
Aldo menunggu tepat di depan rumah Reina untuk mengajaknya berangkat bersama. Setelah kejadian Reina menolak Aldo, hubungannya dengan Reina sempat merenggang.
Aldo ingin memperbaiki hubungannya dengan Reina sekarang, dia tidak bisa jauh dari Reina, karena Reina adalah candu untuk Aldo.
Pintu rumah Reina terbuka, dengan sigap Aldo berdiri dan tersenyum kearah Reina yang kali itu membulatkan matanya karena kaget melihat Aldo.
Reina berjalan kearah Aldo, lalu dia tersenyum kikuk,
“Ngapain nunggu gue Al? Terus kenapa ada sepeda juga?” tanya Reina, dia bingung di samping Aldo ada sepeda bukan motor atau mobil seperti biasanya.
Aldo tersenyum memamerkan sederet gigi putihnya,
“Lo kan pernah cerita sama gue Na, kalo lo pengen berangkat sekolah pake sepeda biar kaya di drama korea, dan sekarang gue bisa kabulin keinginan lo” jawab Aldo.
Reina terkekeh pelan mendengar jawaban Aldo yang sangat berbeda dengan biasanya.
Dulu, Aldo akan memarahi dan menceramahi Reina jika dia menonton drama korea sampe Reina bawa perasaan, karena menurut Aldo hal yang di tonton oleh Reina akan berpengaruh terhadap kehidupan nyata Reina.
“Gue mau minta maaf sama lo Na, kemarin gue udah buat lo masuk ke dalam suatu masalah yang pasti lo gak suka.” ucap Aldo pelan sambil menundukkan kepalanya.
Reina menepuk pundak Aldo,
“Gak usah minta maaf, gapapa. Lagipula lo udah nebus kesalahan lo kemarin dengan wujudin permintaan gue, berangkat sekolah pake sepeda.”
“Boleh gue minta satu permintaan lagi sama lo Na?”
Reina menautkan kedua alisnya,
“Satu lagi? Apa?”
“Ini agak geli sih permintaannya, jadi gini Na,”
“Apa?”
“Bisa gak lo panggil gue Ronal kaya dulu lagi?” pinta Aldo
“Ronal? Nama kecil lo?” lalu Reina mengangguk pelan,
“kenapa? Bukannya setelah kita masuk sekolah, lo selalu marah kalo gue panggil Ronal?”
“Gue lebih nyaman lo manggil gue Ronal, karena berbeda dengan yang lainnya, yang artinya lo lebih mengenal gue daripada yang lain, tentu saja Ronal dan Aldo beda. Ronal adalah cowok biasa teman kecil Reina, jadi dimulai hari ini gak ada lagi nama Aldo” putus Aldo
“Tapi kan tetep aja, temen sekolah kenal lo dengan nama Aldo, dan Aldo banyak penggemarnya”
Aldo menatap Reina lembut, lalu dia menempelkan kedua tangannya di bahu Reina.
“Semua orang kenal gue dengan sebutan nama Aldo, sedangkan lo dan keluarga deket gue aja yang manggil gue Ronal. Jadi sekarang gak ada perbedaan antara Ronal dan Reina”
Reina menggelengkan kepalanya tak mengerti, sikap Aldo pagi ini sangat berbeda dari biasanya.
Perubahan sikapnya membuat Reina tertawa sekaligus bingung di waktu yang sama.
“Berangkat Na, udah siang nanti kita terlambat” ajak Aldo
Reina mengangguk lalu dia langsung naik ke sepeda Aldo, kemudian Aldo mengayuhnya agar mereka bisa sampai di sekolah.
Jarak dari rumah Reina menuju sekolah cukup jauh, hal itu membuat Reina menjadi tidak enak kepada Aldo.
hanya untuk mewujudkan keinginan Reina yang konyol, Aldo harus rela mengayuh sepeda dengan jarak yang cukup jauh.
“Al lo gak cape?” tanya Reina
“Panggil gue Ronal, baru beberapa menit aja lo udah lupa.” ingat Aldo
“Eh iya, Ronal lo gak cape?” Reina mengulang pertanyaannya
Aldo menggeleng pelan,
“Gak lah ini menyenangkan” jawabnya
Akhirnya Reina hanya diam dengan kedua tangannya dia lingkarkan di perut Aldo, walaupun Aldo tidak menyuruh Reina untuk melingkarkan tangan di perutnya.
Tapi, hal itu sudah menjadi kebiasaan Reina, jika di bonceng oleh Aldo dia akan melingkarkan tangannya secara refleks.
“Udah sampe Na, masih gak mau lepas tangannya?” tanya Aldo saat mereka sudah berada di parkiran sekolah
“Eh—“ Reina buru-buru melepaskan tangannya dari perut Aldo, lalu dia turun dari sepeda Aldo.
“Makasih Al”
Aldo menaikkan sebelah alisnya, “Lupa?”
“Eh makasih Ronaldo” ucap Reina sambil memamerkan sederet gigi putihnya kearah Aldo.
Aldo menempelkan tangannya di atas kepala Reina lalu mengacaknya gemas,
“Pulang bareng kan?”
Reina mengangguk, dia tidak bisa menghindari Aldo lagi seperti kemarin.
Terbukti, Reina merasa aman bila bersama dengan Aldo daripada ada cowok-cowok yang tidak ia kenal yang mencoba masuk ke dalam hidupnya.
Jika dia diminta memilih, tentu saja Reina akan memilih Aldo tanpa perlu berpikir lebih dulu, karena Reina sudah mengenal Aldo dari kecil.
“Gue ke kelas duluan ya Ron,”
Reina berjalan menuju kelasnya meninggalkan Aldo yang masih berdiri di parkiran.
Reina memang meminta kepada Aldo agar mereka berjalan terpisah untuk menuju ke kelas, hanya untuk mendinginkan desas-desus kemarin.
“Reina,” panggil seorang cowok dari arah belakangnya
Lalu dia membalikan tubuhnya menoleh ke sumber suara, dia melihat seorang cowok yang tengah berlari kearahnya, sambil membawa paper bag.
“Nyokap gue kemarin bikin coklat, dan ini buat lo” cowok itu memberikan paperbag yang di bawanya kepada Reina
Reina menggeleng pelan,
“Gak usah makasih”
“Gak baik loh menolak rezeki seperti ini”
Sejujurnya Reina ingin menerima paperbag itu, karena dengan mengatakan kata ‘coklat’ saja Reina pasti akan tertarik.
Permasalahannya adalah, cowok yang memberinya coklat ini selalu tau apa kesukaan Reina.
Hal ini membuat Reina menjadi sedikit parno ketika berada di dekatnya.
“Kelamaan mikirnya. Udah ini. Gue tau lo suka coklat,” cowok itu memberikan paper bagnya secara paksa ke tangan Reina.
“Rino, hukuman kamu sabtu kemarin belum selesai kemari kamu jangan coba-coba lari lagi,”
teriak suara bariton yang kini berada di belakang Reina, cowok yang di panggil Rino itu langsung kabur dari tempat tersebut mencari tempat persembunyian paling aman.
Reina membalikan tubuhnya melihat siapa yang berteriak barusan, dia melihat seorang guru pria yang sudah tidak bisa di bilang muda lagi usianya, tetapi kondisi fisiknya masih terlihat sangat sehat.
Guru itu berhenti di depan Reina, Reina membungkukkan tubuhnya lalu bersalaman selayaknya murid kepada guru.
“Selamat pagi pak”
“Pagi, kamu siapanya Rino?” tanya Guru tanpa basa-basi.
Reina menggeleng pelan,
“Saya hanya tau dia pak, tapi tidak mengenalnya”
“Sebelas pak” jawab Reina
“Ipa, Ips atau bahasa?”
“Ipa dua”
Guru itu menepuk bahu Reina,
“Bapak kasih tau kamu, jangan pernah bergaul sama yang namanya Rino. Bapak tau kamu adalah murid baik-baik, sedangkan Rino biang onar di sekolah. Kamu gak mau kan jika nanti terlibat dalam beberapa masalah seperti Rino?”
Reina mengangguk pelan,
“Iya pak terimakasih udah memberitahu saya perihal Rino, kalo gitu saya akan lebih menjaga jarak dari Rino mulai sekarang”
“Jangan buat diri kamu rusak seperti Rino, karena itu akan buat kamu rugi nantinya”
Reina hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan Guru tersebut.
“Kalau gitu bapak ke kantor dulu, belajar yang rajin ya” Guru itu menepuk bahu Reina lagi, dan sekarang Reina bisa bernafas dengan lega.
Reina masuk ke dalam kelasnya, lalu dia melihat isi paper bag yang di berikan oleh Rino tadi, ada beberapa kotak coklat yang labelnya di copot oleh Rino.
Reina tersenyum singkat dia tau bahwa coklat yang berikan oleh Rino bukanlah buatan mamanya, melainkan dia membeli coklat ini dari toko.
Reina hapal betul dengan bentuk coklat dan kotaknya, karena Reina memang sering membeli coklat ini.
“Coklat dari siapa? Tumben banget lo beli coklat di tanggal tua, nyokap lo kan belum gajihan” kepo Tisa
Reina menggeleng,
“Di kasih sama orang” jawab Reina sekenanya
Tisa mengerutkan keningnya dia tau bahwa coklat di pegang Reina sekarang bukanlah coklat murahan melainkan coklat mahal.
“Di kasih siapa? Siapa yang mau ngasih coklat semahal ini? Dari Aldo ya?”
Reina lagi-lagi hanya menggeleng,
“Dari temennya”
“Rino? Adam? Atau Leon?” tanya Tisa
Reina diam dia berpikir sejenak,
“Gue lupa, coba lo ulang ngabsen temen Aldo”
“Rino, Adam, atau Leon?” Tisa mengulang pertanyaannya
“Rino” jawab Reina
Mata Tisa membulat saat mendengar jawaban Reina barusan, dia tak percaya bagaimana mungkin coklat yang kini ada di tangan Reina di kasih oleh Rino.
biasanya cewek-ceweklah yang selalu memberi Rino ini itu dan ini sebaliknya. Ini menunjukkan sikap Rino yang berbeda dari biasanya.
“Lo yakin kan coklat ini dari Rino?” tanya Tisa mencoba memastikan.
Reina mengangguk,
“Iya soalnya ada guru yang manggil nama dia Rino, dan dia orang yang kasih coklat ini sama gue”
“Reina ada yang nyari lo nih” teriak Dika si ketua kelas
Lalu mata Reina langsung teralih ke pintu kelasnya, di sana ada Raka sambil membawa beberapa buku di tangannya.
Raka melambaikan tangannya menyuruh Reina menghampiri, Reina mengangguk lalu berjalan kearah Raka yang berada di ambang pintu.
“Ada apa? Rapat osis?” tanya Reina
Raka menggeleng,
“Siapa tau lo mau baca, sebelum gue simpen di kafe” Raka memberikan beberapa judul novel sastra lama kepada Reina.
Reina membaca beberapa judulnya, judul novel yang belum pernah ia baca,
“Makasih Rak”
Raka mengangguk,
“Jangan lupa buat acara bulan bahasa, proposalnya lo fotocopy 5 rangkap ya”
Reina diam saja dia masih tak percaya bahwa cowok yang ada di depannya ini adalah Raka, si cowok dingin dan tak tersentuh,
“Gue kapan balikin ini buku?” tanya Reina
“Kalau lo udah selesai aja, duluan”
Raka meninggalkan Reina yang masih berdiri di ambang pintu, menatap punggung Raka sampai hilang dari penglihatan mata.
“Sebenernya ada apa dengan orang-orang ini” ucap Reina pelan
“Rein gue denger lo boncengan sama Aldo tadi pake sepeda, udah lo tolak tapi masih aja di embat maruk amat lo jadi cewek.” ucap seorang cewek yang berada di kelasnya sambil mendelik sebal.
Reina hanya menghela nafasnya lalu menatap cewek itu malas,
“Aldo temen gue dari kecil, kita tetanggan. Jadi, masalah kemarin Aldo hanya salah mengartikan perasaannya.” jawab Reina cepat
“Iya lo bilang gitu karena lo ngincer Rino kan? Licik amat, manfaatin Aldo yang gak tau apa-apa demi deket sama Rino” sindir cewek itu lagi.
“Nova, gue gak ada masalah sama lo lagipula gue sama sekali gak kenal sama yang namanya Rino itu, kita hanya bertemu beberapa kali, yang gue tau Rino hanya teman Aldo. Bisa gak gak usah bikin gosip murahan?”
“Reina si gadis biasa mendadak famous hanya karena di kejar Aldo, dan sekarang dekat dengan Rino, atau bahkan lo ngincer si ketua osis dingin itu? keliatannya kalian semakin dekat.” cibir Nova
Reina tak menghiraukan cibiran Nova barusan lalu dia berjalan menuju kursinya lagi di sebelah Tisa, dan 'BUGG', Reina terjatuh karena Nova memalangkan kakinya dengan sengaja.
Reina buru-buru bangun dan membersihkan roknya yang kotor, Reina tidak membalasnya karena percuma saja, dia tidak mau ada urusan dengan Nova atau teman-teman kelasnya yang lain, Reina hanya ingin menikmati hidup setenang biasanya.
Ponselnya bergetar, lalu Reina melihat siapa yang mengirimkannya pesan.
From : +62821-6363-4567
Hallo Reina gue Adam temennya Ronaldo, apa gue perlu ganti nama jadi Radam biar bisa couple namanya sama lo?
Reina mendesah pelan, dia juga tidak tau kenapa nomor ponselnya tersebar sekarang.
Sekarang, seorang cowok memberikan kotak makan di meja Reina,
“Tadi Leon nitip ini buat lo katanya”
“Dari siapa?” tanya Reina
“Leon temennya Aldo"
Reina menghela nafasnya lalu melihat isi kotak makan itu, hanya beberapa potong sandwich dan ada notesnya.
Reina membaca isi notesnya.
'Gue Leon, tidak perlu menjadi Reon agar bisa samaan namanya kan?'
Reina menggeleng, isi notes dari Leon dan isi pesan singkat dari Adam ada kesamaan, maksud dari semua ini apa?.
Ini adalah suatu hal yang tak biasa untuk hidup Reina, di mulai dia di antar oleh Aldo menggunakan sepeda, dan permintaan Aldo untuk memanggilnya Ronal, Rino yang memberikannya coklat walaupun dengan Alibi mamanya yang membuat, Raka yang meminjamkannya beberapa novel lama, Adam yang mengiriminya pesan singkat, terakhir Leon yang memberinya kotak makan berisi notes.
Reina tidak mengenal cowok itu semua kecuali Aldo dan Raka.