101 - The Book

101 - The Book
Bagian 25 - Rexodinary



...**********...


Decitan suara sepatu perlahan menjauhi kami. Wyrma mulai duduk di kursi pengawas perpustakaan dan kembali melanjutkan pekerjaan administrasi yang tertumpuk tebal di sebelah mejanya. Suasana hening dan canggung mulai mengisi seluruh ruangan baca.


Aku dan Dilo perlahan saling menatap satu sama lain yang berusaha memulai percakapan agar suasana aneh ini menghilang dengan sepatah kata dari bibir kami.


"Kau tahu Prunus sangat menyebalkan ketika perannya berubah menjadi kakak."


"Setahuku dia adalah orang yang sangat ceria."


"Uugh! Kau hanya melihat dari satu sisi mata koin."


Dengusan Dilo berbau kekesalan menemani lontaran kata yang dikeluarkan. Aku tak tahu harus membiarkan ucapan dari Dilo terjatuh begitu saja, atau harus menghiburnya dengan kalimat tawar yang bahkan tidak dapat memberikan solusi.


Ia tampaknya sangat memperhatikan buku yang aku bawa.


"Buku itu... Terlihat.... Aneh"


Tentu saja aneh, kehadiran buku ini dapat memicu pergerakan seluruh manusia yang ada di dunia. Kau terlalu lugu Dilo.


"Aku sedang mencari lembarannya disini."


Dilo langsung mengelus dagunya, keningnya berkerut, matanya tajam.


"Hah? Lembaran?"


"Aku sedang malas menjelaskan."


"Cih. Dasar aneh."


Dilo melanjutkannya dengan membaca buku yang ia ambil dari rak buku di perpustakaan. Nampaknya ia sedang membaca buku Kamus Dial yang sempat Leo singgung saat pertemuan kami di Kota Burzche sebelum kami berangkat menuju Kerajaan Nwara.


Bibirku seketika mengatup dan terpaksa menelan ludah kembali saking bekunya suasana ini. Dilo membuka kembali obrolannya denganku sembari membaca Kamus Dial.


"Lalu Dialmu apa?"


"Itu.... Umm... "


"Kau tidak tahu apa Dialmu?"


"Aku... Tidak memiliki itu."


Kedua pasang mata dari Dilo berpindah dengan cepat menuju ke arahku dari Kamus Dial yang ia baca. Ekspresinya menunjukkan keheranan yang tinggi kepadaku.


"Haaaaa?! Bagaimana caramu bisa masuk ke akademi?"


"Tanyakan saja kepada Tuan Zidane."


Jawabku yang mulai muak dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Dial. Wyrma nampak sibuk membereskan tumpukan kertas yang tak terpakai dan beberapa diantaranya sudah usang. Kertas-kertas tersebut seakan mengatakan bahwa 'buang saja aku'. Aku pun langsung mendatangi Wyrma berniat untuk membantu.


"Bisa kubantu?"


Ia hanya menatapku dan bersikap santai seperti biasanya. Wyrma menaruh tumpukan kertas tersebut tanpa mengatakan sepatah kata pun dan kembali ke meja kerjanya.


"Baiklah, mungkin aku dapat menemukan sesuatu disini."


...-------------...


Teriakan pembawa acara festival mulai bergema di seluruh arena dan saling bersahutan antara Arena Beatles dan Arena Camel. Sorakan dari seluruh penonton membuat acara ini semakin menggelegar di bawah teriknya matahari yang ditemani semilir angin sejuk membawa dedaunan pergi.


"Selamat datang di Festival Rexodinary!!!"


Sahutan sorak-sorai penonton seolah menjawab sapaan dari pembawa acara tersebut.


"Kita akan memulai pertarungan yang pertama! Dari Squadron Thestral....!"


Dari banyaknya penonton terlihat Leo dan Shina sedang membicarakan sesuatu.


"Dimana anak bodoh itu? Sialan."


Keluh Leo membuat Shina menjadi tambah bingung untuk menjawab perkataan dari Leo.


"Sudah~ Kau tinggal tunggu saja Leo. Tunggu dulu... Aku tidak pernah melihat kekuatan orang dari Squadron Thestral."


"Ya. Mereka sangat tertutup terhadap informasi pemilik Dial disana."


"Bahkan orang-orang dari Squadron Augurey pun juga sangat minim informasi."


"Prunus Gareth Duranta IX dan Dios Cristata merupakan orang-orang misterius."


"Kau benar Leo, berbeda dari pemimpin kita yang kekuatannya sudah kita ketahui sejak awal."


"Clero Thompson pengguna Exodial Oksigen Tipe Spesial. Sedangkan Ixora Aster sangat mengerikan dengan Exodial Neon Tipe Spesialnya."


"Dunia ini sangat minim informasi mengenai Exodial. Tidak jelas apa yang dimiliki oleh teknologi Exodial, sangat jarang sekali orang-orang menulis tentang kekuatan Exodial. Aku ingin tahu informasi tersebut."


Sang petarung telah memasuki arena pertandingan. Ia merupakan orang dari Squadron Thestral melawan orang dari Akademi Horizon Kota Osmadth .


Siede Mandu pria yang terlihat polos memakai seragam Squadron Niffler dengan rambut perak khas miliknya merupakan pengguna Dial tipe Kegelapan Reaksi Penambah Massa. Ia digadang-gadang merupakan siswa terbaik di Squadron Thestral yang cukup mahir dalam memanfaatkan potensi Dial miliknya.


Eden Firka wanita dengan rambut panjang hitam lebat merupakan Pengguna Exodial Spesial tipe Xenon, yang merupakan enam unsur gas mulia. Ixora Aster adalah salah satu di antaranya.


"Siapa menurutmu yang akan menang?"


Kata Leo sambil mendelik ke arena tempat Siede Mandu dan Eden Firka berhadapan. Shina termenung. Tatapannya serasa hambar saat menatap para peserta.


Tapi yang Shina pikirkan adalah cara mengalahkan Eden Firka yang kekuatannya serupa dengan sang pemimpin Squadron Leucrotta, Ixora Aster.


"Syarat!"


Ucap Shina membuat Leo tertegun kaget mendengar hentakan sepatah kata dari Shina.


Senyum seringai milik Shina menjelaskan bahwa ia sudah tahu pemenang dari pertandingan ini.


"Siede Mandu akan memenangkan pertandingan ini. Tapi..."


Leo menarik salah satu alisnya seakan mengatakan bahwa pernyataan dari Shina itu salah. Ia menunggu kata lanjutan dari Shina.


"Tapi. Apa?"


"Siede tidak akan menang dengan mudah."


"Mengapa begitu? Exodial adalah hal yang mustahil untuk dikalahkan."


"Kau dengar kabar Garu?"


"Ah... Itu. Maksudmu Garu si penghianat?"


Shina langsung menatap tajam Leo, matanya seakan memperlihatkan isi dari amarah Shina yang membara.


"Garu Inersia kan?"


Sahut Leo melanjutkan perkataannya.


"Inersia... Aku tidak akan pernah melupakan dendam ku pada mereka dan Parade Detoria, akan tetapi Garu itu urusan yang berbeda."


"Lantas mengapa kau menyinggung masalah itu Shina?"


"Dia adalah pengguna Anchentrys yang dikalahkan langsung oleh dua orang pengguna Exodial."


"Maksudmu Exodial bisa saja dikalahkan oleh pengguna Dial biasa?"


"Benar."


Leo sekejap melepaskan pandangannya dari Shina. Ia kembali memasang pandangan ke arah petarung.


"Menarik."


Wasit sudah mulai memasuki arena. Gemuruh penonton mulai bergaung di seluruh arena. Kemeriahan yang tak tertandingi oleh festival manapun.


Siede Mandu berdiri tegak dan melambaikan tangannya. Sifat pemalu Siede terlihat ketika ia melambaikan tangannya ke arah penonton.


Sorak-sorai penonton menyelimuti kedatangan Eden Firka dari Kota Osmadth. Eden terlihat sangat datar dan hanya memberikan penghormatan untuk lawannya saja.


Wasit membicarakan tentang ketentuan untuk para petarung. Yaitu:


-Dilarang membawa alat komunikasi apapun.


-Peserta diperbolehkan menggunakan senjata atau teknik bertarung selain Dial maupun Exodial.


-Penggunaan Anchentrys akan membuat pengguna tersebut langsung didiskualifikasi dan tidak dapat mengikuti Festival Rexodinary seumur hidup.


-Dilarang membunuh lawan.


-Keputusan wasit adalah mutlak.


Setelah menjelaskan aturan tersebut wasit langsung mengambil aba-aba untuk memulai jalannya pertandingan di Arena Beatles.


"Siap?"


Kedua peserta langsung mengangguk sambil menatap satu sama lain dengan tajam.


"Mulai!"


Dengan sigap keduanya langsung melompat jauh ke belakang masih dengan tatapan yang tajam satu sama lain.


Eden merentangkan tangannya ke samping kemudian mencakupkan tangannya ke depan. Ini dilakukan Eden untuk memulai persyaratan pertama Exodial yang dimilikinya.


Angin langsung berhembus setelah cakupan tangan yang kencang dari seorang Eden Firka.


Tapi...


Siede langsung sigap untuk mengeluarkan kertas-kertas kecil yang disebarkan di hadapan Eden.


"Apa?"


Siede mulai menunjukan senyuman mengerikan miliknya. Eden tertegun kaget melihat Siede yang awalnya seorang pemalu, kini menunjukan ekspresi iblis miliknya.


"Exodial!"


"Pengaktifan!"


"NGUUUNG!"


Kilatan cahaya tiba-tiba mengisi seluruh arena dan membuat semua orang menjadi buta sementara karena kilatan tersebut. Siede terkena dampak dari kekuatan Eden Firka.


Eden memasang kuda-kudanya dengan kuat dan bersiap untuk memukul Siede.


"Tinju Astaroth."


Tarikan nafas dari Eden Firka terdengar keras mengisi seluruh arena.


"Suara apa itu?"


Teriak penonton yang saat ini tidak dapat melihat apa-apa.


"Tangan pertama! Tangan Kesenangan!"


...101-The Book...


...************...