
“Reina ada yang cari” teriak Reni dari lantai bawah.
Reina menautkan kedua alisnya, di malam hari seperti ini siapa yang mencarinya? Mungkin Aldo, yang akan mengajak Reina nonton maraton di rumahnya.
Tapi, kalau Aldo kenapa dia tidak langsung masuk ke kamar Reina seperti biasa, dan kenapa Reni berteriak seperti tadi.
“Reina cepetan turun!”
Teriakan maut itu kembali terdengar oleh kuping Reina, dengan malas Reina menyimpan novel yang sedang ia baca di meja belajar, lalu dia mencepol rambutnya dan turun ke bawah.
Reina tidak perlu balas berteriak untuk menyahuti teriakan Reni tadi, dia tidak suka jika harus menganggap rumahnya seperti hutan.
“Ada apa Ron?” tanya Reina saat dia sudah di ruang tamu rumahnya.
Mata Reina membulat saat melihat siapa yang datang ke rumahnya, ternyata bukan Aldo.
“Ini temen kamu mau ngajak kerja kelompok katanya, gak biasanya malem minggu ada yang ngapelin Nana”
Reina menatap datar kearah Reni, dia tidak tau mengapa harus punya ibu seperti Reni yang doyan gosip.
Maklum jiwa ibu-ibu Reni memang sangat kental.
“Mama masuk aja ke dalam” pinta Reina
Reni hanya mengulum senyumnya, dia bersyukur akhirnya Reina mau bersosialisasi dengan cowok selain dengan Aldo temannya dari kecil.
“Ngapain kalian kesini?” tanya Reina, lalu dia duduk di sofa
“Ngapelin lo lah”
Reina menghela nafasnya gusar,
“Gue gak tau kalian siapa, lalu kenapa kalian datang ke rumah gue dengan alibi mau kerja kelompok, kita satu kelas aja enggak”
Kedua cowok itu terkekeh pelan mendengar protesan Reina,
“Lo udah lupa sama gue? Gue Adam yang waktu itu sms ke nomor lo”
Reina melotot kearah cowok yang memperkenalkan dirinya sebagai Adam itu, dia tidak tau bagaimana bisa Adam datang ke rumahnya dengan sangat percaya diri, dan meminta izin kepada Reni untuk mengajak Reina dengan alasan kerja kelompok.
“Lalu lo siapa?” Reina menoleh ke cowok di sebelah Adam.
“Gue Leon, Reina otak lo minim banget ya nginget nama orang aja lo gampang lupa”
Reina menghela nafasnya, lalu dia menatap Adam dan Leon secara bergantian,
“Apa tujuan kalian datang ke rumah gue?”
“Ngajak lo jalan” jawab keduanya serempak
Reina menggeleng, “Gue gak mau.”
“Lo harus mau, karena biaya yang kita keluarkan untuk ke rumah lo tidak sedikit” balas Leon
“Bukan urusan gue.”
Reina berdiri dari sofa,
“Sebaiknya kalian pulang, ini udah malem” usiran secara halus Reina berikan kepada Adam dan Leon.
Baru satu langkah Reina melangkahkan kakinya menjauhi Adam dan Leon.
“Lo mau, kejadian di ruang osis kita sebar?”
Reina langsung membalikkan tubuhnya, menatap horror Adam dan Leon. Bagaimana bisa mereka berdua tau tentang kejadian di ruangan osis.
Tubuh Reina menegang, dia begitu takut akan terjadi sesuatu yang akan membahayakan dirinya dan juga Raka.
“Apa mau kalian?” tanya Reina
“Kita mau jalan bareng lo”
Reina mendesah pelan, tidak ada pilihan selain dia harus menuruti permintaan dari dua orang yang menurutnya asing ini.
“Oke kita jalan malam ini” putus Reina dengan sangat terpaksa
Senyum kemenangan terlihat jelas di wajah Leon dan Adam, sejujurnya mereka tidak tau tentang kejadian di ruang osis, karena mereka hanya mendengar percakapan Reina dan Bimo saat di sekolah.
Ternyata, kejadian di ruang osis bisa membuat Reina bisa menurut seperti ini.
"Tunggu, gue ganti baju dulu”
Adam dan Leon hanya mengangguk
Beberapa menit berlalu, Reina kembali ke ruang depan setelah mengganti pakaiannya, dia menggunakan dress yang waktu itu di belikan oleh Aldo, ditambah dengan jaket jeans, Reina membawa topi dan masker, entah untuk apa barang dua itu.
“Kita pergi sekarang?” tanya Reina
“Oke kita pergi” putus Leon tanpa bertanya lebih lanjut lagi.
Reina mengangguk,
“Ma, Nana berangkat ya” kali ini dia terpaksa harus berteriak, karena malas untuk masuk ke dalam.
Tapi, tentu saja Reni tidak membiarkan anaknya pergi begitu saja tanpa wejangan terlebih dahulu.
Reina adalah anak bungsunya, dan juga baru kali ini Reina mau keluar rumah malam hari dengan cowok selain Aldo atau ayahnya.
“Nana tunggu jangan pergi dulu,”
Baru saja Reina melangkahkan kakinya, benar saja Reni sudah menghampirinya di ruang depan.
“Kerja kelompoknya tentang apa Na?” tanya Reni
Reina menghela nafasnya pelan,
“Tugas Fisika, mama kepo banget deh”
“Bukan kepo, mama tidak mau kamu salah pergaulan”
Reni menatap kearah Leon dan Adam secara bergantian,
“Kerja kelompoknya di rumah siapa?”
“Di rumah Adam tante, disana ada orangtua Adam juga dan ada anak-anak yang lain” alibi Adam. Kali ini perlu Reina acungi jempol, dia sangat pandai menjilat orang lain.
Reni mengangguk tersenyum,
“Yaudah hati-hati ya di jalannya, pulangnya jangan kemaleman”
Reina tersenyum simpul, lalu dia mencium punggung tangan Reni diikuti oleh Leon dan Adam sebagai simbol pamit kepada orangtua.
“Nana berangkat ya ma” pamit Reina
Reni mengantarkan Reina sampai pintu depan rumahnya, setelah Reina menghilang dibawa oleh mobil barulah Reni masuk kembali ke dalam rumahnya.
Reina duduk di jok belakang sendirian, sementara Adam dan Leon berada di depan. Reina menatap Adam dan Leon melalui kaca yang ada di depan.
“Ke tempat yang belum pernah lo kunjungi” jawab Adam
Reina menautkan kedua alisnya bingung, sekarang dia benar-benar takut jika Adam dan Leon membawanya ke tempat-tempat yang tak ingin Reina kunjungi.
“Lo buat apa bawa masker sama topi kaya gitu, gak akan berguna juga” cibir Leon
“Gue gak mau ada anak sekolah kita yang tau, kalo gue jalan sama kalian”
“Tapi itu akan mencolok Reina” ucap Leon
“Seenggaknya mereka gak tau kalo itu gue, gue gak mau nambah gosip di sekolah.”
Leon dan Adam mengangguk, setelah jawaban Reina barusan mereka bisa menyimpulkan, bahwa yang diucapkan oleh Aldo semuanya benar, tentang Reina yang tidak pernah mau terlibat dalam suatu masalah yang akan mengganggu kehidupannya.
“Lo deket banget sama Ronaldo Na?” tanya Adam penasaran dengan hubungan Reina dan Aldo.
Mengapa hanya Aldo yang memiliki perasaan untuk Reina, dan Reina hanya menganggap Aldo sebagai temannya saja.
“Lo berdua temannya Ronal?” Reina balik bertanya
“Iya, gue, Leon, Aldo, dan Rino memang temenan” jawab Adam
Reina hanya mengangguk mengerti,
“Gue temenan dari kecil sama Ronal”
“Gue denger Aldo suka sama lo, kenapa lo gak terima perasaan dia? Kalian kan udah kenal dari dulu, deket dari dulu, boong banget kalo lo cuma anggap dia sebagai temen doang. Aldo kan termasuk cowok yang bisa diandalkan, reputasinya sangat baik walaupun gabung sama tukang rusuh di sekolah”'
Ucapan Leon barusan seperti dirinya sedang mempromosikan Aldo untuk Reina, memangnya mereka merangkap dari sahabat menjadi biro jodoh (?).
Reina hanya tersenyum lalu menggeleng,
“Gue gak pernah ngerasain bagaimana rasanya suka sama seseorang, maka dari itu gue gak bisa bedain antara perasaan murni untuk sahabat dan perasaan yang murni naluriah dari cewek untuk cowok.”
“Lo suka Aldo?” tanya Leon
Reina tersenyum, “Gue suka kalo Ronal bahagia, dan kita bersama. Gue suka ketika gue bisa menceritakan segala keluh kesah gue sama dia”
“Lalu kenapa lo gak pacaran sama dia?”
“Gue cukup yakin kalo perasaan gue untuk Ronal, hanya perasaan sebagai teman kecil atau sekarang telah merangkap menjadi sodara, kita terlalu dekat”
Lalu Adam memarkirkan mobilnya di sebuah rumah yang menurut Reina asing, banyak sekali mobil-mobil yang berjejer di halaman rumah itu.
“Ini rumah siapa?” tanya Reina dengan suara pelan
“Sashi, dia ulang tahun ketujuh belas” jawab Adam
Reina menautkan kedua alisnya bingung,
“Kalo kalian mau dateng ke ulang tahun Sashi, kenapa mesti ngajak gue, gue kan gak kenal sama Sashi?”
“Ya tinggal kenalan aja, lagipula Sashinya kenal lo. Udah deh sekarang turun dari mobil” Ajak Leon sambil turun dari mobil, lalu dia membukakan pintu belakang untuk Reina.
Reina masih saja diam di jok belakang tanpa bergerak sedikitpun, dia tidak mau masuk ke dalam rumah yang terbilang cukup besar, Reina yakin di dalam sana pasti akan banyak pembicaraan yang sangat tidak penting.
“Tenang Niken gak ada di dalem,” ucap Adam sambil menaikan sebelah alisnya.
Leon yang tak mendapat respon dari Reina, langsung menarik lengan Reina untuk turun dari dalam mobil.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Reina menuruti perintah Leon dan Adam untuk ikut masuk ke rumah Sashi, tempat pesta di adakan.
Reina langsung memasang masker yang dia bawa dan topinya. Dia merasa beruntung karena menggunakan dress, kalau menggunakan kemeja atau kaos pasti dia salah kostum banget nantinya.
“Aldo ada di dalem, jadi lo gak sendirian tenang aja” bisik Leon
Reina menelan ludahnya dengan susah payah, entah apa yang akan terjadi lagi besok jika banyak yang tahu bahwa Reina datang ke ulang tahun Sashi bersama dengan Leon dan Adam.
Reina memberanikan diri melangkahkan kakinya saat mereka sudah berada di pintu masuk.
Keluarga Sashi adalah orang yang kelebihan ekonomi, seperti pesta anak muda lainnya, banyak minuman di mana-mana, makanan dan kado-kado yang sudah disiapkan tempatnya masing-masing.
Reina merasa semua pasang mata melihat kearahnya, Reina tidak bisa seperti sekarang ini menjadi pusat perhatian.
Adam merangkul pundak Reina, sungguh Reina ingin mengutuk Adam sekarang juga karena prilakunya akan membuat Reina semakin sulit di sekolah.
“Bawa siapa Dam?” tanya seorang cowok yang Reina tidak kenal siapa cowok itu.
“Cewek lah, emangnya lo mahoan” balas Adam
Sashi berjalan kearah Adam dan Leon, dengan gaun yang sangat indah, penampilan Sashi sangat sempurna, tak ada cacat dari penampilannya malam ini.
Mungkin Sashi ingin pestanya berjalan dengan sangat baik.
“Siapa Eon, Dam? Satu untuk berdua?” tanya Sashi sambil terkekeh pelan
Reina hanya diam, badannya bergetar hebat. Dia ingin pulang, dia tidak menyukai pesta seperti ini.
“Ko pake masker, lagi sakit dia?” tanya Sashi lagi
Lalu tangan Sashi terulur ke topi Reina. Dia ingin menepis tangan Sashi tapi tubuhnya melemas, karena di perhatikan oleh semua orang yang berada di pesta.
Sashi menarik topi itu, dan sekarang rambut Reina terurai dengan sangat rapi dan indah.
“Kenapa harus di tutupin sama topi, rambut lo bagus lagi” ucap Sashi
Sekarang, tangan Sashi ingin melepas masker yang menutupi sebagian wajah Reina, dan sekarang terekspos dengan dengan seluruh wajah Reina dengan jelas.
Sashi membulatkan matanya saat melihat cewek yang dibawa oleh Leon dan Adam adalah Reina.
Tapi, Sashi langsung tersenyum lalu dia membuka jaket jeans Reina dengan perlahan, membuat dress sabrina itu memperlihatkan seluruh lengannya.
“Begini lebih baik” Sashi tersenyum simpul
Tatapan tak percaya dari orang-orang yang berada di pesta kini Reina dapatkan, untuk kesekian kalinya Reina menjadi pusat perhatian.
“Cabe banget dia, udah dari Aldo, Rino, sekarang Adam, sama Leon juga di gebet” cibir seorang cewek yang berambut sebahu.
“Keliatan banget numpang famousnya”
"Dasar gatau diri, cabe busuk”
“Cabe gak laku gitu, cari pelanggan sana sini”
“Murahan banget sih dia”
“Gue kira dia alim, eh taunya”
Begitulah cibiran-cibiran dari orang-orang yang hadir di pesta, Reina bisa mendengarnya karena mereka cukup dekat saat mengatakan kalimat yang kurang pantas itu.
Sebuah jaket yang cukup besar kini menutupi sebagian tubuh Reina. Reina menaikan tatapannya, menatap siapa yang melakukan itu.
Reina melihat Rino sedang tersenyum kearahnya, lalu dia merangkul Reina dan membawa Reina keluar dari pesta.