4K

4K
First Season•Bab VII



Zie menunggu tepat di depan rumah Karin untuk mengajaknya berangkat bersama. Setelah kejadian Karin menolak Zie, hubungannya dengan Karin sempat merenggang.


Zie ingin memperbaiki hubungannya dengan Karin sekarang, dia tidak bisa jauh dari Karin, karena Karin adalah candu untuk Zie.


Pintu rumah Karin terbuka, dengan sigap Zie berdiri dan tersenyum kearah Karin yang kali itu membulatkan matanya karena kaget melihat Zie.


Karin berjalan kearah Zie, lalu dia tersenyum kikuk,


“Ngapain nunggu gue Zi? Terus kenapa ada sepeda juga?” tanya Karin, dia bingung di samping Zie ada sepeda bukan motor atau mobil seperti biasanya.


Zie tersenyum memamerkan sederet gigi putihnya.


“Lo kan pernah cerita sama gue Rin, kalo lo pengen berangkat sekolah pake sepeda biar kaya di drama korea, dan sekarang gue bisa kabulin keinginan lo” jawab Zie.


Karin terkekeh pelan mendengar jawaban Zie yang sangat berbeda dengan biasanya.


Dulu, Zie akan memarahi dan menceramahi Karin jika dia menonton drama korea sampe Karin bawa perasaan, karena menurut Zie hal yang di tonton oleh Karin akan berpengaruh terhadap kehidupan nyata Karin.


“Gue mau minta maaf sama lo Rin, kemarin gue udah buat lo masuk ke dalam suatu masalah yang pasti lo gak suka.” ucap Zie pelan sambil menundukkan kepalanya.


Karin menepuk pundak Zie.


“Gak usah minta maaf, gapapa. Lagipula lo udah nebus kesalahan lo kemarin dengan wujudin permintaan gue, berangkat sekolah pake sepeda.”


“Boleh gue minta satu permintaan lagi sama lo Rin?”


Karin menautkan kedua alisnya.


“Satu lagi? Apa?”


“Ini agak geli sih permintaannya, jadi gini Zi”


“Apa?”


“Bisa gak lo panggil gue Kenzie kaya dulu lagi?” pinta Zie.


“Kenzie? Nama kecil lo?” lalu Karin mengangguk pelan.


“kenapa? Bukannya setelah kita masuk sekolah, lo selalu marah kalo gue panggil Kenzie?”


“Gue lebih nyaman lo manggil gue Kenzie, karena berbeda dengan yang lainnya, yang artinya lo lebih mengenal gue daripada yang lain, tentu saja Kenzie dan Zie beda. Kenzie adalah cowok biasa teman kecil Karin, jadi dimulai hari ini gak ada lagi nama Zie” putus Zie.


“Tapi kan tetep aja, temen sekolah kenal lo dengan nama Zie, dan Zie banyak penggemarnya”


Zie menatap Karin lembut, lalu dia menempelkan kedua tangannya di bahu Karin.


“Semua orang kenal gue dengan sebutan nama Zie, sedangkan lo dan keluarga deket gue aja yang manggil gue Kenzie. Jadi sekarang gak ada perbedaan antara Kenzie dan Karin”


Karin menggelengkan kepalanya tak mengerti, sikap Zie pagi ini sangat berbeda dari biasanya.


Perubahan sikapnya membuat Karin tertawa sekaligus bingung di waktu yang sama.


“Berangkat Rin, udah siang nanti kita terlambat” ajak Zie.


Karin mengangguk lalu dia langsung naik ke sepeda Zie, kemudian Zie mengayuhnya agar mereka bisa sampai di sekolah.


Jarak dari rumah Karin menuju sekolah cukup jauh, hal itu membuat Karin menjadi tidak enak kepada Zie.


hanya untuk mewujudkan keinginan Karin yang konyol, Zie harus rela mengayuh sepeda dengan jarak yang cukup jauh.


“Zi lo gak cape?” tanya Karin.


“Panggil gue Kenzie, baru beberapa menit aja lo udah lupa.” ingat Zie.


“Eh iya, Ken lo gak cape?” Karin mengulang pertanyaannya.


Zie menggeleng pelan.


“Gak lah ini menyenangkan” jawabnya.


Akhirnya Karin hanya diam dengan kedua tangannya dia lingkarkan di perut Zie, walaupun Zie tidak menyuruh Karin untuk melingkarkan tangan di perutnya.


Tapi, hal itu sudah menjadi kebiasaan Karin, jika di bonceng oleh Zie dia akan melingkarkan tangannya secara refleks.


“Udah sampe Rin, masih gak mau lepas tangannya?” tanya Zie saat mereka sudah berada di parkiran sekolah.


“Eh—“ Kaein buru-buru melepaskan tangannya dari perut Zie, lalu dia turun dari sepeda Zie.


“Makasih Zi”


Zie menaikkan sebelah alisnya, “Lupa?”


“Eh makasih Kenzie” ucap Karin sambil memamerkan sederet gigi putihnya kearah Zie.


Zie menempelkan tangannya di atas kepala karin lalu mengacaknya gemas.


“Pulang bareng kan?”


Karin mengangguk, dia tidak bisa menghindari Zie lagi seperti kemarin.


Terbukti, Karin merasa aman bila bersama dengan Zie daripada ada cowok-cowok yang tidak ia kenal yang mencoba masuk ke dalam hidupnya.


Jika dia diminta memilih, tentu saja Karin akan memilih Zie tanpa perlu berpikir lebih dulu, karena Kari sudah mengenal Zie dari kecil.


“Gue ke kelas duluan ya Ken,”


Karin berjalan menuju kelasnya meninggalkan Zie yang masih berdiri di parkiran.


Karin memang meminta kepada Zie agar mereka berjalan terpisah untuk menuju ke kelas, hanya untuk mendinginkan desas-desus kemarin.


“Karin,” panggil seorang cowok dari arah belakangnya.


Lalu dia membalikan tubuhnya menoleh ke sumber suara, dia melihat seorang cowok yang tengah berlari kearahnya, sambil membawa paper bag.


“Nyokap gue kemarin bikin coklat, dan ini buat lo” cowok itu memberikan paperbag yang di bawanya kepada Karin.


Karin menggeleng pelan.


“Gak usah makasih”


“Gak baik loh menolak rezeki seperti ini”


Sejujurnya Karin ingin menerima paperbag itu, karena dengan mengatakan kata ‘coklat’ saja Karin pasti akan tertarik.


Permasalahannya adalah, cowok yang memberinya coklat ini selalu tau apa kesukaan Karin.


Hal ini membuat Karin menjadi sedikit parno ketika berada di dekatnya.


“Kelamaan mikirnya. Udah ini. Gue tau lo suka coklat,” cowok itu memberikan paper bagnya secara paksa ke tangan Karin.


“Keenan, hukuman kamu sabtu kemarin belum selesai kemari kamu jangan coba-coba lari lagi,”


teriak suara bariton yang kini berada di belakang Karin, cowok yang di panggil Keenan itu langsung kabur dari tempat tersebut mencari tempat persembunyian paling aman.


Karin membalikan tubuhnya melihat siapa yang berteriak barusan, dia melihat seorang guru pria yang sudah tidak bisa di bilang muda lagi usianya, tetapi kondisi fisiknya masih terlihat sangat sehat.


Guru itu berhenti di depan Karin, Karin membungkukkan tubuhnya lalu bersalaman selayaknya murid kepada guru.


“Selamat pagi pak”


“Pagi, kamu siapanya Keenan?” tanya Guru tanpa basa-basi.


Karin menggeleng pelan.


“Saya hanya tau dia pak, tapi tidak mengenalnya”


“Sebelas pak” jawab Karin.


“Ipa, Ips atau bahasa?”


“Ipa dua”


Guru itu menepuk bahu Karin.


“Bapak kasih tau kamu, jangan pernah bergaul sama yang namanya Keenan. Bapak tau kamu adalah murid baik-baik, sedangkan Keenan biang onar di sekolah. Kamu gak mau kan jika nanti terlibat dalam beberapa masalah seperti Keenan?”


Karin mengangguk pelan.


“Iya pak terimakasih udah memberitahu saya perihal Keenan, kalo gitu saya akan lebih menjaga jarak dari Keenan mulai sekarang”


“Jangan buat diri kamu rusak seperti Keenan, karena itu akan buat kamu rugi nantinya”


Karin hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan Guru tersebut.


“Kalau gitu bapak ke kantor dulu, belajar yang rajin ya” Guru itu menepuk bahu Karin lagi, dan sekarang Karin bisa bernafas dengan lega.


Karin masuk ke dalam kelasnya, lalu dia melihat isi paper bag yang di berikan oleh Keenan tadi, ada beberapa kotak coklat yang labelnya di copot oleh Keenan.


Karin tersenyum singkat dia tau bahwa coklat yang berikan oleh Keenan bukanlah buatan mamanya, melainkan dia membeli coklat ini dari toko.


Karin hapal betul dengan bentuk coklat dan kotaknya, karena Karin memang sering membeli coklat ini.


“Coklat dari siapa? Tumben banget lo beli coklat di tanggal tua, nyokap lo kan belum gajihan” kepo Lisa.


Karin menggeleng.


“Di kasih sama orang” jawab Karin sekenanya.


Lisa mengerutkan keningnya dia tau bahwa coklat di pegang Karin sekarang bukanlah coklat murahan melainkan coklat mahal.


“Di kasih siapa? Siapa yang mau ngasih coklat semahal ini? Dari Zie ya?”


Karin lagi-lagi hanya menggeleng,


“Dari temennya”


“Keenan? Devan? Atau Bagas?” tanya Lisa.


Karin diam dia berpikir sejenak.


“Gue lupa, coba lo ulang ngabsen temen Zie”


“Keenan, Devan, atau Bahas?” Lisa mengulang pertanyaannya.


“Keenan” jawab Karin.


Mata Lisa membulat saat mendengar jawaban Karin barusan, dia tak percaya bagaimana mungkin coklat yang kini ada di tangan Karin di kasih oleh Keenan.


biasanya cewek-ceweklah yang selalu memberi Keenan ini itu dan ini sebaliknya. Ini menunjukkan sikap Keenan yang berbeda dari biasanya.


“Lo yakin kan coklat ini dari Keenan?” tanya Lisa mencoba memastikan.


Karin mengangguk.


“Iya soalnya ada guru yang manggil nama dia Keenan, dan dia orang yang kasih coklat ini sama gue”


“Karin ada yang nyari lo nih” teriak Dika si ketua kelas.


Lalu mata Karin langsung teralih ke pintu kelasnya, di sana ada Keir sambil membawa beberapa buku di tangannya.


Keir melambaikan tangannya menyuruh Karin menghampiri, Karin mengangguk lalu berjalan kearah Keir yang berada di ambang pintu.


“Ada apa? Rapat osis?” tanya Karin.


Keir menggeleng.


“Siapa tau lo mau baca, sebelum gue simpen di kafe” Keir memberikan beberapa judul novel sastra lama kepada Karin.


Karin membaca beberapa judulnya, judul novel yang belum pernah ia baca.


“Makasih Kei”


Keir mengangguk.


“Jangan lupa buat acara bulan bahasa, proposalnya lo fotocopy 5 rangkap ya”


Karin diam saja dia masih tak percaya bahwa cowok yang ada di depannya ini adalah Keir, si cowok dingin dan tak tersentuh.


“Gue kapan balikin ini buku?” tanya Karin.


“Kalau lo udah selesai aja, duluan”


Keir meninggalkan Karin yang masih berdiri di ambang pintu, menatap punggung Keir sampai hilang dari penglihatan mata.


“Sebenernya ada apa dengan orang-orang ini” ucap Karin pelan.


“Rin gue denger lo boncengan sama Zie tadi pake sepeda, udah lo tolak tapi masih aja di embat maruk amat lo jadi cewek.” ucap seorang cewek yang berada di kelasnya sambil mendelik sebal.


Karin hanya menghela nafasnya lalu menatap cewek itu malas.


“Zie temen gue dari kecil, kita tetanggan. Jadi, masalah kemarin Zie hanya salah mengartikan perasaannya.” jawab Karin cepat.


“Iya lo bilang gitu karena lo ngincer Keenan kan? Licik amat, manfaatin Zie yang gak tau apa-apa demi deket sama Keena” sindir cewek itu lagi.


“Siska, gue gak ada masalah sama lo lagipula gue sama sekali gak kenal sama yang namanya Keenan itu, kita hanya bertemu beberapa kali, yang gue tau Keenan hanya teman Zie. Bisa gak gak usah bikin gosip murahan?”


“Karin si gadis biasa mendadak famous hanya karena di kejar Zie, dan sekarang dekat dengan Keenan, atau bahkan lo ngincer si ketua osis dingin itu? keliatannya kalian semakin dekat.” cibir Siska.


Karin tak menghiraukan cibiran Siska barusan lalu dia berjalan menuju kursinya lagi di sebelah Lisa, dan 'BUGG', Karin terjatuh karena Siska memalangkan kakinya dengan sengaja.


Karin buru-buru bangun dan membersihkan roknya yang kotor, Karin tidak membalasnya karena percuma saja, dia tidak mau ada urusan dengan Siska atau teman-teman kelasnya yang lain, Karin hanya ingin menikmati hidup setenang biasanya.


Ponselnya bergetar, lalu Karin melihat siapa yang mengirimkannya pesan.


      From : +62821-6363-4567


Hallo Karin gue Devan temennya Kenzie, apa gue perlu ganti nama jadi kavan biar bisa couple namanya sama lo?


Karin mendesah pelan, dia juga tidak tau kenapa nomor ponselnya tersebar sekarang.


Sekarang, seorang cowok memberikan kotak makan di meja Karin.


“Tadi Bagas nitip ini buat lo katanya”


“Dari siapa?” tanya Karin.


“Bagas temennya Zie"


Karin menghela nafasnya lalu melihat isi kotak makan itu, hanya beberapa potong sandwich dan ada notesnya.


Karin membaca isi notesnya.


'Gue BaGas, tidak perlu menjadi Kagas agar bisa samaan namanya kan?'


Karin menggeleng, isi notes dari Bagas dan isi pesan singkat dari Devan ada kesamaan, maksud dari semua ini apa?.


Ini adalah suatu hal yang tak biasa untuk hidup Karin, di mulai dia di antar oleh Zie menggunakan sepeda, dan permintaan Zie untuk memanggilnya Kenzie, Keenan yang memberikannya coklat walaupun dengan Alibi mamanya yang membuat, Keir yang meminjamkannya beberapa novel lama, Devan yang mengiriminya pesan singkat, terakhir Bagas yang memberinya kotak makan berisi notes.


Karin tidak mengenal cowok itu semua kecuali Zie dan Keir.