4K

4K
Sub Zero•Bab 5



Raka melihat jam yang tertempel manis di pergelangan tangannya, lalu dia melihat keadaan di sekitarnya.


Suasana kafe ini sangat sepi, Raka sudah menunggu dan menghabiskan tiga gelas kopi di meja ini, meja yang sama tanpa berpindah atau melakukan aktivitas lainnya.


Raka memutuskan untuk menemui orang yang mengiriminya surat, entah bagaimana pikirannya berubah menjadi ingin menemui orang ini.


Raka menghela nafasnya pelan, seharusnya dia tidak berharap lebih kepada manusia karena itu akan semakin menyakiti hatinya.


Pintu kafe terbuka, memperlihatkan seorang wanita yang sangat cantik dan juga elegan. Wanita itu berjalan mendekati meja Raka.


Raka menoleh kekanan dan kekirinya tidak ada orang di samping meja dia, artinya wanita yang baru datang itu menuju kearah mejanya.


Wanita itu duduk di depan Raka, “Raka Prayoga?” tanyanya


Raka hanya mengangguk pelan


“Apa kabar Raka?”


Raka menelan ludahnya dengan susah payah, dia masih tidak menyangka dengan wanita yang duduk di depannya ini.


“Anda—“


“Saya ibu kamu. Ibu kandung kamu”


Raka memaksakan senyumnya, entah bagaimana dia menggambarkan perasaannya kali ini. Dia tidak tau senang, marah, kecewa, atau sedih. Yang jelas, semuanya bercampur aduk.


“Maafkan mama Raka, mama gak bisa ngerawat Raka selama ini.”


“Gapapa”


Sarah— Mama Raka, memnbuka tasnya lalu dia memberikan amplop coklat kearah Raka.


Raka menautkan kedua alisnya, dia masih bingung dengan apa yang dimaksud Sarah. Tapi, tangannya terulur untuk mengambil amplop itu.


“Buka Raka, itu bukti bahwa kamu emang anak mama.”


Raka mengangguk pelan, lalu dia membuka amplop yang berisi tentang USG, poto-poto saat Raka masih bayi, akta kelahiran, dan juga poto Sarah bersama dengan ayahnya. Ada beberapa surat pernyataan disana.


Raka menyimpan kembali amplop itu di meja.


“Lalu untuk apa ini semua?” tanya Raka dengan suara bergetar


“Mama kangen kamu. Mama tidak pernah bermaksud untuk membuang kamu, tapi itu adalah hukuman yang harus mama jalani.”


“Hukuman?”


Sarah mengangguk pelan, lalu dia mengeluarkan selembar surat dari tasnya lagi.


“Baca, mungkin ini sudah saatnya kamu tau yang sebenarnya.”


Raka mengambil kertas itu, dan di baca satu kata demi kata dengan teliti. Disana tertulis pernyataan bahwa Sarah meminjamkan rahimnya untuk mengandung Raka, dan setelah Raka lahir ke dunia Sarah akan menyerahkan Raka tanpa mengganggu kehidupan Raka, sampai Raka genap berumur 17 tahun.


“Rasanya saya itu seperti barang yang bisa di pindah tangankan sesuka hati,” ucap Raka pelan


Sarah menggeleng lalu tangannya menggenggam kedua tangan Raka,


“Kalau saja keadaannya tidak sulit, mama tidak akan melakukan hal itu Raka.”


“Kenapa harus dengan meminjamkan rahim?”


Sarah tersenyum simpul kearah Raka, “Karena mama butuh uang.”


Raka mencibir, lagi-lagi tentang uang. Apakah tidak ada yang lebih penting dari uang?


“Raka yang jelas mama tidak membiarkan kamu begitu saja. Mama selalu memantau keadaan kamu, kamu anak mama. Darah daging mama. Terimakasih udah mau menemui mama hari ini.”


Raka mengangguk pelan, “Terimakasih telah menganggap saya sebagai anak bukan hewan”


Sarah melebarkan matanya, dia tidak menyangka bahwa Raka akan mengatakan kalimat seperti barusan.


Dia tau bagaimana kehidupan Raka bersama dengan keluarga ayahnya, tidak ada satupun dari mereka yang menerima kehadirannya, karena Raka akan menguasai seluruh harta mereka.


“Raka marah sama mama?” tanya Sarah


Raka menggeleng, “Saya gak tau harus gimana. Yang jelas, ini begitu baru maaf ma”


Raka sangat canggung memanggil wanita di depannya ini dengan sebutan ‘Mama’ karena memang Raka tidak pernah memanggil siapapun dengan panggilan ‘mama’.


“Ibu bersikap baik sama kamu?”


“Baik atau tidaknya, dia yang merawat saya sehingga tujuh belas tahun ini”


Sarah menghela nafasnya pelan, lalu dia menatap kearah Raka. Dia begitu bangga memiliki anak seperti Raka. Karena, Raka tumbuh menjadi pribadi yang kuat, dan sangat tampan.


“Kamu tampan seperti ayahmu” ucap Sarah tulus


“Tidak, mereka mengatakan bahwa saya mirip dengan orang yang telah melahirkan saya,”


“Benarkah kamu mirip sama mama?”


Raka menghela nafasnya, lalu dia menatap dengan lelah kearah Sarah. Dia tidak bisa membenci Sarah, hatinya tidak mengizinkan.


Bagaimanapun juga Sarah tetaplah ibunya, orang yang telah mengandung Raka selama 9 bulan, dia yang telah memperjuangkan hidup dan mati untuk melahirkan Raka ke dunia.


Meskipun bukan Sarah yang merawat Raka selama tujuh belas tahun terakhir ini.


“Kamu mau tinggal bersama dengan mama Ka?” tawar Sarah


Raka tersenyum lalu dia menggeleng, “Gak bisa”


“Kita pergi, mama ingin menghabiskan waktu bersama Raka. Bisa?” ajak Sarah


Raka mengangguk pelan, dia ingin mengetahui orang seperti apa Sarah. Dia ingin lebih mengenal siapa mamanya.


Sarah membayar bill Raka, lalu mengajak Raka untuk keluar dari kafe dan masuk ke mobilnya.


Raka mengerutkan keningnya bingung, mobil Sarah sangat mewah. Lalu kenapa Sarah kekurangan uang dan meminjamkan rahimnya. Dia mencium kebohongan disini.


“Kamu pasti mikir mama bohong ya Ka?”


Raka menggeleng dan segera menetralkan raut wajahnya agar Sarah tidak bisa membaca apa yang sedang Raka rasakan.


.


“Mama dulu emang butuh uang Ka untuk biaya operasi nenek kamu. Tapi, sekarang mama udah nikah dan punya dua anak, dia adik kamu.”


Sarah melajukan mobilnya kearah selatan, Raka tidak tau kemana Sarah akan membawanya. Dia tidak mau berkomentar, biar saja Sarah yang akan bercerita tentang kehidupannya.


Sarah tersenyum, “Kamu tidak baca di surat pernyataan itu, bahwa mama gak boleh ketemu kamu sebelum kamu berumur 17 tahun. Mama bukan tidak mau ketemu sama Raka seperti hari ini, hanya saja pernyataan itu menggunakan materai. Raka ngerti kan?”


“Raka ngerti”


Mobil Sarah memasuki perumahan di kawasan elite, Raka sangat yakin bahwa orang yang menikahi Sarah adalah orang kaya.


“Kita pulang ke rumah dulu, mama mau kenalin kamu sama kedua adik kamu”


Raka hanya diam, dia tidak bersuara.


Mobil Sarah berhenti di halaman yang terhampar luas, rumahnya seperti istana. Dugaannya tidak salah.


“Turun Ka”


Raka mengangguk, lalu dia turun dari mobil dan mengikuti Sarah di belakang yang berjalan masuk kedalam rumahnya.


“Dona, Doni, liat siapa yang mama bawa” teriak Sarah saat baru masuk kedalam rumah


Dua anak kecil kini berlari kearah Sarah, Raka tidak terlalu suka anak kecil karena menurutnya itu akan merepotkan.


“Kak Raka ya?” tanya seorang gadis kecil dengan mata berbinar menatap kearah Raka


Raka menurunkan tinggi badannya dengan cara membungkukkan tubuhnya,


“Kamu siapa?” tanya Raka, dia berusaha terlihat seakrab mungkin.


“Dona”


“Kak Raka ikut main PS yuk sama Doni” tangan Raka di tarik oleh Doni


Sarah hanya tersenyum, karena dia memang memperlihatkan wajah Raka kepada dua anaknya itu. Sarah tidak mau memulai hidup barunya dengan kebohongan, sudah cukup masalalunya yang kelam.


Raka berjalan kearah ruang televisi dimana banyak mainan anak kecil, dan PS keluaran terbaru ada disana, lalu Doni menyuruh Raka untuk duduk.


“Kak Raka main PS ya sama Doni, abisnya kalo main sama Dona dia selalu kalah mulu” ucap Doni


“Lagian udah di bilang Dona gak mau masih aja maksa, Dona kan cewek gak suka main orang berantem kaya gitu,” cibir Dona


Doni memberikan stik PS nya ke tangan Raka, mau tidak mau Raka menerimanya. Raka dan Doni bermain PS bersama, Raka memang suka bermain Ps atau games online lainnya. Hal itu, membuat Doni cemberut karena selalu kalah dan tidak di beri kesempatan untuk membalas.


“Kak Raka pasti curang mainnya, masa menang mulu,” cibir Doni


“Itu palingan Doninya aja yang gak bisa main, kak Raka kan keren” balas Dona, lalu dia mengalungkan tangannya di leher Raka.


Baru kali ini Raka menikmati masa-masa bersama dengan anak kecil, mungkin karena mereka satu darah dengan Raka.


“Dona, Doni ajak kak Rakanya ke ruang makan. Bentar lagi papa pulang” pinta Sarah


Dona dan Doni dengan sigap menarik tangan Raka untuk mengikuti mereka, ternyata dua anak ini bukanlah anak rewel seperti yang Raka bayangkan. Mereka cukup ceria, menikmati masa kecil dengan semestinya.


Dona menarikan kursi untuk Raka duduk, Raka cukup terenyuh yang dilakukan Dona untuknya. Bagaimana mungkin anak sekecil Dona bisa memperlakukan tamu dengan begitu hormat dan sopan seperti ini.


Biasanya jika anak kecil sudah semandiri ini, artinya didikan dari orangtuanya yang paling utama. Karena, sekolah pertama untuk anak-anak adalah orangtua terutama ibu.


“Dona sama Doni, seneng gak ada kak Raka?” tanya Sarah


Dona mengangguk antuasias, “Seneng dong Ma, nanti ada yang jagain Dona kalo di jailin sama temen-temen Dona dan juga Doni”


“Kalo Doni seneng?”


Doni mengangguk, “Iya ma seneng, jadi ada yang temenin Doni main PS gak kaya Dona cupu”


Sarah menatap kearah Raka, “Kamu seneng kenal dengan kedua adik kamu sekarang?”


Raka diam, dia menatap kearah dua anak kecil yang duduk di samping kanan dan kirinya, mereka menatap Raka dengan tatapan tanpa dosa.


Apakah Raka marah dan iri kedua adiknya karena mereka mendapatkan kasih sayang yang seharusnya? Tentu saja dia iri dan marah, tapi melihat keceriaan Dona dan Doni membuat Raka urung untuk menolaknya, ditambah sifat terbuka Dona dan Doni saat menerima membuat Raka tersentuh.


Raka mengangguk pelan, “Iya”


“Kak Raka tinggal disini kan ma sekarang?” tanya Dona


“Coba kamu tanya kak Rakanya sendiri” jawab Sarah


Lalu Dona menatap kearah Raka, “Kak Raka tinggal disini kan sekarang?”


“Eh—“


“Kak Raka tinggal sama kita kan sekarang?” ulang Dona


Raka menggeleng pelan, “Kalo sekarang gak bisa. Nanti ya kalo masalahnya udah selesai”


Dona mengangguk, “Tapi, kak Raka janji kan akan selalu kesini?”


“Kak Raka juga harus janji nemenin Doni main PS” pinta Doni


Raka hanya diam, lalu dia menatap kearah keduanya dan mengangguk pelan.


“Kak Raka janji akan sering main kesini”


Sarah bisa bernafas dengan lega, Raka bisa menerima kehadirannya.


“Bentar papa pulang, kalian tunggu disini ya sama kak Raka” ucap Sarah sambil meninggalkan mereka di ruang makan.


Inilah yang Raka takutkan, dia belum siap bertemu dengan orang yang otomatis akan menjadi papanya nanti.


“Kak Raka tenang aja papa orangnya baik” bisik Dona


Raka hanya tersenyum sekilas untuk menanggapi ucapan Dona barusan, dia tidak tau apa memang benar seperti itu atau tidak.


Sarah berjalan dengan seorang pria di sampingnya. Lalu pria itu duduk di meja makan tanpa ganti baju terlebih dahulu.


“Kamu Raka?” tanyanya kearah Raka


Raka hanya mengangguk pelan


“Selamat datang di rumah ini, maaf kami baru bisa menemuimu sekarang.” Ucap pria itu


Raka hanya tersenyum simpul, “Gapapa”


“Kamu panggil saya papa. Karena sekarang saya papa kamu”


“Iya pah—“


Pria itu kembali berdiri lalu berjalan menuju lantai dua diikuti dengan Sarah di belakangnya.