4K

4K
First Season•Bab VI



Rino berusaha menutup matanya, tetapi dia tidak bisa. Lagi-lagi, matanya menginginkan untuk terbuka kembali.


Pikirannya melayang mengingat bahwa temannya Aldo sangat menaruh hati kepada Reina si cewek biasa.


hal itu membuat Rino berpikir apa daya tarik Reina sehingga bisa membuat temannya tergila-gila seperti itu.


Rino mengambil ponselnya di nakas, lalu dia membuka applikasi instagramnya dan mencari nama Reina di kotak pencarian.


“Sial di private segala” umpatnya pelan


Lalu Rino memfollow instagram Reina, tapi tak mendapat accept dari si pemilik akun instagram itu.


Hal itu membuat Rino semakin kesal. Dengan sangat terpaksa Rino membuat akun instagram baru untuk menjadi stalker di akun instagram Reina.


Dan hasilnya Reina mengaccept fake akun instagramnya, Rino tak habis pikir kenapa Reina lebih memilih mengaccept fake akun dari pada akun real Rino.


Apa yang di ucapkan Aldo semuanya benar? Bahwa Reina sangat benci kepada sesuatu yang akan menarik perhatian nantinya?.


Rino langsung melihat satu persatu poto yang di posting oleh Reina di akunnya itu, tak ada yang spesial hanya beberapa poto selfie seperti cewek kebanyakan, poto bersama temannya dan juga poto bersama dengan Aldo.


Rino memperhatikan satu persatu poto itu dengan teliti, kemudian dia tersenyum.


“Manis juga ini cewek”


Lalu Rino berganti applikasi social medianya menjadi twitter, dan mencari nama Reina lagi. Dia membaca tweet-tweet yang di tulis oleh Reina sampai tweet pertama.


Tak ada yang aneh, Reina hanya gadis yang tergolong anak SMA biasa, satu hal yang Rino tau dia menyukai coklat dan drama korea.


Ini yang terakhir akan Rino lakukan yaitu mencari facebook Reina, dia ingin tau masa pubertas Reina dari alay sampai sekarang bagaimana.


Rino melihat album poto-poto masa lalu Reina, lalu dia tersenyum karena Reina berbeda dengan cewek sebelumnya yang selalu mengikuti perubahan dari masa ke masa, tak banyak perubahan dari Reina dia masih tetap sama manis.


Rino menjadi senyum sendiri melihat poto Reina di masa lalu, entah sadar atau tidak Rino mengunduh poto Reina yang kali itu di poto di sebuah danau sambil tersenyum kearah kamera, dengan kedua tangannya membentuk tanda peace.


Rino mendapatkan beberapa infomasi lagi dari facebooknya, selain menyukai coklat dan drama korea dia juga menyukai sesuatu hal yang berbau dengan sastra, tak ada batasan sastra lama atau baru.


“Cewek yang unik, ketika semua cewek berburu diskonan baju Reina hanya pergi ke tukang buku loakkan untuk mencari buku-buku sastra yang sudah tidak lagi di jual di toko buku”


Rino menyimpan kembali ponselnya di nakas, lalu sekarang dia bisa tertidur dengan tenang.


-4 R-


“Reina?” panggil seorang cowok saat Reina baru keluar dari pintu kelasnya.


Reina menoleh kearah sumber suara,


“Eh... Raka”


Raka tersenyum lalu berjalan menghampiri Reina,


“Hari ini sibuk?” tanyanya


Reina menggeleng pelan,


“Kenapa?”


“Kalo gue ngajak lo pergi, mau?” tanya Raka


Reina menatap Raka tak percaya, dia tidak tau apa yang terjadi pada Raka, apa mungkin Raka salah minum obat pagi ini? Perubahan sikapnya begitu drastis.


Raka yang sangat jarang berbicara, kalaupun mereka mengobrol hanya sebatas ruang lingkup osis saja. Tidak seperti ini dan ini aneh untuk Reina.


“Kemana?” tanya Reina


“Lo mau nggak, gak usah jawab dengan pertanyaan lagi”


Reina celingak celinguk melihat kesamping kanan dan kirinya, dia melihat ada Aldo sedang berjalan kearhnya, lalu dia menatap kearah Raka.


“Oke, kita pergi sekarang”


Raka mengangguk lalu dia berjalan di depan Reina, Reina langsung mengikuti Raka di belakangnya, mencoba menyeimbangkan langkahnya dengan Raka.


“Gue gak ada kendaraan, gapapa naik bus?” tanya Raka


Reina tak masalah untuk itu, jadi dia hanya mengangguk.


Mereka naik satu Bus, Reina memperhatikan wajah Raka yang sangat damai ketika dia memejamkan matanya di Bus, ingin rasanya Reina mengabadikan hal itu dengan mempotret wajah Raka dan menyimpannya.


Kemudian Raka membuka matanya, tatapan mereka beradu untuk beberapa saat sampai akhirnya keduanya menolehkan kepalanya kearah yang berlawanan.


Raka mengetuk langit-langit bus sebagai tanda berhenti,


“Udah sampe, yuk” ajaknya


Reina mengangguk pelan, dia masih harus menahan rasa malunya di depan Raka karena barusan dia ke gap sedang memperhatikan Raka.


Raka mengajaknya ke sebuah kafe, lalu para pekerja di kafe menyapa Raka membuat Reina menoleh kearah Raka bingung,


'mengapa mereka mengenal Raka?' itu pertanyaan yang ada di benak Reina.


“Duduk disini” Raka menarikkan kursi untuk Reina duduk


Reina mengangguk, lalu dia duduk di kursi yang sudah di tarikkan oleh Raka barusan.


“Mau minum apa?” tanya Raka


“Apa aja” jawab Reina


Raka mengangguk lalu dia berjalan kearah dapur kafe tersebut, hal itu semakin membuat Reina bingung.


Sebenarnya siapa Raka (?)


Reina menolehkan kesekelilingnya, suasana kafe yang sangat sejuk dan sangat minimalis membuat kesan nyaman saat Reina berada di kafe itu, lalu dia berdiri dan berjalan kearah rak-rak buku yang berada di ujung ruangan kafe tersebut.


Dia menyusuri buku-buku yang berjejer rapi disana, sebagain dari judul buku itu pernah dia baca sampai tangannya jatuh di salah satu buku.


“Salah asuhan karya Abdoel Moeis” ucap seorang cowok yang kali itu ada di sebelah Reina.


Reina mengangguk.


“Sastra lama, terbit tahun 1928” ucapnya lagi


Lagi-lagi Reina hanya mengangguk untuk menanggapinya.


“Gue banyak buku kaya gini di rumah, mau baca?” tawarnya


Reina menggeleng pelan, lalu dia berjalan lagi kearah mejanya,


“Marah Rusli dengan Memang jodoh, Tulis Sutan Sati dengan Memtuskan Pertalian, Djamaludin Adi Negoro dengan Darah muda—“


“Lo baca judul buku itu semua Rino?” tanya Reina tak percaya


“Gue kira orang kaya lo gak suka sama sastra lama kaya gitu”


“Lo salah ngenal gue” jawab Rino


Kemudian Raka datang dengan nampan yang berisi satu mug coklat panas.


“Lo ternyata sama ketua osis freak itu, gue duluan kalo lo mau tau sastra lama lagi, lo bisa hubungin gue Reina, bye” Rino pamit meninggalkan kafe itu.


Sekarang tatapan Reina menatap kearah Raka yang berada di depannya, Reina harus bertanya kepada Raka mengapa dia berada di sini dan kenapa juga dia bisa mengakses kafe ini dengan seenaknya.


“Ko lo bisa ngambil minuman ini sendiri?” tanya Reina


“Gue kerja disini” jawab Raka


Reina menghela nafasnya pelan,


“Jadi ini kesibukan lo pulang sekolah?”


Raka mengangguk pelan,


“Gue kerja bukan untuk mencari uang, tapi mencari kesibukan sendiri, gue gak terlalu nyaman berada di rumah”


Jawaban Raka barusan sangat jauh dari perkiraan Reina, dia tidak menyangka bahwa Raka akan menjawabnya dengan sedetail itu,


“Jadi lo selalu berada di sini kalau tidak di sekolah?”


“Iya”


Reina tersenyum kearah Raka,


“Kalau gue mau kesini lagi boleh?” tanya Reina


“Kenapa?”


“Gue suka sama kafe ini, selain nyaman di sini juga banyak buku sastra lama yang jarang ada di toko buku, selain bisa ngirit buat beli buku yang pengen gue baca sekaligus nikmatin rasa nyaman dan tenang di kafe ini” jawab Reina


Raka mengeluarkan buku di dalam tasnya lalu dia memberikannya di hadapan Reina.


“Abas Soetan Pamoentjak, Pertemuan” eja Reina,


“lo tau? gue pengen baca buku ini dari lama, lo suka sastra lama juga?” tanya Reina antusias


Raka menggeleng,


“Itu untuk tugas Indonesia”


“Gue boleh pinjem?” tanya Reina


Raka mengangguk,


“Silahkan ini sebenernya punya kafe bukan punya gue”


Reina tersenyum lalu mengambil buku itu dan di masukkannya kedalam tas, lalu dia menghirup aroma coklat yang dibuat oleh Raka, dia menempelkan hidungnya di pinggiran mug itu lalu matanya terpejam merasakan aroma coklat yang sangat menyenangat.


Kemudian Reina menempelkan bibirnya di pinggiran mug itu dan meminum coklatnya.


“Makasih, coklatnya enak”


-4 R-


Rino menuliskan beberapa judul di kotak pencarian di google, dia mencari tentang judul-judul sastra lama agar bisa memperdekat ruang dia dan Reina, lalu Rino mengklik beberapa hasil dari pencarian itu, dan membacanya.


Satu paragraf Rino masih bisa fokus, saat sudah bagian kedua Rino sudah menggeleng pelan dia tak bisa menghapalkan kata-kata dan kalimat sastra lama ini, bahkan hanya membaca sinopsis dari google aja membuat Rino tidak tahan.


Rino melihat tumpukkan buku yang baru saja dia beli, semuanya sastra lama.


Rino menghela nafasnya pelan, dia tidak mengerti mengapa dia menjadi seperti ini.


Sejak kapan seorang Rino menjadi stalker? Tapi, entah mengapa hal yang baru ini sangat menyenangkan untuknya.


“Apa yang Reina sukai dari buku-buku kaya gini” ucap Rino pelan


Rino tidak menyukai membaca apalagi membaca sastra lama seperti ini, pernyataan yang dibuat oleh Rino di kafe tadi adalah alibinya agar Reina bisa tertarik untuk dekat dengan Rino.


“Apa gue harus membaca buku ini semua, agar gue mengerti apa kemauan lo Reina?”


Rino dengan fake akunnya, dia melihat postingan baru dari Reina, itu hanya postingan buku dengan judul pertemuan karya Abas Soetan Pamoentjak.


Rino mengangguk lalu dia menuliskan di pencarian untuk judul buku yang Reina posting dengan caption love itu.


Rino melihat banyak hasil dari pencariannya, lalu dia membaca satu demi satu artikel yang bersangkutan dengan judul itu.


“Gue yang akan menang dalam taruhan ini” ucapnya yakin


Tapi sedetik kemudian Rino mengacak rambutnya kesal, karena dia tidak bisa mengingat alur dari novel pertemuan bahkan sepenggal kalimat saja dia tidak bisa mengingatnya, begitu sulit menghapalnya untuk di luar kepala.


“Rino ada Sashi” teriak suara di luar kamar Rino


Rino terdiam sebentar, lalu dia menutup laptopnya dan berjalan keluar kamar menemui orang yang mencarinya.


“Ada apa Sas?” tanya Rino


“Rino duduk dulu tanya yang sopan sama Sashi” titah seorang wanita yang tadi memanggilnya dengan teriakan super.


“Iya ma” Rino kemudian duduk di depan Sashi


“Ada apa Sas?” Rino mengulang pertanyaannya


Sashi tersenyum sangat manis,


“Bisa temenin gue pergi gak malem ini?”


Rino menimbang-nimbang permintaan Sashi barusan, lalu dia menatap kearah mamanya dan mamanya hanya mengangguk bahwa dia setuju Rino pergi mengantar Sashi, Rino bukan tidak mau pergi dia hanya sedang menjalankan misinya.


Tapi, mengingat Sashi sudah sangat baik padanya, dengan tidak membocorkan kelakuan Rino di sekolah kepada mamanya, membuat Rino tau diri dan harus membalas kebaikan Sashi.


“Oke, tunggu gue ganti baju dulu”


Sashi mengangguk.


Rino meninggalkan Sashi kembali masuk ke dalam kamar, tentang Sashi sendiri dia adalah tetangga Rino baru dua tahun belakangan ini.


Sashi pindah ke sebelah rumahnya saat dia masuk SMA yang sama dengan Rino, Sashi cewek yang supel mereka berteman dengan baik tak ada cinta di antara mereka.


Bukan Sashi yang tidak menarik untuk Rino bukan pula Rino yang tidak menarik untuk Sashi, mereka hanya tidak ingin merusak pertemanannya.


Rino juga tau bahwa Sashi mempunyai pacar walaupun harus hubungan jarak jauh dan mereka sudah berpacaran sangat lama.


dia tidak mau menjadi benalu di hubungan Sashi dengan menghancurkan kesetiaan Sashi kepada pacarnya.