101 - The Book

101 - The Book
Bagian 4 - Percikan Api



...----------------...


"Ayo kabur X!"


Suara Shina yang sangat keras membuatku terkejut saat melamun. Shina menoleh kecil ke kiri untuk menunjukan jalan keluar yang sudah dibuat olehnya.


"Bagaimana kau melakukannya Shina?"


Shina hanya tersenyum kecil ke arahku. Kami berlari sekuat tenaga untuk sampai keluar. Kau bercanda? Bagaimana seorang wanita bisa menghancurkan tembok sekokoh ini? Aku sangat heran bagaimana dia melakukan ini sendiri. Sembari berlari kami bertemu beberapa petugas yang datang untuk menghadang kami dan tentu saja Shina membereskan mereka semua.


Kami akhirnya sampai di sebuah ruang yang sangat tertutup rapat ini seperti brangkas raksasa yang terbuat dari logam mengkilap.


"Ini jalan keluarnya?"


Tanyaku dengan canggung setelah melempar Shina dengan balok kayu utuh.


"Sebelum aku ke ruanganmu aku tertarik dengan tempat ini. Jadi aku tinggal merusak logam dari brangkas ini."


Jawab Shina.


Aku bisa jamin brangkas raksasa ini berisi uang atau harta lainnya setelah melihat tempat yang terkunci rapat seperti ini. Kami memilih untuk masuk ke dalam tempat itu dan memeriksa ruangan tersebut, hingga akhirnya aku menemukan sebuah koper yang lumayan besar dan terkuci rapat.


"Serahkan padaku!"


Sahut Shina dengan percaya diri.


"PLETAK!"


Kunci dari koper itu telah dirusak oleh Shina dengan tangan menyala khasnya. Aku kebingungan dan berjalan membuka koper aneh itu, di dalam koper itu berisi sebuah senjata yang berbentuk balok memanjang menyerupai sebuah pistol.


"Apa ini untuk festival?"


Ejek ku sambil menodongkan pistol itu ke Shina.


"X... Aku seperti pernah melihat senjata ini di sebuah buku!"


Kata Shina sambil terkejut melihat pistol itu berada di sebuah kantor pemerintah Burzche yang kecil ini.


"Tidak, tidak, tidak. Kau pasti bercanda kan? Hahaha"


"Aku serius X!"


"Bagaimana mung-"


"DORR!!!!"


Dengan bodohnya aku mengobrol sambil memainkan pelatuk dari pistol besar ini. Hasil dari tembakan pistol ini sangat-sangat destruktif sehingga menyebabkan seluruh bangunan hampir roboh. Shina nampaknya mengambil sesuatu dari koper itu dan mengajakku untuk langsung pergi dari kantor ini. Sesampainya diluar aku melihat pria yang sedang berhadapan dengan beberapa sisa petugas dan orang yang memberikanku pertanyaan pada saat ditangkap.


"X! Kenalkan ini Leo! Orang yang membantuku untuk mencarimu"


"Serius Shina? Di saat seperti ini?"


"Hei X, namaku Leo!"


Ada orang aneh datang untuk membantuku. Sial. Aku tidak terlalu nyaman melihat orang aneh seperti Leo, tetapi dia sangat membantuku.


"Oke! Saatnya aku unjuk gigi dengan mainan baruku ini!"


Aku menarik bagian atas pistol untuk mengisi ulang peluru yang terasa kosong di dalamnya.


"Apa itu?"


Tanya Leo yang nampak risih dengan bentuk pistol ini


"Kau yakin menggunakan itu X?"


Lanjut Shina


"Let's go!"


Tanpa ragu aku menarik pelatuk dari pistol ini


"DORR!!!"


"DORR!!!"


"DORR!!!"


Dengan daya destruktif setinggi ini, gedung pemerintah ini langsung hancur sebagian dan para petugas terluka parah karena hempasan tenaga dari peluru ini sangat kencang.


"Ayo kabur semua!"


Teriakanku kepada Leo dan Shina.


...----------------...


Kami pun sudah sampai dirumah. Kami duduk di kamar tempat aku dan Shina membuat peluru untuk bahan percobaan kami.


"Ew! Ini sangat berantakan"


"Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa menghancurkan kantor pemerintah hanya dengan kalian berdua saja?"


Tanyaku kepada Leo dan Shina


"Bahahaha!! Itu semua ideku setelah menguji kemampuan Shina"


Jawab Leo congkak dengan idenya yang berhasil .


"PLAK!"


Shina memukul kepala Leo yang sedang berbicara denganku.


"Jelaskan!"


Tegur Shina yang mulai kesal dengan Leo.


"Baiklah. Kau tahu tangan yang bersinar milik Shina itu X?"


"NGUUNG!"


"Aku juga memilikinya X!"


Lanjut Leo sambil menunjukan tangannya yang bersinar itu.


"Ini disebut Dial, dan keluarga yang berpengaruh di dunia memiliki ciri khas dan tipe masing-masing Dial"


"Hm? Dial?"


Jawabku yang masih bingung dengan sistem kekuatan ini.


"Dial merupakan sebuah teknologi yang menggunakan ciri khas dari segala macam senyawa yang dominan di tubuh pemiliknya, dan itu akan tersingkronisasi dengan Dial yang sudah terpasang sehingga bisa menciptakan benda atau reaksi sesuai karakter pemiliknya."


Jelas Leo dengan lantang.


"Oh begitu! Bagaimana dengan milik Shina dan milikmu itu?"


"Miliku adalah Dial tipe Wabah yang memiliki karakteristik Oksidasi. Jadi aku bisa sesuka hati membuat berbagai macam reaksi yang melibatkan pelepasan oksigen."


"Kalau miliku?" Sanggah Shina. Terlihat sangat ingin tahu tentang kekuatannya yang tidak bisa terkontrol selama ini.


"Menurutku, itu Dial yang diciptakan di Kota Mattium, biasanya termasuk Dial tipe Cahaya dan memiliki karakteristik Pemuaian. Kau bisa memuaikan segala macam logam, akan tetapi pisaumu itu sangat unik, yang bisa kau ubah bentuknya sesuka hati dengan Dial milikmu itu."


Jawab Leo.


"Bagaimana caramu merusak semua fasilitas yang ada di kantor pemerintah itu dengan Dialmu?"


Tanyaku yang masih sangat penasaran bagaimana mereka memanfaatkan kekuatannya itu.


"Kau tahu di dalam tembok itu berisi besi? Aku mengoksidasi semua besi yang ada di gedung itu, dan Shina bekerja untuk memuaikan besi yang ada di dalam tembok-tembok gedung sehingga besi berkarat akan hancur ketika memuai! Hahahaha."


"Kau juga yang mematikan listrik disana?"


"100 poin untukmu X! Di dalam kabel pasti berisi logam kan? Aku mengoksidasi semua logam kabel yang ada diseluruh gedung itu, jadi listrik tidak akan tersalurkan dengan baik."


"Sial kau jenius juga Leo!"


Ketika sedang asyik mengobrol dengan Leo, Shina menepuk pundaku dan memberikanku selembar kertas yang didapat dari kotak mainan baru itu. Kertas tersebut berisi tulisan:


......................


"Kami menemukan terobosan terbaru dengan logam Inerium yang kami ciptakan sendiri, ini merupakan senjata yang akan kami wariskan kepada penerus yang akan mengubah dunia. Senjata ini kami berikan nama Chromo Farium. Dengan cara kerja menciptakan gesekan yang dihasilkan dari Inerium dan oksigen sehingga dapat menghasilkan reaksi Fusi dengan pelepeasan energi yang sangat besar. Senjata ini tidak memerlukan peluru karena sudah memiliki peluru tanpa batas. 33"


......................


Setelah membaca lembaran itu aku pun menyadari bahwa ini merupakan senjata yang sangat berbahaya untuk dijadikan mainan. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku dan tangan mulai gemetar tanpa henti.


"Ada apa X?"


Tanya Shina yang nampak cemas setelah aku membaca lembar ini.


"Ini adalah halaman ke 33 dari buku yang aku bawa!"


"Hei teman teman lupakan soal buku, saat ini kita sudah jadi buronan! Kau tidak akan bisa hidup dengan tenang jika terus disini. Kalau kau ingin mencari halaman yang lain mungkin aku tahu tempatnya! Pusat Ilmu Pengetahuan, Kerajaan Nwara."


Jawab Leo yang sangat cemas dengan keadaanku dan Shina.


"Leo benar, kita akan dibunuh dengan mengambil lembar dan senjata ini"


Sahut Shina.


"Baiklah, ayo berkemas! Kita akan menuju Kerajaan Nwara!"


...101-The Book...


...****************...