
“Loh, Reina belum ganti baju?” tanya Reni saat melihat Reina masih tiduran cantik diatas kasurnya.
Reina menautkan kedua alisnya bingung,
“Ganti baju buat apa ma? Mau kemana?” tanya Reina.
Reni masuk ke kamar Reina, lalu membuka lemarinya dan mengeluarkan dress sabrina berwarna baby pink, hadiah ulang tahun Reina kemarin.
“Pake ini, cepet.” Reni melemparkan dress itu ke wajah Reina.
“Mau kemana emangnya ma? Ko pake dress segala kaya gini?”
Reni menatap kearah Reina, lalu dia berjalan dan duduk di tepi kasur.
“Kamu gak tau Na?”
Reina menggeleng pelan, dia memang tidak tau mengapa Reni menyuruhnya mengganti baju seperti ini. Mereka tidak punya acara sama sekali.
“Ronal gak cerita sama kamu?” tanya Reni
“Ronal ma? Dia gak cerita apapun sama Nana” jawab Reina
Reni mengelus rambut Reina dengan lembut.
“Ma Ronal kenapa?” tanya Reina kesal, karena Reni menggantungkan jawabannya.
“Ma, jawab Nana”
“Mama”
Reni terkekeh pelan, karena melihat Reina begitu ingin tau apa yang terjadi terhadap Aldo. Lalu Reni menatap Reina dengan tatapan menyelidik.
“Kalian pacaran?” tanyanya
Reina membulatkan matanya, dia tidak habis pikir bagaimana mungkin Reni punya pikiran seperti barusan.
Mengapa Reni bisa menyimpulkan bahwa Reina dan Aldo berpacaran?
“Enggak ma, mama apaan sih,”
Reni menghela nafasnya pelan,
“Mama gapapa kalo kalian pacaran Na,”
“Nana sama Ronal enggak pacaran ma. Mama kenapa sih? Kata siapa Nana pacaran sama dia? Kan mama tau sendiri kalo Nana sama Ronal temen aja.”
Reni mengangguk mengerti,
“Yaudah kamu ganti baju dulu aja. Nanti juga kamu tau, ada apa sama Ronal. Mama tunggu dibawah ya Na.”
Reni berjalan kearah pintu dan dia menutup pintunya kembali dengan rapat. Reina menatap dress yang di lemparkan Reni barusan.
Lalu dia menghela nafasnya pelan, sebenarnya ada apa dengan Aldo, mengapa Reni menyuruhnya menggunakan pakaian formal seperti ini.
Reina tidak mau ambil pusing masalah itu, dia langsung mengganti bajunya dengan dress yang dipilihkan oleh Reni barusan.
Karena, jika Reina hanya diam saja, Reni akan marah besar, kalau nanti Reni kelepasan mengutuk Reina bagaimana? Reina tidak mau itu sampai terjadi.
Setelah sepuluh menit Reina mengganti pakaiannya. Lalu dia turun dari kamar menuju ruang depan, karena dari tadi Reni sudah berteriak agar Reina segera turun.
“Ada apaan sih Ma?” tanya Reina, dia masih penasaran dengan apa yang terjadi.
Lalu Reina melihat kearah Reysa yang juga menggunakan dress, dia bersama dengan Chiko juga.
“Eh, ada kak Chiko disini” sapa Reina sopan
Reysa memasangkan kalung di leher Reina, agar tampilan Reina tidak terlalu polos.
“Kita berangkat Ma, kasian tante Tasya nunggu lama.” ajak Reysa
Reni mengangguk, lalu dia menyuruh Reina, Reysa dan Chiko untuk segera berjalan kearah rumah Aldo yang hanya berjarak bebrapa meter dari rumahnya.
Reina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, saat dia melihat banyak orang yang ada di rumah Aldo.
Memangnya ada apa di rumah Aldo. Mata Reina membulat saat dia melihat ada Rino, Adam, Leon, Sashi, dan Tisa juga disana.
“Ada acara apaan sih Ma?” tanya Reina lagi
“Kamu masuk aja dulu, nanti juga tau ada acara apaan.” titah Reni
Reina hanya mengangguk, lalu dia berjalan masuk kedalam rumah Aldo.
Aldo yang melihat Reina sudah datang, langsung tersenyum antusias dan menyuruh Reina untuk menghampirinya.
“Lo ko bisa telat gitu sih Na?” tanya Aldo
Reina menautkan kedua alisnya bingung,
“Telat? Emang ada acara apaan?”
“Lo lupa?”
Reina menggeleng pelan,
“Bagaimana gue bisa lupa, lo kasih tau gue ada acara apa aja enggak”
Aldo tersenyum memamerkan sederet gigi putihnya tanpa dosa,
“Oh iya, lo gatau. Gue lupa kasih tau sama lo Na,” ucap Aldo
“Emang ada acara apaan Ron?” tanya Reina
Aldo tersenyum, “Tunggu sebentar lagi, semuanya akan jelas.”
Reina bosan di suruh menunggu seperti ini. Reni menyuruhnya menunggu, Aldo juga menyuruhnya menunggu. Apa sebenarnya yang terjadi.
Reina menoleh kearah sampingnya saat datang seorang wanita yang seumuran dengan mamanya sambil menggendong bayi lucu, lalu Reina menatap kearah Aldo bertanya maksud dari ini semua itu apa.
“Nyokap gue adopsi anak” bisik Aldo
Reina menatap kearah Aldo tak percaya.
“Eh Nana, coba gendongin dulu adenya Ronal,” pinta Tasya yang kali itu ada di samping Reina
Reina mengangguk pelan, lalu mengambil alih bayi yang ada di gendongan Tasya dengan telaten.
“Siapa namanya tante?” tanya Reina
Tasya menggeleng pelan,
“Coba Nana sama Ronal yang kasih nama bayinya,” pinta Tasya
Reina menatap kearah Aldo lagi. Aldo terdiam, terlihat berpikir, memikirkan nama yang pas untuk adik angkatnya ini.
“Renal?” saran Aldo
Tasya, menatap anaknya dengan kening berkerut,
“Kenapa namanya harus Renal entar ketuker sama nama kamu Ron?”
Aldo menggeleng pelan, dia memikirkan nama ini perlu waktu.
“Karena namanya penggabungan dari nama Reina sama Ronal ma, jadi Renal. Bagus gak? Mama harus setuju ya?” pinta Aldo
Tasya hanya tersenyum simpul mendengar permintaan dari Aldo barusan. Lalu dia menatap kearah Reina yang tengah menggendong bayi mungil.
“Eh—“
“Kamu setuju gak Na?” Tasya mengulang pertanyaannya barusan
Reina mengangguk pelan,”Renal nama yang bagus tante, hampir mirip sama nama Ronal,”
Tasya mengangguk pelan, “Itu emang nama dari penggabungan nama kamu sama nama Ronal, Ronal yang minta,”
Ronal menatap kearah Reina yang tengah serius menggendong bayi, Reina terlihat sangat asyik.
Raut wajahnya sangat tulus saat dia mencoba mengajak bercanda bayi itu, sifat keibuan Reina muncul.
Aldo tidak peduli dengan rasa nyaman, dia mencintai Reina di segala suasana.
“Ma, kalo kaya gini kaya anak Ronal sama Nana ya?” tanya Aldo
Tasya hanya tersenyum, “Emang Ronal mau nikahin Nana?” Tasya balik bertanya
Aldo mengangguk, “Mau lah ma, iya gak Na?”
Reina hanya membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan dari Aldo. Jangan sampai, nanti dirinya dan Aldo di jodohkan.
“Kalau kamu mau nikahin Nana, minta restu sama mama dan papa Reina. Bersikap yang baik-baik, jangan jadi anak bandel. Terus sukses dulu, biar Nananya bangga sama Ronal,” nashet Tasya
“Mama setuju gak kalo Reina jadi calon menantu mama?” tanya Aldo
Reina menginjak kaki Aldo secara spontan, masalahnya dia berbicara di depan banyak orang.
Disana juga ada teman-temannya yang lain, Reina tidak tau dimana malu Aldo bertanya seperti itu kepada Tasya.
“Mama sih setuju aja, kan Ronal sama Nana juga udah kenal dari lama. Lagian mama sayang sama Nana, seperti sama anak mama sendiri,”
“Ma potoin Ronal sama Nana dong, sambil gendong Ronal juga. Kan ini lagi trainee jadi keluarga bahagia,” pinta Ronal lagi
Tasya mengangguk, lalu dia mengambil ponsel dari tangan Aldo. Aldo menarik lengan Reina, agar berdiri di sampingnya dan menatap kearah kamera.
“Satu... dua... tigaa” Tasya memberi aba-aba
Setelah poto itu berhasil diambil oleh Tasya, Tasya langsung mengembalikan ponsel itu ke tangan Aldo.
“Sini Na, biar tante yang gendong Renal lagi,” pinta Tasya
Reina memberikan Renal ke gendongan Tasya lagi. Lalu Tasya berlalu pergi ke dalam rumah, untuk mengganti baju Renal.
“Acara apa?” tanya Reina
“Selametan, karena mama ngadopsi anak baru. Terus mau diliatin juga ke tetangga,” jawab Aldo
Jadi Reni menyuruh Reina mengganti baju dengan dress ini hanya untuk pergi ke selamatan adik barunya Aldo, untuk apa menggunakan baju se formal ini. Lagipula dia bisa menggunakan kemeja dan jeans seperti biasa.
“Hai Na,” sapa Rino
Reina tersenyum simpul kearah Rino, “Hai Rino,”
Tisa menatap selidik kearah Reina yang sangat terlihat aneh dengan penampilannya,
“Na, lo pacaran sama Aldo?”
Reina menggeleng pelan,
“Gue gak pacaran sama Aldo, emangnya kenapa?”
“Kalian terlalu deket buat dibilang hanya temen” ucap Sashi
“Wajar kita dekat, kita kan temen dari kecil” balas Reina
Aldo merangkulkan tangannya di bahu Reina,
“Kita gak akan pacaran, tapi langsung lamaran ya Na?”
Reina melepaskan rangkulan tangan Aldo dari bahunya,
“Emangnya gue mau ya Ron?”
“Jangan jawab disini, nanti aja jawabnya di depan orang tua lo. Tunggu gue ya Na” Aldo mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Reina.
Sashi menatap kearah Reina, dia begitu iri dengan apa yang di miliki oleh Reina.
Bukan berati Sashi akan menghancurkan kebahagiaan Reina, hanya saja dia ingin seperti Reina yang bisa di sukai orang lain, dengan diri dia sendiri tanpa harus merubah dirinya.
Reina punya sesuatu hal yang berbeda dari yang lainnya, dan itu adalah sisi emas dari seorang Reina.
“Na, kalo kita punya anak namanya apa?” tanya Adam
Reina menautkan kedua alisnya, dia bingung dengan pertanyaan Adam barusan.
“Kan lo sama Aldo, digabung jadi Renal. Kalo sama gue sama Read? Just Read? Menyakitkan Na”
Reina terkekeh pelan, “Emangnya lo mau punya anak dari saiapa Dam?” tanya Reina polos
Adam ingin membunuh Reina, bahkan Reina tidak mencerna ucapan dari Adam yang sudah kode keras seperti itu.
“Lo”
“Na, kalo Reon nama yang bagus gak?” tanya Leon
Reina mengangguk pelan, “Bagus Eon, kenapa?”
“Berati lo setuju kawin sama gue, itu nama anak kita nanti Na” jawab Leon
“Anak kita?”
Leon mengangguk,
“Reon adalah penggabungan dari Reina dan Leon, bagus kan?”
Entah bagaimana Reina langsung menoleh kearah Rino yang tengah menatap kearahnya, tatapan mereka berdua bertemu, cukup lama sampai Reinalah yang lebih dulu mengalihkan tatapannya.
“Rina dan Reno, apa tanggapan lo Na tentang dua nama itu?” tanya Rino
Reina hanya terdiam, dia tau itu adalah penggabungan namanya dan juga Rino.
Dia bukan tidak mau menjawabnya hanya saja dia takut jika salah bicara.
“Lo tau kan arti nama itu apa?” tanya Rino lagi
“Kalo lo gak tau itu adalah—“
“Penggabungan dari nama Rino dan Reina,” potong Reina cepat
Rino mengangguk pelan, “Bagiamana menurut lo?”
Reina menggeleng pelan, dia tidak bisa mengomentari nama itu sama sekali karena jawabannya sama.
Mengapa semuanya mencari nama yang ada sangkutannya dengan nama Reina. Dia sama sekali tidak tertarik.
“Sama aja, semua nama itu bagus Rino,” jawab Reina, dia mengambil jalan aman untuk menjawab.
Aldo melingkarkan tangannya di pinggang Reina, dengan sangat erat. Bahkan Reina merasa tubuhnya sekarang lebih dekat dengan Aldo.
Sebenarnya ada apa dengan Aldo?