4K

4K
First Season•Bab VI



Keenan berusaha menutup matanya, tetapi dia tidak bisa. Lagi-lagi, matanya menginginkan untuk terbuka kembali.


Pikirannya melayang mengingat bahwa temannya Zie sangat menaruh hati kepada Karina si cewek biasa.


hal itu membuat Keenan berpikir apa daya tarik Karin sehingga bisa membuat temannya tergila-gila seperti itu.


Keenan mengambil ponselnya di nakas, lalu dia membuka aplikasi instagramnya dan mencari nama Karin di kotak pencarian.


“Sial di private segala” umpatnya pelan.


Lalu Keena memfollow instagram Karin, tapi tak mendapat accept dari si pemilik akun instagram itu.


Hal itu membuat Keenan semakin kesal. Dengan sangat terpaksa Keenan membuat akun instagram baru untuk menjadi stalker di akun instagram Karin.


Dan hasilnya Karin mengaccept fake akun instagramnya, Keenan tak habis pikir kenapa Kaerin lebih memilih mengaccept fake akun dari pada akun real Keenan.


Apa yang di ucapkan Zie semuanya benar? Bahwa Karin sangat benci kepada sesuatu yang akan menarik perhatian nantinya?.


Keenan langsung melihat satu persatu poto yang di posting oleh Karin di akunnya itu, tak ada yang spesial hanya beberapa poto selfie seperti cewek kebanyakan, poto bersama temannya dan juga poto bersama dengan Zie.


Keenan memperhatikan satu persatu poto itu dengan teliti, kemudian dia tersenyum.


“Manis juga ini cewek”


Lalu Keenan berganti applikasi social medianya menjadi twitter, dan mencari nama Kari lagi. Dia membaca tweet-tweet yang di tulis oleh Karin sampai tweet pertama.


Tak ada yang aneh, Karin hanya gadis yang tergolong anak SMA biasa, satu hal yang Keenan tau dia menyukai coklat dan drama korea.


Ini yang terakhir akan Keenan lakukan yaitu mencari facebook Karin, dia ingin tau masa pubertas Karin dari alay sampai sekarang bagaimana.


Keenan melihat album poto-poto masa lalu Karin, lalu dia tersenyum karena Karin berbeda dengan cewek sebelumnya yang selalu mengikuti perubahan dari masa ke masa, tak banyak perubahan dari Karin dia masih tetap sama manis.


Keenan menjadi senyum sendiri melihat poto Karin di masa lalu, entah sadar atau tidak Keenan mengunduh poto Karin yang kali itu di poto di sebuah danau sambil tersenyum kearah kamera, dengan kedua tangannya membentuk tanda peace.


Keenan mendapatkan beberapa infomasi lagi dari facebooknya, selain menyukai coklat dan drama korea dia juga menyukai sesuatu hal yang berbau dengan sastra, tak ada batasan sastra lama atau baru.


“Cewek yang unik, ketika semua cewek berburu diskonan baju, Karin hanya pergi ke tukang buku loakkan untuk mencari buku-buku sastra yang sudah tidak lagi di jual di toko buku”


Keenan menyimpan kembali ponselnya di nakas, lalu sekarang dia bisa tertidur dengan tenang.


-4 K-


“Karin?” panggil seorang cowok saat Karin baru keluar dari pintu kelasnya.


Karin menoleh kearah sumber suara.


“Eh... Keir”


Keir tersenyum lalu berjalan menghampiri Reina.


“Hari ini sibuk?” tanyanya.


Kari. menggeleng pelan.


“Kenapa?”


“Kalo gue ngajak lo pergi, mau?” tanya Keir.


Karin menatap Keir tak percaya, dia tidak tau apa yang terjadi pada Keir, apa mungkin Keir salah minum obat pagi ini? Perubahan sikapnya begitu drastis.


Keir yang sangat jarang berbicara, kalaupun mereka mengobrol hanya sebatas ruang lingkup osis saja. Tidak seperti ini dan ini aneh untuk Karin.


“Kemana?” tanya Karin.


“Lo mau nggak, gak usah jawab dengan pertanyaan lagi”


Karin celingak celinguk melihat kesamping kanan dan kirinya, dia melihat ada Zie sedang berjalan kearahnya, lalu dia menatap kearah Keir.


“Oke, kita pergi sekarang”


Keir mengangguk lalu dia berjalan di depan Karin, Karin langsung mengikuti Keir di belakangnya, mencoba menyeimbangkan langkahnya dengan Keir.


“Gue gak ada kendaraan, gapapa naik bus?” tanya Keir.


Karin tak masalah untuk itu, jadi dia hanya mengangguk.


Mereka naik satu Bus, Karin memperhatikan wajah Keir yang sangat damai ketika dia memejamkan matanya di Bus, ingin rasanya Karin mengabadikan hal itu dengan mempotret wajah Keir dan menyimpannya.


Kemudian Keir membuka matanya, tatapan mereka beradu untuk beberapa saat sampai akhirnya keduanya menolehkan kepalanya kearah yang berlawanan.


Keir mengetuk langit-langit bus sebagai tanda berhenti.


“Udah sampe, yuk” ajaknya


Karin mengangguk pelan, dia masih harus menahan rasa malunya di depan Keir karena barusan dia ke gapai sedang memperhatikan Keir.


Keir mengajaknya ke sebuah kafe, lalu para pekerja di kafe menyapa Keir membuat Karin menoleh kearah Keir bingung.


'mengapa mereka mengenal Keir?' itu pertanyaan yang ada di benak Karin.


“Duduk disini” Keir menarikkan kursi untuk Karin duduk.


Karin mengangguk, lalu dia duduk di kursi yang sudah di tarikkan oleh Keir barusan.


“Mau minum apa?” tanya Keir.


“Apa aja” jawab Karin.


Keir mengangguk lalu dia berjalan kearah dapur kafe tersebut, hal itu semakin membuat Karin bingung.


Sebenarnya siapa Keir (?)


Karin menolehkan kesekelilingnya, suasana kafe yang sangat sejuk dan sangat minimalis membuat kesan nyaman saat Karin berada di kafe itu, lalu dia berdiri dan berjalan kearah rak-rak buku yang berada di ujung ruangan kafe tersebut.


Dia menyusuri buku-buku yang berjejer rapi disana, sebagain dari judul buku itu pernah dia baca sampai tangannya jatuh di salah satu buku.


“Salah asuhan karya Abdoel Moeis” ucap seorang cowok yang kali itu ada di sebelah Karin.


Karin mengangguk.


“Sastra lama, terbit tahun 1928” ucapnya lagi.


Lagi-lagi Karin hanya mengangguk untuk menanggapinya.


“Gue banyak buku kaya gini di rumah, mau baca?” tawarnya.


Karin menggeleng pelan, lalu dia berjalan lagi kearah mejanya.


“Marah Rusli dengan Memang jodoh, Tulis Sutan Sati dengan Memtuskan Pertalian, Djamaludin Adi Negoro dengan Darah muda—“


“Lo baca judul buku itu semua Keenan?” tanya Karin tak percaya.


“Gue kira orang kaya lo gak suka sama sastra lama kaya gitu”


“Lo salah ngenal gue” jawab Keenan.


Kemudian Keir datang dengan nampan yang berisi satu mug coklat panas.


“Lo ternyata sama ketua osis freak itu, gue duluan kalo lo mau tau sastra lama lagi, lo bisa hubungin gue Karin, bye” Keenan pamit meninggalkan kafe itu.


Sekarang tatapan Karin menatap kearah Keir yang berada di depannya, Karin harus bertanya kepada Keir mengapa dia berada di sini dan kenapa juga dia bisa mengakses kafe ini dengan seenaknya.


“Ko lo bisa ngambil minuman ini sendiri?” tanya Karin.


“Gue kerja disini” jawab keir.


Karin menghela nafasnya pelan.


“Jadi ini kesibukan lo pulang sekolah?”


Keir mengangguk pelan.


“Gue kerja bukan untuk mencari uang, tapi mencari kesibukan sendiri, gue gak terlalu nyaman berada di rumah”


Jawaban Keir barusan sangat jauh dari perkiraan Karin, dia tidak menyangka bahwa Keir akan menjawabnya dengan sedetail itu.


“Jadi lo selalu berada di sini kalau tidak di sekolah?”


“Iya”


Karin tersenyum kearah Keir.


“Kalau gue mau kesini lagi boleh?” tanya Karin.


“Kenapa?”


“Gue suka sama kafe ini, selain nyaman di sini juga banyak buku sastra lama yang jarang ada di toko buku, selain bisa ngirit buat beli buku yang pengen gue baca sekaligus nikmatin rasa nyaman dan tenang di kafe ini” jawab Karin.


Keir mengeluarkan buku di dalam tasnya lalu dia memberikannya di hadapan Karin.


“Abas Soetan Pamoentjak, Pertemuan” eja Karin.


“lo tau? gue pengen baca buku ini dari lama, lo suka sastra lama juga?” tanya Karin antusias.


Keir menggeleng.


“Itu untuk tugas Indonesia”


“Gue boleh pinjem?” tanya Karin.


Keir mengangguk.


“Silahkan ini sebenernya punya kafe bukan punya gue”


Karin tersenyum lalu mengambil buku itu dan di masukkannya kedalam tas, lalu dia menghirup aroma coklat yang dibuat oleh Keir, dia menempelkan hidungnya di pinggiran mug itu lalu matanya terpejam merasakan aroma coklat yang sangat menyenangat.


Kemudian Karin menempelkan bibirnya di pinggiran mug itu dan meminum coklatnya.


“Makasih, coklatnya enak”


-4 K-


Keenan menuliskan beberapa judul di kotak pencarian di google, dia mencari tentang judul-judul sastra lama agar bisa memperdekat ruang dia dan Karin, lalu Keenan mengklik beberapa hasil dari pencarian itu, dan membacanya.


Satu paragraf Keenan masih bisa fokus, saat sudah bagian kedua Keenan sudah menggeleng pelan dia tak bisa menghapalkan kata-kata dan kalimat sastra lama ini, bahkan hanya membaca sinopsis dari google aja membuat Keenan tidak tahan.


Keenan melihat tumpukkan buku yang baru saja dia beli, semuanya sastra lama.


Keenan menghela nafasnya pelan, dia tidak mengerti mengapa dia menjadi seperti ini.


Sejak kapan seorang Keenan menjadi stalker? Tapi, entah mengapa hal yang baru ini sangat menyenangkan untuknya.


“Apa yang Karin sukai dari buku-buku kaya gini” ucap Keenan pelan.


Keenan tidak menyukai membaca apalagi membaca sastra lama seperti ini, pernyataan yang dibuat oleh Keenan di kafe tadi adalah alibinya agar Keenan bisa tertarik untuk dekat dengan Keenan.


“Apa gue harus membaca buku ini semua, agar gue mengerti apa kemauan lo Karin?”


Keenan dengan fake akunnya, dia melihat postingan baru dari keenan, itu hanya postingan buku dengan judul pertemuan karya Abas Soetan Pamoentjak.


Keenan mengangguk lalu dia menuliskan di pencarian untuk judul buku yang Karin posting dengan caption love itu.


Keena melihat banyak hasil dari pencariannya, lalu dia membaca satu demi satu artikel yang bersangkutan dengan judul itu.


“Gue yang akan menang dalam taruhan ini” ucapnya yakin.


Tapi sedetik kemudian Keenan mengacak rambutnya kesal, karena dia tidak bisa mengingat alur dari novel pertemuan bahkan sepenggal kalimat saja dia tidak bisa mengingatnya, begitu sulit menghapalnya untuk di luar kepala.


“Keenan ada puri” teriak suara di luar kamar Keenan.


Keena terdiam sebentar, lalu dia menutup laptopnya dan berjalan keluar kamar menemui orang yang mencarinya.


“Ada apa Pur?” tanya Keenan.


“Keenan duduk dulu tanya yang sopan sama Puri” titah seorang wanita yang tadi memanggilnya dengan teriakan super.


“Iya ma” Keenan kemudian duduk di depan Puri.


“Ada apa Pur?” Keenan mengulang pertanyaannya.


Puri tersenyum sangat manis.


“Bisa temenin gue pergi gak malem ini?”


Keenan menimbang-nimbang permintaan Puri barusan, lalu dia menatap kearah mamanya dan mamanya hanya mengangguk bahwa dia setuju Keenan pergi mengantar Puri, Keenan bukan tidak mau pergi dia hanya sedang menjalankan misinya.


Tapi, mengingat Puri sudah sangat baik padanya, dengan tidak membocorkan kelakuan Keenan di sekolah kepada mamanya, membuat Keenan tau diri dan harus membalas kebaikan Puri.


“Oke, tunggu gue ganti baju dulu”


Puri mengangguk.


Keenan meninggalkan Puri kembali masuk ke dalam kamar, tentang Puri sendiri dia adalah tetangga Keenan baru dua tahun belakangan ini.


Puri pindah ke sebelah rumahnya saat dia masuk SMA yang sama dengan Keenan, Keenan cewek yang supel mereka berteman dengan baik tak ada cinta di antara mereka.


Bukan Puri yang tidak menarik untuk Keenan bukan pula Keenan yang tidak menarik untuk Puri, mereka hanya tidak ingin merusak pertemanannya.


Keenan juga tau bahwa Puri mempunyai pacar walaupun harus hubungan jarak jauh dan mereka sudah berpacaran sangat lama.


dia tidak mau menjadi benalu di hubungan Puri dengan menghancurkan kesetiaan Puri kepada pacarnya.