101 - The Book

101 - The Book
Bagian 16 - Parade Penyambutan



...****************...


Dengan perginya X, Shina dan Leo dari Kota Burzche mengakibatkan Kota Burzche saat ini tengah dilanda kepanikan dan ketakutan karena beberapa tentara mengincar 3 orang remaja yang membuat onar di kantor pemerintahnya. Para pasukan menggeledah rumah setiap orang yang tinggal di Kota Burzche dengan kekerasan.


“Kami telah mencari diseluruh kota. Akan tetapi mereka tetap tidak bisa ditemukan, asumsiku mungkin mereka telah kabur ke kota lain, Komandan!”


Ucap salah satu tentara lewat Dial komunikasi miliknya.


“Kita harus melaporkannya kepada para Eternity, Komandan.”


Dari gedung pemerintah terlihat seseorang yang berpakaian rapi dengan kemeja merah dan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi terpasang di lehernya menatap jendela luar kantor pemerintah Burzche dengan tajam sembari membawa minuman anggur mencengkram gelas tersebut dengan sangat kuat sampai minuman di dalamnya bergetar.


“Tidak. Aku akan menggunakan caraku sendiri. Kita tak perlu mengotori tangan untuk menangkap para tikus pengganggu itu.”


Ucapnya lewat Dial komunikasi dengan tegas. Ia pun berjalan membelakangi jendela tadi berjalan menghampiri petugas disana dengan lembut berucap.


“Hubungi Parade Detoria.”


“Kau serius akan bekerjasama dengan orang kotor seperti itu Komandan?”


“Inilah caraku!”


Sahut pria itu dengan lantang sambil membanting gelas yang ia bawa.


“Senjata sepenting itu kita biarkan cecunguk itu membawanya! Bukankah kita akan langsung dimusnahkan oleh para Eternity?”


Bawahan tersebut langsung terdiam dan tak bisa berkata-kata sembari menunduk malu akan apa yang ia ucapkan barusan. Ia langsung mengambil Dial komunikasi untuk menghubungi Parade Detoria dan memberikannya kepada Komandan tersebut.


“Halo.”


“Ah~ Sudah lama tidak ada yang menghubungi kami. Bagaimana cuaca di Kota Burzche?”


“Dia bahkan tahu dimana posisiku saat ini, mereka benar-benar orang yang sangat berbahaya.”


“Langsung saja ke intinya. Aku ingin kau merebut Chromo Farium yang dibawa oleh para bocah yang kabur dari Kota Burzche.”


“Lho~ Bukankah itu senjata para dewa? Kalian menaruhnya seperti mainan kah?”


“Sial. Kami disini sangat kesusahan mengurus para cecunguk itu! Kami bahkan tidak tahu lokasinya.”


“Kau bilang mereka berasal dari Kota Burzche kan? Kemungkinan mereka berada di sekitar Kotamu. Kota Alchy, Kota Mattium, atau mungkin Kerajaan Nwara.”


“Kerajaan Nwara? Jangan bercanda bodoh! Mereka sangat ketat disana. Mereka tidak akan dipersilahkan masuk walaupun seorang pengembara biasa!”


“Kau tahu bagaimana kejadian di Kota Chorgia kan, Tuan Ghuva?”


“Dia bahkan tahu namaku!”


“Terjadi kebakaran hebat di sana. Aku tahu.”


“Bingo! Dan tebak siapa korbannya?”


“Tuan Putri Zara Hevilia?”


“Bingo! Tidakkah kalian berpikir bahwa mungkin saja para bocah itu sampai ke Kota Chorgia dan menyelamatkan Tuan Putri?”


Ghuva langsung terdiam dan merenungi kesalahan terbesarnya yang mana tidak melakukan penyelidikan karena terlalu takut kepada para Eternity.


“Serahkan saja pada kami Tuan Ghuva. Selama kau membayar kami, aku jamin kalian tidak akan kesusahan ketika menghadap para Eternity. Untuk berjaga-jaga kami akan melakukan ekspedisi ke Kota Alchy terlebih dahulu. Jika mereka tidak terlihat di sana maka kami akan menyerang Kerajaan Nwara. Bagaimana hm?”


“Oi,oi aku hanya menyuruh kalian untuk mengambil Chromo Farium! Tidak untuk menyerang Kerajaan tangguh itu!”


“Kau melakukannya dengan caramu kan? Sekarang biarkan kami melakukan dengan cara kami sendiri! Hahahahah!”


Pihak Parade Detoria langsung mematikan Dial komunikasi mereka. Ghuva langsung terdiam dan melihat bahwa cara yang dilakukannya adalah kesalahan terbesar sepanjang sejarah. Ia membanting Dial komunikasi yang digunakannya dengan amat keras kemudian meremas kepalanya dengan kesal sembari berjalan kesana kemari kebingungan apa yang harus dilakukannya untuk menghentikan Parade Detoria.


...----------------...


Beranjak ke Kota Alchy. Tempat para penyihir beraktifitas disambut baik oleh mentari pagi yang hangat menyelimuti kota. Kegiatan alkimia berjalan dengan baik dan menjadi rutinitas para penduduk kota untuk melakukan sesuatu yang tidak terdapat di kota-kota lain. Begitu juga Garu Sang Penyihir Malam. Ia membuat beberapa ramuan lagi untuk dibawa ke pihak akademi. Ia memandang halaman rumahnya sembari menyeruput kopi dengan hikmat. Terlihat beberapa orang yang lewat menyapa Garu sedang menikmati kopi di depan rumahnya.


“Kau mau kemana Fira?”


Sapa Garu kepada salah satu penduduk Kota Alchy yang bernama Fira.


“Aku sedang mencari beberapa tanaman herbal untuk aku pakai di ramuanku!”


“Pastikan kau mencampur dengan benar ya! Hahaha.”


“Itu bukan kesalahanku! Lagipula apa salahnya mencoba hal baru.”


“Baiklah kalau kau begitu. Jaga dirimu Fira!”


“Sampai jumpa Garu!”


...----------------...


Ditengah pekerjaan Garu yang rumit itu, tiba-tiba Garu mendengar teriakan seorang wanita dan seketika berlari kembali ke luar rumahnya tanpa menghiraukan cangkir yang pecah akibat terjatuh.


“Aku tahu ada sesuatu yang salah disini!”


Gumam Garu yang sedang berlari ke arah teriakan itu berasal. 


Sampailah Garu pada tempat yang ia tak percaya akan apa yang terjadi di sini.


“Ah~ ada saksi mata. Bagaimana ini?”


Seseorang dengan kumis meruncing di bagian samping dengan badan kurus menoleh ke arah Garu.


“Morus Alba! Salam kenal.”


Sapa pria dengan kumis meruncing tadi. Garu melihat Fira dalam posisi di ujung tanduk. Salah seorang Wanita kulit hitam dengan mata putih menyeramkan mencekik Fira dengan sadis.


“Fira!!!”


Teriakan Garu membuat wanita kulit hitam ini menyeringai dan lebih bernafsu untuk membunuh. Morus menjawab teriakan Garu dengan sapaan santai seperti tidak terjadi apa-apa.


“Knema Laurina. Cukup tanyakan dimana X berada.”


“X?”


Garu melakukan kesalahan besar dengan menyebut nama X dari mulutnya tanpa ia sadari. Knema pun memiringkan kepalanya ke arah Garu sambil menatapnya dengan mengerikan.


“Kalau begitu tikus ini sudah tidak berguna.”


Knema langsung mematahkan kaki Fira dengan perlahan, menyayat telinga dengan pelan kemudian menusuk dadanya dengan sangat cepat hingga tembus. Fira tidak sempat untuk berteriak kesakitan karena siksaan yang sudah lewat batas. Semburan darah dari Fira terhampar kepada garu yang melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tanpa Garu sadari, ia telah berlutut tepat di hadapan dua orang aneh ini ketika yang lainnya telah berpencar ke beberapa tempat.


“Kau menyebut X kan?”


Tanya Knema tepat dihadapan Garu yang sedang terkejut berlumuran darah. Mulut Garu terkunci rapat dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


“Kau membuatku jengkel. Dimana X brengsek?!!”


Garu langsung berdiri menatap Knema dengan tajam.


“Pengaktifan!” 


“NGUUNG!”


“Kau?!”


Knema dan Morus berteriak kaget melihat apa yang terjadi disini. Mereka langsung menatap satu sama lain.


“Morus! Kau tahu itu kekuatan apa?”


“Mh! Tentu saja aku tahu.”


“Di saat para Entitas Agung sudah musnah mengapa ada yang masih memiliki kekuatan ini?”


Lanjut Knema.


Di sini terlihat bahwa mata garu perlahan memutih disambung dengan rambut anggun putih memanjang dan di kelilingi oleh suhu yang perlahan mulai dingin. Seketika salju mengelilingi Garu ia langsung berteriak dengan keras.


“Lambang N! Nomor Atom 7!”


Garu memejamkan mata sesaat.


"Tuan Luigi Inersia. Hamba akan menebus kesalahan terbesarku."


Morus berpikir dan menjauh dari Garu yang sedang mengaktifkan kekuatannya itu. Knema takjub melihat kekuatan Garu dan enggan beranjak dari tempatnya berdiri.


“Inikah…”


“Inikah? Inikah kekuatan dari nenek moyang Dial?”


Garu pun membentuk pedang es di tangannya dengan dikelilingi pisau es di balik punggungnya menyerupai dewi es yang sedang murka memasang kuda-kuda dengan anggun.


“Anchentrys Nitrogen! Akhirnya aku menemukan mu!!! Hahahaha!!! Kami Parade Detoria merasa terhormat bertemu denganmu!”


Teriak Knema dengan mata melotot dan senyum menggila. Dari kejauhan Morus menatap kekuatan yang selama ini ingin dia hadapi sendirian.


“Sambutlah dengan hikmat! Parade Detoria akan menghadapi Anchentrys yang agung! Hahaha!!!”


...101-The Book...


...****************...