101 - The Book

101 - The Book
Bagian 6 - Rubah Pembohong



...****************...


Masih di suatu bangunan yang misterius terlihat beberapa orang yang duduk sambil memancarkan aura yang sangat mencekam untuk didekati.


“Aku rasa, aku harus bergerak untuk membungkam para cecunguk itu!”


“Hah? Kau pikir kau cukup kuat untuk membungkam mereka, lemah?”


Dengan perkataan tersebut orang misterius itu mulai membakar beberapa barang yang ada di gedung itu, dan orang misterius ini mengeluarkan aura kebencian yang sangat menakutkan.


“Hei. Bercanda itu. Ada batasnya.”


“Oh? Kau menantangku, lemah?”


Terjadi bentrokan kekuatan diantara orang-orang ini. Api dan listrik memenuhi kastil ini karena mereka saling adu kekuatan dan tidak terima atas argumen masing-masing dari orang-orang tersebut. Anehnya anggota yang lain hanya melihat dan menikmati anggur yang mereka bawa.


Tiba-tiba salah satu dari mereka berteriak.


“Hilangkan sifat kekanak-kanakan kalian!”


Mereka pun terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa.


“Kalian pikir kita hanya bermain disini? Kau saja yang pergi untuk melihat situasi. Aku yakin kau akan menemukan sesuatu yang menarik disana.”


...****************...


Selama perjalanan kami menuju Kota Chorgia, kami bersenda gurau membahas masalah makanan kesukaan kami, buku favorit dan masih banyak lagi yang kami bicarakan pada pagi ini.


“Hei X! Jangan kau habiskan permen mu sebelum sampai di Kota Chorgia!”


Pesan Leo kepadaku.


Sambil menghela nafas aku menjawab dengan nada yang malas.


“Ahh, iya iya. Aku paham betul bagaimana caraku menghabiskan permen ini!”


Aku pun melihat Shina yang masih murung karena percakapan kemarin. Nampaknya Leo masih mengoceh dengan Garu, aku pikir ini kesempatanku untuk membuatnya tenang.


“Kau telah melewati hal yang berat, Shina.” Kata ku sambil menepuk pundaknya.


“Namaku-“


“Yup! Aku sudah tahu, terkadang tidak ada salahnya untuk terbuka dengan temanmu sejak kecil, Shina”


Shina tersenyum kecil sembari melihat pohon dihiasi dengan sentuhan sinar matahari pagi yang hangat.


“Suatu saat aku harus tahu siapa namamu X!” Sahut Shina dengan semangat.


Aku pun memegang pundak Shina dan berkata


“Kau pasti akan tahu jika sudah waktunya.”


Waktu sangat cepat berlalu, matahari mulai berada di atas kepala, kami mengikuti aliran sungai dari Kota Alchy sampai ke Kota Chorgia. Beberapa meter dari Kota Chorgia kami melihat anak kecil yang berlari dari Kota Chorgia dan berteriak


“Seseorang, siapa saja! Tolong aku! Aaaaa!”


Kami spontan langsung berhenti dan turun dari kereta milik Garu. Ketika turun dari kereta, kami langsung mendatangi anak kecil tersebut dan bertanya


“Ada apa adik kecil?”


“I-i-itu, j-jangan bawa, a-a-aku kesana lagi”


Kami berempat langsung menoleh satu sama lain karena kebingungan atas apa yang terjadi dengan anak kecil ini.


Garu pun memeluk anak kecil tadi lalu bertanya kepadanya.


“Tidak apa, dimana rumahmu?” Tanya Garu dengan lembut sembari memegang tangan kecil anak tersebut.


“Apa kau orang jahat?”


“Tentu tidak, adik manis. Kami hanya pengembara yang kebetulan lewat”


“A-aku dari Kerajaan Nwara, Aku diculik dari Kerajaan Nwara dan disekap di bawah tanah.”


Badan anak kecil itu sangat gemetar, ia mengalami trauma yang mendalam di Kota Chorgia. Apa yang sebenarnya terjadi disana? Melihat tangan anak itu, aku jadi tahu bahwa anak ini memiliki Dial di tangannya.


Muncurigakan bukan? Apa yang dilakukan anak kecil jika ia memiliki Dial? Setahuku mereka hanya menghabiskan waktu bermain dengan temannya, persis seperti aku dan Shina dulu.


Setelah menanyakan tempat tinggal gadis ini, kami sangat terkejut bahwa dia berasal dari Kerajaan Nwara. Kami tahu betul bahwa kerajaan itu sangat ketat untuk masalah seperti ini. Bagaimana bisa seseorang dari Kerajaan Nwara diculik seperti ini?


Shina bertanya kepada anak kecil ini.


“Siapa namamu?”


Dengan perasaan takut, dia menjawab sembari menunduk malu.


“N-nama ku, Zara Hevilia”


Mata Garu menatap anak itu dengan tajam dan terdiam ketika mendengar namanya.


“Hevilia katamu?”


Aku tidak mengerti apa yang terjadi, akan tetapi aku tahu bahwa kita mendapatkan informasi yang sangat penting.


“Iya, namaku Zara Hevilia. Tolong antar aku kembali ke Kerajaan Nwara!”


“Kami kebetulan akan menuju ke sana! Ini sangat pas bukan?”


Sahut Leo.


“Kalian harus berhati-hati di Kota Chorgia! Aku tidak mau jika terjadi sesuatu dengan kalian.”


Peringatan Zara kepada kami.


Aku pun memegang kepala anak kecil tadi dengan lembut.


“Serahkan pada kami! Zara!”


Zara tersenyum lebar dengan kepala yang sedikit berdarah.


“Pertama, rawat dulu luka ini”


Sahut Shina kepada Zara.


Setelah merawat luka Zara, kami menaiki kereta kuda dan menuju Kota Corgia. Zara nampaknya mengalami kelelahan saat kabur dari Kota Chorgia. Dia tertidur pulas di kereta.


Kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Chorgia dengan Zara.


Setelah sampai di alun-alun kota, kami mendapat bahwa telah terjadi pertarungan yang sangat brutal disini. Terlihat tidak ada penjagaan di gerbang kota. Kota ini seperti kota mati yang terbakar.


“Apa ini pertanda baik Garu?”


Tanyaku kepada Garu.


“K-ku rasa tidak, X! ini bukan sekedar bencana kebakaran.”


“Aku tidak menyangka ada pengguna Dial sekuat ini!” Sahut Shina dengan cemas.


“Ayo kita periksa apakah masih ada yang selamat di dalam kota.”


Leo menjawab dengan semangat.


Kami bertiga berpencar, Leo pergi ke kota bagian utara, Shina pergi ke kota bagian timur, aku pergi ke kota bagian barat sedangkan Garu menjaga Zara yang sedang tertidur.


“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”


Dari balik bangunan yang roboh aku melihat bayangan yang sedang berjalan ke arahku dan memanggilku.


“Oi!”


“Siapa?”


Terlihat orang berambut perak yang memakai jubah putih dengan pinggiran emas di jubahnya dan menatapku dengan tajam.


“Apa yang kau lakukan disini? Bocah.”


Tiba-tiba terjadi getaran yang sangat keras di area kami.


“Oi! Aku bertanya kepadamu” lanjut pria itu dengan tatapan tajam dan hasrat membunuh.


Dari arah utara dan timur, Leo dan Shina menyadari bahwa ada yang tidak beres, mereka langsung berlari ke tempatku dengan segera.


Setelah merasa terancam dengan kehadiran orang ini, aku mengeluarkan senjata yang ku dapat dari kantor pemerintah.


“Kau siapa?”


Tangan ku sangat bergetar. Aku bisa merasakan hawa membunuh yang sangat kuat.


“Ha? Itu bukan untuk mainan dasar bodoh! Apa yang dilakukan pemerintah Kota Burzche selama ini? Mengapa membiarkan tikus ini memegang Chromo?”


“Aku tidak tahu apa yang kau ocehkan!”


Aku langsung menarik pelatuk dan membiarkan senjata ini untuk menghasilkan reaksi fusi.


“DUARRR!!!”


Dengan seranganku itu sudah pasti dia mati terkena seranganku.


“Oi! Sudah kubilang kan? Senjata itu tidak untuk bermain!”


“Sial!”


Orang ini berlari ke arahku dengan kencang langsung mengeluarkan jurus sambil menghantamku dengan kepalan api.


“Vermilion Ragnar!”


“BRUAKKK!”


“Ahhhkk!!!”


Darah keluar dari mulutku. Dadaku terasa sesak serta aku tidak bisa bernafas.


Aku terhempas menembus beberapa bangunan dan langsung tidak sadarkan diri karena pukulan itu.


Setelah sampai di tempat kami bertarung, Leo dan Shina terkejut melihat aku terhempas ke arah timur. Leo dan Shina langsung mengaktifkan Dial mereka dan bersiap untuk bertarung.


“Pengaktifan!”


“NGUUNG!”


Leo pun langsung berlari ke arah orang itu, menendangnya dengan kuat tanpa menyentuh orang itu.


“BRUAKK!”


“Perwujudan Karat!”


Leo langsung menciptakan jarum dan tombak yang terbuat dari karat lalu mengayunkan tombaknya dengan kuat.


“TRAANG!!!”


Leo sangat terkejut karena serangannya dapat di tahan dengan mudah. Orang itu mengambil kuda-kuda dan bersiap untuk melakukan serangan balasan.


“Vermilion Rag-“


“BRUAKK!!!”


Shina melemparkan pedangnya dan menggunakan Dial untuk mengenai orang itu.


Perut orang itu pun berdarah terkena lemparan pedang Shina. Tanpa pikir panjang Shina melemparkan beberapa butiran besi ke arah orang itu.


“Pemuaian!”


“NGUUNG!!!”


Butiran besi tersebut langsung berubah menjadi bongkahan-bongkahan besi seberat 1 Ton dan mengenai orang itu.


“DUAR!! DUAR!! DUAR!!”


“Oi! Kau tahu? Besi akan meleleh jika terkena api.”


Besi yang dilempar Shina meleleh dibakar api yang sangat panas dari Dial orang ini.


“Sial! Tidak mempan?”


“Kau benar-benar membuatku marah!”


“Shina! Lari!” Teriak Leo kepada Shina yang tidak berdaya.


Tiba-tiba orang itu mengangkat tangannya yang menggepal dan mengeluarkan percikan api halus meringis pelan kemudian membara menjadi api raksasa.


“Perwujudan Wilayah! Api sang Rubah Pembohong!”



“Tidak mungkin, ini bukan pengguna Dial!”


Jawab Leo yang sudah putus asa.


“Ahhhhhkkk!”


Shina dan Leo tiba-tiba berada di lautan api dan bebatuan yang sangat panas. Shina langsung pingsan di wilayah itu karena telah mengeluarkan banyak tenaga dari Dialnya. Orang aneh ini mendekati Leo, dia nampak terkejut melihat Leo.


“Kau?!”


Leo nampak menyeringai dan membuat tombak berkarat miliknya.


“Perwujudan Karat!”


Orang ini langsung menarik leher baju Leo dari belakang dan memukul perut Leo dengan jurusnya.


“Gladius Vincere!”


“BRUAKKKK!!”


Api berkobar dari pukulan orang ini sekilas membakar perut Leo sehingga darah keluar dari mulut dan hidung Leo. Mata Leo langsung kosong. Leo pun sekarat atas pukulan yang diterimanya.


“Hehe, aku tidak tau kau selemah ini……Kakak!”


Ucap Leo sebelum pingsan.


...101- The Book...


...****************...