4K

4K
Sub Zero•Bab 3



Setelah acara selamatan lahirnya keluarga baru di rumah Aldo selesai, semua orang pulang dan sekarang menyisakan keluarga Reina dan keluarga Aldo di rumah itu.


“Na, boleh kita ngomong berdua?” pinta Aldo


Reina mengangguk pelan, lalu dia mengikuti Aldo yang naik ke lantai atas.


Mereka berdua butuh privasi untuk membicarakan sesuatu yang tidak jadi permasalahan orang lain.


Aldo hanya tinggal menunggu Reina membuka hatinya, restu dari orangtuanya dan orangtua Reina telah dia kantongi dengan mudah.


Tapi, yang tersulit adalah membuat Reina membuka hati dan mencintainya.


“Mau ngomong apa Ron?” tanya Reina


Aldo menghela nafasnya pelan, lalu dia menatap kearah Reina dengan lembut.


“Gimana perasaan lo sama gue sih Na?”


Jantung Reina berdegup dengan kencang, dia merasa sesuatu yang sangat berbeda lagi.


Dari saat Aldo menyatakannya di sekolah atau saat bermain Truth or Dare waktu itu.


Keadaan sekarang, terasa lebih serius dan membuat Reina tegang.


“Gue gak tau Ron” jawab Reina


Aldo menempelkan kedua tangannya di bahu Reina,


“Tatap mata gue Na” pinta Aldo


Aldo menarik dagu Reina, agar mata Reina menatap kearah mata Aldo juga.


“Gimana perasaan lo sekarang?” tanya Aldo


Reina merasa tubuhnya melemas, karena tatapan Aldo barusan sangat menjanjikan sebuah ketulusan dan kenyamanan.


Tapi, entah kenapa ada bagian di dalam diri Reina yang menyangkalnya, bahwa semua ini itu salah.


“Ron—“


Aldo melepaskan tangannya, lalu dia berjalan kearah jendela di kamarnya.


“Apa gue harus jadi orang lain dulu, biar lo punya rasa buat gue Na?”


Pertanyaan Aldo barusan sungguh menusuk perasaan Reina, dia tidak ingin menyakiti Aldo.


Sungguh, Reina menyayangi Aldo bahkan dia sudah menganggap Aldo sebagai keluarganya sendiri.


“Ronal, maafin gue” lirih Reina


Aldo menggeleng pelan,


“Bukan salah lo, bukan pula salah gue. Seharusnya kita bukan teman dari kecil, sehingga lo gak selalu ngerasa bahwa perasaan lo buat gue hanya sebatas sebagai teman kecil aja” ucap Aldo


Reina berjalan kearah Aldo, dan menarik lengan Aldo lalu Reina memeluk Aldo dengan sangat erat.


“Apa sekarang lebih baik Ron?” tanya Reina


Aldo mengelus rambut Reina dengan pelan,


“Tak ada yang lebih baik Na. Tapi, dengan lo tetap di sisi gue seperti ini, artinya gue masih ada kesempatan buat dapetin hati lo.”


Reina melepaskan pelukannya, lalu dia menatap kearah Aldo.


“Buat gue jatuh cinta sama lo, tentu saja dengan cara lo sendiri” pinta Reina


“Lo serius?” tanya Aldo


Reina mengangguk,


“Gue gak mau nerima lo, gak mau juga gantungin perasaan lo. Karena, gue untuk sekarang gak ngerasain apapun buat lo Ron. Gue sangat yakin, bahwa perasaan gue sekarang hanya menganggap lo sebagai teman kecil enggak lebih. Tapi, gue gak tau kalau nanti, karena gak ada yang tau akhir dari semua ini.”


Aldo merangkulkan tangannya di bahu Reina,


“Sepertinya gue harus jadi orang lain dulu biar di sayang sama lo lebih dari sekedar teman,” sindir Aldo


Reina mencubit pinggang Aldo dengan gemas,


“Kenapa harus jadi orang lain?” tanya Reina


“Buktinya lo baru beberapa hari kenal Rino, udah bisa sedeket itu,”


“Gue gak deket sama Rino, gue kan kenal sama Rino juga karena dia temen lo Ron,” balas Reina


Aldo menatap kearah Reina dengan selidik, benarkah yang di ucapkannya barusan? Reina berteman dan dekat dengan Rino hanya karena Rino adalah teman Aldo. Tapi, entah mengapa Aldo tidak yakin untuk itu.


“Lo deket sama Raka ya Na?”


Reina melebarkan matanya, dia bingung dengan pertanyaan Aldo barusan sangat tiba-tiba dan jauh dari perkiraannya.


Reina menggeleng pelan,


“Enggak, gue gak deket sama dia. Lo kata siapa?” tanya Reina was-was


“Gue denger sih, Raka kalo ngomong sama lo gak ketus kaya ke orang lain. Lo ngapain sih Na, deket-deket sama orang aneh kaya Raka,”


“Dia enggak aneh Ron, kenapa sih lo selalu menganggap bahwa Raka itu aneh?”


Aldo menghela nafasnya pelan, lalu dia menempelkan tangannya di dahi Reina dan menempelkanya kembali di pantatnya.


“Ternyata, lo panas”


“Sialan, lo pikir gue gila Ron?” cibir Reina


“Bukan, lo tau Raka itu aneh. Gue gak mau lo sakit hati karena sikap dingin dia,” ucap Aldo pelan


Reina tersenyum simpul. Dia tau, Raka bukanlah orang yang baik di matanya. Tapi, Reina tidak bisa menghakimi Raka walaupun sikap dan prilakunya kurang baik.


Reina juga sangat tau bahwa Aldo sangat baik kepadanya, dia bagai penolong dikala Reina sedih atau bahagia, Aldo selalu siap sedia membantunya.


“Hak dia Ron kalo mau nyakitin orang,”


“Iya hak dia, gue hanya gak mau lo yang di sakitin Na. Ngeliat lo nangis aja gue gak sanggup, apa lagi ngeliat lo di sakitin sama orang lain.”


Perasaan Reina menghangat saat Aldo mengatakan pernyataan berikut. Entah hati Reina sekeras apa, sehingga dia tidak bisa jatuh cinta kepada sosok hangat dan lembut seperti Aldo.


“Na, lo tau kan kalo gue sayang sama lo?” tanya Aldo


Reina mengangguk, dia tau bahwa Aldo menyayanginya.


“Lo tau, gue akan melakukan apapun asal lo bahagia?”


Reina kembali mengangguk.


“Tolong Na, jangan buat diri lo masuk kedalam masalah orang lain. Lo tetap jadi Reina yang gue kenal seperti dulu, gue gak mau kehilangan lo,” ucap Aldo sambil menudukan kepalanya


Reina menghela nafasnya pelan.


“Ronal, gue gak akan tinggalin lo sampai kapanpun, percaya sama gue. Jangan khawatirin sesuatu hal yang tidak perlu Ron, gue tau kalo gue sakit hati atau ada orang yang nyakitin gue, gue gak akan terlalu sedih karena gue masih punya lo. Ronal penyelamat Reina.”


Pintu kamar Aldo terbuka, berdiri seorang cewek di ambang pintu sedang menatap kearah Reina dan Aldo sambil mengulum senyumnya karena melihat Aldo tengan menggenggam tangan Reina.


“Nana, kata mama kita pulang,”


Reina mengangguk pelan, lalu dia melepaskan genggaman tangan Aldo,


“Gue pulang duluan, besok berangkat seperti biasa,” ucap Reina dengan senyum khasnya


“Ayo kak Caca kita pulang,” ajak Reina kepada Reysa yang masih berdiri di ambang pintu.


Reysa hanya mengacungkan jempolnya kearah Aldo, dan Aldo tersenyum simpul asat melihat bahwa Reysa mendukung dia untuk mendekati Reina.


Reysa menyusul Reina yang sudah berjalan di depannya, “Nana tunggu,”


Reina menolehkan kepalanya kearah Reysa,


“Apaan? Lambat amat kak Caca jalannya,” sindir Reina


Reysa hanya terkekeh pelan, lalu dia merangkulkan tangannya di bahu Reina,


“Abis ngapain di kamarnya Ronal tadi?”


“Gak ngapa-ngapain.” Jawab Reina cepat


“Jangan bohong, buktinya tadi kamu pegangan tangan segala sama Ronal.”


Reina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, memang apa salahnya jika Reina dan Aldo pegangan tangan seperti tadi? Bukankah itu adalah hal yang biasa dalam pertemanan mereka.


Lagipula Reina dan Aldo memang sudah sangat dekat, bahkan Reina melingkarkan tangannya di perut Aldo ketika di motor aja sudah menjadi hal yang biasa untuk Reina.


“Ronal suka sama kamu, kenapa gak di coba pacaran sama Ronal aja?” tanya Reysa


Reina menggeleng pelan, “Pacaran itu bukan coba-coba, Nana gak mau sakitin Ronal.”


“Yaudah serius dong, lagipula kata mama dia mau ngizinin kamu pacaran asal sama Ronal,”


Reina menatap kearah Reysa, “Kapan mama bilang kaya gitu kak?”


“Tadi, waktu ngobrol sama mamanya Ronal.”


Reina mendesah pelan, dia takut jika orangtuanya memiliki pemikiran yang kolot.


     


“Tenang aja, mama gak akan jodohin kamu, gak usah berpikiran terlalu jauh kesana Na,”


Reina terkekeh pelan, “Kebaca banget ya kak pemikiran Nana?” tanya Reina


Reysa mengangguk, “Iya, kebaca banget. Tapi, kalo di jodohin juga gapapa kali Na? Ronal udah baik, pinter, ganteng lagi. Keliatannya dia sayang banget sama kamu, jadi kecil kemungkinan kalo dia sakitin kamu.”


“Dari kapan kak Caca jadi sales yang mempromosikan Ronal?”


Reysa hanya tertawa mendengar pertanyaan dari Reina barusan. Bukan dia memaksa agar adiknya berpacaran dengan Aldo.


Hanya saja, Reysa tidak mau jika adiknya itu salah memilih orang untuk di jadikan pacarnya.


Reysa sangat tau kepribadian Reina, dan menurut Reysa Aldo adalah orang yang sangat cocok untuk melengkapi sisi yang kosong dalam hidup Reina.


“Nama adiknya Ronal yang baru, Renal ya Na?” tanya Reysa


Reina mengangguk, “Iya, Ronal yang kasih namanya tadi.”


“Kata tante Tasya, namanya di ambil dari nama Ronal sama Nana, bener?”


“Iya, Re untuk Reina, dan Nal untuk Ronal. Gatau juga sih, kenapa Ronal kepikiran nama itu untuk nama adik barunya. Tapi Nana suka namanya.”


Reysa menatap kearah Reina secara selidik,


“Serius? Cuma suka aja? Gak ngebayangin apa gitu? Seperti, Renal itu anaknya Nana sama Ronal?”


“Apaan sih kak Caca, kepo banget kayanya.”


“Ronal banyak cerita sama kak Caca tentang kamu,”


Reina mengerutkan keningnya, “Oya? Cerita tentang apa kak?”


“Bener mau denger?”


Reina mengangguk, “Pasti dia cerita yang jelek-jelek ya kak?”


Reysa menggeleng.


“Terus cerita tentang apa kak?”


“Dia cerita, kalo dia suka sama kamu. Dia minta restu dari kak Caca kalo misalkan dia pacaran sama kamu, ya kak Caca sih setuju aja kalo Ronal jadi pacar kamu. Kak Caca juga minta Ronal jagain kamu, jangan nyakitin kamu. Terus kak Caca bilang sama Ronal, kalo dia gak bisa pacaran sama kamu, jangan pernah ngebenci kamu yang gak ngebalas perasaan dia dan tetep jadi temen baik,”


“Terus jawabannya Ronal apa?” tanya Reina penasaran


“Dia jawab, ‘Iya kak’, gitu aja. Na, suka, sayang, atau mencintai seseorang itu tidak sulit, yang sulit adalah menambah kata saling diantara kata itu. Kamu ngerti maksud kakak itu apa kan Na?”


“Reina ngerti kak.”


"Kalo kamu gak suka sama Ronal, jangan kasih dia harapan lebih Na. Jangan bersikap seolah-olah kamu akan ngebalas perasaan dia, karena perasaan itu bukan becandaan. Walaupun kamu gak ngerti, sekarang kamu harus ngerti. Kamu gak bisa masa bodo sama perasaan orang, kamu harus mikirin gimana perasaan Ronal yang sayang sama kamu, tapi gak bisa milikin kamu.”


Reina terdiam cukup lama, memikirkan ucapan dari Reysa barusan. Apa mungkin selama ini adalah salahnya Reina, yang memberikan harapan berlebih kepada Aldo.


Tapi, disaat Reina ingin menjauh dari Aldo, dan menjadikan mereka teman biasa Aldo melarangnya, dia tetap menyuruh Reina bersikap seperti biasa.


Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ronaldo? Dia rela sakit, asalkan Reina tetap bahagia. Mengapa dia begitu memperdulikan Reina, sehingga tidak memikirkan keadaan hatinya yang pasti akan sangat luka, karena perasaannya tidak berbalas.