4K

4K
Sub Zero•Bab 1



Reina membuka pintu ruangan osis secara perlahan. Reina bisa bernafas dengan lega, karena seperti perkiraannya ruangan osis ini akan sepi saat masih pagi buta seperti ini.


Reina masuk dengan berjalan secara perlahan, dia mulai mendekat kearah meja Raka.


Lalu Reina membuka tasnya, dan mengeluarkan surat yang ditemukannya kemarin.


“Ngapain lo disitu?” tanya seorang cowok dari arah pintu ruangan osis


Reina terperangah saat melihat siapa orang yang masuk, lalu dengan cepat Reina menyembunyikan surat yang ada ditangannya ke belakang.


“Raka, sejak kapan lo ada disitu?” tanya Reina was-was


Raka melihat kearah jam yang ada di pergelengan tangannya,


“Belum lama,”


Detak janung Reina berpacu dengan sangat cepat, apakah Raka melihat yang dilakukan Reina tadi? Reina berharap bahwa Raka tidak melihatnya sama sekali.


“Seperti gue melihat ini”


Raka mencondongkan tubuhnya, lalu tangannya mengambil satu lembar kertas dari tangan Reina.


Reina membulatkan matanya, apa yang akan dijelaskannya kepada Raka.


Dia yakin bawha Raka akan menganggap Reina terlalu ingin tau dan ikut campur masalah pribadinya.


“Dari mana lo dapetin ini?” tanya Raka langsung tanpa basa basi


“Gue—“


“Jawab yang jujur, jangan beralibi”


Reina menghela nafasnya pelan, lalu dia menatap kearah Raka.


“Waktu lo dan gue bahas masalah Sashi yang nyatain cinta sama lo, gue nemuin ini di lantai”


“Lo baca isinya?”


Reina ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi jika dia berbohong Reina tau Raka tidak akan mempercayainya. Bagaimapun juga, setiap manusia pasti punya rasa penasaran.


Akhirnya Reina mengangguk pelan,


“Gue baca surat itu, karena gue ingin tau isinya”


Raka menghela nafasnya, lalu dia menarik lengan Reina untuk duduk di kursi ruangan osis.


“Gue gak akan kasih tau apapun tentang isi surat itu sama orang lain” ucap Reina cepat, dia takut Raka marah karena Reina membaca isi suratnya tanpa izin.


Raka menggeleng pelan,


“Ada hal yang pelru gue bicarain sama lo”


Akhirnya Reina hanya bisa bersikap patuh dengan apa yang Raka perintahkan, Reina duduk di depan Raka.


Raka menatap datar kearah Reina, Reina sama sekali tidak bisa membaca apa yang sedang di rasakan Raka kali ini.


“Gue gak peduli tentang surat ini” ucap Raka


Reina menatap Raka tak percaya, bagaimana mungkin isi suratnya tidak penting.


“Gue gak tau surat ini asli dari nyokap gue atau bukan”


Reina hanya diam, dia menunggu Raka menyelesaikan cerita tentang kehidupannya, dan Reina hanya akan menyimak.


Reina begitu ingin tau mengapa Raka terlalu berlebihan menggunakan tameng dingin untuk pertahanannya.


“Apa yang buat lo gak yakin?” tanya Reina, karena daritadi Reina menunggu Raka melanjutkan ceritanya yang Raka lakukan hanya diam.


Raka menggeleng pelan,


“Gue gak pernah ketemu sama nyokap gue dan tiba-tiba aja dia kirim surat, menurut lo aneh?”


Reina tidak berpikir sampai kesana, Raka memang tidak pernah ketemu dengan ibu kandungnya dari saat dia lahir.


Karena, ibunya menyerahkan Raka untuk dirawat oleh keluarga ayahnya.


“Mungkin nyokap lo selama ini tau keberadaan lo hanya saja dia takut buat nemuin lo” jawab Reina


Raka terdiam cukup lama, lalu dia membaca suratnya sekali lagi.


Tulisan itu hampir mirip dengan tulisan tangannya, Raka ingin menemui orang ini tapi Raka belum mempunyai cukup keberanian untuk melakukan semua ini.


“Ka, kenapa gak lo coba?” tawar Reina


“Entahlah Rein”


Reina menghela nafasnya berat, jika dia menjadi Raka juga mungkin akan melakukan hal yang sama.


“Reina” panggil Raka


Reina menatap kearah Raka yang kali itu tengah menatapnya, dan tatapan mereka bertemu.


Tak ada yang berbicara, mereka hanya terdiam seolah tatapan mereka sudah menjelaskan semua yang terjadi.


“Masalah kemarin” ucap Raka


Reina membulatkan matanya,


“Masalah di telpon itu, gue minta maaf Ka. Bukan maksud serius, kemarin gue hanya lagi main truth or dare, dan dare gue disuruh nyatain cinta sama lo.” Jawab Reina cepat, dia tidak mau kelihatan bodoh saat Raka bertanya masalah di telpon itu.


Raka tersenyum, lalu dia menggeleng pelan.


“Bukan masalah itu”


Reina menelan ludahnya dengan susah payah, kali ini Reina harus menutup wajahnya karena dia malu berhadapan dengan Raka. Kenapa Reina begitu gegabah dalam mengambil tindakan.


“Masalah tentang Sashi, gue minta maaf.”


“Buat apa?”


“Mungkin lo bener gue terlalu kasar”


Reina menggeleng pelan, “Tapi lo bener, yang namanya ditolak mau secara halus ataupun kasar sama-sama sakit. Hanya saja, penyampaiannya bisa gampang di terima atau enggak.”


“Gue ngelakuin itu agar Sashi bisa mengerti, jadi dia tidak berharap lagi sama gue”


“Kenapa lo gak suka sama Sashi? Dia cantik kan?” tanya Reina, dia ingin tau alasan apa yang Raka punya untuk menolak Sashi kemarin.


“Dia bukan tipe gue” jawab Raka enteng


Reina menautkan kedua alisnya bingung,


“Emangnya tipe lo kaya gimana?”


Raka menggeleng,


“Gue gak punya tipe untuk seorang cewek”


“Lah, katanya Sashi bukan tipe lo tapi lo sendiri gak punya tipe untuk seorang cewek.”


Raka tersenyum, lalu dia berdiri dari kursinya. Raka menghela nafasnya pelan, tatapan Raka beralih kepada Reina.


“Gue gak suka Sashi. Itu intinya”


Reina bisa mengerti mengapa Raka bisa mengatakan dia tidak menyukai Sashi, bukan karena Sashi tidak cantik.


Mungkin saja, menurut Raka Sashi bukanlah orang yang dicarinya selama ini.


Pintu ruang osis terbuka, Reina menolehkan wajahnya kearah pintu dimana ada Sashi disana, dia menatap kearah Reina dan Raka secara bergantian.


“Bisa bicara sebentar Ka?” tanya Sashi


Raka mengangguk, “Masuk”


Reina berdiri dari kursinya dengan niat pergi, dia tidak mau mengganggu pembicaraan mereka berdua seperti kemarin. Tapi, Raka menariknya agar Reina duduk kembali.


“Dia udah tau masalah kemarin,” ucap Raka


Sashi tersenyum sekilas, lalu dia masuk ke ruang osis.


“Lo bener-bener gak bisa pertimbangin dengan jawaban lo kemarin Ka?” tanya Sashi tanpa basa-basi


Raka menggeleng , “Gak”


“Sama sekali?” tanya Sashi tak percaya


Raka mengangguk, “Iya”


“Lo suka sama cewek lain?”


“Enggak” jawab Raka


“Lalu kenapa lo selalu nolak cewek-cewek yang nyatain cinta sama lo?”


“Karena gue gak suka” jawab Raka enteng


Sashi menghela nafasnya gusar, lalu dia menatap kearah Reina yang kali itu tengah menunduk.


Reina menunduk hanya tidak mau melihat tatapan dingin Raka, dan tatapan memelas Sashi.


“Apa lo suka cowok lagi?” tanya Sashi hati-hati.


Raka tersenyum menyeringai kemudian dia menggeleng,


“Gak”


“Lalu kenapa?”


“Gue gak suka lo sama sekali.”


Plak, Sashi menampar pipi Raka dengan sangat keras.


“Lo jahat Ka, lo cowok paling jahat!” teriak Sashi


“Dengan lo nampar gue barusan, jawaban gue tetep sama. Gue gak suka lo sama sekali.”


Sashi keluar dari ruangan osis itu dengan air mata yang mengalir di pipinya, Reina menatap kearah Raka.


Raka masih dengan wajah datarnya, dia tidak merasa bersalah telah menyakiti perasaan Sashi barusan.


Raka baru saja meminta maaf kepada Reina, tapi mengapa Raka mengulang kesalahannya lagi? Apa karena sifat Raka yang terlalu batu untuk dikasih tau?


Reina berdiri dari kursinya, dan berlari keluar dari ruangan osis. Raka tidak menahannya, atau bertanya kemana Reina akan pergi.


Raka hanya diam, dia tidak tertarik dengan adegan di sinetron-sinteron seperti menahan agar orang itu diam, tidak kemana-mana.


Reina mencari Sashi, dia yakin Sashi pasti sakit hati dengan perkataan Raka tadi.


Reina mencari di setiap sudut sekolah, sampai dia menemukan Sashi di depan mushola sekolah dengan kepalanya yang menunduk.


Reina berjalan kearah Sashi, kedua tangan Sashi menutupi wajahnya, Reina tau pasti Sashi menangis.


“Sas” panggil Reina


Sashi menaikan tatapannya, lalu dia menyeka air matanya yang masih mengalir.


Sashi tersenyum simpul, “Hai Na”


Reina tersenyum sangat tipis, lalu dia duduk di sebelah Sashi.


“Jangan diambil hati ucapan Raka tadi, dia emang gitu.”


“Gue masih keras kepala, walau gue udah tau akhirnya akan begini” ucap Sashi


Reina menghela nafasnya pelan,


“Kenapa sih lo suka sama Raka? Kenapa lo gak suka sama orang lain? Seperti Rino, kalian udah deket kan?” tanya Reina


Sashi terkekeh pelan mendengar pertanyaan Reina barusan,


“Cinta itu tidak bisa dipaksakan akan berlabuh kepada siapa”


Reina menepuk pundak Sashi pelan,


“Iya sih, tapi sayangnya gue belum pernah ngerasain jatuh cinta.”


Sashi tersenyum simpul, walaupun di pelupuk matanya masih basah dengan air matanya.


“Definisi cinta menurut lo apa?” tanya Sashi


“Cinta itu rasa ingin memiliki” jawab Reina


“Kalau definisi sayang?”


“Sayang itu rasa ingin menjaga”


Sashi mengangguk pelan, dia mengerti sekarang banyak hal yang salah dia artikan selama ini.


Dia sadar, bahwa hukum karma itu berlaku. Dia meninggalkan Toni demi mendapatkan cinta Raka, sementara Raka menolaknya dengan sangat mudah.


Cinta sesaat Sashi kepada Raka menghancurkan hubungannya yang telah ia bangun lama dengan Toni.


Tapi, bagaimana lagi dia mencintai Raka. Entah bagaimana bisa cowok dingin itu membuat dunia Sashi berbeda dari sebelumnya.


“Definisi cinta menurut lo apa Sas?” Reina balik bertanya.


“Cinta itu anugerah dari Tuhan. Cinta itu surga dunia, cinta bisa menyatuka dua hal yang berbeda. Cinta bisa membuat kita nangis dan juga bisa membuat kita tertawa. Cinta itu bentuk pendewasaan diri, cinta itu tidak menuntut sesuatu.”


Reina tersenyum mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Sashi barusan.


“Lo ngerti banget tentang cinta kayanya Sas”


Sashi menggeleng, “Buktinya, saat pernyataan cinta gue gak di terima gue bisa semarah ini. Gue masih belum bisa menerima perasaan yang tidak sejalan dengan keinginan gue,”


“Lo sakit hati karena hati lo masih berfungsi tidak mati, bersykur lagi Sas,”


“Gue sakit hati, ko malah bersykur?” tanya Sashi


Reina mengangguk pelan,


“Untuk menjauhkan lo dari orang yang salah, Tuhan mematahkan hati lo seperti sekarang. Kalo Raka bukan buat lo, lambat laun perasaan lo akan kembali kesemula. Dan lo akan mendapatkan seseorang yang lo cinta dan mencintai lo,” jawab Reina


“Bahasa lo seperti orang yang udah pernah jatuh cinta Na,”


“Mungkin gue sering nonton drama korea dan baca novel teenlit.”


Sashi terkekeh pelan, “Gimana perasaan lo sama Aldo?”


Reina menggeleng pelan, “Kita temen”


“Sama Rino?” Sashi bertanya lagi


“Untuk sekarang kita teman.”


“Adam atau Leon?”


Reina tertawa, “Kita temen juga.”


“Kalau Raka?”


Reina tersenyum, memamerkan sederet gigi putihnya.


“Raka hanya ketua osis dan gue sekretarisnya, mungkin teman.”


“Semua aja lo bilang temen Na.” cibir Sashi