
...----------------...
“Kau yakin itu isi dari lembar aneh itu X?”
Mira mengangkat salah satu alisnya dengan wajah penuh tanya.
“Aku sangat yakin. Buku ini terlihat seperti semacam jurnal penemuan atau semacamnya.”
Ficus melipat kedua tangannya di depan dada sambil mendengus melontarkan pertanyaan.
“Apa yang penting dari buku itu sehingga jadi rebutan seluruh dunia?”
“Entahlah Ficus, aku tidak pernah melihat suku tanpa tangan seperti yang dijelaskan X barusan.”
Mereka berempat mendadak kebingungan dengan isi yang sama sekali tidak jelas dari lembaran yang mereka simpan bertahun-tahun lamanya. Siapa yang peduli? Bahkan orang yang hidup ribuan tahun sebelumnya belum pernah melihat suku tanpa tangan.
“Disana tertulis mengenai sejarah Ginta kan?”
Sahut Hica dengan santai.
“Ginta? Aku cukup menguasai bela diri itu.”
Mira terlihat yakin dengan kepalan tangan yang ditatapnya.
“Kita semua tahu itu, kau tak perlu menyombongkan diri, penari aneh.”
Sentuhan kata dari seorang Dios yang lembut itu justru sangat menyakitkan di hati para petinggi.
“Mengenai lembarnya kita cukupkan saja, daripada kita menduga-duga hal yang tak pasti, lebih baik katakan maksud kedatangan kita hari ini, Dios.”
“Kau ada benarnya juga Ficus. Ehem! Aku hari ini mendatangkan para petinggi squadron untuk melihat sirkuitmu yang putus tadi apakah kau memang memiliki Dial atau tidak. Jadi kuharap kau maksimal menerima materi yang membosankan ini.”
“Baiklah Dios!”
Sahutku dengan semangat. Aku dan para petinggi squadron berjalan beriringan menuju ruangan tempat pemaparan materi biasanya berlangsung. Ruangan ini terlihat cukup sempit, mengingat akademi ini lebih mengutamakan praktik dibandingan menjelaskan teori secara berbelit-belit, maka dari itu rangan pelatihan terlihat lebih banyak dibandingkan dengan ruang belajar teori.
Kami mulai memasuki ruangan dan aku mengambil tempat duduk sendirian di posisi paling depan.
“Baiklah X, kita mulai hari ini dengan teori Dial. Aku Benjamin Ficus akan memberikan beberapa penjelasan kecil dan disambung dengan pertanyaanmu. Paham?”
“B-baiklah.”
“Bagus. Kita mulai dengan apa itu Dial.”
“Dial merupakan sebuah teknologi yang menggunakan ciri khas dari segala macam senyawa yang dominan di tubuh penggunanya jadi secara langsung akan tersingronisasi dengan Dial yang sudah terpasang sehingga dapat menciptakan reaksi sesuai karakter pemiliknya.”
“Ah itu seperti milik temanku, Shina dan Leo.”
“Yup betul sekali, cara membedakannya yaitu dengan melihat warna dari reaksi yang dipancarkan oleh Dial yang digunakan. Misalnya jika berwarna kuning terang berarti itu adalah Dial tipe Cahaya, jika berwarna hijau gelap itu merepresentasikan Dial tipe Wabah dan warna ungu gelap mewakili Dial tipe Kegelapan.”
“Mengapa hanya tiga tipe Dial saja di dunia ini Ficus?”
“Untuk cakupan Dial sangat sempit karena hanya menciptakan reaksi dan itupun hanya orang-orang berbakat saja yang dapat memanipulasi reaksi kimia.”
“Nah untuk pengaktifannya karena Dial tertanam di antara persendian telapak tangan dan tangan, kau tinggal mengangkat telapak tanganmu ke atas untuk pengaktifannya. Akan tetapi beberapa orang baru mengaktifkannya saat dalam kondisi emosi sedang tidak stabil.”
“Apa yang salah? Setiap orang sudah memiliki senyawa masing-masing. Jadi mengapa itu bisa terjadi juga?”
“Justru karena dalam kondisi emosi tidak stabil kebanyakan orang baru mengaktifkannya. Ketika emosi tidak stabil maka detak jantung akan cepat sehingga aliran darah pun ikut mengalir lebih cepat. Saat itu lah seyawa yang dominan di tubuh seseorang akan mengalir bercampur dengan darah.”
“Ooo seperti itu ya. Berarti Shina aktif karena emosi dan Leo sudah dapat mengendalikan dari awal.”
“Tepat sekali.”
“Kita masuk ke siapa penemu dari masing-masing tipe Dial ini. Yang pertama Dial tipe Cahaya diciptakan oleh Phym Faghu Ishtar berasal dari Kota Mattium yang sekarang di sebut sebagai kota konflik karena perang saudara dan pengembangannya pun sekarang sudah tidak ada lagi mengingat yang tersisa dari keluarga ini hanyalah Shina Magnolia Ishtar.”
“Dial tipe Wabah diciptakan oleh Gizca Delonix Regia berasal dari Kota V-Parture sedangkan Dial tipe Kegelapan diciptakan oleh Bafura Diaz Gofazia berasal dari Kota Elysia.”
Mira datang memeriksa tanganku ditengah pemaparan materi Ficus.
“A-apa yang kau lakukan?!”
Tentu saja aku kaget jika seorang perempuan cantik datang memegang tanganku dengan tiba-tiba.
“Sudah kau dengarkan saja materi dari si kutu buku.”
“Apa yang kau katakan?! Penari aneh?”
“Hah?!”
Hica langsung mengarahkan telapak tangannya ke arahku sembari mengaktifkan Dial yang ia miliki.
“NGUUNG!”
Hica berkata demikian sambil mencerna informasi yang ia dapat dari pengaktifan kekuatannya itu.
“Apa yang kau lakukan Hica?”
“Dia sedang melihat sirkuitmu sambil memeriksa apa isi dari tanganmu. Kita tidak pernah tahu kan? Bisa jadi itu Exodial.”
Jawab Mira yang sedang memegang tanganku dengan kuat.
Hica tiba-tiba tertegun dengan apa yang dilihatnya hari ini. Wajahnya mulai menunjukan rasa cemas yang luar biasa. Tangannya mendadak sedingin salju yag hari ini masih turun di sekitaran akademi.
“Ini?!”
“Biarkan aku melihatnya.”
Sahut Ficus dan Mira.
Hica langsung menyalurkan pengelihatan ruangnya kepada Mira dan Ficus. Kekuatannya sungguh aneh dibandingkan pengguna yang lain.
Untuk mencairkan suasana akupun bertanya kepada Hica.
“Apa kekuatanmu sebenarnya Hica?”
Mereka tidak menghiraukan pertanyaanku dan hanya fokus melihat isi dari tanganku ini.
“Luar biasa, luar biasa.”
“Hey kalian! Jawab pertanyaanku.”
Mereka baru melihat ke arahku untuk menjawab pertanyaan. Apa yang mereka lihat hingga kehilangan konsentrasi seperti itu? Mereka lumayan aneh untuk menjadi petinggi Squadron Augurey.
“Ah! Maafkan kami X. Kekuatanku merupakan Exodial Distorsi tipe Spesial, aku dapat mendistorsi ruang yang dapat dijadikan sebagai tempat penyimpanan. Aku juga dapat melihat isi dari ruangan yang tertutup serta dapat menyalurkannya kepada orang-orang di sekitarku.”
“Apa yang kalian lihat?”
“Kekuatanmu ada-“
Dari luar ruangan terdengar seorang pria meneriakan namaku.
“Hoi! X! Apa yang kau lakukan disana?”
“Vahra?!!”
Para petinggi langsung tahu siapa yang berteriak dengan baru roseus menyengat dari luar.
“Ah! Disini kau rupanya!”
Sahut Vahra.
“Ayo kita lanjutkan pelatihan kita!”
“Tunggu! Materiku untuk X belum selesai Vahra bodoh!”
Gertak Ficus kepada seorang Vahra Helheim. Mata Vahra langsung kosong menatap Ficus dengan keji. Mira dan Hica langsung mendengus pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Buaian angin dari luar membuat suasana semakin sunyi.
“P-permisi-“
Aku yang saat itu ingin mencairkan suasana malah disergap habis-habisan dengan aura membunuh Ficus dan Vahra. Mereka berdua menatapku seakan ingin membunuh pengganggu yang lewat. Aku lngsung tidak bergerak sedikitpun. Hica langsung melakukan pengaktifan di dekat mereka berdua.
“NGUUNG!”
“WUSH!”
“Menghilang?”
Inilah kegunaan dari kekuatan seorang Hica yang dapat mendistorsi ruang sehingga Ficus langsung berpindah tempat ke tempat yang jauh dari keadaan yang akan membunuh diriku.
“Hah~ Syukurlah.”
Sahut Mira sambil mengelus dadanya dengan cepat.
“Ayo kita berangkat X~”
Vahra berkata sambil tersenyum lebar ke arahku seolah tidak terjadi apa-apa.
...----------------...
Kegiatan selanjutnya yang aku lakukan seperti biasa bersama Vahra Helheim ditemani sebotol roseus yang hangat dan… Perasaan takut akan kematian. Hah~
...101-The Book...
...****************...