
[Lee Min Jun POV]
Aku baru tahu kalau nama dia adalah Keyna. Nama yang sangat cantik, secantik pemiliknya. Tapi sayang dia terlalu dingin. Apakah memang sifat dia yang seperti itu? entahlah, tapi dia membuat aku semakin penasaran.
Saat aku hendak melanjutkan perjalanan, aku melihat di kursi yang tadi di duduki oleh Keyna terdapat sebuah tas wanita.
“Keyna pasti tidak sengaja meninggalkan tasnya” kataku
Aku pun segera turun dari mobil dan bergegas menyusul Keyna. Aku mengikuti Keyna dari belakang. Aku mencoba memanggilnya, namun dia tidak dengar. Akhirnya Keyna berhenti di sebuah kamar. Aku pun mencoba menyusulnya.
Saat aku sampai di kamar itu, aku melihat bahwa pintunya tidak tertutup rapat. Aku saat aku hendak memanggil Keyna, aku melihat Keyna sedang memeluk seorang pria. Aku pun tanpa sengaja mendengar percakapan mereka.
“Astaga key, kamu kemana aja? Tiba-tiba menghilang entah kemana. Aku udah cari kamu di dekat cafe, tapi kamu engga ada. Ponsel kamu juga di tinggal di meja tempat kita makan. Kamu kemana aja?” Tanya pria itu dengan nada khawatir
Aku bisa melihat bahwa Keyna sangat menyukai pria itu. Aku dapat melihatnya dari cara Keyna memeluk pria itu dan nada bicara dia saat menjelaskan apa yang terjadi padanya hari ini. Aku pun baru tahu sepertinya perasaan Keyna tidak terbalaskan.
“Dunia tidak adil bagi wanita setegar Keyna” gumamku
Aku tidak ingin mengetahui lebih jauh tentang mereka, aku pun mengetok pintu untuk memberi tahu keberadaan dan tujuanku.
“Maaf Keyna, saya mau mengantar tas kamu. Tadi ketinggalan di mobil saya” kataku sambil mengetuk pintu
Keyna pun menoleh ke arahku dan berjalan menghampiriku.
“Oh iya, thanks” kata Keyna sambil mengambil tas yang aku pegang
“Dia siapa Key?” Tanya pria yang tadi memeluk Keyna
“Oh, ini Lee Min Jun. Tadi dia yang nolongin aku” kata Keyna memperkenalkanku kepada pria itu
“Saya Delwyn. Sahabat Keyna. Terimakasih sudah menolong Keyna” kata pria yang bernama Delwyn itu
Aku diam sejenak memperhatikan pria itu. Memang sih penampilannya sangat fashionable namun sayang kepekaannya tidak sebagus penampilannya
“Iya sama-sama. Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu. Kamu jangan lupa istirahat Keyna” kataku sambil berjalan meninggalkan Keyna dan pria yang bernama Delwyn itu
Aku berjalan meninggalkan Keyna. Entah kenapa melihat Keyna seperti itu membuatku sedikit khawatir. Apakah ini rasa kasihan atau apa? Entah lah, aku juga bingung.
Saat aku hendak menuruni tangga, aku mendengar suara seorang pria memanggilku. Aku pun menoleh ke arah suara itu.
“Delwyn? Kenapa dia mengikutiku?” tanyaku dalam hati
“Hey tunggu!” kata Delwyn sambil berlari
“Siapa nama kamu tadi?” Tanya Delwyn
“Lee Min Jun” jawabku
“Okeh, min jun saya mau mengucapkan terimakasih karena telah menolong Keyna. Berapa rekening kamu? Biar ganti biaya perawatan Keyna” kata Delwyn sambil mengambil ponsel dari kantongnya
“Tidak, saya ikhlas membantu Keyna. Kamu tidak perlu membayar saya” kataku
“Okeh, terimakasih ya. Lain kali saya akan traktir kamu makan sebagai ucapan terimakasih” kata Delwyn sambil berteriak
Aku hanya melambaikan tanganku memberi tanda setuju. Aku pun berjalan menuju mobil dan bergegas pulang.
[Keyna POV]
[seminggu kemudian]
Sudah seminggu sejak salju turun. Dan sudah seminggu setelah kejadian itu. Aku hanya diam di rumah untuk mengontrol perasaan dan pikiranku. Setiap kali Delwyn datang untuk menemuiku, aku tidak pernah menghiraukannya. Aku benar-benar butuh waktu untuk bisa menerima semua itu.
“Huh, lapar” kataku sambil memegang perut.
Selama aku di rumah saja, Delwyn memang rutin mengirimiku makanan. Namun, aku selalu menolaknya. Aku meminta dia membawa lagi makanan yang dia bawa. Kadang dia sengaja meninggalkannya di depan pintu, namun tidak pernah aku ambil. Makanan itu aku biarkan di pintu hingga Delwyn datang lagi keesokan harinya dan mengambil makanan itu untuk di buang.
Aku melihat di kulkas tempat aku biasa menaruh makanan, ternyata stok makananku sudah habis. Bahkan tidak ada lagi yang bisa aku makan. Aku pun terpaksa harus keluar dan membeli beberapa makanan dan barang lainnya untuk stok. Aku segera bersiap untuk keluar. Aku mengenakan mantel yang lumayan tebal untuk melindungiku dari dinginnya udara luar.
Setelah keluar kamar, aku bergegas turun. Ini kali pertama setelah seminggu aku mengurung diri. Aku melihat jalanan yang mulai tidak terlalu ramai. Aku pun bergegas berjalan menuju minimarket. Jarak dari tempat tinggalku ke minimarket tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit.
Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, akhirnya aku sampai di minimarket tujuanku. Aku pun segera masuk dan membeli beberapa barang yang aku butuhkan. Aku juga membeli cokelat hangat yang di sediakan di minimarket itu. Setelah selesai berbelanja, aku tidak langsung pulang. Aku duduk dulu di kursi yang di sediakan di depan minimarket sambil menikmati cokelat hangat.
Saat aku sedang menikmati coklat hangat sambil memandangi jalanan, tiba-tiba seorang pria menghampiriku sambil memanggil namaku.
“Keyna ya?” Tanya pria tersebut
Aku pun segera menoleh ke arahnya. Ternyata dia adalah Min Jun pria yang waktu itu menolongku. Aku tidak menyangka akan bertemu dia disini. Padahal aku berusaha agar tidak bertemu dengan orang yang aku kenal
“Kan betul kamu. Sendiri saja?” Tanya Lee Min Jun lagi
Aku pun hanya mengangguk. Aku tidak berniat untuk berbincang dengannya
Tiba-tiba dia duduk di kursi kosong yang berada di depanku.
“Bagaimana keadaan kamu? Sudah jauh lebih baik?” Tanya Lee Min Jun memulai obrolan
“Cukup, saya tidak ingin kita terlalu kenal. Saya sangat berterimakasih karena waktu itu kamu menolong saya. Tapi tolong jangan berharap kita bisa akrab. Saya tidak berniat untuk akrab dengan siapa pun” kataku sambil berdiri dan membawa semua belanjaanku
“Oh iya satu lagi, untuk biaya rumah sakit saya akan bayar semuanya. Termasuk biaya karena kamu sudah mengantar saya pulang. Berapa nomor rekening kamu?” kataku sambil mengambil ponsel dari tas selempang yang aku bawa
“Tidak, saya tulus membantu kamu. Kamu tidak perlu membayar apapun” kata dia sambil berdiri
Dia pun meraih ponsel yang berada di tanganku dan seperti sedang mengetik sesuatu
“saya sudah catat nomor saya di ponsel kamu dan saya juga sudah catat nomor kamu di ponsel saya. Kalau kamu butuh bantuan saya, kamu bisa menghubungi saya” kata Lee Min Jun sambil memberikan ponselku kembali
Dia pun berjalan meninggalkanku
“Astaga ya Tuhan, manusia jenis apa lagi yang engkau hadirkan di hidupku? Tolong! Delwyn saja sudah membuatku risih. Sekarang Lee Min Jun?” kataku sambil menghela napas
Aku pun segera membawa semua belanjaanku dan bergegas pulang ke rumah.