101 - The Book

101 - The Book
Bagian 1 - Bunga yang Layu




...****************...


"Meja ini tampak kusam dan... Ya! kusam!"


Pikir ku sambil menahan rasa kantuk dan sakit karena luka yang ku dapat- ukuran borgol ini begitu kecil ditanganku. Kau tidak akan percaya mereka menangkap bocah yang baru tahu cara masturbasi. Konyol? Mungkin, aku tidak tahu apa ini yang disebut dengan hukum.


"Argh! Aku ingin permen! "


Teriakan lantang seorang bocah sepertiku langsung mendatangkan seseorang ke ruang pemeriksaanku.


"Hei, aku punya pertanyaan bagus buat kau adik manis."


Lontaran kata dari orang yang berpakaian rapi sambil menyeringai itu cukup untuk mengejutkan kucingku di rumah.


"Kau tahu sesuatu tentang Inersia?"


Lanjutnya.


"Inersia merupakan suatu momentu-"


"Bukan itu bodoh! Maksudku Keluarga Inersia! "


Jawab petugas yang mungkin kesal denganku.


"Tentu tidak... Pak. Saya hanya orang bodoh yang sangat menyukai permen."


"Lalu bagaimana kau mendapatkan ini?"


Bapak berseragam itu menunjukan secarik kertas yang kusam dan berisi cetak biru dari sebuah rancangan senjata. Aku tahu ini akan rumit. Dimana dia mendapatkan halaman itu?


"Okee... Hahhh, siapa namamu?"


Saat sedang mesra mengobrol aku mendengar suara yang membuatku bahagia.


"BRUAK!"


Terdengar sangat keras dan menimbulkan kekacauan di kantor polisi ini. Lampu pun mulai kehilangan listriknya, entah ini perbuatan siapa, yang jelas hancurnya salah satu tembok di kantor pemerintah membuat kepanikan seluruh isi kantor.


"Aku akan kembali! Urusan kita belum selesai!"


Ucap bapak berdasi tadi yang berlari dengan sigap untuk mengontrol keadaan.


Tiba-tiba dari balik atap terjun seseorang yang memakai topeng aneh, yang mungkin dibeli di pasar malam.


"Rute pelarian sudah siap.... X!"


Sambil membuka borgol yang ada ditanganku.


Aku hanya tertawa melihat topengnya.


"Hahaha!!! Apa yang kau pakai... Shina! Itu sangat lucu! Biarkan aku bersantai dulu."


Jawabku sambil merentangkan tangan yang borgolnya sudah terlepas.


"Apa yang kau lakukan X! Ayo cepat kabur!"


Seketika aku terdiam melihat bunga yang di dalam vas itu layu dan mengingatkanku akan kenangan pahit. Mengapa ada orang yang tega memetik bunga hanya untuk memperindah tempatnya saja?


...----------------...


"Maaf aku meninggalkanmu disini untuk sementara" Kalimat pertama yang paling aku ingat untuk saat ini. Beberapa orang mungkin sangat menikmati masa kecil yang bahagia bersama orangtuanya. Kau mungkin dicap sebagai orang gila jika meninggalkan anak berumur 5 tahun dan berjanji untuk kembali, tetapi 11 tahun kau tidak menepatinya.


...----------------...


Matahari mungkin sangat sombong hari ini, aku melakukan kegiatan yang biasa dilakukan anak kecil, ya! Membeli permen dan juga es krim.


"Hei X! kau mengisi ulang insulin lagi?"


Kenalkan, dia Shina sahabatku yang berasal dari Kota Mattium. Jika kau mencari kota yang penuh dengan gencatan senjata, mungkin kota ini cocok untukmu.


Aku bertemu Shina tepat 12 hari setelah berjuang bertahan hidup dengan membawa buku yang ditinggalkan sejak aku berumur 5 tahun.


Bagaimana bisa orang-orang memberikanku makanan gratis setiap melihat aku membawa buku ini? Shina ditinggalkan juga oleh orangtuanya karena mati saat perebutan Negara Bagian Nirz. Dengan kematian kedua orang tuanya, gadis ini memilih untuk pindah ke kota Burzche.


Perut sudah terisi penuh dengan makanan yang tidak jelas. Untuk sementara kami duduk di kursi taman kota, aku mendapatkan ide setelah melihat anak dan ayah bermain pistol mainan, ketika si anak menembakan ke ayahnya, ayahnya langsung berpura-pura mati. Sambil menghela nafas Shina berkata.


"Hahh, andai ada senjata seperti itu"


"Bagaimana jika kita yang membuat lalu kita jual kepada pemerintah? "


Jawabku dengan bodoh. Saat itu Shina langsung menarik tanganku dengan tatapan psikopat miliknya ia mengajakku ke rumah dengan mata yang berbinar.


"Ayo! Kita buat X!"


Untuk langkah awal kami membuat peluru yang didesain oleh Shina.


Dengan latar belakang ayah seorang pembuat peluru terkenal di seluruh Mattium, merancang sebuah peluru bukanlah masalah bagi Shina.


"Aku ingin merancang sebuah peluru yang sangat cepat, mematikan, dan kuat"


Shina berkata sambil berapi-api dengan mata psycho miliknya.


"Oke, untuk yang pertama kita coba menggunakan logam Bismuth."


Kataku sambil mempertimbangkan bahwa memilih bismuth itu sangat cocok dengan apa yang diinginkan Shina.


Setelah merenungkan desain dan membuatnya menjadi sebuah peluru, dengan perasaan tidak bersalah kami mencobanya di pistol sungguhan.


"Kau siap?"


Tanyaku kepada Shina


Dengan perasaan ragu Shina menarik pelatuk dari pistol tersebut


"DOR!!!"


Peluru buatan Shina hancur sebelum mencapai target.


Setelah 6 hari mencoba hal serupa dengan berbagai macam logam, Titanium, Litium, bahkan kami mecoba dengan Karbon, kami belum mendapatkan titik terang.


"Ini tidak akan berjalan mudah"


Shina nampaknya putus asa atas kegagalan yang kita dapat.


Aku berjalan ke arah jendela dan mencoba memakan beberapa permen untuk menenangkan sebagian saraf otakku sembari membaca lanjutan buku yang aku bawa sedari kecil.


Aku membaca di halaman 32 dan menemukan bahwa ada logam yang diciptakan dari suatu senyawa. Senyawa itu sangat kuat, stabil dan sangat ringan. Bagaimana seseorang bisa membuat senyawa seperti ini?! Aku membuka lembaran selanjutnya, dan mendapat bahwa halaman 33 hilang.


"Kemana halaman ini?"


...101-The Book...


...****************...