
Rino membuka lemari bajunya, lalu dia memilih-milih kemeja dan t-shirt polo yang akan di pakainya hari ini.
Rino begitu ribet masalah penampilan, keribetannya melibihi anak perawan.
Laras membuka pintu kamar Rino, lalu dia mengerutkan keningnya karena ada beberapa baju yang Rino keluarkan dari dalam lemari dan disimpan di atas kasurnya.
“Kamu ini mau kemana? Cari baju aja sampe lama begini?” tanya Laras
Rino menutup pintu lemarinya, lalu dia menatap kearah Laras.
“Mau pergi ma”
Laras mengambil beberapa kemeja yang di keluarkan Rino, lalu menyimpannya kembali kedalam lemari.
“Mau pergi aja serepot ini nyari bajunya, emang mau pergi kemana?”
“Jalan doang sih ma, paling mentok nonton sama makan” jawab Rino
Laras menatap anaknya selidik,
“Kamu mau kencan?”
“Belum bisa dibilang begitu ma, Rino masih temenan sama dia”
“Semua ini kan bajunya masih bisa dipake, kenapa kamu seribet ini?"
Rino tersenyum memamerkan sederet gigi putihnya tanpa dosa, Laras mengerti maksud itu.
Lalu Laras menggelengkan kepalanya dia tak percaya dengan perubahan drastis anaknya seperti ini.
“Kamu duduk, biar mama pilihin baju yang pas”
Rino mengangguk pelan, lalu dia duduk sambil melihat kearah Laras yang sedang merapikan baju yang sempat Rino keluarkan dari dalam lemari tadi.
Lalu Laras mengeluarkan t-shirt polo berwarna biru, dan celana jeans warna hitam di depan Rino.
“Kamu pake ini”
Rino menautkan kedua alisnya,
“Tapi Ma, Rino gak suka”
“Percaya sama mama, buat dia jatuh cinta apa adanya sama kamu. Jangan buat dia jatuh cinta sama orang lain di diri kamu”
Rino berpikir sejenak dengan ucapan Laras barusan, dari awal dia sudah menjadi orang lain untuk mendekati Reina dengan mengaku dia suka membaca sastra lama. Bagaimana jika Reina tau kalo sebenarnya Rino berbohong?
“Yaudah mama keluar ya, kamu jangan berantakin baju kaya tadi. Kamu ikutin saran mama aja Ino”
Rino mengangguk, lalu Laras keluar dari kamarnya. Rino memperhatikan baju dan celana yang dipilihkan oleh Laras barusan, dia jarang menggunakan t-shirt itu.
Tapi, kemudian dia tersenyum penuh arti dan mengambil t-shirt itu masuk ke kamar mandi.
Setelah lima belas menit berlalu, Rino keluar dari kamar mandi dan menatap pantulan dirinya di cermin.
Tidak lupa memakai pomade agar jambulnya berdiri dengan baik.
“Gue ganteng banget” ucapnya percaya diri.
Rino mengambil kunci motornya dan turun dari kamar menuju garasi rumahnya.
“Rino sini sebentar, mama mau ngomong sama kamu”
Rino menolehkan wajahnya kearah Laras, lalu berjalan menghampiri Laras yang sedang duduk di kursi depan rumahnya.
“Ada apa ma?” tanya Rino
“Duduk dulu sebentar” pinta Laras
Rino tidak mau ambil pusing, kemudian dia duduk disamping Laras.
“Papa kamu minta ketemu, gimana menurut kamu?” tanya Laras
Rino terdiam sebentar, orangtuanya memang telah lama pisah. Entah karena apa, yang Rino tau sekarang papanya sudah mempunyai istri baru lagi.
“Terserah mama”
“Ino, papa pengen ketemunya sama kamu bukan sama mama”
“Kapan?” tanya Rino
“Kemungkinan dalam waktu dekat ini, kamu bisa No?”
Rino mengangguk pelan, lalu dia memeluk Laras dengan sangat erat saat dia melihat perubahan raut wajah Laras ketika Rino mengangguk setuju untuk bertemu dengan papahnya.
“Mama gak perlu khawatir, Rino gak akan tinggalin mama” ucap Rino yakin
Laras tersenyum, “Makasih, katanya mau pergi”
“Eh iya ma”
Rino langsung turun dari teras menuju garasi rumahnya, dan mengeluarkan motor kesayangannya itu.
Laras tersenyum saat melihat Rino terlihat ragu mengeluarkan motornya, lalu dia turun dari teras menuju garasi.
“Pake mobil mama” Laras memberikan kunci mobil ke tangan Rino.
Rino tersenyum lalu dia mengangguk, dan memasukan lagi motornya ke garasi dan di keluarkanlah mobil Laras.
Bukan Rino tidak percaya diri menggunakan motor, hanya saja dia ingin tempat yang lebih nyaman ketika mengobrol.
“Rino pamit ya ma”
“Hati-hati ya, jangan pulang terlalu larut”
Rino langsung melajukan mobil itu dengan kecepatan standar, perasaannya tidak karuan. Yang jelas sekarang Rino merasa sangat bahagia.
Rino melihat Reina sudah menunggu di depan rumahnya, Rino tersenyum miring dia telat dan membiarkan Reina menunggu seperti itu.
Rino menghentikan mobilnya di depan Reina, dan membuka kaca mobilnya.
“Sorry buat lo nunggu lama” ucap Rino
Reina menggeleng pelan, “Gapapa, gue baru nunggu ko”
Rino turun dari mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Reina. Reina tersenyum simpul hal itu membuat Rino yang melihatnya salah tingkah.
“Lo gak perlu lakuin hal ini” ucap Reina, lalu dia masuk ke mobil Rino
Rino langsung berlari dan masuk ke balik kemudinya. Rino melihat Reina yang sudah menggunakan seat belt, dan duduk dengan nyaman.
Karena, Rino merasa malu lalu dia menggunakan seat beltnya seperti yang Reina lakukan.
“Biar aman, harus patuhi peraturan” ucap Reina
Rino mengangguk lalu dia mulai menjalankan mobilnya menuju jalan raya, mereka hanya akan mampir ke toko buku, makan dan nonton.
“Lo kenapa nunggu diluar? Kenapa gak nunggu di dalem aja?” tanya Rino
“Karena di rumah gak ada siapa-siapa” jawab Reina
Rino menaikkan sebelah alisnya,
“Emangnya kalo di rumah lo gak ada siapa-siapa, kenapa?” dia hanya ingin memancing apa yang akan dikatakan oleh Reina.
Reina menggeleng,
Rino menganggukan kepalanya, dia sudah menduganya Reina akan menjawab hal itu.
“Ini mobil nyokap lo kan? Kenapa gak pake motor lo aja?” kini giliran Reina yang bertanya.
“Nyokap nawarin bawa mobil, buat nyuap gue kali” jawab Rino dengan kekehan pelan.
Reina menautkan kedua alisnya bingung.
“Nyuap lo? Untuk apa?”
Rino memperhatikan Reina di kaca, terlihat rasa ingin tau terlihat jelas di raut wajah Reina.
Rino tersenyum simpul, dia akan membuat Reina satu langkah lebih dekat dengannya.
“Bokap gue mau ketemu, dan nyokap takut kalo gue ninggalin dia”
“Bokap lo—“ Reina menggantungkan ucapannya
“Iya. Nyokap sama bokap gue udah lama pisah, tapi kita masih jalin komunikasi dengan baik. Bokap gue udah punya istri baru sedangkan nyokap belum sama sekali, bokap pengen ketemu sama gue dan nyokap gue takut kalo dia minta gue buat tinggal sama dia nanti.” Jelas Rino, tanpa ada yang di sembunyikan. Semuanya benar, seperti apa adanya.
“Tapi di rumah lo poto-poto keluarga lo masih tertempel dengan rapi, seperti keluarga bahagia?” tanya Reina
Rino mengangguk pelan,
“Nyokap gue memang masih menjaga poto keluarga itu sampe sekarang, katanya biar temen-temen gue yang dateng gak nyangka bahwa gue anak broken home. Lucu ya?”
Reina menatap kearah Rino dengan tatapan lembut,
“Kenapa lo pengen tinggal sama nyokap lo? Apa lo lebih sayang sama nyokap lo daripada sama bokap lo?”
Rino menghela nafasnya berat,
“Bukan, gue gak pernah membedakan siapa yang gue sayang atau siapa yang sayang sama gue. Waktu itu, gue gak bisa ninggalin nyokap sendirian. Walaupun bokap udah minta gue tinggal sama dia, tetap saja gue gak mau tinggalin nyokap yang nanti akan tinggal sendiri.”
“Nyokap lo pernah maksa lo buat tinggal sama dia?”
Rino menggeleng pelan,
“Nyokap gak pernah maksa gue, dia pernah minta gue juga buat tinggal sama bokap. Tapi, gue tau nyokap gak baik-baik aja. Jadi, gue tetap tinggal sama dia, gue takut nyokap gue kesepian. Dan gue anak cowok, gue harus jagain dia.”
Reina tersenyum sangat manis, dan itu jarang diperlihatkannya. Bahkan Rino sampai tidak berkedip saat melihat Reina tersenyum seperti itu.
“Lo itu cowok baik yang sangat sayang sama keluarga.”
“Belum dibilang sayang keluarga, kalo hidup gue masih nyusahin mereka”
“Nyusahin mereka?” beo Reina
“Iya, lo tau reputasi gue di sekolah kaya gimana. Bukannya, bikin keluarga gue bangga tapi gue bikin mereka malu.”
Reina menggeleng pelan,
“Gue gak percaya sama cerita orang, bahkan gue gak tau kalo lo biang onar di sekolah. Sekarang, lo tau bahwa lo biang onar dan bikin keluarga lo malu. Kenapa lo gak memperbaiki diri lo?” tanya Reina
“Belum siap”
“Kapan siapnya? Umur gak ada yang tau, menurut gue lo kaya gitu hanya untuk pelampiasan kan?”
“Lo ko bisa tau?” tanya Rino
“Jalan pikiran lo ketebak banget” jawab Reina
Rino tertawa, lalu dia memarkirkan mobilnya di salah satu toko buku loakkan yang sering Reina kunjungi.
Awalnya Rino ingin jujur bahwa dia tau tempat ini, karena mengikuti Reina. Tapi, dia berbohong lagi dengan mengatakan bahwa dia pernah membeli buku disini, dan bukunya bagus-bagus.
“Mau beli buku apa Na?” tanya Rino saat mereka sudah masuk kedalam toko buku tersebut.
Reina tersenyum, “Gue gak tau liat-liat dulu aja di dalem”
Rino memperhatikan Reina yang sangat serius ketika membaca beberapa judul buku, dan isinya.
Reina terlihat lebih menarik saat sedang serius seperti itu. Rino tersenyum lalu dia mengeluarkan ponselnya, dan memotret Reina yang tengah serius.
Reina menyimpan kembali buku itu ke tempatnya.
“Oh iya No, menurut lo definisi broken home itu gimana?” tanya Reina
Rino berjalan kearah Reina, lalu dia mengambil satu buku.
“Broken home menurut gue, gimana kita menyikapinya aja.”
“Lalu, kenapa lo cari pelampiasan?”
Rino terkekeh pelan,
“Karena gue terbiasa menjadi pusat perhatian dari dulu, jadi gue melakukan itu”
“Kenapa gak dengan prestasi?”
“Otak gue minim Na, jadi hanya itu yang bisa gue lakuin”
Reina tersenyum, lalu tangannya menepuk bahu Rino. Debaran jantung Rino berpacu dengan cepat saat tangan Reina menyentuh bahunya, Rino tidak biasanya seperti ini. Bersama dengan Reina dia merasa menjadi cowok yang lugu dan polos.
“Kenapa seseorang bisa jadi broken home?”
“Karena mereka tidak puas dengan keadaan, atau keadaan mereka tidak sesuai dengan keinginannya. Lagipula Na, ekspetasi tidak seindah realita”
“Lo lebih dewasa dari yang gue kira” ucap Reina
“Itu pujian atau sindiran?” tanya Rino
“Tergantung, lo pilih yang mana”
Reina berjalan kearah kasir setelah memilih beberapa buku yang akan dia beli, Rino menghampiri Reina dengan senyuman yang nyata.
Rino baru sadar mengapa Aldo begitu tergila-gila kepada Reina, karena Reina memberikan sesuatu yang berbeda dari cewek yang lain.
Rino berniat membayar semua buku yang Reina beli, tapi Reina menolaknya mentah-mentah.
Menurut Reina, karena buku itu dia beli untuk dirinya sendiri, dan Reina yang berniat untuk membelinya jadi dia tidak perlu di bayarkan.
Rino hanya mengangguk, yang bisa dia lakukan hanya membawakan buku-buku itu kedalam mobil. Dan Reina hanya tersenyum ketika Rino melakukan itu.
“Lo menghargai perempuan” ucap Reina pelan
Rino mengangguk saat mendengar ucapan itu,
“Karena gue lahir dari seorang perempuan”
“Ini salah satunya gue gak percaya cerita orang”
Rino mengerutkan keningnya, dia butuh penjelasan dari ucapan Rino barusan.
“Lo beda dari cerita orang”
“Bedanya?”
“Gue nyangkanya cowok-cowok kaya lo, Ronal, Adam dan Leon suka sama tempat-tempat yang ber-ac dan di lengkapi dengan wifi”
Rino ingin mengutuk dirinya sendiri, dia telah menjadi orang lain agar disukai oleh Reina.
Tapi, tak apa hal ini bisa menjadi Rino selangkah lebih mau daripada teman-temannya yang lain.