4K

4K
First Season•Bab II



Karin berjalan menghampiri Keir yang sedang fokus membaca lembaran-lembaran kertas yang berada dimeja, sesekali dia membenarkan letak kacamata dihidungnya yang mancung sempurna.


Karin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia bingung harus memulai dari mana pembicaraan dengan Keir, berhadapan dengan Keir sekarang membuat Karin segan.


Mungkin, karena pembawaan dan sifat Keir yang tak pernah tersentuh sama sekali oleh orang lain.


“Keir” panggil Karin pelan


     


Keir masih fokus membaca tak memperdulikan karin yang barusan memanggilnya.


     


“Keir” ulang Karin


     


Keir masih saja diam


     


Karin mendesah pelan, apa dia harus mengambil lembaran kertas itu agar Keir menatap kearahnya dan mendengarkan apa yang akan Karin bicarakan (?).


     


“Keir”


     


Helaan nafas Keir bisa Karin dengar, lalu bola mata hitam Keir menatap kearah Karin begitu dingin dan mengintimidasi, membuat Karin segera mengalihkan tatapannya.


     


Karin menaikan satu alisnya untuk membalas panggilan dari Karin barusan.


     


“Lisa izin kumpulan hari ini” ucap Karin


     


Keir hanya mengangguk lalu dia fokus kembali ke lembaran kertasnya.


     


Karin menggeleng tidak mengerti manusia seperti apa Keir, yang bisa bertahan walaupun tanpa bicara seperti barusan.


Sifatnya terlalu dingin, terlalu beku sangat sulit untuk dicairkan walau dibawa ke gurun sekalipun.


Mungkin itu sudah sifat permanen bawaan dari lahir.


Karin duduk dikursi yang biasa dipakai untuk rapat osis, belum ada satu orang pun yang kumpul disana, membuat Karin harus merasakan moment awkward bersama Keir di ruangan ini.


     


“Rin dicari Zie tadi” ucap seorang cowok yang baru saja masuk kedalam ruang osis.


     


Karin menautkan kedua alisnya bingung,


“Zie? Cari gue?” tunjukknya ke dirinya sendiri


     


Cowok itu mengangguk pelan, lalu mengeluarkan catatan osisnya untuk laporan kepada Keir.


     


“Kapan yud” tanya Karin.


     


“Tadi waktu gue mau ke ruang osis, Zie titip pesen kalo dia nungguin lo depan kelas, ada Lisa sama geng Zie yang lain.


"Samperin dulu aja Rin, katanya kalo lo gak dateng dia gak akan pergi tanding basket untuk sekolah, ya kalo lo gak mau di bully anak-anak sih mending samperin, mumpung sekolah sepi” saran yudi


     


Karin mengangguk pelan, lalu dia berdiri dan berjalan kearah pintu.


   


“Karina” panggil Keir.


     


Panggilan Keir barusan membuat Karin mematung, lalu dia membalikan badannya dan menatap ke arah Keir yang kini tengah menatapnya.


     


“Mau kemana? Rapat akan segera dimulai” tanya Keir dingin.


     


Karin menelan ludahnya susah payah, jika sedang berhadapan dengan Keir seperti ini membuat Karin sangat sulit untuk bernafas atau berkata-kata.


     


“Ke kelas nemuin Zie sebentar” jawab Karin.


“Duduk” perintah Keir dengan sudut matanya kearah kursi sekretaris osis.


Karin menghela nafasnya, lalu dia melangkahkan kakinya menuju kursi yang dimaksud oleh Keir.


Tapi, baru saja dia melangkahkan kakinya pintu ruang osis terbuka, disana ada Zie dan teman-temannya, minus Lisa mungkin dia takut jika nanti berhadapan dengan Keir.


“Zie, ngapain disini?” tanya Karin.


raut wajahnya shock dia tidak mengerti mengapa Zie datang ke ruang osis hanya untuk menemaninya, waktu pertandingan basket sebentar lagi akan dimulai, lalu mengapa dia masih berada di sekolah?.


“Ada waktu sebentar Rin?”


Karin menatap kearah Keir yang kini tengah menatapnya, lalu dia menatap kearah Zie yang juga menatapnya membuat karin bingung harus melakukan apa.


Keir berdiri dari kursinya lalu berjalan ke arah pintu dimana karin berdiri, dan menutup pintu ruangan osis dengan rapat.


“Duduk” perintah Keir.


Karin tersenyum sangat tipis lalu dia berjalan menuju kursinya kembali, membantah Keir hanya akan memperkeruh keadaan ditambah Karin selalu bingung harus bagaimana menghadapi sifat beku Keir.


Keir melihat kearah jam dinding yang ada di ruangan itu, lalu dia mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Keir duduk kembali di tempat yang menjadi singgahsananya.


“keir cuma bertiga?” tanya yudi.


“Mereka datang 5 menit lagi” jawabnya dingin.


Benar saja 5 menit kemudian pintu ruangan osis terbuka, semua anak osis kumpul secara komplit bahkan Lisa yang tadinya sudah izin tidak akan datangpun dia ada, hal itu membuat Karin membulatkan matanya bingung.


Sebenarnya apa yang sudah R


Keir lakukan, sehingga bisa membuat seluruh anak osis kumpul, tidak salah jika dia menjadi ketua osis, wibawa seorang Keir sangat terkendali.


“Rin lo harus tau, gue gak jadi nonton Keen basket gara-gara si kutu kupret seperti Keir” bisik lisa, dia memang selalu tidak sadar tempat jika memulai gosip.


“Masa dia ngancem bakalan bilang sama wali kelas supaya nilai di potong gara-gara jarang kumpulan osis, atau yang kedua pilihannya di denda seratus ribu kalo gak ikut sekali kumpulan gila emang itu orang” cerocos lisa.


karin hanya diam tak menanggapi, bukan apa-apa hanya saja sekarang keir tengah menatap kearah Lisa dengan tajam, lalu Keir melemparkan pulpen yang sedang dipegangnya tepat ke depan wajah Lisa.


“Ini bukan waktunya gosip”


Lisa yang merasa di intimidasi oleh suara Keir yang dingin langsung diam tak bersuara, dia menundukkan kepalanya, tatapan tajam Keir memang sangat menakutkan walaupun tidak selaras dengan wajah tamanpannya.


“Kita mulai rapatnya, sekarang laporan dari yudi. Uang kas osis gimana? Lancar atau ada yang mandet gak bayar?” tanya keir.


Sudah menjadi kebiasaan jika anak SMA selalu menunggak uang kas, uang kas kelas aja nunggak apalagi uang kas osis.


“Mana?” pinta keir.


Yudi dengan terpaksa memberikan catatan uang kas osis kepada keir, Keirdengan serius melihat dan menghitung berapa pengeluaran dan pemasukkan, dia benar-benar teliti.


“Ay nunggak lima belas ribu” ucap Keir dengan tatapan matanya kearah Ay.


Ay menelan ludahnya dengan susah payah.


“Gue belum ada uang Keir” alasan klise.


Keir tersenyum miring.


“Lalu uang untuk taruhan tanding basket sekolah dan SMA Bakti Negara itu dari langit?” tanya Keir.


Ay diam lalu mendukkan kepalanya dalam-dalam, kebohongannya terbongkar entah Keir tau darimana masalah taruhan itu.


“Dida lima ribu, mau bayar uang kas atau bayar pulsa ke Lisa?” tanya Keir.


Dida bingung dengan pertanyaan Keir barusan, dari mana Keir tau kalo dia ngutang pulsa ke Lisa.


“Gue bayar uang kas deh, Lis bayar pulsa besok lagi ya” jawab Dida, lisa hanya cemberut tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


“Alam dua ribu, gak bisa sisain uang dua ribu? Beli basreng aja harus tiga ribu” sindir Keir.


Alam memang sangat menyukai basreng bahkan dia bisa sehari jajan basreng lima belas ribu.


Setelah mengabsen orang yang menunggak uang kas, akhirnya Keir menutup catatan kematian itu.


“Sebentar lagi sekolah kita akan merayakan peringatan bulan bahasa, apa kalian punya usul untuk acara yang akan diadakan?” tanya Keir.


Semuanya diam, Keir menghela nafasnya lalu dia menatap kearah Karin.


“Karin mungkin, ada usul”


Karin menoleh kearah Keir dan tatapan mereka bertemu, lalu Keir mengalihkan tatapan matanya dengan cepat dia tidak terbiasa berkontak mata terlalu lama dengan orang lain.


“Kita mengadakan lomba yang akan disambut meriah oleh siswa yang lain, seperti lomba menulis cerpen, lomba cipta dan baca puisi, musikalisasi puisi, cipta lagu sekaligus nyanyi solo atau band, debat antarkelas dan cerdas cermat”


Karin mengusulkan beragam perlombaan yang mungkin bisa terlaksana di bulan bahasa.


Keir mengangguk, “Kita pake semua lomba yang diusulkan oleh Karin.”


“Apa sanksi bagi kelas yang tidak mengirimkan peserta lomba?” tanya Keir lagi.


Lagi-lagi semuanya diam, mereka tidak berusara.


“Karin?”


“Eh—“


“Ada usul lagi?” tanya Keir.


“Setiap kelas harus membayar biaya pendaftaran dari seluruh lomba senilai seratus lima puluh ribu, lalu jika mereka tidak bisa mengirimkan peserta lomba, satu perlombaan dikenakan sanksi lima puluh ribu”


Keir hanya mengangguk lalu dia berdiri dari kursinya.


“Usul Karin diterima, sekarang pembagian tugas. Yudi dan Lisa, membuat proposal dan anggaran biaya yang akan kita keluarkan untuk peringatan bulan bahasa.


Sekbid satu tugasnya adalah, mencari hadiah-hadiah untuk para pemenang harus unik dan tidak mubadzir.


Sekbid dua, menjadi keamanan saat acara peringatan dimulai, jadi kalian pikirkan apa yang harus kalian persiapkan.


Sekbid tiga, kalian menyiapkan mars atau yel-yel peringatan bulan bahasa dari anak osis beserta nada lagunya, nanti kalian stor ke gue udah dalam bentuk lagu CD.


Sekbid empat membuat slideshow dan banner. Sekbid lima, tugasnya membuat id card, papan nama dan segala macam atribut yang dikhususkan untuk lomba.


Sekbid enam memikirkan anak osis akan menampilkan apa saat hari pertama pembukaan dari lomba ini.


Sekbid tujuh, mempersiapkan untuk kesehatan dan konsumsi baik peserta, guru, dan panitia di bulan bahasa.


Sekbid delapan, sembilan, dan sepuluh mencari sponsor untuk acara peringatan bulan bahasa ini, dan Karin dia menjadi asisten gue. Jelas kan tugasnya?”


Semua yang berada di ruangan itu mengangguk, karena Keir menjelaskannya secara rinci.


Berbeda dengan Keir diluar osis yang sangat dingin dan beku, Keir bersungguh-sungguh dalam menciptakan generasi bangsa yang berpendidikan, tidak heran jika dia di sebut murid teladan oleh semua guru.


“Kalian boleh bubar kecuali Karin”


Semuanya berdiri dari kursinya masing-masing dan keluar dari ruangan osis, kini tinggalah Karin dan Keir yang berada diruangan tersebut.


“Lo asisten gue, tulis jadwal lomba”


Karin mengangguk mengerti.


“Atur guru yang akan menjadi juri di setiap lomba” tambah Keir.


Karin lagi-lagi hanya mengangguk.


“Id line lo”


Keir memberikan hapenya kehadapan Karin, membuat Karin bingung tapi dia langsung menuliskan id linenya di hape Keir.


Keir hanya mempunyai nomor telpon anak-anak osis, itupun dia menggunakan hape jadulnya untuk bersosialisasi dengan orang lain.


hape yang dia berikan untuk meminta id Karin barusan adalah hape pribadinya Keir.


“Biar gue bisa kabarin lo, sekarang lo boleh pulang” perintah Keir.


Karin hanya mengangguk tapi kali ini ada senyuman yang tercetak jelas di wajahnya.


Karin berjalan keluar dari ruangan osis, tanpa dia sadari kini ada lengan yang merangkul bahunya, Karin melihat kesampingnya dimana ada Zie yang tengah tersenyum kearah Karin.


“Kumpulannya lama amat, yang lain udah pada bubar Rin?” tanya Zie.


“Ada perlu sebentar tadi sama Keir”


“Lo kuat berduaan sama cowok aneh kaya dia?”


Karin menautkan kedua alisnya,


“Keir cowok aneh? Dia gak aneh Zie, ada juga lo yang aneh nungguin gue sampe beres kumpulan gak ada kerjaan banget”


“Keir itu cowok aneh Rin. Dia gak pernah mau ngomong sama orang lain, dia sangat tertutup, sok cool dan sok misterius gitu, berasa serem gue kalo ketemu sama dia. Gimana kalo Keir sebenarnya pembunuh berdarah dingin, lo mau jadi mangsa dia Rin?”


Karin menoyor kepada Zie yang imajinasinya terlalu berlebihan,


“Zie dengerin gue, keir gak banyak omong itu dia menjaga wibawanya sebagai seorang ketua osis, panutan dari murid-murid lain, jadi dia gak boleh petakilan, gak boleh pula pecicilan, dia itu harus bener-bener tegas dalam memerintah agar anggota osis dan murid lain enggak seenaknya aja”


“Ah tetep aja Rin, dia itu aneh selalu nolak cewek yang nembak dia”


“Lalu lo apa kabar Zie? Sampe sekarang masih betah aja jomblo”


Zie mengcak rambut Karin gemas.


“Gue nunggu lo punya pacar, atau kita pacaran aja Rin?”


“Lo tau gue kan Zie?” tanya Karin.


Zie mengangguk, “Gue tau lo Karina Pinandita, cewek yang hanya ingin fokus sekolah, benci keramaian, dia lebih suka membaca buku dan menonton film di rumah daripada hangout bersama teman-temannya


Karin itu punya dunianya sendiri, hidup Karin tertata dengan rapi. Kali-kali Na lo cobain hidup lo yang baru, misalnya jadi pacar gue gitu”


“Lo tau gue banget Zie, enggak salah ternyata lo jadi temen gue selama ini, karena lo begitu paham tentang gue”


kemudian karin tertawa, tawa yang membawa luka untuk Zie.


“Eh Zie, lo gak jadi lomba basket?” tanya Karin dia baru sadar bahwa Zie menunggunya di sekolah sampai dia bubar kumpulan osis.


“Lombanya diundur makanya gue ada disini nunggu lo, kita pulang Rin udah mau sore juga”


Karin mengangguk, lalu mereka berdua berjalan kearah parkiran sekolah.