
“Kita ngapain kesini?” tanya Reina saat Adam menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah.
Leon yang kali itu ikut di mobil Adam hanya mengangguk pelan,
“Kita mau main di dalam”
Reina menghela nafasnya pelan, dia sadar bahwa dirinya di tipu oleh kedua cowok ini. Tadi di sekolah Reina menolak untuk ikut ke mobil Adam.
Tapi Adam dengan alibinya mengatakan bahwa angkutan umum sedang mogok untuk jalan karena sedang demo kenaikan BBM, dan Reina mempercayainya begitu saja.
“Jangan khawatir, di dalem ada Rino, Aldo dan Tisa juga” ucap Leon
Reina mengangguk pelan, dia bisa bernafas dengan lega. Untung saja, ada Tisa dan Aldo jadi dia tidak sendiri.
“Yuk Na masuk” ajak Adam
Reina, Adam, dan Leon masuk ke dalam rumah. Reina baru mengetahui bahwa ini adalah rumah Leon, tapi mengapa Aldo, Rino dan Tisa bisa masuk lebih dulu tanpa menunggu si yang mpunya rumah ini datang.
Leon membuka pintu kamarnya dan benar saja di dalam kamar ada Aldo dan Rino yang sedang membaringkan tubuhnya di kasur, sedangkan Tisa duduk di karpet sambil menonton film.
“Nih Nana udah dateng” ucap Leon
Rino dan Aldo langsung bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk.
“Eh Nana udah dateng, siapin Eon semuanya” perintah Aldo
Leon hanya mengangguk, lalu dia meninggalkan mereka di dalam kamar. Reina tidak merasa takut, karena dia percaya bahwa disini ada Aldo yang akan menjaganya.
“Mau apa sih Ron?” tanya Reina
Aldo hanya tersenyum,
“Sini duduk sebelah gue” pinta Aldo sambil menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.
Reina tersenyum simpul, lalu dia masuk kedalam kamar Leon dan duduk di sebelah Tisa.
Aldo turun dari atas kasur dan duduk di sebelah Reina, Rino yang melihat itu hanya tersenyum dia merasa senang saat melihat Reina ada bersama bagiannya.
“Sashi belum datang?” tanya Adam
“Dia lagi di jalan kayanya, tadi gue ajak bareng dia gak mau” jawab Rino
Reina mematung saat mendengar nama Sashi, tadi pagi dia melihat Sashi menyatakan perasaannya kepada Raka, dan Raka menolaknya mentah-mentah.
Reina ingin tau bagaimana keadaan Sashi, apa dia baik-baik saja setelah yang dilakukan oleh Raka tadi pagi.
Pintu kamar pun terbuka kembali, sekarang Reina bisa melihat seorang cewek masuk dengan wajah yang lesu.
Apa patah hati begitu menyakitkan membuat Sashi tidak bergairah sama sekali (?).
“Kenapa Sas?” tanya Rino saat Sashi masuk dan mendaratkan tubuhnya di kasur.
Sashi menggeleng pelan,
“Gue putus sama Toni” ucapnya pelan
Rino hanya terkekeh pelan mendengar pernyataan dari Sashi barusan,
“Hubungan jarak jauh kalo lo gak kuat, gak akan bertahan lama Sas” cibirnya
Sashi mengubah posisinya menjadi duduk, lalu dia menatap kearah Rino.
“Kaya yang pernah ngalamin LDR aja lo”
Reina bingung dengan kedekatan Sashi dan Rino barusan, apakah mereka memang sedekat ini? Tapi, kalau mereka dekat kenapa Sashi menyatakan perasaannya kepada Raka bukan kepada Rino? Bukankah orang yang saling mencintai, tandanya mereka sudah dekat? Pikir Reina.
“Ron, Sashi sama Rino emang deket ya?” tanya Reina
Aldo mengangguk pelan, “Mereka emang deket, kan rumahnya juga tetanggaan”
Leon kembali masuk ke dalam kamarnya, dengan membawa beberapa cemilan dan satu botol kosong.
“Main ToD lagi Eon?” tanya Sashi malas
Leon mengangguk pelan, “Kan ada anggota baru” jawab Leon
Sashi langsung mengabsen orang yang ada di kamar Leon itu. Matanya melebar saat melihat ada Reina dan Tisa, Sashi hanya tersenyum singkat tanda menyambut dua cewek itu.
“Mulai sekarang?” tanya Rino
Aldo, Adam dan Leon mengangguk, lalu mereka mulai membentu lingkaran.
“Gue yang puter botolnya pertama kali” ucap Rino, lalu dia mulai memutar botol itu, hingga menujuk kearah Aldo.
Aldo tersenyum, dia yakin bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya.
“Truth or Dare?” tanya Rino
“Truth” jawab Aldo cepat
Rino mencibir, Aldo sangat tidak asik dalam permainan kali ini. Apa karena ada Reina? Jadi dia menjaga imagenya, agar Reina tidak ilfeel. Entahlah.
“Kenapa lo suka sama Reina?” tanya Rino, pertanyaan klasik tapi dia ingin melihat seberapa serius perasaan Aldo kepada Reina.
Reina menatap kearah Aldo, pipinya merona merah debaran jantungnya kembali berdetak lebih cepat dari biasanya.
Reina tidak tau mengapa bisa, Aldo hanya akan menjawab pertanyaan Rino barusan bukan menanyakan jawaban dari Reina. Mengapa dia setegang ini (?).
“Karena Reina, gue ngerasa jadi seorang cowok” ucap Aldo
Reina masih bisa mengatur nafasnya dengan benar.
“Karena Reina, adalah cewek satu-satunya yang menarik perhatian gue”
Pipinya mulai terasa panas, Reina tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Apa karena, Aldo mengatakannya di depan banyak orang, berbeda dengan mereka di kelas dulu hanya berdua.
"Gak ada alasan atau pertanyaan lainnya. Yang jelas, ketika gue bersama dia gue bahagia” Aldo merangkulkan tangannya dibahu Reina, hal ini membuat tubuh Reina bergetar hebat dia bingung harus melakukan apa.
“Oke lanjut” potong Aldo, karena dia peka Reina mulai tidak nyaman dengan situasi barusan.
Aldo mulai memutar botol itu, dan sekarang botolnya menunjuk kearah Sashi.
“Giliran lo Sas, truth or dare?” tanya Aldo
Sashi terdiam beberapa lama, “Dare” jawabnya dengan cepat.
Aldo mengerutkan keningnya bingung karena tidak biasanya Sashi memilih Dare seperti ini.
Tapi, Aldo tidak mau ambil pusing masalah itu, lalu dia mengangguk memikirkan tantangan apa yang cocok untuk Sashi.
“Lo telpon Raka si ketos aneh itu, dan nyatain cinta sama dia” perintah Aldo
Sashi membulatkan matanya, bukan dia tidak mau hanya saja hal itu sudah dia lakukan tadi di sekolah dan mendapat jawaban yang membuat hatinya sakit.
“Ronal, ganti darenya gak usah ngelibatin Raka” larang Reina
Aldo menautkan kedua alisnya bingung,
“Kenapa dengan dia? Jangan karena lo sekretarisnya deh Na, sekarang kita lagi games”
Reina menatap kearah Sashi, raut wajah Sashi mendadak pucat pasi. Reina tidak tega.
“Ganti deh cowoknya jangan Raka” pinta Reina
“Yang ngejalanin dare kan Sashi, kenapa lo yang rempong Na?” tanya Aldo sambil menjulurkan lidahnya kearah Reina.
Sashi menghela nafasnya pelan, lalu dia mengangguk.
“Oke” putusnya
Sashi mengeluarkan ponselnya, dan menekan tombol call di nomor Raka.
Sashi meloudspeaker supaya pembicaraannya dengan Raka bisa di dengar oleh semua orang yang ada di kamar Leon.
“Halo Raka” sapa Sashi
Tak ada jawaban dari Raka meskipun telpon itu sudah diangkat oleh Raka.
“Gue suka sama lo, lo mau jadi cowok gue?” tanya Sashi
“Gak”
Lalu sambungan telpon itu langsung terputus seketika.
Aldo, Rino, Adam, dan Leon menepuk tangannya mereka bangga karena Sashi mempunyai keberanian seperti itu.
Sashi mulai memutar botolnya, dan kali ini menujuk Rino. Sashi tersenyum setan, dia akan mempermalukan Rino jika Rino memilih Dare.
“Truth or Dare?” tanya Sashi
“Truth” jawab Rino
“Gak asik banget sih lo Rin” cibir Sashi
“Bodo amat, buruan truthnya apa?” tanya Rino
Sashi terdiam, dia terlihat berpikir memikirkan apa yang akan di jawab dengan jujur oleh Rino.
Lalu Sashi melihat kearah Reina yang sedang menatap kearah Aldo. Dia mendapatkan pertanyaan itu.
“Siapa cewek yang akan lo pilih diantara, gue, Reina dan Tisa?” tanya Sashi
Rino terdiam beberapa lama, kemudian dengan lantangnya dia menjawab,
“Reina”
Reina mengalihkan tatapannya kearah Rino, dan Rino hanya tersenyum ketika Reina menatapnya barusan.
“Kenapa?” tanya Sashi tak percaya, Sashi tau bahwa Rino dan Reina kenal belum lama.
“Karena dia cantik dan manis, dia tipe gue” jawab Rino
Sashi mengerutkan keningnya dia tidak percaya dengan jawaban Rino barusan.
Tipe cewek Rino adalah, cewek-cewek dengan bentuk tubuh sexy sedangkan Reina tidak termasuk kedalamnya sama sekali.
Apakah sekarang lagi trend cewek biasa yang menjadi pusat perhatian (?).
Rino kembali memutar botol itu dan botol itu menujuk kearah Reina.
“Reina, truth or dare?” tanya Rino
“Dare” jawabnya cepat
Rino terkekeh pelan, tadinya jika Reina memilih truth dia akan meminta Reina memilih diantara cowok-cowok yang ada di kamar ini.
“Gue yang kasih dare buat Reina ya Rin?” pinta Sashi
Rino hanya mengangguk, dia membiarkan Sashi memberikan tantangan untuk Reina.
“Lo lakuin tantangan yang sama kaya gue tadi” ucap Sashi
Reina membulatkan matanya, dia tidak mau memperenggang antara dirinya dan juga Raka.
“Lo telpon Raka, dan lo bilang suka sama dia”
Reina menoleh kearah Tisa, lalu dia mengangguk seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Reina menghela nafasnya, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan mengcall nomor Raka.
“Halo Rein?” sapa Raka pertama kali
Sashi yang mendengar itu langsung melebarkan matanya, tak biasanya Raka menyapa orang yang menelponnya pertama kali.
“Halo Ka, gue mau ngomong sama lo” ucap Reina pelan
“Ngomong apa?”
“Gue suka sama lo”
“Kita bicarain besok di sekolah ya Na, gue lagi sibuk”
Sambungan telpon itu terputus, lalu Reina melihat kearah orang-orang yang sedang menatapnya tidak percaya.
“Lo deket sama si Raka?” tanya Rino
“Dia deket, karena Reina sekretaris Raka” jawab Tisa mencoba menyelamatkan Reina.
Reina bisa bernafas lega, jika Tisa tidak membantu menjawabnya Reina tidak tau harus melakukan apa.
Dia dan Raka tidak dekat, hanya sebatas ketua osis dan sekretarisnya saja. Tidak ada yang lebih.
Sashi masih tidak percaya, mengapa Raka bisa seluwes itu saat berbicara dengan Reina daripada dengannya.
“Reina puter botolnya” perintah Aldo
Reina mengangguk, lalu dia memutar botolnya dan menujuk kearah Leon.
“Truth or dare?” tanya Reina
“Truth” jawabnya
“Siapa cewek yang lo suka sekarang?” tanya Reina dia mencari pertanyaan yang netral akan jawabannya, tanpa melubatkan orang-orang yang ada di dalam kamar ini.
“Lo” jawb Leon
Mata Reina terbelalak mendengar jawaban dari Leon barusan.
Tak butuh waktu lama, Leon langsung memutar botol itu dan menunjuk kearah Tisa.
“Truth or dare?” tanya Loen
“Truth” jawab Tisa
“Deskripsiin tentang Reina menurut lo” pinta Leon
Tisa mengangguk pelan,
“Reina itu sahabat gue, temen semeja gue. Dia baik banget, tapi kadang males, Reina benci sama orang yang rusuh, hidupnya sangat terstruktur. Yang menarik dari Reina adalah, dia bisa berubah menjadi pendiam ketika ada masalah.
Reina bukan menjaga atau membatasi diri dari orang yang baru, hanya saja Reina tidak suka menjadi sorotan hal itu membuat Reina bersikap seperti murid SMA pada umumnya. Dan hidup Reina sangat membosankan.”
Tisa tidak memutar botol itu, tatapannya langsung kearah Adam.
“Truth or dare?” tanya Tisa
“Truth”
“Siapa cewek yang paling cantik di sekolah?” tanya Tisa
Tisa yakin jawaban Adam akan menyebut nama Dila, anak kelas dua belas mantannya Rino. Kalaupun bukan Dila pasti akan Sashi.
“Reina”
“Reina mana?” tanya Tisa bingung
“Reina Pinandita, cewek yang duduk di sebelah lo sekarang”
Reina menatap keempat cowok yang ada di kamar ini. Ada apa dengan mereka semua? Mengapa mereka menjawab pertanyaanya dengan membawa nama Reina.
“Kenapa jadi serius gini, kita kan cuma main games” kekeh Sashi dia mencoba mencairkan suasana
“Enggak, kita serius” ucap keempatnya
Reina menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia tidak tau apa yang harus dia perbuat sekarang.