2A (ALDO & ANGLE)

2A (ALDO & ANGLE)
Bab 8



Angel menyuruh Rifki duduk di sofa yang ada di ruangannya. Rifki adalah sahabat Angek dari SMP, angel kehilangan kontak dengan Rifki saat mereka lulus SMP pria itu tiba - tiba menghilang tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Angel.


"Wah aku tidak menyangka kalau kau akan sesukses ini An"kata Rifki


Angel tersenyum, dia menghubungi OB dan menyuruh mereka untuk membuatkan minuman untuknya dan Rifki.


"Iya, aku juga tidak menyangka akan seperti ini" kata Angel tersenyum.


"kamu dari mana aja? Kenapa pergi tanpa pamit?"tanya Angel.


"Maaf, aku terpksa pergi dan semua itu mendadak. Kamu tahu kan ayah tiri aku seperti apa" jawab Rifki.


"Iya aku tahu, tapi setidaknya kau memberiku kabar setelahnya "kata Angel.


Rifki menghela napasnya, " Bagaimana aku memberimu kabar jika aku sendiri tidak tau bagaimana caranya"kata Rifki.


"Baiklah, lalu sekarang tante dimana? Apa dia ikut pindah lagi denganmu kesini?"tanya Angel.


Rifki menggeleng, "Mama sudah meninggal, aku tidak sempat menyelamatkan mama dari tangan pri itu" ucap Rifki menitikkan air matanya.


"Ha... Aku malah menangis,aku..." Angel mendekat dan menepuk punggung Rifki.


"Sudah ... Sudah... Jangan di lanjutkan, kamu bisa menceritakannya nanti"ucap Angel.


"Bagaimana kamu bisa tahu aku bekerja di sini?"tanya Angel.


Rifki tersenyum " Apa kau tahu saat aku baru sampai di negara ini, aku melihat wajahmu di koran dan aku tidak perlu repot - repot mencarimu lagi, makanya aku tinggal menuju kemari"jawab Rifki.


"seterkenal itu kah aku"jawab Angel tersenyum


"Jangan sombong" ucap Rifki.


"Sekarang apa pekerjaanmu? Apa kau sudah memiliki pekerjaan?"tanya Angel.


"Apa kau ada pekerjaan untukku?"tanya Rifki.


"Hmmm ada, apa kau mau?"


"Benarkah, sebagai apa?"tanya Rifki penasaran.


"Sebagai OB khusus untuk ruangaku."jawab Angel menahan tawa.


"Kurang asem... Ogah banget aku kalau jadi pembokatmu"balas Rifki.


"Aku akan mengambil alih perusahaan papa yang selama ini mama titipkan sama Om Dirly" jelas Rifki.


"O iya kamu kan masih memiliki perusahaan papamu, lalu bagaimana dengan istri, apa kau sudah memilikinya?"tanya Angel.


"Belum, tapi aku sudah memiliki calonnya dan tidak lama lagi aku akan melamarnya" jawab Rifki tersenyum sambil menatap Angel.


"Baiklah, aku tidak sabar mendengar kabar baiknya" Angek senang karena sahabat yang selama ini di rindukannya baik - baik saja, tapi Angel sebenarnya sangat penasaran dengan kematian ibunya Rifki.


Obrolan mereka terpkasa berhenti ketika Angel di beritahu olah Stevi kalau sebentar lagi dia akan ada pertemuan dengan rekan bisnisnya


"Maafkan aku, tapi bagaimana kalau nanti kita makan siang bareng "tawar Angel.


"Baiklah"


~_~


Tok!... Tok!


"Masuk!" sahut pria yang ada di dalam ruangan.


Ceklek.


Rin masuk dan berjalan mendekati Aldo.,


"Ada apa?"tanya Aldo dengan nada yang tidak bersahabat


"Ini pak saya mau mengantarkan dokumen yang harus di tanda tangani!lrian meletakkan setumpuk map di atas meja kerja Aldo.


"taruh aja di situ!"Seru aldo.


Rian menatap bos sekalian temannya itu.


"Kenapa lagi?"tanya Rian, menarik kursi yang ada di hadapan Aldo.


"Tidak ada"jawab Aldo.


"Eh dengar ya, lu itu nggak bisa bohong dari gue!"seru Rian yang memang sudah sangat mengenal Aldo.


"Hm." Aldo hanya bergumam, dia memutar kursinya membelakangi Rian, menatap kearah jendela.


"Apa ini ada hubungannya dengan istrimu itu?"tebak Rian. Aldo tidak menjawabnya, tapi meski tidak mendapat jawabannya Rian sudah tahu kalau ini memang ada hububgannya dengan gadis itu.


"Gue nggak ketemu dia, dan kayanya dia sangat sibuk."


'sibuk bermesraan denga pria lain' sambung Aldo dalam hati.


"Terus ponselnya gimana?"tanya Rian.


Aldo berbalik dan mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam lacinya.


"Al, lu..."


"Lo bisa keluar dulu nggak, gue butuh waktu sendiri!"pinta Aldo pada Rian.


Rian mengerti kenapa Aldo bisa seperti ini, dan dengan patuh Aldo pun keluar dari ruangannya.


Masih jelas rasanya saat memori dimana dia kembali ke perusahaan Angel dan masuk ke dalam perusahaan itu. Awalnya dia tidak ingin kembali tapi mengingat kalau ponsel itu merupakan alat yang sangat penting untuk pekerjaaan.


Aldo bertanya pada resepsionis dimana letak ruangan angel. Saat sudah tahu di mana letak ruangannya Aldo pun berjala hendeka keruang itu. Baru saja Aldo keluar dari lift dia sudah di suguhkan dengan pemandangan Angel yang sedang berpelukan dengan seorang pria.


"Jadi, dia sudah punya kekasih sebelumnya?"Gumam Aldo.


~_~


Angel sudah mencari di setiap ruangan, tapi dia tidak juga menemukan ponselnya.


"Di mana aku meletakkannya?"gumamnya.


Bahkan Angel juga sudah menghubungi ke rumah dan menyuruh pelayan mencarinya dan mereka juga mengatakan tidak menemukannya di rumah.


"perasaan tadi aku membawanya, lalu kemana perginya?"gumamnya.


Angel pergi ke luar rungan menemui stevi.


"Stev, apa lu bisa melacak keberadaan ponsel gue? Gue udah cari kemana pun ,tapi nggak menemukannya"kata Angel.


"Tunggu!"Stevi pun mulai melakukan pelacakan dengan menggunakan komputernya.


Tidak butuh waktu lama, Stevi sudah menemukan di mana keberadaan ponsel Angel.


"Di jalan xxx tepatnya di perusahaan A company" ujar Stevi.


"A company? Gue seperti oernah mendengar nama perusahaan itu tapi dimana?"ucapnya pelan.


"Apa jadwal ku setelah ini?"tanya Angel.


"Anda tidak memiliki jadwal apa pun setelah ini bu" jawal Stevi.


"Baik, kau tanganilah perusahaan aku akan keluar" ujar Angel. Masuk kedalam ruangannya mengambil tas miliknya.


Angel keluar kembali dan mendekati meja Stevi " Aku akan bawa ini" Dia mengambil ponsel Stevi.


"Hei, tapi itu ponsel gue"teriak Stevi.


"Gue pinjam,"jawab Angel kemudian masuk kedalam Lift.


"Dasar bos dzolim"dengus Stevi yang tidak bisa berbuat apa - apa.


"A company? Kenapa ponselnya bisa nyasar ke sana? Baiklah mari kita cari jawabannya." Stevi pun mencari tahu mengenai perusahaan A company itu.


"Oh astaga, Angel ternyata itu perusahaan suaminya sendiri." teriak Stevi tiba - tiba.


~_~


Ting ~


Sebuah pesan masuk ke ponsel Angel. Aldo yang sedang memeriksa laporan pun merasa terganggu, mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang mengirimi istrinya itu pesan.


Hai, ini aku Kiki ~


Jangan lupa simpan nomerku~


Apa kita jadi makan siang bersama?~


Kenapa tidak di balas?~


Tc, jangan hanya dilihat saja! Apa kamu ingin ku menemputmu?~


Rifki mengirimi Angel begitu banyak pesan, Aldo yang membacanya pun terlihat kesal. Ia menggenggam ponsel itu kuat.


"Dasar pebinor ( perebut istri orang)!"gerutunya, dengan kesal Aldo mematikan ponsel itu kemudian memasukkannya ke dalam laci meja kerjanya.


"Kayak nggak ada cewek lainnya, awas kau gadis aneh kalau sampai kau berani mai api di belakang ku, aku tidak akan mengampunimu!"