
Keenan menatap kearah Zie yang kini tengah mengetikkan sesuatu di ponselnya, raut wajahnya gelisah membuat Keenan terus memperhatikan setiap gerak gerik yang dilakukan oleh Zie.
“Kenapa lo Zi?” tanya Keenan penasaran.
Zie mendesah pelan, lalu dia menutup matanya dan menghela nafasnya berat.
“Zi jangan hanya karena di tolak sama Karin lo jadi stres kaya gini deh” ucap Devan.
“Zie ditolak Karin?” tanya Keenan tak percaya.
Bagas mengangguk pelan.
“Lo gak tau apa? Video Zie waktu di tolak Karin kan kesebar, katanya si Arin nyebarin terus jualin video itu”
Zie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tatapan matanya beralih dari layar ponsel ke teman-temannya.
“Bukan, bukan karena Karin nolak gue. Tapi, gue gak mau Karin kena bully di media sosial hanya karena dia nolak gue, itu hak dia kalo nolak gue, gue sama sekali gak marah sama karin”
Keenan menghela nafasnya gusar, dia tidak mengerti mengapa Karin begitu menjadi candu untuk Zie, sampai dia lebih mementingkan Karin daripada dirinya sendiri.
“Zi, gue ada solusi supaya lo bisa deket lagi sama Karin, mau tau gak?” tawar Keenan.
Zie menoleh ke sumber suara, lalu dia menaikkan sebelah alisnya untuk menjawab pertanyaan Keenan barusan.
“Kita jadiin dia taruhan, gimana?”
Zie menggeleng tegas, dia tidak menyangka bahwa solusi dari Keenan sangat keterlaluan.
Zie sangat sayang kepada Karin mana mungkin dia tega menjadikan Karin sebagai bahan taruhan Keenan.
“Dev, Gas lo berdua setuju sama usul gue?” tanya keenan.
“Apa keuntungannya kalo gue menang?” Devan menjawabnya dengan pertanyaan lagi.
Keenan terlihat berpikir sejenak, lalu dia mengangguk.
“Selain bisa mendapatkan Karin yang sangat di gilai oleh Zie, yang menang juga bisa meminta apapun kepada yang kalah, menguntungkan bukan?” tawar Keenan.
Devan dan Bagas langsung mengangguk setuju mendengar kata ‘apapun’, itu artinya mereka bisa meminta apapun nantinya jika mereka yang menang, dan mereka pikir untuk mendapatkan Karin tidaklah sulit hanya mendekatinya, karena semua cewek sama aja.
“Zi lo setuju gak?”
Zie tetap menggeleng tegas, dia sama sekali tidak setuju dengan usul Keenan barusan.
Dia tidak mau jika nanti Karin tau dia akan marah kepada Zie, kemarahan Karin yang Zie hindari, sudah cukup Karin menolak perasaannya, Zie tidak mau Karin menjauh darinya.
“Zi, dengan gini kesempatan lo dapetin Karin, semakin besar” Keenan terus membujuk Zie.
“Sekali enggak ya enggak”
Keenan menghela nafasnya, lalu dia menepuk pundak Zie.
“Zi denger, dengan lo jadiin Karin taruhan kesempatan lo dapetin Karin menjadi sangat besar, lo sendiri yang bilang bahwa Karin benci menjadi fokus utama, secara tidak langsung taruhan ini begitu menguntungkan lo”
Zie menautkan kedua alisnya bingung dengan ucapan Keenan barusan.
“Jadi gini Zi, yang akan mendekati Karin gak cuma gue atau lo aja tapi Devan dan Bagas ikut andil disini. Kita adalah fokus utama di sekolah, secara tidak langsung Karin akan semakin dekat dengan lo, gue, Devan dan Bagas.
Jika Karin di suruh memilih diantara kita berempat dia pasti akan memilih lo, karena dia udah kenal lo dari lama.
Selain lo bisa mendapatkan Karin, lo juga bisa mendapatkan apapun dari gue, Devan dan Bagas, sangat menguntungkan bukan?”
Zie terdiam sejenak, dia terus memikirkan penawaran dari Keenan barusan.
hampir semua yang diucapkan Keenan barusan memang benar, taruhan ini bisa menjadi peluang besar untuk Zie bisa mendapatkan Karin.
tapi Zie takut bagaimana jika Karin mengetahui ide gila Keenan, Zie yakin Karin akan sangat marah nantinya.
“Tapi, kalau Karin tau dia di jadiin taruhan gimana?” tanya Zie khawatir
“Kalo diantara kita gak ada yang ngasih tau dia, dia gak akan tau”
Akhirnya Zie mengangguk setuju dengan alasan bahwa rahasia ini tidak boleh sampai ke telinga Karin.
-4 K-
Keenan memperhatikan seorang cewek yang tengah menunggu angkutan umum lewat, dia merasa mengenali postur tubuh cewek tersebut.
Keenan menyipitkan matanya untuk memperjelas siapa cewek itu, sampai satu senyuman tercetak di bibirnya, Keenan melajukan motornya dengan kecepatan standar lalu dia berhenti tepat di depan cewek yang tadi dia perhatikan.
“Karin ya?” tanya Keenan.
Karin yang merasa dirinya di panggil, langsung menoleh ke sumber suara.
“Lo kenal gue kan?” tanya keenan lagi.
Karin hanya diam tak menjawab, dia memperhatikan setiap angkutan umum yang lewat di depannya dan semuanya penuh dengan penumpang.
“Kalo gitu, kenalin nama gue keenan dan gue udah tau nama lo pasti Karina Pinandita kan?”
Karin tetap diam tak menanggapi pertanyaan Keenan barusan yang menurutnya basi, sesuatu yang dia sudah tau jawabannya tetapi tetap dia tanyakan.
“Hei Karin, mau bareng gue ke sekolah?” tawar Keenan.
Karin menggeleng dan tersenyum sopan,
“Terimakasih tawarannya, tapi itu gak perlu”
Karin melepaskan helmnya lalu dia menyimpannya di tangki motor.
“Yakin? Ini udah siang loh”
Karin mengangguk, tatapan matanya tidak menatap kearah mata keenan. Karin tidak mau berkontak mata dengan orang yang menurutnya baru dan asing di hidupnya.
“Cuma berangkat bareng aja loh Rin”
“Masa lo gak mau sih Rin, ayo dong gue gak akan minta lo bayar ko”
“Karin, jawab kali”
Karin yang merasa lelah karena Keenan tak kunjung diam, lalu dia menatap kearah Keenan hingga tatapan mereka bertemu, dan keenanlah yang pertama kali mengalihkan tatapannya dari Karin.
“Kenapa lo mau nganter gue ke sekolah?” tanya Karin dingin.
Keenan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
“Karena....”
“Karena apa?” tanya Karin mengulang ucapan Keenan barusan
“Karena....”
“Lo sendiri gak bisa jawab kan? Gak usah sok kenal sama gue, bisa?”
Keenan menghela nafasnya, lalu dia kembali menatap kearah Karin.
“Karena kita satu sekolah, dan ini sudah siang mengingat tidak ada angkot kosong yang melewat jadi gue menawarkan diri untuk mengantarkan lo berangkat sekolah” jawab Keenan akhirnya.
Karin melihat jam yang tertempel manis di pergelangan tangannya, benar saja sepuluh menit lagi bel masuk akan berbunyi, jika menggunakan angkutan umum tidak akan bisa di tempuh dengan waktu sepuluh menit.
“Gimana N
Rin?”
Karin tetap diam, kali ini dia lebih memilih kesiangan daripada diantar oleh orang yang sama sekali tidak dia kenal.
“Pelajaran pertama lo hari ini bu ulfa kan? Yakin milih telat?” tanya Keenan sambil tersenyum kearah Karin.
Karin memukul kepalanya, kenapa dia begitu ceroboh tidak mengingat jadwal hari ini.
Kalau tau tidak akan ada angkutan umum yang kosong hari ini, dia memilih berangkat bersama dengan Zie dan nanti di pos depan sekolah dia bisa minta turun dan jalan kaki untuk sampai di sekolahnya.
“Rin?”
Keenan menyerah mengajak Karin berangkat bareng, dia tidak tau bahwa Karin begitu keras kepala dengan pendiriannya.
Keenan kembali memakai helmnya, dan menstrater motornya.
Karin yang mendengar deru mesin motor Keenan langsung berucap.
“Oke, gue berangkat bareng dengan lo tapi dengan satu syarat” pinta Karin
Keenan membuka kaca helmnya, lalu dia mematikan mesin motornya.
“Apa?”
“Lo turunin gue di pos depan, jadi gak ada yang tau kalo gue berangkat bareng sama lo”
Keenan mengangguk, “Yaudah naik”
Karin mau tidak mau langsung naik ke motor keenan dengan susah payah, entah motor Keenan yang kebesaran atau Karinlah yang terlalu kecil.
Keenan menstrater motornya dan langsung melajukan motornya dengan kecepatan yang melebihi batas maksimal, dengan modus siapa tau Karin memeluknya, tapi ternyata Karin hanya diam dia tidak memeluk Keenan, bahkan Karin tidak memegang jaket yang dikenakan oleh Keenan untuk sekedar pegangan.
“Turunin gue di depan” perintah Karin, tapi Keenan tidak mendengarkannya dia tetap melajukan motornya hingga melewati pos yang telah mereka sepakati diawal tadi.
Karin terus-terusan meminta agar Keenan menurunkannya, tapi dengan keras kepala Keenan tetap menjalankan motornya hingga mereka sampai di parkiran sekolah.
Semua orang yang berada di sekolah menatap ke titik yang sama, dimana ada Karin dan Keenan di sana.
Karin ingin mengutuk orang yang memberinya tumpangan ini, jika hasilnya akan seperti ini dia lebih memilih kesiangan dan di hukum oleh bu Ulfa daripada dia menjadi pusat perhatian lagi.
sudah cukup masalah dirinya dengan Zie kemarin yang belum selesai, masalah dia berangkat bareng dengan Keenan tidak usah jadi permasalahan.
“Sampai dengan selamat kan?” tanya Keenan dengan smirk yang terlihat jelas di wajahnya.
Karin tak menjawab, dia langsung meninggalkan Keenan di parkiran.
Keenan hanya menatap Karin sampai punggung Karin benar-benar tidak terlihat oleh matanya.
“Selamat datang di dunia gue Karina Pinandita” bisik Keenan dalam hati.
Karin berjalan menuju kelasnya, tatapan mengerikan dia dapatkan dari orang-orang yang berada di sekitarnya.
Karin menggeleng tegas dia harus berpikir positif dan beranggapan bahwa orang-orang itu tidak sedang menatap kearahnya.
“Gue sekarang tau, kenapa dia nolak Zie karena dia lagi ngincer Keenan yang lebih ganteng dan kaya dari Zie, pinter banget ya taktiknya?” cibir seorang cewek yang kali itu kebetulan berjalan melewati Karin.
Karin langsung menolehkan kepalanya ke cewek yang barusan berbicara tentang Zie dan Keenan.
“Kenapa? Ngerasa kalo lo licik?” tanya cewek itu.
Karin langsung mengalihkan tatapannya lagi, dia tidak ingin berhubungan dengan orang-orang baru yang akan mengganggu kehidupannya, tapi semua itu sia-sia karena....
“Hai Karin kenalin gue Bagas” ucap seorang cowok sambil mengulurkan tangannya kearah Karin.
Karin hanya diam tak merespon ucapan cowok yang kini berada di depannya.
Bagas yang tak mendapat signal dari Karin dia langsung mengambil inisiatif untuk menarik tangan Karin untuk salaman tanda mereka sudah berkenalan.
“Lo gak perlu kenalin diri lo, karena gue udah tau. Btw akun instagram gue lo accept ya jangan lupa followback” Bagas mengedipkan sebelah matanya lalu pergi meninggalkan Karin yang masih berdiri mematung.
“Gila itu cewek pake pelet apaan, udah di tembak Zie, berangkat bareng bareng Keenan, sekarang di ajak kenalan sama Bagas, gak sekalian aja si Dev---“
“Hai Karin, lo pasti belum sarapan kan?” tanya seorang cowok yang kini ada di depan Karin sambil membawa kotak makan.
Karin menghela nafasnya, lalu dia melirik ke kiri dan ke kanan semuanya kini tengah menatap kearahnya, Karin tidak bisa membiarkan ini terjadi.
Dia melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas, niat untuk kabur dari hadapan cowok yang sama sekali dia kenal.
Tapi, tangan cowok itu menahannya,
“Gue Dave Mahendra, lo Karina Pinandita kan? Ini gue bawa bekel buat lo, belajar ya rajin ya Karina” Adam mengusap rambut Karin dengan gemas lalu dia pergi meninggalkan Karin.
Jika Karin bisa memilih kematiannya, Karin ingin mati detik ini juga atau dia pingsan. Karin tidak bisa tahan dengan tatapan horror cewek-cewek alay di sekolahnya.