
“Serius cuma kita bertiga aja yang jalan?” tanya Reina tak percaya
Adam hanya mengangguk pelan, “Iyalah, di pikir ada orang lain selain gue sama Leon?”
Reina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, lalu dia mengangguk pelan.
“Emangnya mereka kenapa gak bisa ikut?”
Leon hanya menaikan bahunya tanda tidak tau. Kemarin, Rino, Aldo, Sashi, Tisa, Adam, Leon dan Reina memang berjanji akan menonton film hari ini. Tapi, saat hari yang telah di janjikan tiba hanya ada Leon, Adam dan Reina saja.
“Menurut lo kenapa Na?” Leon balas bertanya kepada Reina
Reina menggeleng pelan, dia tidak tau alasan mengapa teman-temannya yang lain tidak bisa ikut nonton hari ini.
“Tanggung Na, udah pesen tiket juga masa gak jadi,” ucap Adam
“Jadi aja, kita nonton bertiga gapapa” putus Reina
“Serius Na?”
Reina mengangguk, lagipula dia sudah berjanji bahwa hari ini akan nonton dan juga terlanjur izin kepada Reni bahwa dia pulang telat hari ini.
“Lo mau popcorn?” tawar Leon
“Boleh,”
“Yaudah, gue beli dulu. Lo sama Adam duluan aja masuk”
aAdam meraih tangan Reina dan mengangguk meninggalkan Leon yang kali itu berjalan menuju stan popcorn.
-4 R-
Setelah seharian Reina, Adam dan Leon mengelilingi mall. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, mengingat hari sudah sore.
“Pulang sekarang Na?” tanya Leon
Reina mengangguk, lalu mereka bertiga berjalan kearah parkiran mall. Entah mengapa tatapan mata Reina menatap kearah kafe coklat yang baru saja buka. Dia ingin kesana, tapi bagimana dia mengajak Adam dan Leon, mereka terlihat sangat lelah.
“Kenapa Na?” tanya Adam
Reina menggeleng, tapi tatapan matanya tidak bisa berbohong. Lalu Adam mengangguk paham dengan apa yang mengganggu pikiran Reina saat itu.
“Lo mau ke kafe itu?”
Reina langsung mengalihkan tatapan matanya, menatap kearah Adam yang bisa membca pikirannya.
“Enggak,” jawab Reina
“Jangan bohong, ketara banget di kepala lo bahwa lo ingin ke kafe itu,” cibir Adam
Leon menaikan sebelah alisnya, “Yaudah, kita ke kafe itu dulu. Biar nanti lo gak penasaran, kalo lo mati biar kita gak di gentayangin gara-gara gak di wujudin mau lo,” putus Leon
Reina menatap kearah Leon dengan tatapan tajam, dia kesal dengan keputusan Leon barusan. Bukan karena Leon mengajak Reina untuk mampir ke kafe itu, hanya Leon menganggap bahwa Reina akan mati.
“Gue gak ada duit, besok lagi aja,” ucap Reina
Leon mengerutkan keningnya, “Gue yang traktir, gimana?”
Reina menggeleng pelan, dia tidak mau merepotkan orang lain hanya untuk memenuhi kemauannya.
“Yakin gak mau Na?” tanya Leon
“Iya,”
“Serius Na?” ulang Leon
Reina mengangguk, lalu menempelkan kedua tangannya di dada, “Iya Leon, gak usah”
“Coklat loh Na, yakin mau nolak?” tawar Leon
Reina mendesah pelan, dia sangat tidak bisa mengontrol dirinya sendiri jika ada orang yang mengatakan coklat. Reina sangat tergiur dengan tawaran Leon barusan. Coklat di sore hari, sangat pas untuk moodnya.
“kelamaan mikirnya, ayo” Leon menarik lengan Reina menuju ke sebrang jalan dan Adam hanya mengikuti sambil tersenyum simpul.
Reina tidak bisa melawan kodratnya sebagai seorang cewek, buktinya dia gengsi mengatakan iya meskipun sebenarnya mau. Cewek kan gengsinya emang tinggi.
Reina masuk kedalam kafe itu di temani Adam dan Leon. Reina suka dengan penataan kafe itu, benar-benar kafe coklat yang sesungguhnya.
Piring, gelas, dan apapun perlengkapan lainnya semuanya berwarna coklat.
“Eon potoin dong,”
Leon terperangah saat mendengar Reina menyuruhnya, tidak biasanya Reina seperti ini. Tapi, Leon langsung mengambil ponsel yang di pegang oleh Reina, dan mempotonya beberapa kali.
Leon melihat Reina tidak hentinya tersenyum saat mereka masuk ke kafe ini, apa yang menarik dan spesial dari ini semua? Leon tau Reina sangat menyukai coklat, tapi dia tidak menyangka bahwa Reina mencintai coklat sampai begininya.
“Lo berdua mau di poto?” tawar Reina
“Kita selfie bertiga Na,” ajak Adam
Reina mengangguk antusias, lalu dia memegang ponselnya dan bersiap untuk selfie. Mereka mendapatkan beberapa poto dengan beberapa gaya yang unik.
Hari ini Adam dan Leon menemukan sesuatu yang menarik di dalam hidup Reina, dia sangat berbeda saat berada di tempat ternyamannya.
Adam, Leon dan Reina kemudian duduk di salah satu meja paling pojok. Bukan mereka sengaja memilih meja paling ujung dan pojok, hanya saja satu-satunya tempat kosong memang disana.
“Mau pesen apa?” tanya seorang waiter menghampiri meja mereka
“Lo pilihin aja Na, bebas” pinta Leon, saat Reina menatap kearahnya dan juga Adam
“Milkshake coklatnya tiga” ucap Reina
“Udah itu aja?” tanya waiter itu lagi
“Sama chocolate lava muffins,” tambah Leon
Reina menatap kearah Leon tak percaya karena makanan itu yang ada di pikiran Reina saat ini. Atau jangan-jangan Leon bisa membaca pikiran Reina? Entahlah.
Waiter itu mengulang pesanan mereka, setelah pesanannya sesuai barulah waiter itu pergi meninggalkan meja mereka.
“Na, kenapa sih lo suka banget sama coklat?” tanya Adam penasaran
“Gini aja deh, lo ada sesuatu yang lo sayang?” Reina balas bertanya
Adam dan Leon hanya diam saat mendengar pertanyaan Reina barusan.
“Misalnya, kalian suka main PS. Entah karena rame atau yang lainnya, tapi saat kalian bermain PS kalian merasa senang. Begitu juga gue, entah karena coklat itu nikmat dan manis, coklat juga sesuatu hal yang bisa buat gue senang.” Reina menjawab pertanyaanya sendiri
“Coklat kan gampang buat berat badan cewek naik? Gak takut gendut?” tanya Leon
Reina menggeleng pelan, “Gue makan coklat dari kecil, perasaan berat badan gue segini-gini aja” jawab Reina
Adam terkekeh mendengar jawaban Reina barusan,
“Karena itu adalah anugerah dari Tuhan untuk lo, makan banyak juga gak akan buat lo gemuk”
“Awal mula lo suka coklat karena apa?” tanya Adam
“Karena Ronal” jawab Reina
“Aldo?”
Reina mengangguk pelan, “Dulu gue selalu beli susu rasa vanilla, dan dia selalu beli susu rasa coklat. Waktu itu, nyokap gue belum belanja bulanan dan susu gue habis, dan gue main ke rumah Ronal, terus Ronal minum susu coklat dan gue ngeliatin dia mupeng soalnya gue pengen minum susu. Terus, Ronal kasih gelasnya ke gue dan gue minum langsung dari gelasnya.”
“Satu gelas?” tanya Leon tak percaya
Reina hanya tersenyum simpul
“Secara gak langsung lo udah ciuman dong sama Aldo?”
Reina menautkan kedua alisnya bingung, mengapa dia harus ciuman secara tidak langsung dengan Aldo. Yang mereka lakukan hanyalah minum satu gelas.
Reina membulatkan matanya, kalo di pikir-pikir...
“Tapi kan itu waktu masih kecil” jawab Reina langsung
Adam menggelengkan kepalanya, “Gue gak nyangka ternyata Reina yang gue kenal sudah tidak polos lagi”
“Ciuman pertama lo berati Aldo, dan gue bisa simpulkan kenapa Aldo suka sama lo deh Na. Mungkin karena lo udah ambil ciuman pertamanya juga, hayoloh Na tanggung jawab” ejek Leon
Reina menundukan kepalanya dalam-dalam. Benarkah karena itu Aldo mencintainya, hanya karena insiden tidak sengaja dan tidak di rencanakan. Bahkan Reina tidak pernah menyadari bahwa hal itu pernah terjadi di dalam hidupnya.
“Apa karena itu Ronal suka gue?” tanya Reina sambil menatap Leon dan Adam secara bergantian
Adam dan Leon mengangguk berbarengan seolah memang itu adalah asalan Aldo mencintai Reina.
“Gue harus ngomong sama dia dan minta maaf. Kita harus ngelurusin masalah ini, gue gak mau Ronal terus berharap sama gue, gue gak mau terus nyakitin dia,” lirih Reina
Adam dan Leon melebarkan matanya.
“Lo percaya dengan apa yang gue bilang barusan?” tanya Leon
Reina mengangguk pelan, “Iya, karena kalian berdua temennya Ronal, jadi Ronal pasti cerita sama kalian”
Adam dan Leon hanya tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Reina yang kelewat polos seperti itu.
“Serius Na? Kita hanya bercanda lagian” ucap Adam
“Serius apa bohong?” tanya Reina kesal, dia merasa bahwa telah di permainkan oleh keduanya.
“Bohong Nana. Lagipula Aldo gak pernah cerita kenapa dia suka sama lo. Yang selalu Aldo katakan hanya, Reina itu cewek yang beda dia satu-satunya cewek yang bisa bikin gue jatuh cinta.” Jawab Adam
Pipi Reina mendadak memanas karena ucapan dari Adam barusan, Aldo adalah pribadi yang hangat tidak salah dia berbicara seperti itu.
Kemudian, seorang waiter itu membawa pesanan Reina dan teman-temannya. Mata Reina berbinar saat melihat milkshake dan chocholate lava muffins di mejanya, dia begitu tergiur dengan nikmat coklat.
Adam dan Leon hanya memperhatikan Reina, yang minum milkshake itu dengan cerianya. Berbeda dari Reina biasanya, yang menampilkan wajah datar atau sesekali tersenyum. Hanya karena coklat dia bisa seceria ini.
Adam dan Leon mendapatkan jackpot untuk mendapatkan Reina, yaitu hanya satu ‘Coklat’ dan mereka mengira bahwa semuanya selesai.
“Na, kalo di suruh pilih lo mau pilih gue atau Leon?” tanya Adam
Uhuk, Reina tersedak saat sedang menikmati chocholate lava muffins dengan khidmat, lalu dia menatap kearah Adam.
“Kenapa harus pilih, kalian bukan pilihan” jawab Reina
Adam menggeleng, “Misalkan di dunia ini hanya ada dua cowok, lo akan pilih siapa untuk hidup berdua sama lo?”
Reina terdiam sejenak, dia berpikir siapa yang akan dia pilih jika di dunia ini hanya ada Adam dan Leon.
“Harus gue jawab?” tanya Reina
Adam dan Leon mengangguk.
“Gatau gue bingung”
Leon tersenyum simpul, “Gini aja deh, siapa yang hari ini lebih buat lo bahagia?” tanya Leon
"Sama aja sih, kenapa emangnya?”
“Perbandingannya sepersen aja gapapa Na, lo harus tetep memilih diantara kita berdua” pinta Adam
Reina menganggukan kepalanya, lalu dia menatap kearah Adam dan Leon secara bergantian. Dia sendiri bingung siapa yang akan dia pilih, coba ada pilihan lain misalnya tentu saja dia akan memilih pilihan lain, karena Reina tidak bisa memilih diantara Leon dan Adam.
“Gue pilih Leon,” akhirnya
Adam membulatkan matanya tak percaya dan di sambut senyum kemenangan oleh Leon.
“Untung lo pilih gue Na, kalo lo pilih Adam gue akan suruh lo bayar ini sendiri” ucap Leon
“Kenapa pilih Leon?” tanya Adam
Reina tersenyum simpul, “Jawabannya karena Leon traktir gue coklat hari ini,”
“Kalo gue yang traktir lo coklat, lo akan pilih gue?” tanya Adam lagi
Reina mengangguk.
Lagi-lagi semuanya hanya karena coklat. Reina dan coklat seperti kesatuan yang tidak dapat di pisahkan.