101 - The Book

101 - The Book
Bagian 12 - Pandora!



...----------------...


Para pemimpin squadron tersebut menatap kebawah tajam sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan terkecuali 1 orang yang tersenyum melihatku dengan mata berbinar cerah mengalahkan sinar matahari yang sangat terik hari ini. 


Tuan Zidane pun mencakupkan tangannya di depan dada.


“X, kenalkan ini para pemimpin squadron yang akan kalian ajak selama studi di Akademi Oxitrone.”


“Ku kira ada hal penting yang akan dibahas… Sial…”


Sahut seorang pemimpin squadron yang mengerutkan wajah sambil melipat kedua tangannya di dada. Tuan Zidane memandang pemimpin itu sambil mengirimkan isyarat “KAU MAU MATI?” dengan senyum menakutkan ke arah para pemimpin.


“M-maksudku ini adalah masalah yang penting!”


Sahut seorang pemimpin squadron sambil memalingkan pandangan kemana-mana dengan keringat disekitar pelipisnya.


“Dios Cristata!”


“Iya Tuan!”


Salah seorang pemimpin berdiri dengan sigap sambil memandang kedepan dengan raut wajah yang takut akan teriakan Tuan Zidane.


“Dia adalah pemimpin Squadron Augurey. X! Kau akan bersamanya menuju wilayah Squadron Augurey!”


“Apa?! Kau benar-benar akan mengirimnya kesana Tuan Zidane? Lebih baik kirim dia ke-“


“Kau mempertanyakan keputusanku Prunus?!”


Sanggahan dari Prunus membuat Tuan Zidane naik darah. Yah~ beliau berkata seperti itu masih tetap dengan aura membunuh khas miliknya dan senyuman itu. Sambil berkata demikian Tuan Zidane tidak menyadari bahwa gelas yang dibawanya itu pecah berkeping-keping hingga membuat suasana semakin kusut mengalahkan kekusutan rambut Zara ketika pertama kami bertemu di Kota Chorgia.


“Ehem~ Kembali ke topik tadi, Dios Cristata merupakan pengguna Exodial jadi dia tahu dasar-dasar penggunaan Dial.”


“Halo salam kenal, X.”


Sahut Dios dengan nada selembut sutra. Mendengar aku masuk ke dalam Squadron Augurey, Prunus langsung menyambar perkataan Dios Cristata.


“Namaku Prunus Gareth Duranta IX, Aku berasal dari keluarga bangsawan. Salam kenal! Hmph!”


Sahut Prunus sambil memalingkan wajahnya ke belakang dengan tangan terlipat di dada.


“Ah kalau yang ini… Namanya Prunus dia pemimpin Squadron Thestral. Dia pengguna Exodial Spesial. Nanti kalian tanya saja kepada mereka tentang kekuatanya.”


“Apa semua pemimpin squadron aneh seperti ini?”


Jawab Leo dengan mata yang sayu sambil memandangi para pemimpin squadron tersebut.


“APA?!”


Tiga orang pemimpin squadron langsung menyembur ke Leo dengan lengkingan bak suara lumba-lumba. Dios nampak tersenyum melihat tingkah kami seisi ruangan. Ia hanya menunduk memejamkan mata sambil tersenyum.


“Haha! Justru karena mereka unik lah yang membuat mereka menjadi pemimpin squadron Leo. Terutama Ixora Aster, pemimpin Squadron Leucrotta. Dia ini perempuan yang sangat suka dengan roseus, Minuman alkohol khas Kerajaan Nwara.”


“Ixora Aster, bertemu denganmu senang Shina.”


“YANG BENAR SENANG BERTEMU DENGANMU!”


Teriakan kami bertiga yang berusaha membenarkan ejaan yang dipakai oleh Ixora.


“Kalian suka minum roseus?”


“Ehem!”


Sanggah Tuan Zidane dengan suara pembersih tenggorokannya itu membuat Ixora mengambil kembali minuman roseus yang dibawanya.


“Yang terakhir dari Squadron Niffler, Clero Thompson. Clero juga pengguna Exodial. Dia sangat tertarik dengan orang-orang kuat sepertiku hahaha!”


“Kau mau bertarung denganku Leo?”


Kata dari Clero sontak membuat Leo menggepal dan gemetar kagum. Yang terlintas dipikirannya adalah saat-saat bertarung bersama Clero yang terlihat memeras tangannya tepat di depan wajah Leo. Tuan Zidane langsung memiringkan kepalanya dan melihat kejadian menarik yang dimana Clero untuk pertama kalinya menantang seseorang untuk bertarung dengannya. Saking kuatnya Clero sangat memilih orang-orang untuk ditantang saat itu juga. Hal ini berarti Leo termasuk ke dalam orang-orang yang diakui oleh Clero bahkan sebelum melihat kekuatan Dial milik Leo.


“Baiklah sudah cukup basa-basinya! Kembali ke markas squadron masing-masing.”


Ajak Dios dengan lembut. Beberapa meter ke utara terdapat sebuah stasiun menuju ke markas Squadron Augurey. Masing-masing squadron memiliki stasiunnya sendiri di setiap penjuru mata angin terdapat stasiun yang menguhubungkan markas squadron ke pusat Akademi Oxitrone. Inilah Akademi Oxitrone yang sangat unggul diseluruh Kerajaan Nwara. Sebelum aku dan Dios berangkat menuju Pandora aku mengucapkan salam perpisahan terlebih dahulu kepada Leo dan Shina. Kami setidaknya berpisah selama setahun kedepan sebelum kami bertemu satu sama lain di Festival Rexodinary. Aku akan mempersiapkannya dengan matang!


Suara desingan dari uap yang dihasilkan kereta menandakan keberangkatanku menuju Pandora, markas Squadron Augurey yang sangat dingin berkat Cyberse Link.


“Umm, Kau tahu apa itu Cyberse Link? Kudengar 4 iklim di akademi terjadi karena Cyberse Link itu.”


Seketika Dios langsung memandangiku dengan mata yang melebar dan wajah memucat. Tatapan Dios nampak kosong dengan memikirkan jawaban apa yang harus diutarakan kepadaku untuk menjawab pertanyaan berbahaya ini. Dios membuka mulutnya perlahan dan menangkupnya kembali.


“Apa kau orang yang dapat dipercaya?”


Jawab Dios dengan halus.


Kereta api kembali mendesis untuk yang kedua kalinya serta piston sudah mulai bergejolak didalam mesin tungku kereta api tersebut.


“Sebaiknya kita bahas di kereta.”


Sahut Dios dengan memalingkan pandangan ke arah kereta apa yang akan berangkat sambil memegang erat-erat tanganku dan menariknya ke gerbong kereta.


“Kembali ke pertanyaan tadi. Apa kau bisa dipercaya?”


“Tentu saja.”


“Kau tahu sistem tukar informasi kan?”


“Ahh. Aku ragu akan hal itu.”


Kataku yang perlahan mengempis seperti balon kehilangan angin di dalamnya.


“Baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu itu jika kau menjawab pertanyaanku.”


Sangat komleks bukan? Yah~ wajar saja, Dios merupakan pemimpin yang jalan pikirannya belum aku ketahui secara pasti. Pandangannya bak burung hantu yang siap menerjang mangsanya dengan senyap, kapanpun ia mau. Sangat susah untuk ditebak.


“Siapa namamu?”


“X”


Jawabku sambil menggeleng memandang ke arah samping dengan bahu yang diangkat.


“S-I-A-P-A  N-A-M-A-M-U?”


Tanya Dios dengan ejaan untuk memperjelas pertanyaannya sambil memandangku lebih tajam lagi. Langsung saja aku perlihatkan buku yang aku simpan di dalam bajuku sambil memandangnya dengan mata sayu.


“Apa ini menjelaskan semua?”


Sahutku sambil menodongkan buku ini tepat di wajahnya. Mata Dios terbelalak dengan kenyataan yang pertama kali ia lihat dalam hidupnya. Seketika Dios menangkup pipiku dan memiringkan kepalaku dengan cepat.


“Kau dapat dari mana?”


“Kau benar-benar tahu konsep pertukaran informasi kan?”


Mulut Dios seketika terlipat ke dalam memalingkan pandangannya kembali ke jendela gerbong kereta yang sedang berjalan.


“Cyberse Link yang aku ketahui hanya sebuah inti murni yang ditemukan berkat adanya distorsi ruang dan waktu, disegel dengan logam Inerium yang langka itu. Untuk selebihnya aku tidak terlalu tahu dengan pencipta Cyberse Link. Sejujurnya aku sangat benci dengan kekuatannya yang mendistorsi segala macam dial jika kita mendekatinya.”


“Berarti itu bisa jadi mengandung suatu gelombang eloktromagnetik kan?”


“Yah dugaanku juga seperti itu X. Kukira pemikiran kita akan jauh berbeda.”


Dalam perjalanan tiba-tiba aku dikagetkan dengan perbedaan suhu yang sangat melonjak turun. Badanku langsung bereaksi kaget dengan penurunan suhu yang sangat drastis ini. Aku menyilangkan tangan ke sekitar badan sambil mengusap-ngusap untuk mengurangi hawa dingin yang merasuk ke seluruh gerbong kereta.


“Apa yang terjadi?”


Tanyaku dengan mulut bergejolak mengalahkan suara mesin kereta api ini.


“Nampaknya kita sudah sampai di Pandora.”


...101-The Book...


...****************...