4K

4K
First Season•Bab XII



Sebuah jaket yang cukup besar kini menutupi sebagian tubuh Reina, Reina menaikan tatapannya menatap siapa yang melakukan itu.


Reina melihat Rino sedang tersenyum kearahnya, lalu dia merangkul Reina dan membawa Reina keluar dari pesta.


Rino menuntun Reina menuju rumah yang berada tepat di depan rumah Sashi, perasaan Reina tak karuan dia takut jika nanti Rino melakukan tindakan yang kurang ajar kepadanya, bagaimanapun Rino adalah cowok sedangkan Reina adalah cewek, tenaga mereka jelas berbeda.


“Jangan berpikiran kotor tentang gue. Gue cuma mau bantu lo, agar gak terkena masalah” ucap Rino seolah-olah dia bisa membaca apa yang ada di pikiran Reina saat ini.


Rino membuka pintu gerbang rumah yang ada di depan rumah Sashi itu.


“Ini rumah gue, jangan menganggap gue maling”


Reina hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Rino barusan, rumahnya sangat sepi membuat Reina was-was, dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


“Nyokap gue lagi pergi ke rumah tante gue, sebentar lagi pulang”


Reina mengangguk pelan.


Rino membuka pintu rumahnya, lalu menyalakan lampu dan sekarang Reina bisa melihat dengan jelas bagaimana keadaan rumah Rino, semuanya tertata dengan rapi, bahkan tidak ada satu celahpun minus dari penataan rumah Rino.


“Lo tunggu disini” perintah Rino, lalu dia berjalan masuk kedalam rumahnya.


Reina melihat beberapa poto keluarga tertempel di ruangan itu, benar-benar keluarga yang sempurna dan bahagia, Rino adalah anak satu-satunya.


Lalu mata Reina tertuju kepada beberapa tropi yang ada di lemari kaca, dan membaca apa saja penghargaan yang ada disana.


Mata Reina membulat tak percaya ternyata keluarga Rinolah yang mempunyai toko coklat yang sangat di sukai oleh Reina.


“Waktu gue kasih coklat sama lo, gue gak bohong itu memang buatan nyokap gue” ucap suara dari arah belakang Reina.


Reina membalikan badannya dan sekarang dia diperlihatkan dengan Rino yang menggunakan kaos dan celana pendek, ternyata dia meninggalkan Reina hanya untuk mengganti pakaian.


“Gue gak tau kalo toko coklat itu punya keluarga lo” jawab Reina


Lalu Reina kembali duduk, Rino mengangguk pelan lalu dia membuka tutup toples yang ada di meja, kebanyakan isi dari toplesnya adalah coklat yang sangat di sukai oleh Reina.


“Lo mau cobain coklat buatan gue?” tawar Rino


Reina mengangguk pelan, “Boleh”


“Oke gue buatin lo coklat” Rino berdiri kembali, lalu meninggalkan Reina sendirian lagi di ruang tamu.


Reina ingin diam, tapi entah mengapa kakinya ingin berjalan-jalan melihat isi rumah Rino yang sangat menyita perhatiannya.


Saat tangan Reina menyentuh sebuah poto yang berada di meja telepon, pintu rumah Rino terbuka dan menampilkan wanita yang masih cantik diusianya yang tidak bisa dibilang muda lagi.


Reina langsung melepaskan tangannya dari poto tersebut, seperti maling yang ketahuan. Wanita itu tersenyum menatap Reina, lalu dia duduk di sofa.


Untunglah kecanggungan itu tidak berlangsung lama, Rino datang dengan dua mug coklat yang ada ditangannya.


“Mama udah pulang?” tanya Rino saat melihat wanita yang duduk di depan Reina.


Rino menyimpan mug itu di hadapan Reina, dan Reina tersenyum simpul.


“Iya, ko kamu ada dirumah Rino? Bukannya Sashi lagi ulang tahun?” tanya Laras (Mama Rino)


Rino hanya menaikan bahunya malas, lalu dia duduk di sebelah Reina,


“Tadi Rino udah kesana bareng sama Reina, tapi keadaannya gak asik ma. Yaudah Rino pulang aja”


Laras menaikan sebelah alisnya, menatap anaknya selidik, lalu Rino tersenyum dia tidak bisa berbohong kepada Laras.


“Hubungan kalian berdua sudah sejauh mana?” tanya Laras langsung tanpa basa-basi.


Reina membulatkan matanya mendengar pertanyaan dari Laras barusan, dia cukup terkejut karena Laras bertanya secara tiba-tiba seperti itu.


“Kita cuma temen ma” jawab Rino


“Yakin temen? Biasanya kamu gak mau ninggalin pesta kalo belum selesai.”


Rino memamerkan sederet gigi putihnya, dia ketauan lagi karena Rino memang menyukai keramaian, berbeda dengan cewek di sampingnya sekarang.


“Reina gak suka pesta jadi Rino ajak ke rumah”


Berbohong sedikit, tidak apa-apa. Lagipula Rino memang benar bahwa Reina tidak menyukai keramaian.


Laras mengangguk, lalu dia menatap kearah Reina yang sangat berbeda dengan cewek-cewek yang biasa Rino bawa, dan di kenalkan sebagai pacarnya.


“Kamu satu sekolah sama Rino?” tanya Laras


Reina mengangguk pelan.


“Kalau begitu kamu tau gimana prilaku Rino selama di sekolah bukan?”


Rino membulatkan matanya, dia tau Reina tidak akan mungkin berbohong untuk menutupi kesalahan orang lain.


Tamatlah riwayatnya jika Reina membongkar semua aktivitas gilanya di sekolah, dari menjaili guru, bolos dan yang lainnya. Tidak bisa dipungkiri kalau Rino adalah buronan BK.


Kenapa orang tua Rino tidak tau? Karena Rino selalu membuang surat panggilan untuk orang tuanya, atau dia menyewa orang untuk berakting sebagai orang tuanya.


Rino memang sangat cerdik.


“Aku gak tau tante gimana Rino di sekolah” jawab Reina


Laras tak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Reina barusan, karena setiap cewek yang di bawa oleh Rino selalu pandai menjilat, dengan mengatakan yang baik-baik tentang Rino kepada Laras.


“Kamu tidak tau bagaimana Rino di sekolah, kalian satu sekolah bagaimana bisa kamu tidak tau tentang Rino?”


Reina tersenyum sopan,


“Aku hanya satu sekolah sama Rino tante, dan satu sekolah itu banyak siswanya, terlebih kita berbeda jurusan, jadi aku hanya tau kalo Rino itu temennya Ronaldo”


Laras semakin tidak mengerti dengan jawaban dari Reina, dia tau bahwa anaknya berteman dengan Aldo, Leon, dan Adam. Tapi, biasanya cewek-cewek lebih mengenal Rino daripada temannya yang lain.


“Kamu kenal sama Aldo?”


Reina mengangguk pelan,


“Iya dia temen sekaligus tetangga aku dari kecil tante”


Laras mengangguk, ini adalah keajaiban karena tipe cewek Rino berubah seratus delapan puluh derajat,


“Kamu ikut eskul apa di sekolah?”


“Aku cuma ikut osis tante”


“Ma, jangan introgasi Reina” ucap Rino, dia merasa tidak enak karena Laras terus-menerus bertanya sesuatu hal yang mungkin membuat Reina tidak nyaman.


“Ipa tante”


“Pinter dong ya, gak kaya Rino males”


‘Gak semua anak Ipa pinter tante’ ingin Reina mengatakan itu, tapi dia hanya membalas dengan senyuman seolah dia menyetujui pernyataan Laras barusan.


Pandangan orang lain tentang perbedaan anak Ipa, dan Ips memang begitu melekat, seperti anak Ipa pintar sedangkan anak Ips yang bandel.


“Yaudah kamu minum dulu, coklat buatan Rino emang enak. Tante pinjem Rinonya dulu sebentar ya?”


Reina hanya mengangguk sopan, lalu tatapan Laras kearah Rino mengisyaratkan agar Rino mengikuti Laras meninggalkan Reina sendirian.


“Bentar ya Na” izin Rino


Lalu Rino berjalan meninggalkan Reina untuk ketiga kalinya, menuruti permintaan Laras yang tidak biasanya.


Setelah Laras dan Rino hanya berdua tanpa Reina.


“Siapa kamu itu?” tanya Laras tanpa basa basi


“Temen”


“Yakin cuma temen?"


Rino mengangguk, “Kenapa emangnya sih ma?”


“Kamu gak liat dia itu anak baik-baik, enggak kaya kamu”


“Aku emangnya kaya gimana?” tanya Rino pura-pura tidak mengerti, tetapi jantungnya berdegup kencang dia merasakan feeling yang kurang baik.


Laras menghela nafasnya pelan,


“Jangan kamu pikir selama ini mama diam aja, gak tau gimana kelakuan kamu selama di sekolah. Teman-teman kamu bisa kongkalikong sama kamu, tapi mama punya nomor wali kelas kamu Pak Anton, wali kelas kamu memberi mama laporan gimana kelakuan kamu selama di sekolah. Masih mau ngelak?”


Rino tersenyum memamerkan sederet gigi putihnya, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali,


“Mama udah tau ya gimana kelakuan Rino di sekolah?” tanya Rino dengan wajah tanpa dosa


Laras mengangguk,


“Apa maksud kamu bawa dia kesini Rino? Jangan rusak anak orang, walaupun tidak disalahkan kalo kamu ingin nikah muda, tapi seenggaknya kamu lulus dulu SMA”


Rino hanya menatap Laras dengan tatapan Horror, Rino tidak menyangka bahwa pikiran Laras akan berkeliaran dengan begitunya, sampe menyangka Rino ingin menikah muda.


“Ma, Rino gak ngapa-ngapain sama dia” bela Rino


“Iya kamu gak ngapa-ngapain sama dia, tapi kalo tetangga liat kamu masukin cewek malem-malem kaya gini saat keadaan rumah sepi, apa tanggepannya?”


Rino mengangguk pelan, dia tidak berpikir sampai kesana karena yang dia pikirkan tadi hanyalah membantu Reina dan membuatnya senyaman mungkin.


“Rino hanya nolongin dia ma”


“Mama ngerti, kamu suka ya sama dia?” tanya Laras sambil mengedipkan sebelah matanya


Rino harus mengelus dadanya beberapa kali, mengapa Laras gampang sekali berubah mood seperti remaja kebanyakan.


“Mama setuju kalo kamu sama dia, kalo kamu sakitin dia mama yang pertama kali marahin kamu”


“Lah ko mama jadi ngebela Reina?”


“Dia itu anak baik-baik dan mama ingin punya menantu baik-baik. Enggak kaya cewek yang sering kamu bawa kesini”


“Ish”


Laras menepuk bahu Rino pelan,


“Anterin dia pulang, ini udah malam. Mama yakin orang tuanya pasti khawatir kalo dia pulang selarut ini. Kamu gak bisa memaksa orang lain masuk ke dunia kamu, justru kamulah yang harusnya bisa masuk ke dunia dia agar gak bandel kaya sekarang”


Rino hanya tersenyum,


“Pinjem mobil mama boleh? Kasian kan ma kalo pake motor”


"Yaudah ambil kuncinya di meja, jangan keluyuran langsung pulang”


Rino mengangguk mengerti, lalu dia meninggalkan Laras sendirian dan kembali ke tempat Reina menunggu, Rino bisa melihat raut wajah Reina yang lelah mungkin dia tidak terbiasa begadang.


“Lo mau pulang sekarang?” tanya Rino


“Eh—“


“Gue anter ko, gak usah khawatir pulang sendiri” ucap Rino


“Makasih Rino”


Rino tersenyum lalu mengangguk.


“Nyokap lo mana Rin? Gue mau pamit” tanya Reina


“Ma, Reina mau pamit nih” teriak Rino


Reina hanya bisa tersenyum melihat Rino memanggil mamanya dengan berteriak seperti itu, entah melihat cowok akrab dengan orangtuanya membuat Reina berpikir bahwa cowok itu pasti orang baik-baik.


“Eh Reina mau pulang? Kenapa gak nginep disini aja?” tanya Laras basa basi


Reina tersenyum lalu dia menggeleng,


“Iya tante ini udah malem juga, mama sama papa pasti khawatir kalo aku pulang selarut ini gak baik juga” jawabnya


Laras tersenyum, dia bisa bernafas dengan lega akhirnya anaknya ini bisa mencari cewek yang baik-baik seperti ini.


“Yaudah hati-hati ya”


“Makasih tante, Reina permisi dulu”


“Nanti main-main kesini lagi ya Reina”


“Iya tante”


Reina mencium punggung tangan Laras, Laras bisa menilai bagaimana sopan santun Reina, baru pertemu pertama kali Reina sudah membuat Laras jatuh cinta.


Rino langsung mengajak Reina untuk keluar dari rumahnya dan masuk ke mobil, Rino mengatakan bahwa ia memang sengaja menggunakan mobil karena udara malam tidak baik.


sebenarnya bukan karena itu saja Rino menggunakan mobil, karena dia ingin mengobrol dengan nyaman dengan Reina, dia ingin mengetahui siapa Reina sebenarnya.