
Suasana hari berikutnya sangat berbeda, bagaimana tidak orang-orang dari seluruh Nirz datang berkumpul untuk menyaksikan Festival Rexodinary yang sangat megah ini. Berbagai hiasan lampion menghiasi jalan di sekitar tempat para pedagang berkumpul. Arena tempat kami bertarung dinamakan Arena Beatles, sedangkan pertarungan untuk divisi umum berada di Arena Camel.
Kami berjalan menuju Arena Beatles dan yang pertama mendapatkan giliran bertarung adalah Leo Delonix Regia, ia sangat bersemangat dalam mengikuti ajang perlombaan ini. Dari kejauhan terlihat Clero Thompson, ketua Squadron Niffler yang datang dengan maksud untuk mencari orang kuat lalu ditantang untuk bertarung. Kebiasaan yang sangat aneh untuk seorang ketua squadron. Kami mengabaikannya dan fokus untuk mempersiapkan diri dalam pertarungan nanti
"Wah! Kau nampaknya melawan musuh yang kuat X."
Ucapan pertama yang dilontarkan oleh Shina membuatku makin gugup sebelum menghadapi lawanku nanti.
"Awas saja kau menggunakan Chromo Farium dengan konyol!"
Lanjut Leo yang tidak membiarkan kata dari Shina jatuh begitu saja.
"Kota V-Parture ya? Hmm... Aku tidak pernah mendengar nama ini."
Kening Leo langsung berkerut melihat nama yang terpampang di papan pengumuman. Memang ia berasal dari Kota V-Parture keluarganya merupakan orang yang berpengaruh di kota tersebut. Jika Leo berasal dari V-Parture maka ia tidak harus mengenal semua orang yang berasal dari sana bukan? Leo terkadang memang zero logic.
"Hei! Kalau kau sampai kalah aku akan menghajarmu."
Ucap leo dengan pandangan mata beringas bak hewan buas.
Aku hanya mengangguk kecil di hadapan Leo dan Shina. Seperti biasa mereka tidak menghiraukanku lagi. Mereka tampaknya sangat yakin ketika sahabatnya bertarung. Kepercayaan mendasari semua ini, bahkan tanpa alasan satupun.
...----------------...
"Kau mau permen?"
Pertanyaan yang sangat aku nantikan selama ini. Aku bahkan lupa bahwa mengisi ulang insulin itu sangat penting. Permen adalah jawabannya! Mengupas bungkus permen merupakan hal yang sangat memuaskan, terlebih permen itu dibuat di Kota Osmadht yang merupakan penghasil permen utama di Negara Nirz. Leo sangat mengerti bagaimana cara memperlakukan sahabatnya.
"Kau jadi lupa dunia. Dasar bodoh"
Sahut Shina sambil melipat kedua tangannya di depan sembari menatapku.
"Bagaimana lembar buku selanjutnya apa kau sudah menemukannya?"
Leo bertanya demikian dengan kegusaran yang menyelimuti pikirannya.
"Aku akan mencarinya di Perpustakaan Agung Kerajaan Nwara sebelum pertandingan nanti sore."
"Kenapa kau tidak menanyakannya ke Wyrma saja? Dia kan penjaga perpustakaan?"
"Jika menanyakan buku ini di keramaian, pasti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Leo."
Dengusan yang berbau putus asa dariku membuat Leo berpikir dua kali untuk memberikanku saran dalam pencarian lembar buku yang aku bawa.
"Baiklah, mungkin hanya kau saja yang dapat menyelesaikannya X."
Yup, memang benar jika urusan buku ini hanya aku yang dapat mencarinya, sebab lembaran dalam buku ini dapat dibaca ketika lembaran itu sudah terpasang di buku ini. Jika lembar awalnya saja kau hanya bisa menemukan pengetahuan umum saja. Dengan teknologi di buku ini, sinar biru yang dipancarkan dari pinggiran pengunci dapat mengungkap isi sebenarnya dari lembar buku yang sudah didapat.
Setelah mengobrol santai dengan Shina dan Leo aku mulai memisahkan diri dari mereka untuk berangkat menuju Perpustakaan Agung Kerajaan Nwara. Mereka sudah sepakat untuk bertemu sebelum pertandingan berlangsung di Arena Beatles.
Dalam perjalanan menuju Perpustakaan Agung Kerajaan Nwara aku berpapasan Dios Cristata dan Ixora Aster yang sedang mencoba beberapa permainan khas festival. Dios memberikanku beberapa permen lagi untuk bekal saat menonton pertandingan.
...----------------...
Setelah berjalan beberapa menit menuju Perpustakaan Agung Kerajaan Nwara, aku disambut baik oleh penjaga perpustakaan, Wyrma Ashiagra. Senyum kecil milik Wyrma langsung membekas di hatiku. Lebih manis dari permen yang diberikan Leo kepadaku. Sepertinya insulinku melonjak naik.
Senyuman tipis di bibir Wyrma perlahan memudar diiringi dengan kerut dari dahinya yang hendak menanyakan perihal keberadaanku disini.
"Lho? Bukankah kau X? Kau tidak mengikuti pertandingan?"
"Umm... Ya memang benar aku mengikuti pertandingan, tapi... Aku ingin mencari sesuatu disini."
Wyrma melanjutkan pertanyaanku dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Keningnya makin mengkerut setelah mendengar lontaran kata yang kaku, membuatku makin dicurigai.
"Sepertinya kau harus pergi."
Sahut Wyrma makin membuat bibirku membeku dan tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Memperlihatkan buku adalah jalan terbaik untuk membuat Wyrma memperbolehkanku untuk masuk ke dalam Perpustakaan Agung Kerajaan Nwara.
"I-ini adalah hal yang akan aku cari di dalam."
Sahutku sambil menunjukan buku yang aku bawa.
Ekspresi Wyrma langsung berubah menjadi kaget tak terbendung. Bagaimana tidak? Buku ini adalah saksi bisu dari sejarah yang telah ditutupi oleh pemerintah Negara Nirz yang menebarkan tirani selama bertahun-tahun.
Aku hanya bisa mengangkat bahu sebagai bentuk ketidaktahuanku selama ini. Aku tidak terlalu mau membicarakan benda yang dapat membuat seisi dunia bergerak.
"Ayo masuk. Buku disini adalah buku-buku terbaik di dunia kau mungkin bisa menemukan lembaran sisa dari buku ini."
...----------------...
"Apa? Apa ini benar-benar perpustakaan? Terlalu megah kurasa..."
Senyuman Wyrma yang berbau kesombongan mulai tercium disekitarku. Dia jelas-jelas menampakkan wajah sombongnya itu sambil berusaha memamerkan kemewahan yang ada di dalam perpustakaan ini.
"Hahaha. Silahkan nikmati saja buku-buku kami."
"B-baik."
Rak-rak buku yang sangat besar seakan memperhatikanku ketika berjalan melihat isi dari perpustakaan ini.
"Ini... Sangat apik..."
"BRUK!"
Aku sangat yakin bahwa tidak ada langkah kaki yang terdengar menghampiriku. Aku terlalu fokus memanjakan mataku dengan buku-buku yang tersusun rapi.
"Hei. Matamu melihat kemana sih?!"
Sahut seorang lelaki dengan rambut pirang sembari mengambil buku-bukunya yang terjatuh berhamburan.
"M-maaf. Aku tidak sengaja."
"Jika permintaan maaf dapat menyelesaikan masalah, harusnya kau tidak masuk penjara waktu itu kan... X?"
"M-maksud mu?"
"Dengar rakyat jelata! Menyentuhku adalah hal yang tabu untuk manusia kotor sepertimu!"
"Siapa kau? Bagaimana kau tahu namaku?"
Derap langkah kaki menghampiri kami dari kejauhan dengan irama yang sangat cepat berbau kemarahan. Itu adalah Wyrma. Apa suaraku terlalu keras? Ah tidak! Aku baru ingat ini adalah perpustakaan.
"Hei. Kalian tahu bagaimana cara menjaga mulut besar kalian di perpustakaan ini?"
Nada yang berat terdengar nyaring di telinga kami. Suara Wyrma mencerminkan bahwa ia benar-benar seseorang yang sangat pemarah. Perlahan kerutan di kening Wyrma mulai meredup, kini ia mulai tersenyum kembali untuk menasihati kami.
"Belakangan ini banyak orang-orang mencurigakan yang masuk ke perpustakaan ini. Jadi..."
"Jadi?"
"JANGAN MENAMBAH BEBANKU DASAR ORANG BODOH!"
Dentuman suara hentakan meja berusaha menghancurkan kedua pendengaranku. Wyrma kembali mengelus dadanya untuk menurunkan emosi. Tangan gemetar milik Wyrma berusaha meraih segelas air dari meja terdekat.
"Ah~ Kau juga jangan sembarangan mencaci orang disini Dilo Grareth Duranta!"
"Gareth Duranta?"
Nama ini mulai menari-nari di dalam pikiranku. Sepertinya nama itu mirip dengan seseorang.
"Baik. Maafkan aku X."
Sahut Dilo Gareth Duranta dengan dengusan malu di hadapan Wyrma.
"Sepertinya namamu cukup familiar di telingaku?"
"Mungkin kau pernah mendengar nama Prunus Gareth Duranta IX... Itu adalah kakakku."
"Apa?!"
Bagaimana bisa bajingan ini adiknya Prunus yang sangat ceria itu?
...101-The Book...
...*************...