101 - The Book

101 - The Book
Bagian 7 - Delonix Regia



...****************...


Pertarungan masih berlanjut di Wilayah Api sang Rubah Pembohong. Leo hampir tidak sadarkan diri karena pukulan dari pria ini secara terus-menerus.


Dengan badan sempoyongan, mata memerah dan darah yang mengalir di sekujur tubuh, Leo tidak kalah hanya karena serangan secara bertubi-tubi itu. Pengalaman bertarung Leo cukup menjanjikan karena dia sudah terlebih dahulu mengembara sebelum X dan Shina.


Leo nampak memaksakan kesadarannya dan berusaha untuk mengalahkan kakaknya dengan kekuatannya sendiri di Wilayah Api sang Rubah Pembohong.


“Memalukan sekali aku pingsan di sini!”


“Oh? Ku pikir kau sudah mati beberapa tahun yang lalu. Kau mempermalukan keluarga dengan sifat konyolmu itu!”


“Aku benci dengan nama itu!”


“Kau tidak tahu apa yang kau katakan barusan!”


“WUSHHH”


Api di sekitar pria ini langsung mengelilinginya, membentuk sayap dan sebuah sarung tangan api. Pria ini pun mengepakkan sayap apinya itu dengan kencang sehingga menciptakan bara api yang menjalar merambat ke tubuh Leo. 


“Argghhh”


“Kakak bodoh!”


Leo menjerit kepanasan karena terhempas oleh bara api yang dikeluarkan oleh kakaknya.


“Kau mempermalukan pengguna Dial tipe Wabah Leo!”


“Perwujudan Bentuk! Rubah Penjagal!”


Kakak Leo langsung berlari ke arah Leo dan menghantam dengan wujudnya tersebut.


"Akan ku ajari bagaimana seorang Delonix Regia bersikap!"


“BRUAKK!”


Leo menjerit kesakitan dan sekali lagi darah keluar dari mulut dan hidungnya. Hempasan tenaga yang sangat kuat dari kakaknya tersebut membuat Leo terpental jauh ke atas.


“Ahhhhkkk!”


Kecepatan kakak Leo semakin meningkat, tanpa ampun kakaknya menyerangnya berturut-turut secara zig-zag dan sangat cepat.


“BRUAKK!”


“WUSHH!”


“BRUAKK!”


“WUSHH!”


“BRUAKK!”


“Uhuuuukk!”


Mereka menghantam batu yang ada di wilayah itu bersamaan dengan hantaman dari kakak Leo.


Leo sangat kewalahan dengan wilayah yang diciptakan oleh kakaknya. Dengan ketimpangan kekuatan yang sangat jauh, Leo mecoba mencari celah yang mungkin memiliki presentase sangat kecil untuk memenangkan pertarungan ini.


“Hanya ini kemampuanmu? Malfon Delonix Regia? Uhuk!”


Malfon nampak geram. Kebencian menyelimuti pikiran Malfon serta apinya.


“Oi. Kau tahu cara bersopan santun dengan kakakmu? Leo Delonix Regia bodoh? Ah… Aku lupa kau sudah mencabut nama itu. Pengguna Dial yang gagal sepertimu bahkan tidak punya tempat untuk bernafas disini!”


Mendengar kata dari kakaknya, hal yang tak mungkin dimenangkan oleh Leo terbesit di pikirannya. Leo memikirkan celah yang terlihat pada kakaknya itu. Dia mungkin bisa memanfaatkan celah dari kakaknya tersebut.


“Bernafas? Aku tahu!”


“Hei. Kau tidak memiliki hak untuk berpikir disini!”


Tanpa diberi kesempatan berpikir, Leo dipukul kembali dengan sarung tangan yang dibuat oleh wujud Malfon tersebut.


“Vermilion Giga Ragnar!”


“BRUAAK!”


Leo terkena serangan telak, hingga hampir kehilangan kesadaran yang dimilikinya. Dengan sedikit memaksa saat Malfon memukulnya, Leo membuat perwujudan karat dengan wujud tombak dan menusuk punggung Malfon dengan tombaknya.


“CRAKK”


“Argghhh”


“Sialan kau!”


Punggung Malfon tertusuk oleh tombak yang dibuat Leo. Darah mengalir di sekujur tubuh Malfon karena terkena serangan dari perwujudan Leo.


Setelah itu, Leo langsung mencakupkan dan mengedepankan tangannya yang berada di posisi atas dan bawah.


“Lepaskan Oksigen yang ada disekitar! Tanganku akan menjadi pusat oksigen berkumpul!”


“WUUUSSSHHHH”


Dengan sedikit tenaga yang tersisa di tubuh Leo setelah terkena serangan dan penggunaan Dial secara berkala, Leo tetap memacu tenaganya untuk mengalahkan Malfon.


“Ayolaahh berkumpul semua oksigen!”


“WUSHHHHHHHH”


“Apa ini?”


Kata Malfon yang nampak kebingungan atas apa yang terjadi dengan wilayahnya. Kemudian dia melanjutkan perkataannya itu.


“Itu sangat menjengkelkan untuk ukuran Dial yang tidak berguna! Reaksi Oksidasi ya?!”


Udara semakin pengap, mereka berdua mulai sesak nafas karena oksigen yang dikumpulkan oleh Leo dengan Dial yang dimilikinya. Dengan reaksi tersebut, api di sekitar wilayah Malfon mulai padam sedikit demi sedikit.


Dengan tertatih-tatih karena kekurangan oksigen, Leo mulai jatuh di hadapan Malfon.


Wilayah yang diciptakan oleh Malfon langsung menghilang dengan berkumpulnya seluruh oksigen yang ada di sekitar mereka, maka api tidak akan bisa menyala tanpa adanya oksigen. Dengan keunggulan tersebut, Leo kehilangan kesadarannya karena babak belur dan kehabisan oksigen sehingga ia melepaskan seluruh oksigen yang terkumpul di tangannya, menciptakan ledakan angin.


“DUARRRR!”


“WUUUSHH!”


“Datanglah jika kau sudah menjadi lebih kuat dan memiliki itu… Leo.” 


Kata Malfon sembari memegang kepala Leo dengan lembut.


Malfon langsung menyembuhkan dirinya dengan api penyembuhan miliknya dan langsung pergi meniggalkan tempat tersebut.


...----------------...


Sementara itu Garu masih cemas karena kami belum kembali ke kereta. Zara nampaknya sudah terbangun dari istirahatnya sembari bertanya kepada Garu.


“Kemana mereka… Garu?”


Tanya Zara sambil mengusap matanya.


“Aku sangat takut terjadi sesuatu dengan mereka. Ayo kita periksa Zara!”


Jawab Garu dengan suara gemetar. Zara tertegun kaget mendengar suara Garu seperti itu.


“Baiklah!”


Mereka pun memacu kereta menuju ke tengah kota, tempat pertarungan kami berlangsung. Terlihat disana ada bekas pertarungan yang mengerikan pengguna Dial. Suara gagak terdengar bersahutan di seluruh kota tersebut mengiringi langkah mereka memasuki kota.


“Apa-apaan bekas pertarungan ini?”


Kata Garu yang melihat sisa pertarungan dengan mata terbuka lebar.


“I-ini …. Bu-bukan mimpi kan?”


Sahut Zara yang sangat ketakutan sambil memeluk Garu.


“Ayo kita cari mereka terlebih dahulu.”


Mereka memutuskan untuk berkeliling alun-alun Kota Chorgia dengan memeriksa beberapa reruntuhan yang memiliki bekas pembakaran di sekitarnya.


“Lihat! Ada sesuatu terjebak disana!”


Teriak Zara yang melihat sesuatu di balik reruntuhan kota.


“Aku tidak melihat apapun…”


Kata Garu dari lubuk hatinya.


Mereka akhirnya menuju tempat yang dirasakan Zara ada sesuatu di sana dengan langkah kaki yang sangat pelan dan suara pohon kering yang bergesekan, membuat suasana tempat ini semakin mencekam.


Garu mengangkat reruntuhan yang dirasakan Zara tersebut dengan kuat.


“Satu, dua, tiga angkat! Argh!”


Garu terkejut dengan apa yang dilihatnya disana.


“C-Chromo?!”


“Kau tahu benda ini?” 


Tanya Zara dengan polos.


“Mereka dikalahkan.”


Sahut Garu dengan suara gemetar.


“Ayo kita telusuri lagi keberadaan mereka!”


Mereka pun berlari untuk menemukan X, Shina dan Leo yang masih tidak sadarkan diri. Garu dan Zara sangat panik dengan ditemukannya Chromo Farium sudah pasti temannya sedang tidak baik-baik saja. 


Beberapa meter dari tempat Chromo, mereka melihat X yang sudah tidak berdaya.


“X!” 


Teriakan mereka dengan serentak.


Garu dan Shina menghampiri X yang dimana dalam keadaan tidak sadarkan diri. Bola matanya putih dan berlumuran darah.


“Ini bukan pengguna Dial biasa!”


Dari balik reruntuhan terdengar langkah kaki yang tertatih-tatih menghampiri Garu dan Zara.


“Kalian baik-baik saja?”


Tanya Shina sambil menggendong Leo di punggungnya.


“Shina! Leo! Ada apa dengan kalian?!”


Tanya Garu dengan cemas.


“Aku baik-baik saja ceritanya nanti saja. Sekarang kita fokus menyembuhkan mereka berdua!”


“Baiklah, kita harus bawa mereka-“


Zara langsung memotong perkataan Garu.


“Aku bisa menyembuhkanya!”


“Apa? Ini bukan waktunya untuk bercanda Zara!” 


“Sirkuit X masih terputus, aku akan fokus untuk menyembuhkan fisiknya terlebih dahulu.”


“Sirkuit? Apa maksudmu?”


Tanya Shina.


“Diam dan berikan aku konsentrasi terlebih dahulu”


“Pengaktifan!”


“NGUUNG!”


...101 - The Book...


...****************...