4K

4K
First Season•Bab VIII



Karin melihat layar ponselnya dengan begitu serius, sampai orang yang ada di depannya sekarang dia abaikan.


Lalu dia menghela nafasnya pelan, tatapan matanya sendu terlihat wajahnya sangat lelah.


Karin menyimpan kembali ponselnya di samping piring siomay, lalu Karin menutup mata mencari suatu hal yang bisa menguatkannya.


“Lo stres ya Rin?” tanya Lisa.


Karin menggeleng pelan.


“Gue berasa dunia gue baru Lis, dan gue belum terbiasa dengan ini semua.”


Lisa menatap Karin lalu tatapannya menyipit.


“Tanpa lo sadar, kehidupan lo udah berubah begitu cepat, dan sikap lo sendiri aja berubah”


“Gue?” tunjuk Karin ke dirinya sendiri.


“berubah? Berubah gimana? Gue ngerasa gak berubah sama sekali” jawab Karin.


Lisa mengangguk lalu dia menepuk pundak Karin pelan.


“Dengan lo jawab kalo lo gak berubah, itu udah nunjukkin kalo lo berubah Karina”


Karin mengerutkan keningnya bingung.


“Tunjukkin sama gue apa yang berubah?”


“Satu, Karin yang gue kenal dia tidak akan memikirkan ucapan orang lain,”


“Dulu kan emang gak ada yang ngomongin gue Lis,” bela Karin.


Lisa tersenyum menyeringai.


“Jangan di potong dulu kalo orang lagi ngomong, dua Karin yang sekarang sering megang hape, dan juga followers instagramnya nambah dengan cepat. Lo pake auto followers Rin?. Karin yang sekarang, lebih di kenal banyak orang, Karin yang—“


“Cukup Lisa”


“Mau gue sebut semuanya Rin?” tanya Lisa sambil menaikkan sebelah alisnya.


Karin menghela nafasnya lalu dia merenung, apa benar bahwa dia berubah? Tapi kenapa dia berubah? Karin tak merasa dirinya berubah.


Tapi yang di ucapkan oleh Lisa barusan semuanya benar, sekarang Karin lebih sering menggunakan gadget daripada dulu.


Karin bahkan tidak tau mengapa hal itu bisa terjadi, seperti ada kekuatan magnet dari tangan dan ponselnya.


Byurrrrrr..


Segelas orange juice mendarat tepat di puncak kepala Karin, membuat Karin menutup matanya agar cairan orange itu tidak terkena matanya.


Gelas itu kemudian di simpan di meja, barulah Karin membuka mata dan melihat siapa orang yang ada di depannya, cewek yang pernah memarahinya waktu masalah video dia menolak Zie tersebar.


Karin mencoba mengingat nama cewek tersebut. Kalo tidak salah cewek itu bernama Cesil.


“Ini semua untuk lo yang sok kecantikan,” bentak Cesil.


“Maksud kak Cesil apa?” tanya Karin mencoba sedatar mungkin.


Dia tidak ingin mengundang keributan, apalagi kali ini Karin sedang berada di kantin. Karin tidak bisa lagi menghindar menjadi pusat perhatian orang lain sekarang.


“Lo udah nolak Kenzie kemarin, sekarang lo kecentilan deketin Keenan? Atau bahkan lo sebenernya benalu dari ke famousan mereka? Setelah Keenan siapa lagi korban lo, Devan? Bagas?” Cesil menarik lengan Karin agar dia berdiri dari kursinya.


Sekarang, Karin berdiri tepat di depan Cesil terlihat dua perbandingan yang sangat nyentrik, Cesil yang serba modis, sedangkan Karin berpenampilan selayaknya murid SMA pada umumnya, Cesil yang tinggi semampai berbeda dengan Karin yang mungil.


“Gue gak ngerti maksud kak Cesil itu apa, dari kak Cesil marahin gue di kelas, terus sekarang kak Cesil mau marahin gue juga di kantin?” tanya Karin.


Karin memang tidak mengerti arah dari pembicaraan Cesil barusan.


“Lo itu sok kecantikan, lo pake pelet apa buat dapetin Keenan dan Zie?” bentak Cesil.


“Pelet ikan” Karin tetap menjawabnya.


Karin berbeda, tanpa dia sadar dia sudah merangkak untuk beralih ke dunia yang baru.


PLAKK,


satu tamparan Cesil layangkan kepada Karin, secara refleks Karin langsung memegang pipinya yang terasa perih dan nyeri.


Semua siswa yang kali itu berada di kantin hanya menontonnya saja. Lisa ingin membela Karin, tapi dia takut untuk melawan Cesil.


Sampai...


Byurrr....,


jus mangga milik Lisa kini sudah mendarat di wajah Cesil.


“Kelebihan lo hanya ngebully? Gak ada yang lain Cesil? Terus, kenapa lo ngebully dia?” tanya seorang cewek yang kini tangannya menunjuk kearah Karin.


Cesil kemudian menumpahkan siomay yang berada di meja ke bahu cewek yang barusan menyiramnya dengan jus mangga.


“Maksud lo apa Pur ngomong gitu sama gue?” tanya Cesil dengan kilatan mata yang tajam.


Puri tersenyum menyeringai.


“Kalau gue kasih tau Keenan lo bully cewek itu, mungkin hidup lo gak akan aman lagi di sekolah ini Cesil Prasanti”


“Kenapa? Apa cewek ini pacar Keenan?” sekarang giliran Cesil yang menunjuk kearah Karin.


“ternyata gosip yang beredar di sekolah ini benar, cewek ini nolak Zie buat cari popularitas kemudian dia deketin Keenan biar semakin terkenal. Murahan banget lo,” Cesil mendorong tubuh Karin sampai tubuhnya terpentok meja.


Karin meringis kesakitan tapi dia tidak bisa melawan Cesil sama sekali, Karin tidak pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya, terlebih lagi Karin tidak mengenal dua cewek yang sekarang adu mulut memperebutkan suatu hal yang sama sekali dia tak mengerti.


Cesil tersenyum menyeringai menatap Puri.


“Hak gue mau ngelakuin apa aja, masalahnya buat lo apa Puri? Apa karena lo teman dari Keenan, jadi lo bisa ngambil posisi ratu di sekolah ini?” tanya Ces sambil menaikkan sebelah alisnya.


Puri menggeleng pelan.


“Gue gak pernah tau kalo di sekolah ini ada ratu, siapa yang melantik lo sebagai ratu?” tanya Puri.


PLAK


Cesil menampar pipi dengan sekuat tenaga, sehingga membuat tanda telapak tangan Cesil di pipi mulus Puri.


“Cesil lo apain temen gue” bentak seorang cowok yang kali itu baru datang dari arah belakang mereka, cowok itu langsung memeluk Puri.


Cesil menatap kearah cowok itu tak percaya, sebelum dia melakukan aksi bullyng ini dia sudah memastikan bahwa Keenan sedang praktek, lalu mengapa dia bisa tiba-tiba ada di kantin.


“Dia yang mulai duluan” jawab Cesil.


Keenan menatap kearah Puri, lalu tatapan Keenan jatuh kepada Karin yang menundukkan kepalanya.


“Apa yang lo lakuin sama Karin?” tanya Keenan lagi.


“Dia sok kecantikan!” bentak Cesil kesal.


Dia sekarang seperti di sudutkan oleh semua orang, padahal Cesil melakukan ini hanya tidak ingin posisinya tergeser saja oleh Karin maupun Puri, karena dia menganggap Karin dan Puri sebagai saingannya.


“Dia emang cantik, lalu apa salahnya kalau dia merasa dirinya cantik?”


Semua pasang mata yang berada di kantin menatap kearah Keenan.


Standar Keenan untuk seorang cewek sangat tinggi, bahkan Putri si model yang menyandang sebutan primadona di sekolahnya, tak pernah mendapatkan kata cantik dari Keenan.


Tapi, Keenan menyebut Karin si cewek biasa dengan kata ‘Cantik’ hal ini sungguh berbeda dari Keenan biasanya.


Zie yang baru datang langsung menghampiri Karin yang masih menunduk, Zie tau ini sesuatu yang baru untuk Karin, tapi mau tidak mau Karin harus merangkak masuk ke dunia barunya.


Karin harus terbiasa dengan kehidupan yang seperti ini untuk kedepannya.


“Lo gapapa Rin?” tanya Zie khawatir.


Karin menggeleng, tapi Zie tidak percaya lalu dia menarik wajah Karin supaya menatap kearahnya.


tamparan Cesil yang masih berbekas di wajah Karin membuat Zie langsung menatap Cesil dengan kilatan emosi yang terlihat jelas dari matanya.


“Lo apain Karin?” bentak Zie kearah Cesil.


“Dia udah nolak lo kenapa lo masih belain dia sih, buka mata lo Zi! masih banyak cewek yang lebih dari Karin, kenapa lo masih aja stuck di dia” tunjuk Cesil kearah Karin.


“Kenapa? Bagi gue Karin tetep yang tercantik diantara semua, selain dia cantik fisiknya dia juga cantik hatinya, gak kaya lo haus ketenaran”


Zie mendorong tubuh Cesil, membuat Cesil mundur beberapa langkah dari tempatnya semula.


“Zie cukup, jangan lakuin itu” ucap Karin pelan, Zie langsung menghentikan aksinya.


Karena, semua ucapan dari Karin menurut Zie adalah perintah yang harus di patuhi.


Karin menghela nafasnya, lalu dia menatap kearah orang-orang yang kini ada di sekitarnya.


“Gue gak tau kalian ini meributkan apa, yang jelas gue gak mau terlibat lagi dalam masalah ini. Untuk kak Cesil, kakak gak usah khawatir kalau posisi kakak akan tergeser sebagai ratu di sekolah ini, karena gue sama sekali tidak berminat untuk mendapatkan posisi itu.


Buat Puri, makasih lo udah bantuin gue, tapi seharusnya lo gak usah ikut campur dalam masalah ini karena masalah ini bukannya selesai, tapi akan semakin pelik”


Karin menatap kearah Zie dan Keenan secara bergantian.


“Untuk Keenan, dari awal kita emang gak saling kenal sama sekali, bahkan gue gak pernah tau kalo lo adalah orang yang sangat berpengaruh di sekolah ini, entah pengaruh lo sebagai biang onar atau lo siswa paling pintar. Tolong, untuk hari ini dan selanjutnya, lo gak usah ganggu hidup gue lagi, biarin hidup gue kembali normal seperti sebelumnya.”


Keenan tak percaya dengan ucapan Karin yang panjang lebar itu, sesuatu hal yang tanpa emosi cara mengatasi dengan sifat dewasa apa ini satu hal yang menjadi daya tarik untuk cewek seperti Karin, dia berbeda.


“Kenzie, makasih lo udah wujudin mimpi gue selama ini. Lo tetep temen gue, walaupun gue benci karena lo juga salah satu dari mereka yang selalu membuat keributan di sekolah ini. Tapi lo temen gue dari kecil, jadi berapapun masalah yang lo sebabkan sama sekali gak bisa ngebuat gue ngejauh dari lo.”


Karin pun tersenyum, lalu dia berjalan meninggalkan kantin, tak ada seorangpun yang menyangka bahwa Karin akan berbicara sebijak itu dalam mengambil keputusan.


Karin tentu merasakan perih dari tamparan Cesil, tapi dia berharap semuanya berhenti sampai disini.


tidak akan ada masalah yang akan mengganggunya lagi, Karin sangat takut keluar dari zona nyamannya seperti sekarang, dia belum berani untuk melangkah lebih jauh lagi.


Karin duduk di kursi semen dekat gudang, satu tempat yang sangat jarang dilalui oleh siswa di sekolahnya, kali ini Karin ingin menyendiri memikirkan masalahnya sendirian.


Sampai sebuah tangan terulur ke hadapannya memberikan tisu, membuat Karin secara refleks menoleh kearah orang tersebut.


“Keir” ucap Karin.


Keir hanya diam, lalu dia duduk di sebelah Karin dan memberikan sebelah earphonenya.


“Lo ko tau gue ada disini?” tanya Karin.


Keir menempelkan telunjuknya dibibir karin pertanda Karin harus diam.


“Sttttt”


Karin mengangguk lalu dia mulai menikmati alunan lagu yang dikeluarkan dari earphone yang di berikan Keir, hal itu cukup membantu membuat Karin tidak memikirkan kejadian di kantin lagi.


“Hari ini, kita cari dana sumbangan” ucap Keir datar.


“Iya”


Lalu keduanya terdiam, terhanyut dalam melodi yang sama, Karin memejamkan matanya agar dia bisa lebih masuk ke dalam lagu tersebut, secara tidak sadar Keir memperhatikan wajah Karin dengan matanya yang tertutup.