
...----------------...
Kami telah sampai di Pandora, tempat yang sangat dingin diselimuti salju yang sangat bersih bebas dari hiruk pikuk kegiatan masyarakat layaknya wilayah yang tak terjamah. Jika kau membawa es krim ke sini mungkin kau tidak akan kehilangan es krim mu selagi megobrol sampai berjam-jam. Ini sangat berbeda dari tempat tinggalku di Kota Burzche yang banyak polusi serta pemerintahan yang membosankan.
“Kau perlu ini.”
Dios menggantungkan jaket tebal ke pundak ku sambil melintangkannya disekitar punggung ku.
“T-terimakasih.”
Sahutku dengan nada naik turun karena perpindahan suhu yang sangat mendadak membuat mulutku menggigil hebat bak suara helikopter terbang.
Pandora dahulu merupakan dataran yang sangat luas berisi rumput dan semak layaknya sabana di daerah Mattium, akan tetapi setelah terjadinya perang hebat pada 30 tahun yang lalu, tepatnya perang Entitas Agung entah kenapa sebuah Cyberse Link jatuh ke tangan pihak akademi. Setelah Cyberse Link ini hadir di pihak akademi yang sangat minim akan riset dan pengoperasian Cyberse Link, terjadi kesalahan dari pihak akademi dan membuatnya meledak bergemuruh mengisi seluruh area akademi hingga menciptakan keempat musim yang aku lihat saat ini.
Begitulah Dios Cristata menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di akademi sambil melihat pegunungan salju yang terbentuk akibat bencana dari kekuatan Cyberse Link. Pelayan gerbong datang menyambut kami dengan bubur hangat ditambah dengan coklat yang masih panas.
“Terimakasih.”
Sahutku dengan lembut, pelayan itu hanya tersenyum kecil kepada kami yang masih bersemangat karena telah disajikan makanan dan minuman hangat untuk mengembalikan suhu tubuh. Ia berjalan menyusuri gerbong kereta berjalan dengan anggun sembari melayani para master yang hendak menuju Pandora. Ditengah kekaguman ku melihat para pelayan cantik, Dios tiba-tiba menyela dengan lembut sambil memperhatikan pemandangan diuar gerbong kereta dengan salah satu tangan memegang minuman hangat yang disajikan tadi dan menyeruputnya.
“Ah~ Kau… siap kehilangan mereka?”
“Siapa?”
“Leo dan Shina…”
“Kau bercanda? Tentu saja aku tidak siap.”
Kataku dengan tegas sampai tidak sadar memukul meja yang ada di depan kami sambil memeras tanganku. Suara dentuman meja tersebut menarik perhatian seisi gerbong kereta. Beberapa manik mata memperhatikan kami dengan heran.
“Kau terlalu naif, X. Aku kira kau belum cukup untuk masuk ke akademi ini dengan sikapmu yang masih naif.”
Sahut Dios dengan lembut mengalahkan kelembutan salju yang ada di luar gerbong. Dios melanjutkannya dengan memakan makanan yang masih hangat di meja.
“Semua orang akan mati. X.”
Aku pun terdiam mendengar perkataan yang sangat tegas dari Dios sembari melihat kebawah dengan pandangan merengek malu karena aku tidak menyadari hal tersebut dan masih bersikap kekanak-kanakan. Aku mengambil gelas yang berisi minuman hangat dan meminumnya, tanpa sadar minuman ini menjadi dingin karena terbawa emosi mendengar kata yang dilontarkan oleh Dios, aku jadi tidak sempat meminumnya.
“Minuman itu menjadi dingin jika tidak segera diminum…”
Lanjut Dios dengan tatapan tajam kepadaku. Aku pun mulai menyadari maksud Dios memancingku untuk tidak meminum minuman hangat tadi karena ingin memberikan suatu pelajaran.
“…Maka dari itu nikmati selagi masih hangat.”
Dios tersenyum lebar berkata demikian sambil menepuk pundak ku dengan kencang. Sekejap aku menyadari apa yang harus aku lakukan saat ini juga!
“Aku ulangi kata-kataku. Kau siap kehilangan mereka?”
“Aku akan menikmati saat-saat bersama mereka sebelum terlambat!”
“Bagus!”
Dalam hati kecilku aku baru menyadari bahwa pemimpin squadron bukan hanya kuat dalam kekuatan dial saja, akan tetapi mereka sangat kuat dengan ideologi, mental maupun fisik. Saat itu juga aku mengagumi sosok yang ada tepat di depan bola mataku, melihat keajaiban dari sesosok pemimpin squadron membuatku bertanya. Apakah aku dapat melampaui keempat orang ini? Inikah kekuatan dari pemimpin squadron? Aku mungkin tidak bisa melampaui mereka, tapi setidaknya aku ingin bertarung sekali saja dengan mereka.
“Aku memiliki barang bagus yang aku simpan di Kepustakaan Agung Pandora, kamu mungkin tertarik.”
Sahut Dios pada saat aku masih berperang hebat dalam pikiranku. Ini adalah tanda bahwa aku mungkin dapat menjawab beberapa pertanyaan yang tersirat dalam pikiranku sejak perjalanan dari Kota Burzche sampai ke Kerajan Nwara yang aku datangi kali ini.
“Apa itu?”
“Sudah~ kau tinggal datang saja ke sana dan menyelesaikannya sendiri. Lagi pula kau tidak ingin diganggu orang lain kan?”
Dengusan yang beraroma putus asa miliku membuat pemimpin squadron ini menyemburkan tawanya kepadaku. Dios sangat menikmati dalam permainan ‘Membingungkan X’ yang dia lakukan selama di gerbong kereta.
*
“Tujuan kita tinggal 100 meter lagi.”
Aku langsung mengencangkan pegangan pada Chromo Farium dan bersiap untuk berjalan menuju Markas Squadron Augurey yang ada tepat 100 meter kedepan. Dari kejauhan terlihat beberapa orang yang berbaris rapi bersiap menyambut seorang Dios Cristata yang akan datang kembali ke markas.
Desisan suara salju yang terinjak dan suara angin yang bersiul pelan mengiringi langkah kami menuju ke markas.
*
Kami telah sampai di depan gerbang dan seseorang berteriak dengan lantang menyambut kedatangan Dios Cristata.
“Bersiaaap!”
Barisan dari anggota squadron menyambut dengan hentakan kaki yang sangat kencang kemudian berlutut menghadap kedepan dengan hikmat layaknya prosesi militer.
“Selamat datang Dios Cristata.”
Seluruh anggota berteriak dengan kompak sambil mengangkat dagu ke atas dengan menghadap sang pemimpin squadron. Dios langsung mendekatkan bibirnya ke telinga ku sembari menutup mulutnya menggunakan telapak tangan kanannya.
“Mereka memang agak berlebihan. Biasakan saja.”
Bisik Dios yang semakin mendekati akhir kata semakin meringis pelan. Aku langsung memandang para anggota sebagai kumpulan orang-orang aneh yang akan sangat merepotkan. Sekejap aku teringat dengan kata-kata dari Tuan Gazef sendiri dengan nada mengejek itu. Anggota Squadron Augurey serentak memandangiku dengan heran. Sepasang bola mata dari masing-masing anggota seakan mengandung tanda tanya yang mengisi seluruh pasang mata yang menyaksikan saat ini. Sepenting apakah orang ini hingga dikawal oleh Dios Cristata?! Mungkin seperti itu.
“Ayo berkumpul semua di tempat eksebisi!”
Teriak seorang Dios Cristata yang sangat berwibawa membuat beberapa pasang mata berkaca-kaca dan kagum akan keindahan dari pemimpin squadronnya.
“Baiklah Dios!”
Aku langsung berjalan mengikuti arahan dari Dios yang sampai di tempat lapang bersalju dan berisi banyak tetesan darah dimana-mana. Aku langsung membayangkan film horror yang dimana semua penghuni disini adalah pemakan manusia.
“Oh! Maaf X, ini adalah tempat latihan bertarung kami, ini tidak seburuk yang kau pikirkan.”
“Ah~ seperti itu~”
Kataku sambil menggosok bagian belakang kepalaku dengan nada pelan.
Dios langsung mengambil alih dan berada di depan anggotanya denganku. Ia menarik nafas dalam-dalam dan bersiap untuk berteriak sekuat tenaga.
“Kenalkan! Ini adalah anggota baru dari Squadron Augurey, X!”
Sekejap anggota langsung heran dan menoleh satu sama lain dengan perasaan ragu untuk menanyakan hal yang setiap kali anggota baru ditanyakan kepadanya.
“Dia bukan pengguna dial seperti kita! Jadi pastikan kalian bekerjasama dengan baik! Dia adalah X pengguna senjata Entitas Agung!”
Sontak seluruh anggota Squadron Augurey mengatupkan mulutnya dan terdiam untuk beberapa saat. Keheningan terjadi di hadapanku sahutan dari angin bersalju membuat suasana semakin runyam. Aku akan memberikan mereka pengertian! Ya! Sekarang atau tidak sama sekali!
“Halo aku-“
“Horee!!!”
Seluruh anggota tiba-tiba berteriak bersahutan sembari memegang pundak rekan masing-masing. Mereka seperti mengatakan aku tidak percaya bisa melihat ini.
“Dia adalah kaum kita!”
“Augurey!”
Sambutan tersebut membuatku terkejut sekaligus terharu melihat antusias mereka yang bahkan bukan pengguna Dial. 1 hal yang aku pelajari saat ini. Augurey bukan squadron sampah. Melainkan squadron yang terkuat!
...101-The Book...
...****************...