
...****************...
“Apa kau pengguna Dial Zara?!”
Tanya Shina kepada Zara.
“PLAK!”
Garu memukul kepala Shina dengan keras.
“Apa kau buta Shina? Hah dasar dungu! Semua orang akan tahu pengguna Dial ketika melihat tangannya.”
“Hehehe. Maaf maaf, aku hanya tidak perhatian kepada tangan Zara!”
“Oi Shina kau membela dirimu lagi kan?”
“Tentu tidak Garu Sang Penyihir Malam”
Sahut Shina dengan nada mengejek.
“Nadamu itu sepertinya menjelaskan kenapa kau dungu, Shina Magnolia Ishtar.”
Sahut Garu membalas dengan ejekan.
Selama percakapan tersebut, Zara nampak kehilangan konsentrasi atas percakapan mereka berdua dan langsung berteriak.
“Kalian bisa diam tidak?! Aku tidak fokus jika kalian mengoceh terus.”
“…”
Garu dan Shina langsung terdiam dan tidak bisa berkata-kata.
“Tolong beri aku 4 jam untuk menyembuhkan X dan Leo!”
“B-Baiklah.”
Jawab Garu dan Shina dengan kompak.
“NGUUNG”
Zara melanjutkan proses penyembuhan X dan Leo yang dilakukan di dekat alun-alun Kota Chorgia.
“Aku bosan menunggu, aku akan menangkap beberapa kelinci dan ikan untuk makan malam kita.”
Sahut Garu yang tidak bisa diam menunggu 4 jam itu lewat begitu saja dengan duduk santai.
“Bagaimana denganku?”
Tanya Shina.
“Kau jaga mereka bertiga dan pulihkan sedikit tenagamu.”
“Baiklah kalau kau berkata seperti itu.”
Garu membuat pancing dan tombak dengan besi yang ada di sekitar reruntuhan bekas besi bangunan yang sudah hancur kemudian melanjutkan untuk berburu kelinci dan memancing ikan.
...----------------...
Setelah 4 jam berlalu, Zara akhirnya menyelesaikan proses penyembuhan X dan juga Leo.
“Fiuh, akhirnya selesai. Lelah ini tidak sepadan untuk mereka yang akan mengantarku pulang ke Kerajaan Nwara.”
Ucap Zara dengan sangat senang.
“Oi, aku dapat buruan!”
Teriak Garu yang semangat untuk makan. Mata Zara dan Shina pun langsung berbinar dan tersenyum lebar melihat makanan yang telah diburu oleh Garu.
Mereka memakan hasil dari buruan bersama-sama di tengah api unggun yang hangat menyelimuti mereka, sementara X dan Leo masih tertidur karena belum pulih 100%. Pemandangan alun-alun kota tidak semengerikan pada saat pertarungan karena kehangatan tawa mengisi seluruh alun-alun.
...----------------...
Pagi pun telah menghadirkan mentari yang sangat hangat, mereka mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Nwara.
“Ayo semua jangan malas! Kita harus menuju Kerajaan Nwara untuk mengantar beberapa ramuanku”
“Hoammm! Tapi tidak sepagi ini…Garu.”
Kata Shina yang masih mengumpulkan energi untuk beraktifitas.
“Selamat pagi semua.”
Ucap Zara dengan senyum lebar di bibir kecilnya.
Shina dan Garu mulai menggendong X dan Leo ke kereta milik Garu dan bersiap memulai perjalanan.
“Oh iya, karena X dan Leo belum pulih sepenuhnya, kita akan cari tempat dekat dengan Kerjaan Nwara untuk mempercepat pemulihan mereka dan tidak terganggu saat kita mencari lembar yang X maksud di Perpustakaan Agung disana.”
Kata Garu yang masih memprioritaskan pemulihan X dan Leo.
“Benar juga, kita akan dituduh membunuh mereka jika kita masuk ke Kerajaan Nwara.”
Dengan polosnya Zara berkata demikian.
“Itu kata yang cukup menakutkan untuk diucapkan oleh anak kecil.”
Sahut Shina yang mendengar perkataan polos Zara.
“Hahaha! Kau sangat polos Zara. Lupakan soal itu, ayo kita cari tempat untuk bermalam.”
Mereka pun menuju Kerajaan Nwara dan mencari tempat untuk menunggu penyembuhan X dan Leo.
Setelah melakukan perjalanan selama setengah hari, mereka sampai di padang rumput yang luas bersebelahan dengan sungai. Terlihat dari kejauhan bangunan dari Kerajaan Nwara terpampang jelas dari padang rumput yang luas itu.
“Ini mungkin tempat yang sangat cocok untuk kita bermalam sambil menunggu proses pemulihan mereka berdua.”
Kata Garu sambil melihat sekeliling.
“Itu rumahku! Kau melihatnya Shina?”
“Ah, iya! Kita sudah hampir sampai Zara!”
“Kita tinggal menunggu mereka siuman!”
Sahut Zara yang sangat senang karena mereka sudah dekat dengan Kerajaan Nwara.
Garu, Shina dan Zara akhirnya menentukan tempat mereka untuk bermalam dan membagi tugas masing-masing.
Shina mencari kayu bakar untuk api unggun dekat dengan tempat mereka bermalam. Garu mencari bahan makanan untuk makan malam mereka, sedangkan Zara menjaga X dan Leo yang sedang dalam proses pemulihan.
Matahari mulai terbenam mereka telah menyiapkan berbagai kebutuhan untuk bermalam disana. Mereka mengobrol sembari menikmati makanan yang telah diburu oleh Garu.
“Hei Garu, apa kau bisa melakukan sihir? Tunjukan padaku! Ku dengar orang-orang dari Kota Alchy sangat mahir dalam penggunaan sihir.”
Tanya Zara dengan perasaan ingin tahu.
“Hahaha! Kau memang polos Zara. Aku tidak benar-benar menggunakan sihir Zara.”
“Lantas, mengapa Shina memanggilmu Penyihir Malam?”
Setelah Zara bertanya demikian, Shina dan Garu saling menatap satu sama lain.
“Um… Itu…”
Potong Shina.
“Oh begitu.”
Shina dan Garu sekali lagi menatap satu sama lain lalu dengan kompak berkata.
“Fiuh.”
Garu berjalan ke arah kereta mereka dan memastikan beberapa barang disana.
“Apa yang kau lakukan Garu?”
Tanya Shina sembari bermain kartu dengan Zara.
“Ah. Ini? Aku mungkin bisa membantu mempercepat penyembuhan mereka dengan beberapa ramuan ini.”
“Itu ramuan yang biasa aku lihat di Akademi!”
Teriak Zara sambil menunjuk ramuan yang dibawa oleh Garu.
“Yup! Itu benar, aku biasa membuat pesanan untuk akademi di Kerajaan Nwara.”
Garu langsung memberikan beberapa ramuan kepada X dan Leo dengan cara mencekoki mulut mereka dan menuangkan ramuan itu ke dalam mulutnya.
...----------------...
Setelah 3 hari Garu, Shina dan Zara merawatku, aku akhirnya terbangun dari tidur panjang yang melelahkan. Aku melihat mereka baik-baik saja. Aku merasa bersyukur karena mereka tidak ada yang terluka sama sekali. Aku bangun perlahan dengan tenang agar mereka tidak kaget jika aku bangun mendadak. Mereka nampaknya membicarakan sesuatu.
“Apa yang kalian bicarakan?”
Tanyaku dengan suara tertahan dan pelan.
Dengan serempak mereka berteriak.
“X!”
“Kau sudah siuman!”
Kau tahu? Mereka sepertinya sangat bosan menungguku siuman. Mereka menatapku dengan senyum menakutkan seperti pemburu handal.
“Kami baru ingin bertanya tentang Dial milik Zara.”
“Sudah kuduga!!!”
Teriakan ku dengan keras sambil berdiri. Mereka menatapku dengan tatapan bosan memandangku seperti badut yang baru saja memulai pertunjukan.
“Umm lanjutkan.”
Lanjutku.
“Apa Dialmu itu tipe penyembuhan Zara?”
Tanya Shina.
“Tetot! Salah besar!”
“Lalu?”
Sahut Garu.
“Dialku merupakan Tipe Cahaya dan jenis kekuatannya Stimulasi Hormon. Jadi aku bisa memicu hormon diriku sendiri ataupun orang lain dengan cara menyentuhnya dengan tanganku yang berisi Dial.”
“Berarti kau memicu hormon penyembuhan yang ada di dalam tubuh X dan Leo?”
“Yup benar sekali Garu! Aku terinspirasi dari Nyonya Oera yang pada masanya memiliki kekuatan penyembuhan.”
“Maksudmu Oera Inersia?”
Sahut Shina dengan kaget.
“Yup. Aku merupakan penggemar dari Nyonya Oera Inersia! Meskipun beliau sudah tiada, tetapi semangatnya masih tetap terwariskan kepadaku.”
“Dimana kau tahu informasi tentang beliau?”
Tanyaku kepada Zara.
“Jika kau ingin mempelajari segala macam informasi, datang saja ke Perpustakaan Agung di Kerajaan Nwara, X!”
Belajar sangat menyenangkan bagiku, aku akan berapi-api jika perpustakaan sebesar itu aku datangi dan bisa menemukan beragam informasi di dalamnya. Sementara itu, Garu nampaknya ingin menanyakan sesuatu kepada Zara.
“Mengapa kau bisa diculik Zara? Mengingat di Kerajaan Nwara sangat minim terjadinya tindakan kriminal.”
Tanya Garu kepada Zara.
“Jadi seperti ini…”
...----------------...
Tarikan nafas panjang Zara menandai bahwa cerita akan dimulai.
Zara tidak diculik di Kerajaan Nwara, akan tetapi ditugaskan oleh ayahnya yakni Houtt Hevilia untuk menemani Malfon Delonix Regia dalam mencari lembar buku misterius karena Zara memiliki Dial yang mampu meminimalisir luka berat yang diderita oleh seseorang.
Setelah sampai di Kota Chorgia, Zara diculik oleh beberapa warga kota sebagai pemberontak kekuasaan Eternity. Dalam penculikannya tersebut, Zara dipukuli dan disiksa dengan kejam oleh para warga pemberontak setelah itu mereka merencanakan mengeksekusi Zara sebagai pernyataan perang dihadapan banyak orang.
Malfon yang saat itu sedang mencari lembar tersebut di sebuah Perpustakaan, menyuruh Zara untuk diam di suatu bar dan menunggu sampai Malfon datang menjemputnya.
Setelah Malfon mendapatkan lembar itu dia mendengar bahwa akan ada eksekusi publik di alun-alun kota. Malfon masih acuh terhadap informasi tersebut dan mencari Zara ke bar yang dimana Zara seharusnya berada disana. Setelah sampai di bar, Malfon menyadari bahwa Zara tidak ada disana.
Malfon langsung berlari ke alun-alun kota dan melihat Zara yang sudah babak belur terikat di salib eksekusi publik. Malfon nampak geram melihat kelakuan bengis warga Kota Chorgia dan berencana menghancurkan seluruh isi kota sambil menyelamatkan Zara. Malfon akhirnya berjalan menuju alun-alun dan menyadari bahwa lembar yang di ambil di suatu perpustakaan tersebut tertinggal di bar. Malfon akhirnya berlari dengan geram untuk mengambil lembar pentingnya tersebut.
Saat Malfon mengambil lembaran tersebut Zara berusaha melepaskan diri dan berlari keluar Kota. Malfon akhirnya kembali dari bar untuk mengambil lembar tersebut dan melihat Zara sudah tidak ada di alun-alun. Para warga nampak kebingungan atas apa yang terjadi.
Malfon yang dalam keadaan marah membakar seluruh kota dan penduduknya agar tidak meninggalkan jejak dan berencana melaporkan bahwa Zara Hevilia sudah mati karena bencana kebakaran.
...----------------...
“Aku sangat dendam dengan Malfon! Dia berencana membunuhku hanya karena aku berasal dari Kerajaan Nwara!”
“Ya sudah, syukurlah kau baik-baik saja Zara!”
Sahutku untuk menenangkan Zara dengan senyuman lebar.
“Bagaimana Leo, Zara?”
Lanjutku untuk mengetahui bagaimana keadaan Leo. Aku benar-benar tidak tahu apa yang dilakukannya selama aku tak sadarkan diri.
“Leo mungkin sementara tidak dapat menggunakan Dialnya.”
“Apa!!?”
Kami bertiga sangat terpukul mendengar hal itu terjadi kepada Leo.
“Leo telah melanggar batas yang seharusnya tidak dilanggar oleh pengguna Dial.”
Sahut Zara dengan murung.
“Apa maksudmu batas?”
...101 - The Book...
...****************...