101 - The Book

101 - The Book
Bagian 14 - Pengabsahan



...----------------...


Hari pertama aku menjalani pendidikan di akademi sangat memberiku kesan. Bagaimana tidak, 1 orang siswa di akademi ini memiliki setidaknya 1 atau lebih master yang mengajarkan etika penggunaan Dial hingga penerapannya dalam pertarungan sungguhan. Di masa yang damai seperti ini, bagaimana bisa orang-orang akademi menerapkan penggunaan Dial dalam pertarungan? Semua orang tentu tidak tahu maksud kami mempelajari ini termasuk 4 Eternity pun tidak tahu. Akan tetapi aku tahu jawabannya. Mereka sedang asik bersarang di tempat entah berantah dan tidak berani menunjukan dirinya sebagai penguasa Negara Nirz. Lagipula ini adalah otoritas Kerajaan Nwara yang dimana sebagai salah satu ‘kerajaan’ yang memiliki hak otoritas untuk membangun akademi. Itu yang aku dengar dari percakapanku dengan Dios Cristata kemarin.


...----------------...


Malam sebelumnya, aku telah menginap di dalam gedung yang memang disediakan untuk para siswa Akademi Oxitrone. Ukuran dari kamarnya lumayan luas dan fasilitasnya pun sangat lengkap untuk orang yang sempat tinggal sebuah gedung kosong terbengkalai sepertiku, ini sangat nyaman. Aku bercengkrama dengan beberapa rekan squadron untuk melewati malam yang suntuk akan perbincangan mengenai 4 Eternity. Aku sangat muak mendengarnya, hingga tanpa sadar aku meninggalkan rekan squadron kembali ke tempat tidur yang saat itu berbicara tentang 4 Eternity dan kekuatannya.


...----------------...


Matahari kembali menyapa Pandora di tengah dengusan angin yang membawa salju pergi ketempat yang ia inginkan. Hari ini adalah kali pertamaku bertemu dengan seorang master yang akan membimbing tentang pelajaran Dial. Hari ini aku memanaskan sendi dan otot-ototku di sekitar tempat eksebisi ditemani udara dingin yang memaksa masuk ke tulang dan seluruh sarafku. Saat aku peregangan, aku mendengar seorang pria tua yang berteriak dari arah pintu gerbang markas squadron.


“Oooi! X!”


Teriak lantang pria tua dengan rambut putih yang diikat. Seketika aku langsung menyipitkan mataku untuk memperjelas siapa yang datang jauh-jauh ke Pandora hanya untuk menyapaku.


“T-tuan Zidane?”


Sontak aku langsung menoleh ke arah jendela ruangan pemimpin squadron yang berada tepat di belakangku dan untunglah Dios berada disana hendak melihat siapa yang datang. Dari ruangan pemimpin squadron, Dios langsung mengusap matanya berkali-kali dengan cepat seolah apa yang dilihatnya adalah hal yang mustahil Tuan Zidane pertama kalinya datang untuk mengunjungi Squadron Augurey.


“Ini hari pertamamu kan X? Hahaha.”


“Tuan kenapa kau datang tanpa pemberitahuan?”


Dengan kedatangan Tuan Zidane ke Markas Squadron Augurey memancing seluruh siswa untuk keluar dan tidak percaya akan apa yang dilihatnya hari ini. Dios menghampiri kami dengan nafas terengah-engah. Setidaknya Dios tidak mengerahkan seluruh kekuatannya hanya untuk berlari menghampiri kami.


“Tuan- hah hah… Kau-hah… terlalu-hah hah.”


Dios mengatur nafasnya kembali sembari menelan ludah.


“Kau terlalu mendadak Tuan!”


“Apa yang kau katakan? Aku aspiqum di akademi ini. Aku harus memberi tahu siapa?”


“K-kau ada benarnya juga.”


Sahutku yang masih kebingungan dengan logika berpikir milik Tuan Zidane.


“Apa ada hal penting sehingga kau kemari Tuan?”


“Hahaha! Kau masih saja kaku Dios, Tujuanku kemari hanya untuk menjadi mentor X. Itu saja.”


“Apa? Kau menjadi master dari X?”


“Tidak juga… aku hanya ingin melihat perkembangan X dari awal.”


Saat kami berbincang dengan hangat seseorang berjalan mendekati kami dari arah gerbang.


“Apa yang kalian ributkan? Dwafra yang Agung akan mengutuk kalian jika ribut dengan sesama manusia.”


“Wah wah wah. Ku kira kau sudah mati Vahra Helheim.”


Kenalkan, dia adalah Vahra Helheim dia adalah paleontolog energi yang terkenal dengan penemuan-penemuan energi inti bersejarah jauh sebelum adanya Dial dan perang besar Entitas Agung terjadi. Penemuan yang paling gempar adalah saat beliau menemukan teknologi Elemental Neon yang awalnya suatu energi yang memanfaatkan kekuatan kosmik di alam semesta untuk dipadatkan dalam suatu wadah. Akan tetapi Elemental Neon ini bukanlah barang yang dapat dipakai untuk semua orang, beberapa orang telah menjadi korban dalam teknologi kuno ini sehingga penelitian terhadap energi ini ditutup dengan paksa. Vahra Helheim ini sangat tertarik dengan energi kuno yang ada di alam semesta dan ia juga mengembara untuk menemukan energi-energi unik. Ia juga dikenal sangat percaya dengan adanya Dewa Dwafra. Aku tidak terlalu tahu tentang sistem kepercayaan seperti itu. Di dunia ini sistem kepercayaan kuno seperti itu telah hilang dan bahkan hanya minoritas yang masih memegang kepercayaan fana seperti itu. Selain itu… mengapa dia masih terlihat lebih muda dibandingkan dengan Tuan Zidane?


“Ada perlu apa kau denganku, Penjudi?”


Sapa Tuan Vahra sambil berjalan ke arahku dengan tatapan dingin mengalahkan salju yang turun hari ini.


“Kau masih saja dingin seperti itu Vahra. Hahaha!”


“Aku akan memberikanmu tanggung jawab sebagai master di akademi ini. Kau tahu? Anak ini memiliki potensi yang cukup menjadi seperti muridmu dahulu.”


Tuan Vahra menatapku dengan mata sayu, menyipitkan matanya untuk menatapku lebih dalam lagi.


“Namamu, X kan?”


Sejenak Tuan Vahra berpikir sembari melihat salju yang terhempas ke pepohonan.


“Kau yakin Heryn?”


“Aku yakin karena aku sudah bertarung dengannya.”


“Kau apakan anak ini? Hah?”


Sahut Tuan Vahra dengan tatapan menusuk curiga kepada Tuan Zidane. Ia tahu betul jika Tuan Zidane tidak main-main jika bertarung… Lebih tepatnya Tuan Zidane adalah psikopat jika ia sedang dalam pertarungan. Tuan Vahra pun menarik nafas panjang sambil melihat jam yang ia pakai di tangan kirinya.


“Hah~ Setidaknya beberapa tulangmu sudah patah kan X?”


“Umm-itu…”


“Hahaha sudahlah… Hari ini aku resmi menjadi mastermu, X.”


“Baiklah Tuan Vahra.”


“Jangan panggil aku dengan sebutan ‘Tuan’. Aku ini pengembara.”


“Baik Vahra!”


Dios memandangku dengan bangga di hadapan Tuan Zidane. 


“Jaga dirimu X! Jangan pernah ragu sedikitpun dengan Tuan Vahra Helheim!”


Vahra mengajakku untuk berkeliling sebentar jauh dari markas squadron untuk menikmati keindahan tebing es yang mengelilingi markas. Aku mengikuti Vahra kemanapun ia pergi dengan arah yang tidak jelas. Ia menangkup pipiku dengan pelan menjelaskan bahwa pelajaranku hari ini adalah menjadi pengikut Vahra kemanapun ia pergi. Kami memutuskan untuk pergi ke sebuah goa es yang diselimuti sinar biru yang lembut menyentuh mulut goa tersebut. Vahra menoleh ke arahku yang mengisyaratkan bahwa ‘kita akan masuk ke dalam’ Aku pun mengangguk pelan dengan ragu. Apa yang akan kita lakukan disini? Untuk apa aku mengikuti Vahra yang tidak memiliki arah yang jelas? Aku bahkan sampai mempertanyakan perlajaran apa yang akan aku dapat jika terus seperti ini?


“Senjatamu unik juga, X. Siapa yang memberimu?”


“Terimakasih Vahra. Aku menemukannya di kantor pemerintah milik Kota Burzche.”


“Ah~ Kau cukup nakal untuk bocah 16 tahun ya.”


Sahut Vahra sambil berjalan menyusuri goa.


“Itu milik Entitas Agung, X.”


“Ya aku tahu itu Vahra… Akan tetapi senjata ini seakan-akan memilihku untuk membawanya.”


“Tapi kau belum memanfaatkan senjata itu dengan maksimal. Kau belum memiliki jiwa dari senjata itu.”


Tak sadar percakapan kecil kami membawa kami menuju sumber dari cahaya biru tersebut. Terlihat sebuah bongkahan batu kecil itu memancarkan cahaya tersebut dengan lembut seakan menyapa kami yang baru sampai di goa.


“Coba kau sentuh bongkahan kecil ini X.”


NGUUNG


BRUAK!!!


Tanganku seketika terpental seperti ada energi yang menolak ketika memegang bongkahan batu ini.


“Ah~ aku lupa satu hal. Jangan memaksakan diri X!”


Teriak Vahra dari belakangku.


“Aku akan kelelahan?”


“Bodoh hahaha! Kau akan MATI. Pelajaran pertamamu adalah menyentuh bongkahan Cyberse Link!”


...101-The Book...


...****************...