Winter Girl

Winter Girl
BAB 5



[Lee Min Jun POV]


Hari ini aku harus pergi ke sebuah kota yang cukup jauh dari Seoul. Perjalanannya kurang lebih dua jam. Aku berangkat sangat pagi. Aku pergi karena harus menemui seseorang.


“Akhirnya sampai juga” ucapku saat memasuk pintu masuk kota tersebut


Perutku terasa lapar, karena tadi pagi aku berangkat terburu-buru sehingga aku tidak sempat sarapan. Aku pun memutuskan untuk mencari sebuah restaurant atau cafe untuk sekedar membeli makanan. Sepanjang jalan yang aku lewati, tidak terlihat satu cafe pun yang terbuka. Sampai beberapa menit kemudian, aku melihat sebuah cafe dengan desain yang sangat unik. Aku pun tertarik untuk mengunjungi cafe tersebut.


Aku pun mengemudikan mobilku menuju cafe itu. Setelah memasuki area cafe, aku mencoba mencari tempat parkir. Yah karena ini masih sangat pagi sehingga tempat parkirnya masih sangat sepi. Setelah memarkirkan mobil, aku segera turun dan berjalan memasuki cafe.


Saat aku melewati sebuah mobil yang terparkir di samping cafe, aku melihat seorang wanita tergeletak di tanah. Aku tidak tahu itu siapa. Aku pun mencoba mengecek keadaan orang tersebut.


“Hei! Are you ok?” tanyaku


Namun, wanita itu tidak meresponnya. Aku pun berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya berharap dia akan tersadar. Tapi, dia masih belum sadar. Akhirnya, aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, aku meminta dokter untuk memeriksa keadaanya. Aku merasa iba melihatnya. Wajahnya terlihat sangat pucat. Saat dokter selesai memeriksanya, aku mencoba masuk ke ruangan tempat wanita itu dirawat. Terlihat di wajahnya, dia seperti orang yang habis menangis.


"Apakah dia merasa sangat sakit sehingga menangis?" Tanyaku dalam hati


Aku pun memutuskan untuk membatalkan janjiku dan menunggu wanita itu siuman. Setelah cukup lama, akhirnya wanita itu sadar. Aku baru menyadari bahwa dia sangat cantik.


“Kamu sudah sadar?” Tanyaku saat wanita tersebut mencoba membuka matanya


Aku pun segera menekan tombol yang berada di dekat ranjangnya untuk memanggil dokter. Tidak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa keadaanya. Setelah selesai dokter bertanya apakah dia baik-baik saja. Mendengar percakapan wanita itu dengan dokter membuatku terkejut. Ternyata dia mempunyai riwayat penyakit gula darah rendah. Untung saja aku melihatnya dan segera membawanya ke rumah sakit.


Setelah dokter selesai memeriksanya, beliau pun keluar ruangan. Aku melihat bahwa sepertinya wanita itu memperhatikanku. Aku tidak ingin mendapat image pria tidak sopan saat pertemuan pertama ini. Aku pun menjelaskan kenapa aku bisa menemukannya dan membawanya ke rumah sakit.


“Terimakasih sudah membantu saya” ucap wanita itu


Dia mencoba bangun, namun karena aku melihat kondisinya yang sangat lemah, aku pun menawarkan diri untuk membatunya jika dia membutuhkan sesuatu.


“Dimana ponsel saya?” Tanya wanita itu


“Sewaktu kamu pingsan, saya tidak melihat ponsel kamu. Saya hanya menemukan tas ini” kataku sambil memberikan tasnya


Dia pun mengambil tas itu dan mencoba mencari ponselnya. Setelah di periksa ternyata ponselnya tidak ada. Aku pun menawarkan diri untuk mencari ponselnya itu. Namun, dia menolak. Dia berpikir bahwa ponselnya sudah bersama teman yang datang bersama dia ke cafe tersebut.


Wanita itu pun mencoba untuk bangun dan pulang. Namun, aku melarangnya. Karena dia bersikeras ingin pulang, aku berinisiatif untuk meminta pendapat dokter. Jika dia sudah diizinkan pulang, maka aku akan mengantarnya pulang. Aku pun berjalan keluar menuju ruang dokter.


Setelah selesai bertemu dokter, aku berjalan menuju ruangan tempat wanita yang aku tolong itu. Saat aku memasuki ruangan, terlihat dia seperti orang yang sedang menangis.


“Hei, kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Saya panggilkan dokter ya” tanyaku


“Tidak, saya baik-baik saja” jawabnya sambil menghapus air mata


Aku yakin dia menangis bukan karena sakit, pasti ada hal lain. Tapi aku tahu ini bukanlah urusanku. Aku pun memutuskan untuk tidak mencampuri urusannya. Aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Awalnya dia menolak, karena aku merasa kasihan, aku pun terus menawarkan diri untu mengantarnya pulang. Akhirnya dia menyetujuinya


[Keyna POV]


Akhirnya Lee Min Jun mengantar aku pulang. Dia mengantarku menggunakan mobilnya. Perjalanan dari rumah sakit ke rumahku lumayan lama sekitar dua setengah jam. Jam menunjukkan pukul 17:15. Karena ini musim dingin, maka matahari terbenam lebih awal. Terlihat jalanan yang di tutupi salju, langit mulai gelap. Aku memandang keluar jendela mobil. Tanpa aku sadari, aku kembali mengingat moment dimana Kim Areum dan Delwyn begitu akrab. Aku tidak ingin menangis lagi. Aku mencoba mengendalikan pikiranku. Ternyata itu tidak semudah yang aku bayangkan.


“Are you ok?” Tanya Lee Min Jun


“Yeah” jawabku singkat


“Saya tidak bermaksud mencampuri urusan kamu, tapi kalau kamu butuh teman untuk mengungkapkan isi hati kamu, saya siap mendengarkan” kata Lee Min Jun memulai obrolan


Aku tidak menanggapi perkataan Lee Min Jun. Aku masih larut dalam lamuanku.


Mungkin aku memang menyukainya, namun sulit bagiku untuk mengakui hal tersebut. Benar kata Kim Areum, tidak mungkin kami berteman sangat lama namun aku tidak menaruh perasaan kepadanya. Walau hanya sedikit. Dia yang sangat baik dan begitu perhatian sebagai seorang sahabat membuatku menyalah artikan semua itu. Saat aku menganggap itu semua hanya perasaan yang wajar kepada seorang sahabat, namun saat datang orang yang benar benar special pada sahabatku itu, disitulah baru aku sadari bagaimana perasaaan aku yang sesungguhnya.


Aku melamun sepanjang jalan. Tanpa aku sadari ternyata kami sudah sampai di depan rumahku atau lebih tepat di sebut tempat kost.


“Hey, disini bukan?” Tanya Lee Min Jun memastikan


“Ya” jawabku yang seketika tersadar


Aku pun segera turun dari mobil. Sebelum aku turun aku mengucapkan terima kasih kepada Lee Min Jun.


“Thanks, and don’t call me ‘hey’. I’m Keyna” kataku sambil turun dari mobil


Karena terlalu memikirkan Delwyn, aku sampai lupa memperkenalkan diri. Setelah itu aku berjalan memasuki gedung. Tempat tinggalku berada di lantai 3. Aku berjalan menuju tangga ke lantai 3. Sebenarnya, orang tua Delwyn tidak mengizinkan aku kost. Mereka memintaku untuk menempati salah satu apartemen mereka. Namun, aku menolaknya. Karena aku berpikir untuk tidak terlalu merepotkan mereka.


Akhirnya aku sampai di depan pintu kostku. Saat aku mencoba membuka pintu ternyata di pintu itu tidak terkunci.


“Perasaan sebelum berangkat, aku sudah mengunci pintu” kataku


Aku pun masuk ke dalam dan mencoba memeriksa apakah ada orang lain di dalam. Saat aku masuk aku melihat seorang pria duduk di kursi yang berada di meja belajarku seperti orang yang sangat kelelahan. Aku mengenali pria tersebut dari Hoodie yang dia kenakan.


“Delwyn?” kataku mencoba memanggil pria itu


Dia pun menoleh ke arahku dan berlari memelukku


“Astaga key, kamu kemana aja? Tiba-tiba menghilang entah kemana. Aku udah cari kamu di dekat cafe, tapi kamu engga ada. Ponsel kamu juga di tinggal di meja tempat kita makan. Kamu kemana aja?” Tanya Delwyn khawatir


Aku merasakan kekhawatiran dia dari cara dia memelukku. Rasanya saat itu juga aku ingin marah, menangis, bahagia, semuanya campur aduk. Aku ingin menangis karena sangat tersentuh mendengar bahwa dia khawatir padaku, marah bila mengingat kejadian tadi siang dan bahagia karena sikap dia kepadaku tidak berubah walau dia sudah memiliki seseorang yang special.


Aku mencoba mengontrol pikiranku dan menenangkan Delwyn. Aku ceritakan apa yang aku alami hari ini. Yap, aku ceritakan semuanya. Namun, tentu aku tidak menceritakan saat dimana aku menangis karena melihat Delwyn dan Kim Areum begitu mesra.


“Hah? Astaga Key, kenapa kamu bisa seceroboh itu? sampai lupa bawa obat kamu. Untung ada yang nolongin kamu. Lagian kalau aku suruh makan ya nurut dong. Jangan seenaknya gitu, kalau gini kan kamu jadi ngerepotin orang lain!” ceramah Delwyn seperti emak-emak yang sedang memarahi anaknya


Aku hanya tersenyum mendengar dia mengomel seperti itu.


“Iya iya maaf. Ya sudah sana kamu pulang, sudah malam aku mau tidur!” kataku menyuruh Delwyn keluar


Saat kami sedang berbicara tiba-tiba ada yang memanggilku dari depan pintu.


“Maaf Keyna, saya mau mengantar tas kamu. Tadi ketinggalan di mobil saya” kata orang tersebut


Aku pun menoleh ke arah suara itu. Ternyata dia adalah Lee Min Jun. Aku pun segera menemui Lee Min Jun dan mengambil tasku


“Oh iya, thanks” kataku sambil mengambil tas yang di pegang Lee Min Jun


“Dia siapa Key?” Tanya Delwyn penasaran


“Oh, ini Lee Min Jun. Tadi dia yang nolongin aku” kataku memperkenalkan Lee Min Jun kepada Delwyn.


“Saya Delwyn. Sahabat Keyna. Terimakasih sudah menolong Keyna” kata Delwyn memperkenalkan diri


“Iya sama-sama. Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu. Kamu jangan lupa istirahat Keyna” kata Lee Min Jun sambil berjalan meninggalkan aku dan Delwyn


Aku pun mengangguk.


“Ya udah Key, aku pamit juga. Bye! ” kata Delwyn sambil berlari keluar


Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Delwyn