
Raka sedang membereskan beberapa proposal yang sedang dia susun dengan rapi di mejanya, ada beberapa hal yang membuat dia menjaga jarak dengan orang-orang yang baru.
karakter dingin Raka hanya tameng untuk melindungi dirinya sendiri, dia tidak terlalu suka bergaul dengan banyak orang, Raka lebih suka sendirian.
Raka mengusap wajahnya gusar, lalu dia memperhatikan siswa-siswa di sekolahnya di balik jendela kaca yang ada di ruangan osis.
“Gue gak bisa seperti mereka, tertawa dan menganggap bahwa hidup itu sekedar hidup,” bisik Raka tanpa sadar, lalu dia menghela nafasnya dengan gusar dan kembali duduk di kursinya.
Pintu ruangan osis terbuka, sekarang berdirilah seorang cewek di ambang pintu sambil melihat kearah Raka, Raka mengangguk dia memang menyuruh cewek itu untuk datang ke ruangan osis.
“Ada apa Ka?”
“Duduk dulu Reina, ada beberapa hal yang ingin gue minta sama lo” perintah Raka
Reina mengangguk pelan, lalu dia duduk di kursi yang biasa ia duduki jika sedang rapat osis.
“Ini, proposal yang ini bisa lo perbaiki?” Raka memberikan beberapa lembar kertas ke hadapan Reina.
Reina mengangguk pelan,
“Apa saja yang perlu gue perbaiki disini?” tanyanya
“Lampiran tentang anggaran dana disini terlalu banyak, jadi untuk mengirit biaya lo harus menyortir ulang, mana saja yang perlu dan mana yang gak perlu, biar nantinya gak mubadzir” jelas Raka
“Kapan gue harus ngembaliin proposal ini sama lo?”
Raka mengangguk pelan, lalu dia diam berfikir sejenak,
“Lebih cepat lebih baik, tapi kalau bisa tiga hari dari sekarang proposal itu sudah harus ada di tangan gue lagi, bisa?” tanya Raka
Reina mengangguk lagi, entahlah dia merasa bahwa sikap beku Raka sangat membuatnya takut untuk berbicara atau protes dengan keputusannya.
“Buku yang—“
“Gue gak bawa buku lo Ka hari ini, mau lo baca?” potong Reina
Raka tersenyum kepada Reina, itu adalah hal yang sangat langka di lakukan oleh Raka, satu senyuman dari Raka adalah hal termahal, biasanya Reina hanya bisa melihat wajah datar yang di tampilkan oleh Raka.
Raka menggeleng pelan,
“Bukan, kalo lo belum selesai bacanya gapapa, simpen dulu aja bukunya kalo udah selesai baca baru lo balikin sama gue”
“Oke deh Ka, gue duluan,”
Reina berdiri dari kursinya, berniat untuk keluar dari ruang osis. Tapi, entah kenapa dia tidak mau meninggalkan ruangan ini, di luar sana banyak sekali yang ingin dia hindari setelah kejadian di kantin kemarin.
“Gue denger, kemarin lo di bully sama Niken, bener?" tanya Raka
Reina tak percaya bahwa Raka mengajaknya berbicara bukan mengenai masalah osis lagi, tapi tentang masalah yang terjadi di sekolahnya.
biasanya Raka sangat tidak peduli jika ada masalah yang terjadi pada orang lain, dia hanya akan menaikan wajahnya sebagai bentuk kesombongan, dan kekuatan yang dimiliki oleh seorang Raka.
Reina mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Raka barusan.
"Kenapa?”
Reina membalikan lagi badannya dan kini tatapan mereka bertemu, lalu Reina mengalihkan tatapannya kearah lain,
“Karena dia ngerasa gue bakalan gantiin posisi dia”
“Posisi dia? Memangnya posisi Niken itu apa?”
Reina tersenyum sangat tipis,
“Dia Ratu sekolah ini”
Raka kemudian terkekeh pelan mendengar jawaban dari Reina barusan,
“Ratu sekolah ini? Kenapa dia bisa merasa bahwa dia ratu?”
Reina menggeleng pelan, lalu dia kembali berjalan dan duduk di kursinya tadi.
“Gue sendiri gak tau, dia tiba-tiba marah-marah sama gue bahkan sampai nampar gue, hanya karena gue yang katanya melakukan hal yang melebihi batas”
“Melebihi batas, seperti apa?”
“Gue sendiri aja gak tau dan gak ngerti”
“Terkadang menjadi gak tau apa-apa seperti lo itu menyenangkan Rein” ucap Raka pelan
Reina menautkan kedua alisnya bingung dengan ucapan Raka yang tiba-tiba seperti itu.
“Maksud lo gimana Ka?”
Raka menggeleng pelan, lalu dia menutup matanya terlihat bahwa Raka sedang mencari sisa-sisa kekuatan yang dia punya, ketika ingatannya kembali ke masa lalu yang menyedihkan.
“Lo pernah merasa kecewa Rein?” tanya Raka
Reina menggeleng, tapi kemudian dia mengangguk.
“Kecewa karena apa?”
“Karena tidak di belikan baju baru oleh nyokap gue dan itu saat gue masih kecil dulu, gue kecewa kenapa hanya kakak gue yang dibelikan baju saat itu. Sampe gue sadar dan tau, bahwa nyokap gue beliin baju karena kakak gue mau masuk SMP”
Raka tersenyum singkat untuk menanggapi cerita dari Reina barusan, ternyata sangat dangkal pemikiran Reina tentang kecewa.
“Lo pernah di tolak kehadirannya oleh orang terdekat lo? Lo pernah membayangkan lahir dari orang yang tidak menginginkan lo ada? Atau lo tumbuh dan hidup sendirian? Lo kecewa sama keadaan, tapi lo gak bisa melakukan apa-apa. Menurut lo itu gimana?"
Reina menelan ludahnya dengan susah payah, pertanyaan dari Raka barusan sangat jauh dari ekspetasi Reina, bahkan Reina tidak pernah berpikir sampai kesana.
Lalu, kenapa Raka bisa bertanya hal seperti itu, apa Raka mempunyai masalah? Entahlah Reina sendiri tidak tau, tapi dia merasa senang jika Raka mengajaknya berbicara bukan tentang osis saja.
Reina menggeleng, “Gue gak pernah terpikir kesana Ka, jadi gue gak bisa merasakannya”
“Gue bisa, karena gue merasakan hal itu,” ucap Raka secara lugas dan tegas
Raka menghela nafasnya pelan,
“Gue lahir dari keluarga yang gak menginginkan gue ada, mereka menganggap gue seolah-olah telah mati,”
Reina hanya terdiam saat mendengar pernyataan Raka barusan, Reina tidak ingin mengomentarinya, dia hanya ingin mendengar lebih dalam lagi tentang hidup Raka.
Raka mengangguk pelan,
“Kehadiran gue di tolak oleh mereka, bahkan gue gak tau harus bersyukur, atau mengutuk diri gue sendiri karena masih hidup sampai sekarang.”
“Kenapa bisa begitu?” tanya Reina penasaran
Raka tersenyum singkat,
“Gue lahir dari selingkuhan bokap gue, mereka selalu menutupi fakta ini sampai gue sadar sendiri dan tau sendiri, karena gue mencari alasan mengapa mereka melakukan hal seperti ini kepada gue” jawab Raka
“Hal seperti apa maksud lo?” Reina tidak bisa menahan rasa ingin tahunya ini.
“Gue di perlakukan kurang baik di rumah, mereka hanya menganggap gue ada kalo bokap ada di rumah. Tapi, sekarang bokap gue udah meninggal. Gue awalnya berpikir bahwa akan di usir dari rumah itu, ternyata enggak mereka masih mengizinkan gue untuk tinggal di rumah itu.
Bukan karena mereka peduli, atau merasa kasihan sama gue. Tapi, karena mereka tidak bisa ngusir gue gitu aja, karena sebagian harta bokap jatuh ke tangan gue sebagai anak cowok satu-satunya," Raka terkekeh pelan saat menceritakan kisah hidupnya, mungkin menurut Raka lucu, tapi tidak dengan Reina.
Reina tidak bisa membayangkan jika dia yang berada diposisi Raka, kehadirannya di tolak. Mungkin Reina akan berpikiran pendek seperti bunuh diri.
“Di perlakukan berbeda itu menyakitkan Rein” ucap Raka pelan
Entah keberanian dari mana Reina mengelus punggung telapak tangan Raka dengan lembut, seolah Reina memberi kekuatan lebih agar Raka bisa lebih kuat menghadapi kehidupannya.
“Kalo gue tau akan seperti ini, gue lebih memilih buat gak di lahirin ke dunia Rein”
“Husss” ucap Reina,
“lo gak boleh ngomong gitu, lo harus tetep menjalani hidup selagi dikasih kesempatan oleh Tuhan untuk menghirup udara dunia, Raka tidak ada satupun orang yang ingin hidup di dunia jika di surga mereka bisa mendapatkan segalanya. Tapi, ini perintah yang tak bisa kita tolak, kita hanya perlu menikmati dan menjalaninya”
Raka tersenyum simpul mendengar jawaban dari Reina yang sangat dewasa.
“Gue ngerasa sendirian,”
Reina menggeleng,
“Lo gak sendirian Rak, lo punya Tuhan yang lebih dari segalanya”
Raka mengangguk
“Berharap lebih kepada manusia itu hanya akan membuat lo sakit karena mereka hamba bukan pencipta, kalo kita bisa berharap lebih kepada sang pencipta kenapa kita harus berharap lebih kepada hamba? Percaya aja Ka hidup itu indah”
Pintu ruangan osis pun terbuka, sekarang berdiri seorang cowok diambang pintu sambil menatap kearah Reina dan Raka dengan tatapan shock, Reina yang menyadari langsung melepaskan tangannya dari tangan Raka.
“Bimo, ada apa?” tanya Raka dengan gugup
“Gue mau ngambil laporan keuangan aja, yang kemarin baru lo tanda tangan Rak” jawab Bimo tak kalah gugup dari Raka.
Entah mengapa mereka merasa canggung dan gugup seperti itu, padahal tidak terjadi sesuatu sebelumnya.
Bimo hanya melihat Raka dan Reina di ruangan osis berdua, lalu apa ada yang aneh? Raka adalah ketua osis dan Reina sekretarisnya? Mereka biasa bersama seperti ini kan?
Tapi, Bimo melihat ada yang aneh dari mereka, dimana tangan Reina menggenggam tangan Raka.
Apakah dalam osis juga membahas tentang genggaman tangan?
Bimo mencari kertas yang berisi laporan keuangan, setelah dia mendapatkannya Bimo langsung pamit kepada keduanya.
Tapi, Reina juga ikut keluar dari ruangan tersebut bersama dengan Bimo.
Yang kini ada di pikiran Bimo adalah, jika mereka tidak ada hubungan apa-apa kenapa Reina harus ikut keluar disaat Bimo juga keluar?.
“Bim” panggil Reina
Bimo menolehkan kepalanya kepada Reina, “Ada apa?”
“Soal yang lo liat tadi,” ucap Reina canggung
Bimo mengerutkan keningnya,
“Memangnya gue ngeliat apa tadi?” tanya Bimo
Reina menundukkan kepalanya,
“Lo jangan salah paham sama yang tadi,”
“Emangnya salah paham gimana? Emangnya lo sama Raka tadi ngapain? Kalaupun kalian ada apa-apa, apa masalahnya sama gue Rein?” Bimo menaikan sebelah alisnya
Reina menggeleng pelan,
“Ya gue emang gak ada apa-apa sama Raka, tadi murni ah pokonya lo lupain kejadian di ruang osis tadi.”
Kenapa Bimo harus melupakan hal yang baru saja dia lihat?
“Boleh gue tau alesannya Reina?”
“Ya pokonya lo lupain aja, jangan buat gue tambah sulit nantinya”
Reina meninggalkan Bimo yang masih mematung, Bimo tidak mengerti dengan permintaan Reina untuk melupakan hal yang baru saja terjadi.
Tanpa Reina sadari dengan dia bersikap seperti ini akan semakin mengundang kecurigaan Bimo terhadap hubungan Raka dan Reina.
Raka adalah cowok yang sangat dingin bahkan dia akan menolak secara mentah-mentah jika ada cewek yang berusaha mendekatinya.
Raka bahkan disebut pematah hati cewek karena dia selalu mengatakan dengan ucapan frontal jika cewek itu tidak sesuai dengan keinginannya.
Tapi, hari ini Bimo melihat ada yang lain dari Raka, kebekuan itu perlahan mencair seiring perjalanannya waktu.