
Winter adalah musim yang sangat di nanti hampir semua orang di dunia ini. Banyak orang pergi ke negara yang memiliki enam musim hanya untuk merasakan musim dingin tersebut. Mereka bahagia terutama saat salju pertama kali turun. Anak-anak akan berlarian di halaman rumah untuk menikmati salju pertama tersebut. Berlarian ke sana-sini, walau mereka terjatuh mereka tidak akan menangis, justru tawa dan mimik wajah bahagialah yang akan muncul di wajah mereka.
Ini adalah kali pertamaku merasakan musim dingin. Salju mulai turun sejak semalam. Membuatku merasa malas untuk beranjak dari tempat tidur. Bagiku semua musim sama saja. Sama-sama menyusahkan. Caraku berpikirku yang seperti ini lah sehingga membuatku mendapatkan julukan Winter Girl. Aku sudah mendapatkan julukan tersebut sedari aku SMA. Padahal di negara tempat aku berasal yaitu Indonesia, tidak ada yang namanya musim dingin atau musim salju. Namun, teman-teman sekolahku memberikan julukan tersebut kepada aku karena sikapku yang dingin dan cenderung tidak peduli dengan sekitar. Mereka memberikan julukan tersebut seakan sudah pernah merasakan dinginnya winter secara langsung. Bahkan selama tiga tahun di SMA, aku tidak mempunyai teman yang sangat akrab. Oh iya, aku hanya punya seorang teman yang sabar menghadapi semua sikapku dan semua perkataan ku yang terkadang jika didengar oleh orang lain terasa begitu menyakitkan. Hingga kuliah, hanya dialah orang yang aku izinkan dekat denganku.
Saat lulus SMA, dia berencana untuk meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi di South Korea. Dia pun memintaku untuk ikut mendaftar. Awalnya aku menolak, karena aku berpikir itu adalah hal yang paling menyusahkan. Yah, seperti yang aku katakan sebelumnya, aku benci sesuatu yang menyusahkan. Sampai akhirnya dia yang notabennya keluarga sultan memilih untuk mendaftarkan aku ke beasiswa yang dikeluarkan oleh perusahaan keluarganya. Awalnya aku menolak, namun karena dia terus memaksaku, akhirnya aku menyetujuinya. Yah, bisa jadi ini lah pertama kalinya aku mencoba sesuatu yang menyusahkan.
Walau begitu, orangtuanya tetap meminta aku untuk melakukan beberapa tes untuk membuktikan kelayakanku menerima beasiswa tersebut. Dan siapa sangka, aku lolos semua tes itu dengan mudah. Yah menurutku itu tidak terlalu sulit. Justru sangat mudah. Hingga disinilah sekarang aku, di negara yang sangat di sukai oleh banyak orang. Karena idol K-pop yang tampan dan cantik atau karena K-drama yang membuat orang baper. Bagiku, Indonesia ataupun Korea semua sama saja. Tidak ada yang berbeda.
Aku lupa memperkenalkan diri, namaku adalah Keyna. Yup, nama yang sangat singkat tapi mempunyai makna. Keyna berarti sebuah sebuah permata. Mungkin orangtuaku memberikan nama tersebut karena menganggap akulah permata mereka yang paling berharga. Namun, bagiku itu hanyalah sebuah nama. Apapun arti nama seseorang jika tidak ada usaha maka nama tersebut hanya akan menjadi kumpulan huruf yang di tulis di atas kertas.
Okeh, kembali ke masa sekarang. Hari ini adalah hari pertama musim dingin. Salju mulai turun sejak semalam menutupi jalanan, pepohonan dan gedung-gedung di sekitar tempat tinggal ku. Dikamar yang tidak terlalu besar ini lah, satu-satunya tempat yang membuatku merasa sangat nyaman. Karena disini aku sendiri tanpa ada orang yang mengganggu. Saat aku mencoba untuk melanjutkan ritual tidurku, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ternyata pesan dari salah satu dosenku di kampus. Beliau memintaku menyampaikan pesan kepada teman-temanku. Bahwa ada tugas yang harus di kerjakan dan harus segera di kumpulkan. Karena, kami akan memasuki libur musim dingin.
“huh, baru aja mau lanjut tidur tapi malah udah dikirim tugas lagi!!” gerutu ku kesal
Aku adalah penanggung jawab di kelasku, yah mungkin sama seperti ketua kelas seperti di SMA. Terkadang saat mereka tidak bisa masuk kelas atau ada tugas tambahan biasanya mereka akan menghubungiku dan memintaku untuk menyampaikan pesan tersebut kepada teman-temanku. Aku pun segera menyampaikan pesan tersebut kepada teman teman melalui grup chat. Terkadang aku bingung, kenapa kau dipilih menjadi penanggung jawab? Padahal aku cenderung tidak perduli terhadap sekitar dan mencoba untuk mengurangi interaksi dengan teman teman di kelas. Karena menurutku ini semua menyusahkan.
Setelah meneruskan pesan dosen ke teman-teman, aku segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju meja belajar untuk mengerjakan tugas tersebut. Aku ingin tugas ini cepat selesai agar aku bisa lanjut tidur di kasurku yang nyaman itu. setelah kurang lebih dua jam, aku berhasil menyelesaikan tugas tersebut. Dan harus segera aku kumpulkan ke kampus. Sejujurnya aku malas keluar rumah, dengan suhu yang menyentuh angka 1 °C. Suhu sedingin ini lebih cocok jika dipakai untuk bermalas-malasan di rumah.
Saat ini jam menunjukkan pukul 6 sore. Aku sudah selesai mengerjakan tugas sejak pukul 2 siang. Namun, aku bersantai dulu di rumah dan pada pukul 6 sore aku baru keluar untuk mengumpulkan tugas tersebut. Meskipun salju masih turun, namun jalan masih di padati oleh lalu lalang orang. Mereka berjalan dengan sangat berhati-hati agar tidak terjatuh karena jalanan licin di tutupi salju. Karena jarak dari tempat tinggal ku ke kampus tidak terlalu jauh, aku pun memutuskan untuk berjalan kaki. Yah, setidaknya otot-otot di badanku tidak terlalu kaku karena seharian hanya aku baringkan saja di atas kasur. Setelah berjalan sekitar 30 menit, akhirnya aku sampai di kampus. Aku segera berjalan ke dalam kampus untuk bertemu dosen dan menyerahkan tugas tersebut. Setelah selesai menyerahkan tugas, aku bergegas pulang ke rumah. Karena aku rindu dengan kasurku yang sangat nyaman. Saat aku berjalan menuju pintu keluar, tiba tiba ada yang memanggilku.
“ Keyna!!”
“Kamu ngapain ke kampus? Biasanya klo dingin kayak gini kamu lebih memilih untuk berduaan dengan kasur kesayangan kamu. Aku aja bisa kamu usir!” kata Delwyn
Yah, dialah satu satunya orang yang paham betul kebiasaan ku ini. Entah cara apa yang di pakai anak ini, sehingga aku bisa dengan mudahnya mengobrol atau berinteraksi dengan dia. Padahal selama aku hidup, aku jarang berinteraksi dengan orang lain. Bahkan hanya untuk bertanya alamat atau menanyakan jam. Karena aku tidak suka jika ada orang lain yang masuk ke dalam kehidupanku lebih dalam. Tapi, Delwyn adalah pengecualian. Aku tidak bisa menyembunyikan segala sesuatu dari dia. Yah, matanya sangat jeli mungkin karena kami berteman sudah cukup lama. Dari kami berusia 7 tahun sampai sekarang kami berusia 19 tahun. Yah pertemanan yang sudah terjalin selama 12 tahun.
“To be honest, aku males ke kampus. Tapi mau gimana lagi, ada tugas yang harus aku kumpulin. Jadi aku harus berpisah dulu sama kasur kesayanganku” jawabku
“Heleh. Eh keluar yuk! Makan bareng. Kan kita sudah lama engga makan bareng. Kamu lebih sering menghabiskan waktu sama kasur kamu!” kata Delwyn
“Males lah. Aku mau pulang aja. Aku udah kangen banget sama kasurku” jawabku dengan santai sambil berjalan menuju pintu keluar
“Ayolah key, kali ini aja. Aku juga mau kenalin seseorang sama kamu. Aku mau minta pendapat kamu tentang dia.” Lanjut Delwyn sambil menarik tanganku seperti seorang anak kecil yang merajuk karena tidak di belikan es krim
“Haduhh, ini nih yang aku gak suka dari kamu. Suka maksa. Ya udah deh aku ikut. Tapi engga lebih dari 30 menit ya” kataku menyetujui permintaanya
“Yah kok sebentar banget sih? Tapi engga papa deh. Yang penting kamu dateng. Okeh, yuk berangkat! Naik mobilku aja, soalnya tempatnya lumayan jauh” lanjut Delwyn sambil menarik tanganku berlari menuju mobilnya
Yah kan sultan memang beda. Aku yang terbiasa berjalan atau bersepeda, kini harus pergi menggunakan mobil mewah. Hmm, lumayan. Setidaknya aku engga harus merasakan dinginnya salju
………Jangan lupa like😉………