
...****************...
Sebulan telah berlalu kini aku, Shina dan Leo sudah bersiap untuk masuk ke Akademi Oxitrone yang dimana Akademi ini berisi siswa pengguna Dial yang sangat kompeten. Kami tinggal di kerajaan selama sebulan ini sambil mencari lembaran buku yang aku punya di pustaka kerajaan. Kau tahu? Hasilnya nol besar. Aku sempat menyerah mencari lembaran ini, akan tetapi ada tempat di kerajaan Nwara yang belum aku kunjungi. Di sana mungkin aku bisa menemukannya.
...----------------...
Hari ini sangat cerah. Aku, Shina dan Leo tentunya sangat bersemangat untuk memulai pelajaran kami di Akademi Oxitrone.
“Kau nampak bersemangat X! Aku senang kau seperti ini.”
Kata Shina sambil menoleh ke arah Akademi.
“Ahh! Jangan memuji X, dia masih seperti anak kecil yang suka dengan permen. Wajar saja dia seperti itu.”
Sahut Leo dengan ejekan.
“Aku tahu kau sangat iri denganku Leo hahaha!”
Sahutku.
“Apa?! Kau ingin ku pukul, pembawa pistol mainan?!”
“Hah?! Kau cari masalah?!”
Selagi kami berdebat dan saling ejek, dari kejauhan terdengar seseorang yang memanggil kami.
“Kalian nampak akrab ya?”
“T-Tuan Gazef?!”
Ya benar itu adalah Tuan Gazef yang datang menjeput kami untuk mengurus pendaftaran di akademi. Untuk seorang pendatang kami merasa tidak pantas diantar oleh komandan pasukan tertinggi di Kerajaan Nwara. Hah~ ini sangat merepotkan untukku.
“Kalian sudah siap untuk masuk akademi ya~ X, Shina dan Leo. Kalian sangat dewasa.”
Shina pun berkata.
“Dewasa apanya…”
“APA?!”
Teriak kami berdua kepada Shina.
“Sudah, sudah ayo kita masuk untuk mengurus administrasi.”
Sela tuan Gazef yang sangat tenang.
...----------------...
Kami pun masuk ke akademi dan tentu saja banyak siswa dan siswi melihat dengan terkejut sambil membicarakan kami. Hal ini sangat wajar karena kami diantar langsung oleh Tuan Gazef.
“Aku akan mengantar kalian ke Ruang Aspiqum.”
Jelas Tuan Gazef sambil berjalan menuju ruangan tersebut. Kami terdiam dan kebingungan atas apa yang dikatakan Tuan Gazef kepada kami.
“Ah… Aku lupa kalian pendatang. Jadi Aspiqum itu adalah pemimpin akademi, yah semacam kepala sekolah.”
“M-maafkan kami Tuan Gazef. Kami benar-benar tidak tahu apa.”
Kata Leo sambil menggaruk kepalanya.
...----------------...
Kami mulai masuk ke Ruang Aspiqum yang di dalamnya berisi banyak buku dan berisi ruang para master di dalamnya.
“Wah wah wah~ Lihat siapa yang datang, mantan siswa terbaik di Akademi Oxitrone.”
Sambut pria dengan rambut panjang diikat dan penutup mata di sebelah kiri.
“Halo Tuan! Senang bertemu dengan anda.”
Sahut Tuan Gazef.
“Ada masalah apa sehingga komandan pasukan tertinggi di Kerajaan Nwara turun kesini?”
“Ini perintah dari Yang Mulia, aku ditugaskan untuk memasukan anak-anak ini ke akademi.”
Pria ini pun terdiam dan melihat kami dengan serius dan tatapan dingin. Kami mengalihkan pandangan kepada pria ini. Dia sangat menakutkan.
Sambil menarik nafas ia berkata.
“Namaku Heryn Zidane Brazcue, kalian bisa panggil aku Zidane, aku Aspiqum di akademi ini. Aku minta satu persatu dari kalian tinggal diruangan ini aku akan menguji sebentar.”
Kami menatap satu sama lain.
“Baiklah aku yang pertama Tuan Zidane.”
Sahut Leo dengan semangat. Tuan Zidane langsung menurunkan kepala menatap Leo dengan senyuman menyeringai di wajahnya.
“Ayo keluar.”
Kata Tuan Gazef.
Dalam pikiranku nampaknya ada yang salah dengan Tuan Zidane. Apa Leo akan baik-baik saja? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Selagi masih berperang dalam pikiranku sendiri Tuan Gazef memegang pundakku dengan lembut.
“Dia akan baik-baik saja. Tuan Zidane adalah Aspiqum di Akademi Oxitrone. Jangan pernah ragu sedikitpun, X.”
Aku mulai mengerti apa yang dikatakan oleh Tuan Gazef, nampaknya aku sudah lebih tenang sekarang. Shina terlihat tersenyum kecil di wajahnya.
...----------------...
Leo sudah keluar dari Ruangan Aspiqum Oxitrone.
“Apa yang kau lakukan disana Leo?”
Tanyaku.
“Luar biasa…”
Sahut Leo dengan tatapan kosong. Tatapan Leo mencerminkan ada yang aneh disana.
Kini giliran Shina untuk masuk ke ruangan Tuan Zidane.
...----------------...
Sampai pada giliranku. Dengan langkah kaki yang ragu aku mulai masuk ke ruangan Tuan Zidane. Nampak disana tidak ada yang aneh ruangan sama seperti tadi. Terdapat beberapa master yang mendampingi disana.
“Hmm. Disini tidak ada yang aneh.”
Pikirku dalam hati.
“Kemarilah.”
Sambut Tuan Zidane.
“B-baik Tuan.”
“Nama?”
“X…”
“Hanya X? Bagaimana cara orang tuamu memberi nama?”
“…”
“Baiklah semua keluar dari ruangan ini! Termasuk para master.”
POV Heryn Zidane Brazcue
“Ada yang aneh…”
“Disini tidak ada orang, siapa nama mu?”
“Umm itu…”
“Aku akan menggunakannya.”
“Pengaktifan”
POV X
Tiba-tiba Tuan Zidane membuka penutup mata yang ia pakai. Salah satu matanya nampak bersinar berwarna ungu. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya.
“Baiklah X! Aku akan mengujimu. Kau nampaknya memiliki senjata yang bagus.”
“Umm… Kurang lebih begitu Tuan.”
“NGUUNG!”
“Perwujudan Wilayah! Istana Sang Penjudi Takdir!”
Tiba-tiba seisi ruangan menjadi tanah yang lapang berisi papan rolet yang sangat besar dan berisi 2 patung menyerupai setan.
“Tidak!!! Ini terlalu berlebihan.”
Kataku di dalam hati.
“Kau akan memakai senjata mu?”
“CKLAK!”
“Apa maksudmu Tuan? Tentu saja!”
Sahutku sambil mengisi ulang Chromo.
“Perlihatkan padaku seberapa pantas kau untuk masuk akademi ini!”
Selagi Tuan Zidane mengobrol aku langsung mengaktifkan Chromo Farium dan menarik pelatuknya.
“DUAR!!!”
Tuan Zidane pun berlari ke arah papan rolet yang ada di belakangnya sambil menghindari tembakan Chromo.
“DOOM!”
“Hahaha tidak heran ini senjata buatan 3 Entitas Agung. Daya ledak ini sangat mengerikan!”
Sanggah Tuan Zidane sembari memutar papan rolet raksasa yang ada di wilayahnya.
“SET!”
“WUSH!!!”
Angin dari putaran papan rolet raksasa sangat besar. Cukup untuk menerbangkan seekor gajah.
“DUAR!!!”
Desingan dari Chromo lagi. Aku menggunakan tembakan dari Chromo untuk menahan angin dari arah berlawanan.
“50!”
Sahut Tuan Zidane.
“Hahah! Aku bertaruh 50 tahun dari umurku untuk menggunakan kekuatanku!”
“BRUAK!”
“WUSH!!!”
Tuan Zidane memukul tanah di sekitarnya. Raut wajahnya sangat mengerikan dengan senyuman hasrat pembunuh. Setelah itu dia melanjutkan serangannya dan tercipta mahluk sangat besar di belakangnya.
“Tinju Astaroth. Tangan Pertama!”
“Chromo tembak!”
“DUAR!”
Serangan kami berbenturan satu sama lain hingga menghasilkan gelombang kejut yang sangat besar. Kami terhempas ke arah berlawanan. Aku mencoba menahan posisiku agar tidak terhempas jauh.
“Wah wah wah. Senjata itu cukup merepotkan bukan? Kau nampaknya sudah kalah X.”
“Ap- Argh!!!”
Ya… kakiku sudah patah. Aku tidak bisa menahan gelombang kejut sebesar itu. Lagipula kekuatan macam apa yang dimiliki Tuan Zidane? Papan rolet di belakang Tuan Zidane mulai berputar lagi dengan sangat kencang.
“TUT!”
“DING!”
Papan itu berisi tulisan “WIN”
“Apa-apaan kekuatan itu…”
Tuan Zidane mendekat ke arahku sambil memegang kedua pundakku. Wilayahnya pun menghilang dengan sendirinya menjadi Ruang Aspiqum seperti semula.
“Kau masih bisa berkembang… X! Aku tahu itu.”
“Pengaktifan!”
"NGUUNG!"
“Kaki ku?! K-kembali?!”
“Kerja Bagus X!”
...----------------...
Setelah proses ujian tadi yang sangat mengerikan. Shina dan Leo dipanggil kembali ke Ruang Aspiqum.
“Baiklah aku sudah terlalu banyak bermain dengan kalian, sangat menyenangkan! Hahaha! Aku telah memilih squadron yang cocok untuk kalian.”
Dengan mata kosong dan nada mengeluh kami berkata dalam hati.
“Bermain katamu…”
“Di akademi ini ada empat squadron yang masing-masing dipimpin oleh pemimpin squadron. Nama dari squadron ini diambil dari nama-nama hewan legenda yang ada pada zaman dahulu.”
“Leo, kau sangat berbakat dalam menggunakan Dial Tipe Wabah. Akan tetapi sikap egoismu akan menghalangi teman-temanmu dan dirimu untuk berkembang. Aku akan memeilihkanmu squadron Niffler yang sangat cocok untuk Dial Tipe Wabah. Sedangkan Shina, sikap penyayangmu memang bagus, tapi itu tidak akan digunakan dalam pertempuran sungguhan. Squadron yang cocok untukmu adalah Leucrotta. Dan X! Aku akan melihat perkembanganmu di squadron Augurey. Aku akan memantaumu setiap hari.”
Jelas Tuan Zidane dengan lantang.
“Woi X! Apa kau membenturkan kepalanya?”
Tanya Leo kepadaku. Aku hanya terdiam dan melihat kakiku kembali. Kekuatan itu adalah kekuatan sejati.
“TOK”
“TOK”
Suara seseorang mengetuk pintu. Itu adalah seorang master.
“Permisi Tuan Heryn! Penjaga perpustakaan datang menemui anda!”
Tuan Zidane tersenyum sambil menutup matanya.
“Biarkan masuk.”
...----------------...
Seorang wanita dengan jubah datang mendekati Tuan Zidane.
“Halo Heryn sayang. Lama tak bertemu.”
“Ah Wyrma. Lama tak bertemu gorila.”
“Apa?! Kau menyebutku gorila? Dasar mata satu!!”
Setelah percakapan tersebut wanita ini memandang ke arahku dengan sangat lama dan berkata.
“Lho? Agnis?”
...101 - The Book...
...****************...