
...********...
"X! Shina! Leo! Lama tak berjumpa!"
Lengkingan Zara sambil berlari bersama Tuan Gazef yang tertatih-tatih mengikuti Zara dari belakang.
"Tuan Putri! Anda harus berhati-hati."
Sahut Tuan Gazef.
Dalam sekejap, teriakan Zara membuat seluruh pasang manik mata memperhatikan kami dengan seksama. mereka begitu heran melihat kami yang nampak akrab dengan Tuan Putri Zara.
"Apa yang kau lakukan disini X?"
Sapa Zara sambil memperhatikan sekeliling.
"Bau ini... Bukankah ini bau roseus Gazef?"
"Benar Yang Mulia."
"X! Kau mencoba meminum ini?"
Lanjut Zara yang menunjukan raut muka kusut seperti melihat bajingan nakal. Aku tahun ini berumur 17 tahun, lagipula aku hanya ingin mencoba apa yang diminum oleh orang dewasa bukan? Ini terkesan sangat aneh dan menyusahkan untuk anak seumuran Zara.
"Aku h-hanya ingin mencobanya."
Jawabku sambil memalingkan pandangan ke sekitar pedagang yang sedang memperhatikan kami.
"Hehei lihat! Wajah X memerah seperti kepanasan!"
Ejek Leo dengan senyum lebar mengitari setengah wajahnya. Shina langsung tertawa kecil sambil menangkup bibir kecilnya.
"Zara, kami ingin meminum ini sebagai tanda persaudaraan kecil kami."
Jawab Shina sambil mengelus kepala kecil Zara. Dengan perkataan dari Shina yang sangat lembut, Zara perlahan mulai tersenyum kecil. akan tetapi itu tak berlangsung lama. ia mulai melipat tangan di depan dan memalingkan wajahnya sembari merajuk kepada kami.
"Sudahlah Tuan Putri, mereka sedang merayakan pertemuan kembali setelah 1 tahun menempa diri di masing-masing squadron."
Tuan Gazef mencoba untuk menenangkan Zara Hevilia yang sedang merajuk dan Zara perlahan mulai menurunkan tangannya.
"K-Kalian tidak dalam satu squadron?"
Tanya Zara dengan wajah yang perlahan memerah.
"Memang kami tidak dalam satu squadron, akan tetapi persahabatan membuat kami semakin kuat Zara, berkat tekad dan ketekunan kami dalam berlatih."
Leo yang sangat percaya diri membuat kami tidak mendapatkan kesempatan untuk pamer di depan Zara.
"Heh? Apa kau yakin?"
Jawaban Shina seperti menuangkan minyak ke dalam api yang sedang berkobar.
"Apa?! Itu sudah jelas dibandingkan dengan orang-orang yang berlatih di Maddinia!"
Kucuran minuman roseus yang dituangkan ke dalam gelas terdengar nyaring, pedagang minuman itu langsung menghampiri kami bertiga.
"Sudah, sudah. Ini minuman kalian. Tidak baik untuk bertengkar sesama teman kan?"
Kami seketika membisu ketika dibawakan minuman oleh pedagang tersebut.
"Ah... Terimakasih pak. Maaf sudah membuat gaduh daganganmu."
"Tak apa... Maaf jika saya tidak sopan. Perkenalkan saya Adjei Sracus. Saya adalah pedagang keliling."
Jawab pedagang tersebut sambil menyodorkan tangannya untuk berkenalan. Aku pun menjabat tangannya yang lusuh dengan lembut.
"Aku X dan ini teman-temanku Shina dan Leo."
"Kalian lucu sekali... Ah! maafkan hamba jika lancang yang mulia!"
Ia membungkuk di hadapan Zara Hevilia.
"Tak perlu dipusingkan."
Balas Tuan Gazef. Adjei mengangkat kepalanya dan kembali membersihkan lapak dagangan yang terlihat kusuh. Ia menatap kami yang hendak bersulang untuk pertemuan kembali kami dengan senyum yang lebar.
"Daun baru telah tumbuh. Kebenaran akan mulai terungkap. Apa yang akan terjadi selanjutnya?"
"Hei! Apa yang kau pikirkan?"
Sentilan kata dari Tuan Gazef membuat Adjei mengejang kaget.
"M-maafkan hamba Tuan!"
Tuan Gazef melanjutkannya dengan menatap Adjei Sracus dan memilih untuk tidak menghiraukannya.
"Untuk pertemuan kita kembali!"
"Untuk pertemuan kita!!!"
Kami meminum dengan lahap minuman roseus yang telah diberikan oleh Adjei Sracus.
"Terimakasih minumannya Adjei!"
"9 Bechtel. Kau tidak lupa membayar kan X?"
Sela Shina kepadaku sebelum pergi. Akupun langsung membuka isi dompetku dan mengeluarkan uang sebesar 9 Bechtel. Yah kali ini tidak apa untuk teman-temanku~
"Terimakasih telah berbelanja di sini!"
Kata yang terlepas dari Adjei Sracus sebelum kami berpisah. Kami membalasnya dengan lambaian tangan. Zara dan Tuan Gazef mengikuti kami untuk melihat papan pengumuman pertandingan Rexodinary di pusat akademi.
"Kau dengar? ini Adjei Sracus, Mereka di sini."
...--------...
Kami berjalan menyusuri berbagai macam pedagang yang terdapat di sekitar tempat berlangsungnya Festival Rexodinary.
"Bagaimana latihanmu di Squadron Niffler?"
Tanyaku kepada Leo.
"Ah~ Itu. Aku seperti disiksa. Clero itu adalah bocah maniak bertarung. Gamacuz seakan seperti neraka jika ia tidak sedang menjalankan misi."
"Ixora juga membuatku tersiksa di Maddinia. Hah~"
"Hei apa sehebat itu orang-orang dari Squadron Leucrotta?"
"Apa?! Pemimpinmu itu hanya maniak bertarung, jangan samakan dengan Ixora!!"
"Apa katamu?!"
Yah~ seperti biasanya. mereka adu argumen tentang apapun dan saling tidak mau mengalah. Aku pun harus menampar punggung mereka berdua untuk meredakan peperangan antar 'yang paling hebat'.
"Kalian berdua sudah cukup hebat. Cukup diam dan amati ketika bertarung nanti"
Mereka melihat aku dengan heran yang tiada batas.
"Tubuhmu... Sedikit berotot X dan... Sejak kapan kau sebijak ini?"
Ucap Leo sambil mengelus dagunya.
"Bagaimana latihanmu di Pandora X?"
Lanjut Shina.
"Ah~ Itu..."
Setiap seseorang yang berkata tentang Pandora, yang terpikirkan olehku hanyalah wajah Vahra Helheim yang meninjuku dengan Tinju Astaroth.
"Kalian lihat saja nanti."
Jawabku yang mencoba untuk sombong di hadapan mereka.
Tangan Leo langsung mengunciku dengan erat, sedangkan Shina memukul perutku tanpa ampun. Mereka sangat kesal dengan perkataanku yang nampak meremehkan mereka berdua. Kemampuan berbicaraku sudah lebih baik jadi aku berikan saja jurus untuk membuat mereka bisu. Perasaan bingung mulai menyelimuti pikiran Tuan Gazef dan Zara, akan tetapi mereka hanya tertawa melihat ulah kami yang sangat brutal.
Tak lama setelah memukuli ku, terdengar dengusan Leo yang meringis pelan. Perasaan hampa dan terhina mulai menyelimuti pikiran mereka berdua. Entah karena ucapanku barusan atau gejolak dalam diri yang menguasai mereka sebelum bertarung besok. Suara keramaian mulai meraung-raung di pusat akademi. Khalayak ramai membuat suara tersebut makin jelas bahwa disana terdapat pengumuman tentang pertandingan besok.
"Permisi!"
Butir kata yang keluar dari bibir Leo membuat seluruh pasang bola mata tertuju ke arah Leo. Bisikan yang terdengar halus akan tetapi jelas mulai bergaung diantara para murid akademi.
"Bukankah mereka dari keluarga Delonix Regia dan Ishtar?"
"Lantas siapa yang membawa buku dan pistol aneh itu?"
"Entahlah... Mungkin mereka menjadikannya pesuruh untuk membawakan senjata dan bukunya."
Aku tidak terlalu memperdulikan suara dari katak yang berbunyi ketika hujan turun. Yang ku pedulikan hanya siapa lawanku untuk pertandingan besok. Zara sangat antusias melihat siapa yang hendak dilawan oleh trio ini. Ia sangat bertaruh denganku. Tuan Gazef pun demikian.
"Mereka keterlaluan."
Gumam Shina sambil melihat sekeliling. Ia memamerkan tatapan dingin di kerumunan.
"Baiklah apa yang kita dapat di sini?"
Papan pengumuman sudah terlihat jelas dihiasi dengan sentuhan lembut dari sinar mentari sore yang hangat. Langit berwarna jingga menandakan bahwa firasat baik akan datang hari ini. Tulisan papan pengumuman bercampur dengan warna langit terlihat jelas bahwa di sana terdapat beberapa fase grup. Grup A yakni ada empat pertandingan dan Shina kali ini masuk kedalam Grup A melawan Ziav Nkrumah dari Akademi Sanofiz, Kota V-Parture. Aku melawan Gauri Milodia dari Akademi Horizon Kota Osmadth. Sedangkan Leo melawan Genewa Derim dari Squadron Thestral Akademi Oxitrone.
Seluruh bagian tubuhku seketika membeku kemudian bergetar hebat melihat bahwa lawanku berasal dari Kota Osmadth. Tidak hanya itu Kota V-Parture kali ini akan unjuk gigi juga untuk memperlihatkan orang terkuat di akademi mereka. Oxitrone mengirim kami untuk beradu di dalam arena pertarungan. Hah~ menjadi demam panggung itu sangat menyusahkan bagiku.
...101-The Book...
...**************...