatikan seorang cewek yang tengah menunggu angkutan umum lewat, dia merasa mengenali postur tubuh cewek tersebut.


Rino menyipitkan matanya untuk memperjelas siapa cewek itu, sampai satu senyuman tercetak di bibirnya, Rino melajukan motornya dengan kecepatan standar lalu dia berhenti tepat di depan cewek yang tadi dia perhatikan.


“Reina ya?” tanya Rino


Reina yang merasa dirinya di panggil, langsung menoleh ke sumber suara.


“Lo kenal gue kan?” tanya Rino lagi


Reina hanya diam tak menjawab, dia memperhatikan setiap angkutan umum yang lewat di depannya dan semuanya penuh dengan penumpang.


“Kalo gitu, kenalin nama gue Rino dan gue udah tau nama lo pasti Reina Pinandita kan?”


Reina tetap diam tak menanggapi pertanyaan Rino barusan yang menurutnya basi, sesuatu yang dia sudah tau jawabannya tetapi tetap dia tanyakan.


“Hei Reina, mau bareng gue ke sekolah?” tawar Rino


Reina menggeleng dan tersenyum sopan,


“Terimakasih tawarannya, tapi itu gak perlu”


Rino melepaskan helmnya lalu dia menyimpannya di tangki motor,


“Yakin? Ini udah siang loh”


Reina mengangguk, tatapan matanya tidak menatap kearah mata Rino. Reina tidak mau berkontak mata dengan orang yang menurutnya baru dan asing di hidupnya.


“Cuma berangkat bareng aja loh Na”


“Masa lo gak mau sih Na, ayo dong gue gak akan minta lo bayar ko”


“Na, Reina”


Reina yang merasa lelah karena Rino tak kunjung diam, lalu dia menatap kearah Rino hingga tatapan mereka bertemu, dan Rinolah yang pertama kali mengalihkan tatapannya dari Reina.


“Kenapa lo mau nganter gue ke sekolah?” tanya Reina dingin


Rino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali,


“Karena....”


“Karena apa?” tanya Reina mengulang ucapan Rino barusan


“Karena....”


“Lo sendiri gak bisa jawab kan? Gak usah sok kenal sama gue, bisa?”


Rino menghela nafasnya, lalu dia kembali menatap kearah Reina,


“Karena kita satu sekolah, dan ini sudah siang mengingat tidak ada angkot kosong yang melewat jadi gue menawarkan diri untuk mengantarkan lo berangkat sekolah” jawab Rino akhirnya


Reina melihat jam yang tertempel manis di pergelangan tangannya, benar saja sepuluh menit lagi bel masuk akan berbunyi, jika menggunakan angkutan umum tidak akan bisa di tempuh dengan waktu sepuluh menit.


“Gimana Na?”


Reina tetap diam, kali ini dia lebih memilih kesiangan daripada diantar oleh orang yang sama sekali tidak dia kenal.


“Pelajaran pertama lo hari ini bu Tiwi kan? Yakin milih telat?” tanya Rino sambil tersenyum kearah Reina


Reina memukul kepalanya, kenapa dia begitu ceroboh tidak mengingat jadwal hari ini.


Kalau tau tidak akan ada angkutan umum yang kosong hari ini, dia memilih berangkat bersama dengan Aldo dan nanti di pos depan sekolah dia bisa minta turun dan jalan kaki untuk sampai di sekolahnya.


“Na?”


Rino menyerah mengajak Reina berangkat bareng, dia tidak tau bahwa Reina begitu keras kepala dengan pendiriannya.


Rino kembali memakai helmnya, dan menstrater motornya.


Reina yang mendengar deru mesin motor Rino,


“Oke, gue berangkat bareng dengan lo tapi dengan satu syarat” pinta Reina


Aldo membuka kaca helmnya, lalu dia mematikan mesin motornya.


“Apa?”


“Lo turunin gue di pos depan, jadi gak ada yang tau kalo gue berangkat bareng sama lo”


Rino mengangguk, “Yaudah naik”


Reina mau tidak mau langsung naik ke motor Rino dengan susah payah, entah motor Rino yang kebesaran atau Reinalah yang terlalu kecil.


Rino menstrater motornya dan langsung melajukan motornya dengan kecepatan yang melebihi batas maksimal, dengan modus siapa tau Reina memeluknya, tapi ternyata Reina hanya diam dia tidak memeluk Rino, bahkan Reina tidak memegang jaket yang dikenakan oleh Rino untuk sekedar pegangan.


“Turunin gue di depan” perintah Reina, tapi Rino tidak mendengarkannya dia tetap melajukan motornya hingga melewati pos yang telah mereka sepakati diawal tadi.


Reina terus-terusan meminta agar Rino menurunkannya, tapi dengan keras kepala Rino tetap menjalankan motornya hingga mereka sampai di parkiran sekolah.


Semua orang yang berada di sekolah menatap ke titik yang sama, dimana ada Reina dan Rino di sana.


Reina ingin mengutuk orang yang memberinya tumpangan ini, jika hasilnya akan seperti ini dia lebih memilih kesiangan dan di hukum oleh bu Tiwi daripada dia menjadi pusat perhatian lagi.


sudah cukup masalah dirinya dengan Aldo kemarin yang belum selesai, masalah dia berangkat bareng dengan Rino tidak usah jadi permasalahan.


“Sampai dengan selamat kan?” tanya Rino dengan smirk yang terlihat jelas di wajahnya


Reina tak menjawab, dia langsung meninggalkan Rino di parkiran.


Rino hanya menatap Reina sampai punggung Reina benar-benar tidak terlihat oleh matanya,


“Selamat datang di dunia gue Reina Pinandita” bisik Rino dalam hati.


Reina berjalan menuju kelasnya, tatapan mengerikan dia dapatkan dari orang-orang yang berada di sekitarnya.


Reina menggeleng tegas dia harus berpikir positif dan beranggapan bahwa orang-orang itu tidak sedang menatap kearahnya.


“Gue sekarang tau, kenapa dia nolak Aldo karena dia lagi ngincer Rino yang lebih ganteng dan kaya dari Aldo, pinter banget ya taktiknya?” cibir seorang cewek yang kali itu kebetulan berjalan melewati Reina.


Reina langsung menolehkan kepalanya ke cewek yang barusan berbicara tentang Aldo dan Rino.


“Kenapa? Ngerasa kalo lo licik?” tanya cewek itu


Reina langsung mengalihkan tatapannya lagi, dia tidak ingin berhubungan dengan orang-orang baru yang akan mengganggu kehidupannya, tapi semua itu sia-sia karena....


“Hai Reina kenalin gue Leon” ucap seorang cowok sambil mengulurkan tangannya kearah Reina


Reina hanya diam tak merespon ucapan cowok yang kini berada di depannya.


Leon yang tak mendapat signal dari Reina dia langsung mengambil inisiatif untuk menarik tangan Reina untuk salaman tanda mereka sudah berkenalan.


“Lo gak perlu kenalin diri lo, karena gue udah tau. Btw akun instagram gue lo accept ya jangan lupa followback” Leon mengedipkan sebelah matanya lalu pergi meninggalkan Reina yang masih berdiri mematung.


“Gila itu cewek pake pelet apaan, udah di tembak Aldo, berangkat bareng bareng Rino, sekarang di ajak kenalan sama Leon, gak sekalian aja si Ad---“


“Hai Reina, lo pasti belum sarapan kan?” tanya seorang cowok yang kini ada di depan Reina sambil membawa kotak makan.


Reina menghela nafasnya, lalu dia melirik ke kiri dan ke kanan semuanya kini tengah menatap kearahnya, Reina tidak bisa membiarkan ini terjadi.


Dia melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas, niat untuk kabur dari hadapan cowok yang sama sekali dia kenal.


Tapi, tangan cowok itu menahannya,


“Gue Adam Saputra, lo Reina Pinandita kan? Ini gue bawa bekel buat lo, belajar ya rajin ya Reina” Adam mengusap rambut Reina dengan gemas lalu dia pergi meninggalkan Reina.


Jika Reina bisa memilih kematiannya, Reina ingin mati detik ini juga atau dia pingsan. Reina tidak bisa tahan dengan tatapan horror cewek-cewek alay di sekolahnya.