4K

4K
First Season•Bab IV



Karin berjalan di koridor untuk memasukki kelasnya, tapi hari ini karin merasakan ada hal aneh, entah perasaannya saja atau bagaimana.


Karin merasa setiap orang yang kebetulan berpapasan dengannya menatap Karin dengan tatapan aneh, padahal karin sama sekali tidak mengenal siapa orang-orang yang menatapnya seperti itu.


"KARIIINNNN" teriak seorang cewek dari arah belakang Karin, sudah pasti itu adalah Lisa.


Siapa lagi orang yang akan meneriakki nama Karin seheboh itu.


"Lo nolak Zie?" tanya Lisa langsung tanpa basa-basi.


Karin membulatkan matanya, dia bingung darimana Lisa tau bahwa Zie sudah menyatakan perasaannya kepada Karin dan karin menolaknya.


Karin yakin kemarin saat dia berbicara berdua dengan Zie keadaan sekolah sudah sepi.


"Gue nolak Zie?" tanya Karin sambil mengerutkan keningnya.


"gimana bisa gue nolak dia? Zie suka sama gue aja enggak" alibi Karin.


Lisa memperlihatkan sebuah video dari ponselnya, video itu menampilkan saat Zie menyatakan perasaannya kepada Karin dan Karin yang menolaknya.


"Ini rekayasa Rin? Tapi semua ini seperti real"


Karin menghela nafasnya lalu menatap kearah Lisa dengan pasrah


"Sebenernya video ini bener, Zie emang nembak gue kemarin. Lo bisa dapet video ini darimana?" tanya Karin, akhirnya dia jujur tentang kejadian kemarin.


Lisa menatap Karin khawatir.


"Serius Rin?" tanya Lisa tak percaya.


"gue dapet video ini dari Arin dan temen-temennya, mereka jualin video ini lima belas ribu, tentu saja banyak yang beli karena Zie temennya Keenan"


"Hidup gue akan berantakan ya Lis? Gak akan sama seperti dulu lagi?" tanya Karin takut.


Lisa menggeleng lalu dia merangkul Karin untuk masuk kedalam kelas.


"Gak usah di tanggepin kalo nanti banyak gosip yang beredar, tetep menjadi Karin yang stay cool aja, gue akan selalu ada di samping lo"


Karin tersenyum kecut, perasaannya mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang berbeda dengan kehidupannya dimulai hari ini.


Tapi, Karin tidak tau apa yang akan terjadi, yang pasti sesuatu itu pasti bertolak belakang dengan kehidupan Karin sekarang.


"Mana sih ceweknya yang berani nolak Zie kita" ucap seorang cewek yang kali itu kebetulan lewat di depan Karin dan Lisa.


"HAHA, ceweknya sok jual mahal palingan nanti juga dia nyesel udah nolak Zie"


"Gatau diri ya yang namanya Karina, udah untung Zie suka sama dia tapi dia nolak Zie, sok cantik banget emang"


"Lo kenal Karin gak? Gue gak kenal yang mana sih, mau ngadu cantik gue sama dia"


Lisa mengelus punggung Karin dan tersenyum khawatir, tapi Karin hanya mengangguk dan tersenyum simpul menandakan bahwa dia tidak apa-apa.


Karin ingin menganggap semuanya berjalan seperti biasa, tapi dia tidak bisa melakukan itu semua.


karin merasa takut jika nanti akan terjadi sesuatu yang akan mengubah hidupnya.


"Lo gapapa kan Rin? Beneran gak gapapa kan?" tanya Lisa berusaha memastikan.


Karin mengangguk.


"Gue mencoba gak peduli dengan omongan orang lain tentang gue Lis, walaupun gue pengen banget ngoreksi omongan mereka yang sok tau banget tentang gue.Tapi, gue gak mau melakukan itu karena gue gak mau jadi sorotan hanya karena gosip ini"


"Jadi apa yang akan lo lakuin setelah ini Na?" tanya Lisa.


Karin menggeleng pelan, dia tidak tau harus melakukan apa lagi.


otaknya buntu tidak ada ide untuk menghadapi masalah yang sedang terjadi, apa Karin harus berbicara masalah ini dengan Zie, agar semuanya bisa berjalan seperti biasa lagi (?).


Tapi, Karin tau bahwa semua itu akan sia-sia, mengingat video Karin menolak Zie sudah tersebar keseluruh siswa di sekolahnya.


Karin tidak bisa mendiamkan semua orang yang nyanyi tentang gosip ini, satu-satunya cara adalah, Karin harus menutup kupingnya dari cibiran orang-orang yang tidak tau apapun tentang hidup Karin.


"karin" panggil seorang cowok dibelakangnya.


karin menolehkan kepalanya ke sumber suara, disana berdiri Keir dengan kedua tangannya berada disaku celana, kacamata Keir yang bertengger manis di hidungnya yang terpahat sempurna.


Karin tersenyum simpul dia begitu menyukai setiap inci dari ciptaan Tuhan yang hampir sempurna di wajah Keir.


"Hari ini lo temenin gue ke percetakan"


Karin hanya mengangguk mengerti, lalu Keir pergi lagi meninggalkan Karin.


Lisa menatap kearah karin.


"Lo ngerasa aneh gak sih sama sifatnya Keir?" tanya Lisa, dia memang cewek yang paling peka diantara cewek manapun di muka bumi ini.


Karin menggeleng.


"Aneh apaan, lo aja sendiri yang aneh"


Kari meninggalkan Lisa yang masih berdiri diambang pintu kelas, Karin tidak menyangka kalau tatapan horror juga dia dapatkan dari cewek-cewek alay teman satu kelasnya.


Karin mencoba tidak mempermasalahkan tatapan itu, tapi tetap saja dia merasa risi jika diperhatikan sedetail itu, seolah Karin adalah pusat utama.


"Ada yang nama Karin disini?" tanya seorang cewek yang baru masuk ke dalam kelas Karin.


Karin tidak tau siapa cewek yang mencarinya itu, bahkan Karin baru bertemu dengannya hari ini.


"Itu kak Cesil Rin, cewek yang doyan ngebully di sekolah ini" bisik Lisa..


Karin menautkan kedua alisnya, dia baru tau kalo cewek yang suka ngebully itu bernama Cesil, lalu Cesil datang untuk apa?


"Siapa yang namanya Karin?" Cesil mengulang pertanyaannya..


Semua siswa yang berada di kelas langsung menunjuk kearah Karin yang kini tengah menatap Lisa meminta penjelasan.


Cesil langsung berjalan kearah meja Karin.


"Lo yang namanya Karin?" tanyanya


"Kenapa lo nolak Zie?" tanya Cesil dengan tatapan tajam.


Karin menautkan kedua alisnya bingung, lalu dia menghela nafasnya pelan, Karin tidak ingin masalah dirinya dan Zie menyebar luas seperti ini.


Tapi, semua itu hanya harapan Karin saja, kenyataannya gosip ini bahkan terlalu mudah tersebar di siswa sekolahnya.


"Lo tau gara-gara lo nolak Zie, fans-fans Zie pada ngamuk dan banyak yang keluar, lo itu mikir dong bentar lagi Zie akan masuk kejuaraan basket se Jakarta, gimana kalo gak ada suporter yang dukung dia hanya karena mereka tau kalo dia di tolak oleh Karina si cewek gak tau diri?"


Karin menghela nafasnya gusar lalu dia menatap kearah Cesil yang berada di depannya.


"Gue sama Zie emang udah temenan dari lama, dan gue rasa gue sama Zie lebih cocok jadi seorang teman, maaf kak Cesil kalau bisa gak usah lagi mempermasalahkan hal kecil seperti ini"


"Hal kecil kata lo?" bentaknya.


Karin mengangguk pelan.


"Denger ya, gue gak tau lo itu siapa" teriak Cesil.


"tapi bisa gak sih lo itu gak usah sok jual mahal, segala nolak Zie"


Sepertinya Karin harus lebih banyak bersabar menghadapi fans-fans Zie yang mengamuk seperti ini.


"Yaudah mau kakak itu apa? Gue harus lakuin apa?"


"Lo harus sujud di kaki Zie dan meminta maaf karena udah nolak dia, balikin harga diri Zie yang udah lo injek-injek, gatau diri dasar udah disukain sama Zie bukannya bersyukur tapi sok jual mahal" cibirnya.


"CESIL" panggil suara cowok yang kini orang itu masuk kedalam kelas Karin.


Karin menutup matanya dia tidak berani melihat setelah ini apa yang akan terjadi, mengapa Zie mengacaukan hidupnya dengan datang ke kelas Karin sekarang, masalah ini akan semakin besar jika Zie ikut campur.


"Udah gue bilang kan gak ada yang boleh cari Kaein" bentak Zie.


Karin kesal, dengan sifat Zie yang membelanya seperti ini, orang-orang akan semakin membenci Karin karena Zie.


"Zi, dia udah nolak lo dan sekarang lo masih belain dia? Gue tau Zi lo cowok baik, ganteng dan pinter. Cowok seperti lo itu gak cocok sama cewek seperti Karin yang gak tau diri, udah untung lo suka sama dia tapi dia malah nolak lo" balas Cesil.


Zie menghela nafasnya gusar, lalu dia menatap kearah Cesil dengan tatapan yang nyalang.


"Lo gak perlu ikut campur urusan gue sama Karin Cesil, gue yang cinta sama Karin lalu apa masalahnya sama lo? Gue gak peduli jika nanti orang-orang yang mengaku fans gue pergi, gue tulus cinta sama Karin jadi gue akan tetap memilih Karin walaupun dia nolak gue"


Karin tak bisa berkata-kata lagi, secara tidak sadar Zie telah menempatkan Karin di tempat yang paling berbahaya sekarang.


Mengapa Zie begitu gegabah dalam mengambil keputusan untuk membela Karin didepan Cesil.


"Oke, terserah lo" bentak Cesil.


lalu dia pergi meninggalkan kelas Karin dengan perasaan kesal, tadinya ia ingin membela harga diri Zie, tapi Zie sendiri yang menjatuhkan harga dirinya.


"Siapa yang sebarin video itu?" tanya Zie kepada seluruh penghuni di kelas Karin.


"Gue dapet video itu dari Arin Zi, dia jualin video itu seharga lima belas ribu" jawab T


Lisa takut.


Tapi dia harus menolong Karin dan melindungi Karin sekarang, kemungkinan besar nama Karin akan segera di kenal, bahkan Karin akan mempunyai banyak haters sekarang.


Zie langsung keluar dari kelas Karin, dan sekarang Karin bisa bernafas lega.


Lisa mengelus punggung Karin, dia sangat khawatir jika nanti Karin mendapat tekanan yang akan membuat hidupnya frustasi.


Karin maaf sepertinya harapan mu untuk bersekolah dengan tenang hanyalah angan-angan saja sekarang, dan selamat datang di dunia penuh kontrovesi.


Ponsel Karin bergetar menandakan ada pesan masuk, Karin melihat siapa yang mengirimnya. Dia menghela nafasnya saat membaca pesannya.


From : Kenzie


Rin, maafin gue. Gue janji bakalan beresin masalah ini semua secepatnya, maafin gue ya Rin lo jangan ngejauh dari gue.


"Dari siapa Rin?" tanya Lisa.


"Zie"


"Bilang apa dia?"


"Minta maaf gitu"


Lisa hanya mengangguk mendengar jawaban Karin barusan.


Karin mengetikan balasan untuk Zie.


To : Kenzie


Sebaiknya lo jaga jarak dulu dari gue selama di sekolah.


Karin berharap bahwa keputusannya barusan adalah hal yang terbaik untuk Karin dan Zie.


Karin tidak mau ada skandal lagi di sekolah yang akan membuat namanya menjadi di kenal, sudah cukup hari ini dia mengalami hari yang sulit.


Dia berharap bahwa besok harinya akan kembali seperti semula, tenang seperti biasanya.


"Rin Liat"


Lisa memperlihatkan layar ponselnya yang sedang membuka instagram, disana ada kiriman dari orang yang Karin tidak kenal.


Poto Karin di coret-coret dan di gambari dengan tanduk atau sesuatu hal yang membuat wajah Karin terlihat sangat jelek di poto.


Karin membaca caption dari poto itu, 'Reina si cewek gatau diri'


Lalu Lisa menscroll layar ponselnya memperlihatkan kiriman yang lain.


Karin bisa melihat dan membaca captionnya, bahwa nama dan wajah Karin dikenal banyak orang, terkenal bukan karena prestasi, tapi karena menolak cinta Zie si cassanova sekolah.


Karin menempelkan kepalanya di meja.


"Sepertinya gue harus pindah sekolah aja Lis"