
[Dalwyn POV]
Hari ini aku akan memperkenalkan Kim Areum kepada Keyna. Aku sangat yakin Keyna akan menyukai Kim Areum. Setelah perjalanan yang sangat panjang, akhirnya kami sampai di depan sebuah cafe. Yap, cafe ini merupakan cabang pertama keluargaku di korea sampai sekarang kami mempuyai belasan cabang di Negari ginseng ini. Setelah sampai aku melihat Keyna seperti mengamati sekitar. Yah, begitulah Keyna. Dia sangat suka mengamati keadaan sekitar.
“ Delwyn, rasanya aku engga asing sama kafe ini. Apa kita pernah ke sini?” Tanya Keyna
Mendengar pertanyaan Keyna membuatku sedikit terkejut. Ternyata ingatan Keyna tajam juga ya. Dia selalu mengamati setiap tempat yang baru pertama kali dia datangi dan mengingat tempat tersebut dalam waktu yang cukup lama. Tidak heran dia selalu menjadi juara kelas dari sekolah dasar sampai sekarang. Daya ingatnya yang sangat kuat itulah terkadang membuatku berpikir, apakah dia manusia?
Aku pun menjelaskan kepada Keyna, bahwa dulu kita pernah kesini sewaku kecil. Setelah, mengobrol sedikit aku mengajak Keyna masuk. Setelah masuk mataku melihat sekitar mencari Kim Areum. Ternyata Kim Areum duduk di dekat jendela. Aku pun mengajak Keyna untuk menghampiri Kim Areum.
Aku dapat melihat Keyna sangat terkejut ketika bertemu dengan Kim Areum untuk pertama kalinya. Dasar Keyna kebiasaannya engga pernah berubah. Selalu melihat sesuatu yang baru secara berlebihan. aku pun memperkenalkan Kim Areum kepada Keyna.
“Nah, ini gadis yang tadi aku ceritain. Kenalin nama dia Kim Areum” kata kata ku memperkenalkan Kim Areum
“Hai, saya Kim Areum. Kamu Keyna, ya? Delwyn sudah cerita banyak tentang kamu. Dia bilang kamu itu sahabatnya yang paling berharga” kata Kim Areum sambil menulurkan tangannya
Aku dapat melihat, Keyna terpukau akan kecantikan Kim Areum. Ya pasti dong. Aku engga pernah salah dalam memilih pasangan.
“E-eh iya. Saya Keyna. Delwyn juga sudah cerita tentang kamu” kata Keyna sambil membalas jabatan tangan Kim Areum
Terlihat Keyna begitu gugup, sampai dia bebicara dengan terbata-bata.
“Kenapa jadi canggung gitu? Kalian ngobrol dulu ya. Aku mau pesan dulu” kataku kepada Keyna dan Kim Areum. Aku pun berjalan menuju etalase yang sudah di pajang berbagai hidangan.
Sesekali aku membalikkan badan melihat mereka. Terlihat Keyna sudah mulai nyaman dengan Kim Areum. Aku tidak meragukannya. Karena Kim Areum memang tipe orang yang mudah bergaul. Dia pasti akan membuat Keyna merasa nyaman.
Setelah memilih beberapa hidangan, aku meminta beberapa pelayan di café untuk membantuku membawa makanan tersebut kemeja kami. Aku ingat kalau Keyna mengidap gula darah rendah. Aku pun memesan lebih banyak makanan manis. Karena sebelum berangkat, dia belum makan apapun. Aku khawatir kondisinya akan semakin memburuk terlebih beberapa hari yang lalu dia pernah di larikan ke rumah sakit karena penyakitnya itu.
Aku melihat Kim Areum dan Keyna mengobrol dengan begitu akrab. Aku harap mereka bisa benat-benar menjadi sahabat. Terlebih sedari kecil, Keyna tidak memiliki sahabat lain selain aku. Dia tipe orang yang tertutup dan cenderung dingin terhadap sekitar. Terkadang aku takut kalau Keyna akan kesuliatan dalam mencari pasangan hidup. Apalagi di lihat dari sikapnya yang seperti itu membuatku semakin khawatir akan sahabatku itu.
“Kalian bicara apa aja nih?” tanyaku sambil menarik kursi di sebelah Kim Areum untuk aku duduki
“Cuma obrolan biasa” jawab Keyna singkat
Aku meminta para pelayan untuk menaruh makanan di meja kami. Setelah itu mereka kembali ke tempat mereka masing-masing. Aku pun mempersilahkan Keyna dan Kim Areum untuk menikmati kue yang sudah di letakkan di meja.
Terlihat Kim Areum sangat menikmati makanan yang di sediakan. Sedangkan Keyna, dia hanya meminum minuman yang ada itu pun tanpa di tambahkan gula. Entah apa yang ada di pikiran Keyna. Sejak tadi dia hanya diam saja sambil sesekali memperhatikan aku dan Kim Areum. Aku melihat Kim Areum menyantap kue. Terlihat krim kue menempel di pipinya. Aku pun mengambil tissue dan mencoba membersihkannya.
“Delwyn, aku ke toilet dulu ya” kata Keyna tiba-tiba
“Oh, oke. Toilet ada di sebelah sana, kamu tinggal lurus saja” kataku sambil menunjuk ke arah toilet. Keyna pun mengangguk mengerti.
Keyna bangkit dari kursi dan berjalan menuju toilet. Saat dia berdiri, aku melihat mimic wajah seperti orang yang sedang menahan untuk tidak menangis.
“Keyna kenapa ya?” tanyaku dalam hati
Aku pun mencoba menalihkan pandangan aku ke Kim Areum. Terlihat dia menikmati kue. Dia tetap terlihat sangat cantik. Membuatku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya
[Keyna POV]
“Huh, sakit” rintihku sambil memang kepalaku yang terasa begitu sakit
Aku mencoba membuka mataku perlahan. Melihat kesekeliling semua terlihat berwarna putih.
“Apakah aku sudah di alam lain?” tanyaku dalam hati
Saat aku mencoba memperhatikan sekitar, aku melihat seorang pria datang menghampiriku dengan mimic wajah khawatir. Aku tidak bisa melihat jelas wajah pria itu. Namun, aku yakin bahwa dia bukanlah orang yang aku kenal
Kemudian dia berusaha menekan tombol yang terletak di dekat ranjang untuk memanggil dokter. Tidak lama dokter pun datang. Dia memeriksa keadaanku.
“Apa yang kamu rasakan?” Tanya dokter tersebut
“Pusing” jawabku singkat
“Kamu ada riwayat gula darah redah ya?” Tanya dokter lagi
“Iya” jawabku
“Okeh, dari hasil pemeriksaan menunjukan bahwa kadar gula darah kamu rendah. Itulah yang menyebabkan kamu kehilangan kesadaran. Apakah kamu sering mengalami ini” jelas dokter yang di teruskan dengan pertanyaan
“Untuk intensitasnya jarang. Tapi, beberapa hari yang lalu saya pernah mengalami hal ini” kataku
“Okeh, sekarang kamu istirahat saja. Jika keadaan kamu sudah membaik, kamu boleh pulang” kata dokter sambil berjalan meninggalkan ruangan tempat aku dirawat
“Terimakasih, dok” ucapku
Kemudian aku memperhatikan pria yang membawaku ke rumah sakit. Aku tidak tahu siapa dia. Dan kenapa dia bisa membawaku ke rumah sakit.
“Kamu siapa?” tanyaku pada pria itu
“Tenang! Kamu jangan panik, saya bukan orang jahat. Nama saya Lee Min Jun. Saya menemukan kamu pingsan di parkiran cafe. Karena saya tidak tahu kamu siapa, dan di sana tidak ada orang jadi saya memutuskan untuk membawa kamu ke rumah sakit” jelas pria yang bernama Lee Min Jun itu
“Terimakasih sudah membantu saya” kataku sambil mencoba bangun dari tempat tidur
“Eh, kamu jangan bangun dulu. Kamu istirahat saja. Kalau ada yang kamu butuhkan, biar saya ambil” kata Lee Min Jun
“Dimana ponsel saya?” tanyaku
“Sewaktu kamu pingsan, saya tidak melihat ponsel kamu. Saya hanya menemukan tas ini” katanya sambil memberikan tasku
Aku pun mengambil tas itu dan mencoba mencari ponselku. Setelah aku cari, ternyata ponselku tidak ada. Aku mencoba mengingat dimana terakhir kali aku letakkan ponsel. Ternyata ponsel aku letakkan di meja tempat aku dan Delwyn makan.
"Cih, sial” kataku pelan
“Kenapa?” Tanya Lee Min Jun
“Oh, engga. Saya lupa ponsel saya tertingal di cafe” jelasku
“Apa kamu mau saya kembali ke Café itu dan mengambil ponsel kamu?” tanyanya
“Eh, engga perlu. Biar ponsel saya dibawa teman saya. Soalnya dia ada disana” kataku
“Yasudah. Kamu istirahat saja dulu. Saya akan temui dokter untuk bertanya apa kamu sudah boleh pulang” kata Lee Min Jun
Aku pun mengaggung setuju. Lee Min Jun berjalan keluar ruangan. Aku kembali terdiam mengingat apa yang sudah aku lihat di café pagi ini. Tanpa sadar aku kembali meneteskan air mata. Entah kenapa setiap aku membayangkan Delwyn, aku selalu ingin menangis.
Tidak lama Lee Min Jun pun kembali keruangan. Dia terkejut melihatku menangis.
“Hei, kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Saya panggilkan dokter ya” kata Lee Min Jun panik
“Tidak, saya baik-baik saja” kataku sambil menghapus air mata
Lee Min Jun pun memberikan aku sapu tangannya. Aku mengambil sapu tangan tersebut untuk menyeka air mataku. Lee Min Jun menjelaskan bahwa dokter sudah mengizinkan aku pulang. Awalnya aku ingin pulang sendiri, tapi melihat kondisiku membuat Lee Min Jun iba. Dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Pada awalnya aku menolak tawaran Lee Min Jun. tapi karena dia sangat bersikeras untuk mengantarku pulang, aku pun menyetujuinya…