4K

4K
First Season•Bab XIII



Rino menunggu Reina di depan gerbang sekolahnya, tangannya membawa paper bag berisi jaket Reina yang ditinggalkan saat pesta ulang tahun Sashi.


Entah bagaimana bisa Rino ingin mengembalikannya sendiri , tanpa harus menyuruh Sashi atau temannya yang lain.


Rino melihat Reina berada di mobil Aldo menuju parkiran sekolah, lalu dia mengikuti mobil itu menuju parkiran.


Reina turun dari mobil Aldo, dan menatap kearah Rino yang berdiri di samping mobil Aldo.


“Eh Rino, ada apa?” tanya Reina


Rino memberikan paper bag yang dibawanya kepada Reina,


“Jaket lo yang ketinggalan di rumah Sashi”


Reina tersenyum lalu dia mengambil paper bag itu,


“Makasih Rino”


Reina melihat kesekelilingnya dia menjadi pusat perhati lagi, lalu Aldo merangkulkan tangannya di bahu Reina.


“Anggap mereka gak ada, gak liatin lo. Lo harus terbiasa dengan hal seperti ini Na” bisik Aldo


Reina mengangguk pelan, dia memang meminta pendapat Aldo bagaimana dia harus bersikap selama di sekolah, setelah beberapa masalah yang di hadapainya.


“Lo udah mulai terbiasa sekarang?" tanya Rino


Reina hanya tersenyum simpul untuk menanggapinya, walaupun dia tidak terbiasa tetap harus membiasakan dirinya.


“Gue duluan ya” pamit Reina


Aldo dan Rino hanya mengangguk mengerti, Aldo tersenyum penuh arti dia menunggu perubahan Reina, dia yakin setelah Reina bisa beradaptasi dengan zonanya yang sekarang cepat atau lambat Reina akan membuka hati untuk Aldo.


Rino merasa Reina tidak nyaman disituasinya yang sekarang, tapi Reina mencoba untuk membiasakan diri.


“Menurut lo Reina bakalan nyaman gak di zonanya yang sekarang?” tanya Aldo


Rino menggeleng pelan,


“Entahlah Al, gue ngerasa jahat banget udah jadiin dia taruhan”


Aldo menautkan kedua alisnya bingung, tidak biasanya Rino mengatakan hal seperti itu.


Rino terkenal tidak punya perasaan saat menyakiti hati seseorang. Tetapi, kali ini Rino merasakan hal yang tidak biasa ia rasakan.


“Lo mau nyerah dari taruhan ini?”


“Enggaklah, karena gue yakin gue menang” bangga Rino


Aldo menoyor kepala Rino karena kesal, baru saja dia memikirkan perubahan sikap Rino yang tidak biasa.


Tapi, sekarang sikapnya sudah kembali seperti semula, Rino yang terlalu percaya diri.


“Tapi lo bener Al, Reina gak suka keramaian” ucap Rino


Aldo mengangguk,


“Kan gue udah bilang sama lo, bahwa Reina itu beda. Dia lebih suka di tempat sepi yang tenang daripada di tempat rame”


-4 R-


Kantin SMA Bakti Bangsa cukup ramai hari ini, entah kenapa begitu banyak siswa yang ada di kantin daripada menghabiskan waktunya di lapangan, kelas, ataupun perpustakaan.


Reina berjalan bersama Tisa menuju kantin, awalnya dia malas saat melihat kantin begitu penuh dengan siswa sekolahnya. Tapi, sekarang sudah terlanjur karena banyak orang yang melihat kearahnya.


“Reina” panggil Rino sambil melambaikan tangannya di warung bu Mia.


Reina celingak celinguk mencari orang yang bernama Reina lagi, tetapi dia sadar bahwa Rino memanggilnya.


“Rino manggil lo, gak mau di samperin?” bisik Tisa


Reina hanya tersenyum simpul,


“Menurut lo mesti gimana?”


Tisa melihat ke sekitarnya yang kini tengah menatap Reina,


“Mending samperin aja, jangan peduliin deh orang-orang yang kepo sama lo”


Reina mengangguk pelan, lalu dia dan Tisa berjalan kearah Rino yang berada di warung bu Mia bersama teman-temannya seperti biasa.


“Duduk sini” Rino membersihkan kursi kayu yang ada di sebelahnya untuk duduk Reina.


Reina duduk di kursi yang sudah di bersihkan oleh Rino, sedangkan Tisa langsung duduk tanpa perlu di bersihkan.


“Waktu ulang tahun Sashi, lo bawa Reina kemana main kabur gitu aja?” tanya Leon


“Kan kita yang jemput Reina dari rumahnya, tapi malah lo yang berduaan sama Reina” cibir Adam


“Denger ya, Reina itu gak suka tempat rame. Apa lo gak liat gimana tatapan horror cewek alay yang datang di pesta Sashi?”


“Harusnya gue yang nanya sama lo, apa lo gak liat tatapan horror fans lo saat lo bawa Reina pergi?" balas Leon


Rino hanya diam, dia tidak berpkir sampai kesana.


“Udahlah kan semuanya sudah terjadi” ucap Reina


“Lo belum jawab pertanyaan gue Rino, lo bawa kemana Reina?” Leon mengulang pertanyaannya


Rino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali,


“Gue bawa Reina ke rumah, kemana lagi?”


“Rumah lo kan sepi Rin, nyokap lo lagi pergi. Artinya kalian berdua berduaan?” tanya Aldo tak percaya


Rino melebarkan matanya mendengar pertanyaan Aldo, memang mereka berduaan tapi mereka tidak melakukan sesuatu hal yang tidak terpuji.


“Jangan berpikiran kotor Aldo” tegas Rino


Aldo menautkan kedua alisnya bingung,


“Siapa yang berpikiran kotor Rin? Gue cuma nanya, lo berduaan dong sama Reina?”


Reina mengangguk,


“Gue emang berduaan sama Rino di rumahnya, tapi gak lama soalnya mama Rino sudah pulang”


“Lo harus menjelaskan bagaimana lo bisa berduaan sama Rino” bisik Tisa


Reina hanya mengangguk pelan, dia lupa bahwa mempunyai teman seperti Tisa yang selalu ingin tahu apa yang terjadi apabila menyangkut dengan Rino cs.


“Lo ketemu tante Laras?” tanya Adam tak percaya


Reina mengangguk, “Iya”


Adam menatap kearah Rino, dan Rino hanya tersenyum untuk menanggapinya. Adam mengerti apa yang dimaksud Rino.


-4R


Jika kita pindah ke tempat yang baru, kita juga harus siap meninggalkan yang lama.


Reina menatap pantulan dirinya di cermin, tak ada yang bisa dia banggakan dari penampilan ataupun wajahnya.


Reina tidak habis pikir kenapa perubahan dunianya bisa secepat ini terjadi.


“Gue biasa aja, kenapa orang lain seneng banget liatin gue” ucapnya pelan


Pintu kamarnya terbuka, menampilkan seorang cewek yang mirip dengan Reina hanya saja cewek itu terlihat lebih dewasa dari Reina.


“Kak Caca kapan pulang?” tanya Reina tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang


Cewek yang dipanggil Caca atau bernama lengkap Reysa Pinandita itu masuk ke kamar Reina dan duduk di tepi kasur, lalu menatap kearah Reina yang sedang duduk di depan meja rias.


“Tumben banget kamu duduk disitu Na”


Reina menghela nafasnya pelan, lalu dia menatap kearah Reysa.


“Mama cerita gak sama kak Caca?”


Resya menautkan kedua alisnya, dia bingung dengan pertanyaan Reina barusan yang lain dari biasanya.


“Cerita apa?” Reysa balik bertanya


Reina menggeleng, dia bisa bernafas dengan lega jika Reni tidak menceritakan apa yang terjadi kepada Reysa.


“Mama hanya cerita kamu sering keluar sekarang, kata mama kamu udah bisa bersosialisasi dengan baik sama temen-temen kamu. Bener Na?”


Reina melebarkan matanya, dia harusnya sadar bahwa Reni pasti menceritakan hal sekecil apapun kepada Reysa walaupun mereka terpisah dengan jarak, karena Reysa kuliah di luar kota.


“Enggak bukan gitu kak, tapi Reina lebih sering—“


"Udah gapapa, wajar anak remaja seusia kamu sering ngabisin waktu sama temen-temen” potong Reysa


Reina bejalan kearah kasurnya, lalu dia duduk di samping Reysa.


“Menurut kak Caca, cinta di SMA itu kaya gimana?”


Reysa menaikan sebalah alisnya, lalu tersenyum menyeringai.


“Kamu udah punya cowok Na? Serius Nana udah punya cowok?”


Reina menggeleng tegas, dia hanya ingin bertanya bukan berati dia sudah mempunyai pacar.


Dekat dengan cowok saja, Reina hanya dengan Aldo. Walaupun sekarang, teman cowok Reina lumayan bertambah.