
...----------------...
Bagaimana seorang master bisa berpikir akan membunuh muridnya sendiri. Ini tidak beres. Dengan penuh keraguan, aku kembali menyentuh bongkahan Cyberse Link, untuk yang kedua kalinya tanganku terpental seolah ingin melepaskan diri dari tubuh kecilku. Vahra terus saja menonton seolah ini adalah pertunjukan yang menarik dengan segelas minuman roseus yang ia teguk dengan lahap.
“Kau yakin ini Vahra?”
“Jika kau melihat mata ini, berarti aku sedang serius X.”
Sahut Vahra sambil menunjuk kedua matanya lalu melanjutkannya dengan meneguk gelas kedua. Mataku langsung berpaling ke bongkahan Cyberse Link seolah ada sesuatu yang mungkin terjadi jika aku terus melakukannya. Bukan. Aku tidak selemah itu untuk mati di sini.
“Kau akan terus meratapi bagaimana nasib dari bongkahan itu, atau kau akan menyentuhnya?”
Lanjut Vahra.
Tanganku langsung bergerak untuk menyentuh bongkahan batu tersebut seolah mengatakan ‘tidak semudah itu untuk menyerah’
Tanganku terpental kembali dan kali ini lebih menyakitkan. Gelombang sonar yang dihasilkan dari bongkahan ini merasuk di setiap sel tubuhku. Aku pun terdiam sejenak karena rasa kaget yang aku alami sesaat karena gelombang tadi.
“Kau terlalu gelisah, coba tenangkan dirimu X!”
“Jika semudah itu, aku tak perlu belajar bersamamu Vahra!”
Mendengar kata tersebut keluar dari mulutku, Vahra langsung tersenyum menyeringai dan meneguk gelas ketiga sambil berteriak.
“Tidak salah aku memilih untuk datang berkunjung ke sini.”
Aku kembali melanjutkan menyentuh untuk yang ketiga kalinya dengan tenang sambil memejamkan mata. Tarikan nafas pelanku beriringan dengan tarian angin yang menyelimuti mulut goa. Aku sudah siap untuk menyentuhnya, mendekatkan tanganku dengan lembut ditengah terpaan gelombang sonar yang dihasilkan dari bongkahan ini membuatku sedikit goyah, akan tetapi dalam 2 detik ketenanganku kembali. Aku pun sangat antusias dan berteriak ke Vahra, akan tetapi justru itu menjadi boomerang bagiku.
“Aku hampir menyentuhnya!”
“Awas! Tenangkan dirim-“
“BZZZT!”
Bogkahan Cyberse Link langsung bersinar dan bergetar hebat. Mataku langsung bergabung di dalam kegelapan yang tidak terbatas. Aku mungkin sudah melewati batas yang bahkan seseorang tanpa Dial sepertiku menyentuh bongkahan tersebut tanpa ada Dial di tanganku. Bodoh? Sangat. Jika ada perlombaan orang bodoh sedunia, aku pasti akan menjadi peringkat pertamanya.
Di tengah kalutnya situasi tersebut aku dapat merasakan dingin yang luar biasa menusuk tubuhku dari punggung. Aku tenggelam di dalam situasi ini. Benarkah aku akan mati?
...----------------...
Suara samar-samar mendengung keras di telingaku seolah berteriak memanggil-manggil namaku. Aku pun mulai melihat orang yang berteriak tersebut dengan pengelihatan yang masih tidak normal. Suaranya sayub bak suara angin yang melewati ranting pohon. Siapa? Setelah diamati beberapa detik, ternyata itu adalah Dios yang berusaha menyadarkanku ketika tidak sadarkan diri.
Dari ekspresinya saat ini, aku tahu betul bahwa dia terus berteriak memangil namaku, akan tetapi aku tidak terlalu mendengarnya karena pendengaranku masih belum stabil.
Terlihat juga Tuan Zidane duduk di sebelah Vahra dengan meminum beberapa gelas minuman roseus untuk teman mengobrol mereka.
“X? kau baik-baik saja kan? Apa yang kau lakukan sehingga seperti ini?”
Ah~ Pendengaranku sudah kembali. Nampaknya suara Dios Cristata sudah terdengar dengan jelas.
Vahra pun menaruh gelasnya di atas meja tunggu. Terdengar suara benturan halus antara meja dan gelas Vahra.
“Dia sedang berjuang keras untuk menyentuh bongkahan Cyberse Link.”
Tuan Zidane dan Dios langsung menatap kaget satu sama lain, bagaimana tidak dengan terlontarnya kata tersebut dari mulut Vahra, ini mengindikasikan ada yang tidak beres dengan sistem mengajar Vahra.
“Kau sedang bercanda kan Vahra?”
Sahut Tuan Zidane bertanya sambil memohon di dalam hatinya agar Vahra menjawab ‘ya’.
Lanjut Dios Cristata yang berusaha untuk tidak panik saat berhadapan dengan seorang Vahra.
“Kalau begitu X adalah orang yang berada di 0,01 % itu.”
Sahut Vahra yang mengisi kembali gelas dengan minuman roseus tersebut.
“Kau sangat gila Vahra. Apa kau seperti ini kepada seluruh muridmu?”
“Hey kau jangan membahas para muridku yang sangat sukses itu. Aku seperti ini hanya karena ingin menguji apakah dia benar-benar pantas membawa senjata itu, jika tidak aku akan membunuhnya saat ini juga.”
Kata dari Vahra sontak membuatku bergetar takut ketika melihat dia dalam mode ‘setan’. Seolah senjata ini menyuruhku saat menemukannya di kantor pemerintah Kota Burzche. Kira-kira bagaimana nasib orang-orang disana ya? Yah~ sesekali aku akan pergi ke sana jika telah ditetapkan libur oleh para pemimpin squadron dan aspiqum yang maniak judi ini.
“Daripada kita berdebat lebih baik kita biarkan X istirahat terlebih dahulu dengan tenang.”
...----------------...
Setelah 2 hari beristirahat, Dios tiba-tiba memanggilku ke ruangannya. Aku melihat kiriman surat Dios yang terselip dalam buah-buahan yang ia bawa selama menjenguk ku ke ruangan medis.
Disana tertulis dengan jelas.
“Sesuatu menarik tidak akan datang dua kali kan X? Aku ingin memberikan sesuatu yang menarik untukmu. Ruanganku pukul 7.”
Apa sebenarnya yang dijanjikan sebelum aku datang ke Pandora, Dios terus saja memberikan petunjuk bahwa ia memiliki sesuatu yang sangat menarik di Pandora. Mungkin ini saatnya.
Aku datang memasuki ruangan milik Dios Cristata. Terlihat Dios di dampingi oleh para petinggi squadron. Mereka ada bertiga yaitu Benjamin Ficus, Dia sangat ahli dalam pengembangan Exodial. Ficus juga sering terlibat dalam jajaran Penelitian Dial Semesta yang melibatkan beberapa ilmuan hebat. Penelitian ini diadakan 5 tahun sekali di Negara Nirz. Dia sangat gila akan penelitian, konon dia sangat mengerikan ketika bertarung.
Mira Evodia. Merupakan keturunan campuran dari Negara Nirz dan Negara Celosia. Ia juga pengguna Exodial seperti yang dijelaskan oleh Dios Cristata. Gadis berambut pirang ini sangat mahir dalam hal teknologi persenjataan dan menguasai 2 ilmu bela diri yaitu Tinju Astaroth dan Ginta. Ginta merupakan teknik penggabungan antara Kekuatan Dial dan Ilmu bela diri. Pada saat pertarungannya ia menari sangat indah di medan pertarungan sampai musuh tidak sempat untuk mengambil kuda-kuda untuk melawannya. Mira dijuluki Penari Celosia oleh para musuhnya.
Yang terakhir adalah Hica Swazicoff. Gadis ini memiliki perawakan pendek dengan rambut hitam memanjang sampai punggung. Dia memiliki kekuatan untuk menyimpan sesuatu ke dalam Dialnya. Aku tidak tahu persis apakah Hica pengguna Exodial atau Dial. Aku hanya bisa mengatakan bahwa kekuatannya tergolong ‘tidak berguna’.
“Hai X bagaimana kabarmu?”
Sapa Dios di tengah para petinggi squadron yang duduk di sebelahnya. Para petinggi terdiam dan hanya menyapaku dengan senyuman kecil di wajah mereka masing-masing.
“Apa yang menarik hari ini Dios?”
Sahutku. Dios kemudian membuka salah satu peti usang dibalik rak buku yang sangat besar. Dios mengusap sembari meniup peti tersebut. Debu pun bertebaran mengisi seluruh ruangan. Dios membuka peti tersebut yang didalamnya berisi kertas usang yang berisi tulisan aneh.
“Ini yang kau cari kan?”
Sahut Dios sambil tersenyum ke arahku. Ia menunjukkan sesuatu yang sangat penting hari ini. Itu adalah halaman ke 38 dari buku yang aku bawa selama ini.
“Silahkan nikmati.”
Sahut Ficus dengan aura yang sangat bijak. Aku pun menyambungkannya ke dalam buku, membuka pinggiran besi yang digunakan untuk mencapit lembaran yang terpisah. Wajar saja mereka memanggilku karena tidak semua orang memiliki teknologi sinar biru yang berisi di bukuku untuk memperlihatkan tulisan aslinya. Lembaran yang terpisah-pisah dari buku ini memang berisi tulisan tinta biasa yang berisi tulisan lumrah dapat ditemui di buku-buku seluruh dunia. Akan tetapi kebenarannya terdapat setelah melihat isi asli dari tulisan tersebut yang memuat sejarah dunia dan kebenaran yang ditutupi oleh para Eternity. Untuk itulah mengapa lembar ini sangat diincar di seluruh dunia.
“Ini adalah halaman ke 38.”
“Apa yang kau pikirkan?”
“Cepat sambungkan lembar itu X!”
Sahut Mira dengan semangat.
...101-The Book...
...****************...