4K

4K
First Season•Bab IV



Raka menatap langit-langit kamarnya, dia mencoba tertidur tapi tidak bisa.


Ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya, Raka turun dari kasur dan berjalan kearah meja belajarnya.


Tangannya menyentuh beberapa buku yang tersusun dengan rapi, Raka tidak mau membacanya tetapi dia masih tetap ingin membuka mata.


Raka mengambil salah satu buku itu, dan membuka halaman tengah dia menemukan satu lembar surat yang sampai sekarang dia sama sekali tidak mengerti, siapa yang mengirim surat itu kepadanya dan tujuannya untuk apa.


Pintu kamarnya terbuka,


“Raka, kata ibu makan dulu” ucap seorang cewek


Raka hanya diam tak menjawabnya, dia mengabaikan ucapan cewek tersebut.


“Yaudah sih, gue cuma di suruh nyokap aja” cewek itu kembali menutup pintu kamar Raka dengan rapat.


Raka memang menolak berbicara dengan orang-orang di rumahnya, kecuali dengan pembantunya bik Inah, dia merasa hanya bik Inah yang merawatnya dengan tulus daripada semuanya.


Raka melihat ponselnya yang menampilkan layar hitam disana.


Memangnya Raka menginginakan ponselnya berbunyi? Siapa yang menghubunginya? Selama ini Raka hanya sendirian. Kenapa tiba-tiba dia merasa kesepian seperti sekarang?


Raka mengambil ponselnya dan langsung mentekikan sesuatu disana.


Beberapa kali Raka menghapus dan mengetiknya secara berulang, entah apa yang dia pikirkan dengan mengirimkan pesan kepada orang yang ditujunya, tidak ada hal yang membuat Raka yakin bahwa pesan itu akan dibalas dengan cepat.


Setelah limabelas menit berlalu, tak ada balasan pesan dari si penerima. Raka akhirnya pasrah dan dia menyimpan kembali ponselnya di meja belajar.


Raka berjalan kearah kasur , menarik selimbut lalu mematikan lampu.


-4 R-


Raka melihat keadaan sekolah masih kosong, dia sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya, karena ada sesuatu hal yang harus di selesaikan.


Raka duduk di kursi semen di depan ruang perpustakaan, semoga saja orang yang ditunggunya tidak terlambat.


Raka membuka tasnya dan mengeluarkan satu buku, Raka tidak membaca isi buku tersebut, dia hanya memperhatikan satu lembar surat yang dia selipkan di buku itu.


Surat itu Raka temukan di depan kamar, entah siapa yang menyimpannya disana.


Raka tidak bertanya kepada orang rumah, karena memang Raka tidak mau berinteraksi dengan mereka.


Raka menutup dirinya, tak ada satupun orang yang berhasil menembus relung hati terdalam Raka.


Seorang cewek berjalan kearah Raka, dengan senyum cerah di wajahnya saat dia melihat Raka yang tengah membaca di depan perpustakaan.


“Selamat pagi Raka” sapa cewek itu.


Raka mengalihkan tatapannya dari buku kearah cewek tersebut, lalu Raka berdiri dan membenarkan letak kacamatanya.


“Pagi Sashi” balas Raka


Sashi tersenyum sangat manis,


“Soal semalem. Gue minta maaf pasti lo nunggu balesan dari gue. Gue udah tidur, jadinya gue gak bales sms lo” ucap Sashi


Raka mengangguk pelan, dia mengerti pasti Sashi sudah tidur semalam. Raka membuka tasnya, dan memberikan satu kotak yang dihiasi pita untuk Sashi.


“Gue gak bisa dateng ke ulang tahun lo kemaren, ini buat lo”


Sashi menerima kotak itu dengan senang hati,


“Makasih Ka, gapapa dengan lo inget ulang tahun gue itu lebih dari cukup”


Raka menghela nafasnya pelan,


“Ada yang mau gue omongin sama lo Sas”


Mata Sashi berbinar, dia siap untuk mendengarkan apapun yang diucapkan oleh Raka sekarang. Menurut Sashi, ketika Raka mau berbicara dengannya itu sudah lebih dari cukup.


“Lo gak perlu berharap jadi cewek gue”


Sashi membulatkan matanya tak percaya dengan pernyataan Raka barusan. Sashi masih tidak bisa berpikir secara jernih.


Setelah Sashi baper sama Raka, apa itu tidak ada artinya sama sekali untuk Raka? Apa selama ini Raka tidak sadar dengan apa yang dia lakukan, walaupun Raka tidak memberi perhatian lebih seperti cowok kebanyakan.


Tapi, dengan Raka mau berbicara dengan Sashi, membuat Sashi berpikir bahwa Raka menaruh perasaan kepadanya.


“Lo bukan tipe gue” ucap Raka


Sashi menelan ludahnya dengan susah payah. Mengapa Raka mengatakan kalimat yang menyakiti hati Sashi dengan sangat enteng seperti barusan.


Apakah Raka tidak punya perasaan? Apa Raka tidak bisa menghargai perasaan orang lain?.


Awalnya Sashi tidak percaya dengan rumor yang beredar, tentang Raka yang selalu menolak secara mentah-mentah dari orang yang menyatakan perasaan kepadanya.


Tapi, setelah dia mengalaminya sendiri, Sashi percaya bahwa Raka memang tidak punya hati.


“Tapi kenapa Ka? Apa gue kurang cantik? Apa gue bukan tipe ideal lo?” tanya Sashi


Raka mengangguk, lalu tersenyum sinis kearah Sashi.


“Buat gue, lo gak cantik sama sekali”


“Kenapa?” tanya Sashi dengan matanya yang berkaca-kaca.


“Udah Sas, gak perlu drama. Ada seseorang yang mesti lo jaga perasaannya”


“Apa karena itu lo nolak gue? Apa karena gue punya cowok? Gue udah bilang dari awal sama lo Ka, kalo gue udah putus dan itu semua gue lakuin demi lo”


Raka menghela nafasnya pelan, “Gue gak pernah minta lo putusin cowok lo”


“Iya, lo gak minta. Tapi, seenggaknya lo hargain perasaan gue dan pengorbanan yang gue lakukan buat lo”


“Gue gak perlu semua itu”


Sashi mencoba meraih tangan Raka, pelupuk matanya masih basah dengan air mata.


Raka tidak kasihan sama sekali dengan keadaan Sashi yang seperti ini, dia hanya tidak mau jika Raka bersikap baik Sashi akan salah mengartikannya.


“Lepas Sas, sekolah sebentar lagi akan rame” Raka melepaskan lengan Sashi dari tangannya, lalu dia berjalan meninggalkan Sashi dengan wajah yang datar.


Tak ada yang berubah sama sekali dari diri Raka, dia tetap Raka yang dingin dan ketus.


Tapi, entah mengapa masih saja ada cewek yang nekad menyatakan cinta kepada Raka, meskipun mereka tau bahwa itu hanya akan sia-sia.


Raka menarik seorang cewek yang kali itu sedang bersembunyi di lorong dekat perpusatakaan.


“Nguping?” tanyanya


Cewek itu menelan ludahnya dengan susah payah, dia tidak bermaksud untuk menguping pembicaraan Raka bersama Sashi tadi.


“Kalo mau nguping jangan setengah-setengah, lo dateng nyamperin gue dan Sashi dan video semuanya” sinis Raka


Cewek itu menggeleng pelan, dia tidak sejahat itu.


Raka melepaskan cekalan lengannya dari cewek itu dan berjalan lagi menuju kelasnya, Raka memang seperti patung hidup.


“Raka”


Raka membalikan tubuhnya, dia melihat cewek yang menguping tadi berlari kearahnya.


“Gue minta maaf, gak maksud buat nguping pembicaraan lo sama Sashi”


Raka hanya melipat kedua tangannya didada, dia tidak merespon permintaan maaf cewek yang ada didepannya ini.


“Gue tadi mau ke perpustakaan, dan gak sengaja liat lo sama Sashi jadi gue nunggu kalian selesai bicara”


Raka menghela nafasnya pelan,


“Bukan sesuatu yang penting”


“Menurut lo perasaan Sashi bukan sesuatu yang penting?”


Raka menatap cewek yang ada di depannya ini dengan tatapan datar,


“Lo denger semuanya Reina?”


Reina diam, lalu dia menundukkan kepalanya.


“Gue gak sengaja denger Raka”


“Gue gak peduli”


Reina tak menyangka bahwa Raka bisa memasang karakter sedingin ini, begitu menyeramkan.


Reina tau apa yang akan dirasakan Sashi, pernyataan cinta dari seorang cewek itu butuh keberanian yang super dahsyat, tapi Raka hanya menganggapnya tidak penting sama sekali.


“Kenapa lo nolak Sashi?” tanya Reina ingin tau


“Bukan urusan lo!”


“Tapi seenggaknya lo kasih penolakan secara halus, Sashi itu cewek”


“Halus atau kasar sama aja. Yang namanya ditolak itu menyakitkan, jadi lebih baik seperti tadi”


Reina memberanikan menatap tatapan tajam Raka. Reina tau Raka sangat membatasi benteng pertahannya dengan sangat rapi dan kokoh.


“Lo gak perlu melampiaskan kekecewaan lo dengan menyakiti orang lain”


“Yang nyakitin gue, kenapa lo yang repot?”


“Gimana kalo Sashi frustasi karena dia di tolak sama lo? Lo mau tanggung jawab?”


Raka menggeleng menatap Reina, dia tidak mengerti mengapa Reina harus peduli dengan itu semua.


Walaupun kenyataannya, semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Lalu, kenapa Reina harus repot-repot memikirkan perasaan orang lain.


"Gue gak peduli semua itu, terus kalo lo mau nyanyi ke semua orang masalah gue dan Sashi. Silahkan.”


“Tapi, lo gak bisa gak peduli dengan perasaan Sashi”


“Kenapa lo ikut campur urusan gue Reina?” tanya Raka sambil menaikkan sebelah alisnya


Reina menggeleng pelan,


“Gue hanya gak mau lo di benci oleh semua orang”


Raka tersenyum menyeringai untuk menanggapi ucapan Reina barusan.


“Kalo mereka benci sama gue, apa urusan lo?”


Jleb


kalimat yang dikatakan oleh Raka barusan sangat menusuk hati Reina. Dia sadar, bahwa Raka memang bukan siapa-siapanya.


Memangnya salah, jika Reina peduli hanya karena Raka adalah ketua osis yang menjadi panutan di sekolahnya, itu akan merusak citra Raka jika banyak yang membencinya.


“Lo itu ketua osis Raka di sekolah, jadi lo gak bisa dibenci sama siswa di sekolah kita” jawab Reina dengan suara yang bergetar


“Gue gak mencalonkan diri gue sebagai ketua osis, gue di tunjuk tanpa gue mau”


“Tapi, lo punya tanggung jawab Ka”


“Dengan gue menjadi ketua osis, dan gue yang di benci sama semua orang. Itu gak ada urusannya sama sekali”


Raka pergi meninggalkan Reina yang kali itu masih tetap menatapnya dari jauh, Reina menghela nafasnya gusar.


Dia sekarang baru mengerti, Raka memang seperti patung berjalan, dia tak punya perasaan sama sekali.


Reina menutup matanya berulang kali, lalu dia melihat ada selembar kertas didepannya.


Reina mengerutkan keningnya, dengan perlahan dia mengambil kertas tersebut, dan membaca apa yang tertulis disana.


Raka Prayoga anakku


Raka gimana kabarnya? Maafin mama, gak pernah nengokin Raka selama 17 tahun ini. Mama baik-baik aja, walaupun Raka gak nanya keadaan mama.


Mama denger kamu jadi ketua osis di sekolah, anak mama emang pinter.


Raka, mama kangen sama Raka.


Raka, gak kangen sama mama?


Mama, mau ketemu sama Raka, Raka bisa apa enggak?


Raka marah ya sama mama? Karena mama ninggalin Raka sama papa dan ibu?. Mama ngelakuin itu semua, agar Raka bahagia.


Raka, mama nunggu Raka.


Love


Sarah


Reina membaca isi surat itu berulang-ulang kali, dia tidak mengerti maksud dari isi surat tersebut.


Reina ingat, bahwa Raka pernah menceritakan masalah hidupnya yang tidak diinginkan oleh keluarganya. Lalu? Yang mengirimkan surat ini. Apa mungkin ibu kandungnya?


Reina menyimpan surat itu ditasnya, dia harus memberikan surat ini secepatnya kepada Raka.


Dia tidak mau, Raka kesusahan mencarinya. Dan, semoga saja Raka tidak marah karena Reina sudah membaca isi surat itu.