
Hari ini adalah hari kedua musim dingin. Sekarang jam menunjukkan pukul 7 pagi. Karena ini musim dingin, maka matahari mulai terbit sekitar pukul 7 pagi. Aku membuka ponselku ternyata suhu sekarang adalah -10 °C. Yah, sangat dingin. Hal tersebut membuatku memutuskan untuk melanjutkan ritual tidurku. Saat aku hendak melanjutkan tidur, tiba-tiba bel rumahku berbunyi.
“ Rasanya aku engga pesan sesuatu deh” kataku sambil mencoba mengangkat kelopak mataku yang terasa begitu berat.
Awalnya aku mencoba untuk tidak menghiraukan bunyi bel tersebut. Namun, semakin lama suara tersebut semakin menggangguku. Aku pun memutuskan untuk bangun dan memeriksa siapa yang terus menerus menggangguku di pagi yang damai ini. Saat aku melihat dari lubang di balik pintu, ternyata dia adalah Delwyn.
“ Ngapain sih pagi-pagi Delwyn kesini? Ganggu orang aja” gerutu ku kesal
Aku pun membuka pintu. Karena jika aku tidak membukakan Delwyn pintu, dia akan terus menerus menggangguku sepanjang hari. Yah, sifat keras kepalanya itulah yang kadang membuatku kesal
“ Ngapain kamu kesini? Ganggu orang tidur aja!!” kataku sambil membuka pintu
“ Eh, Key, ini sudah jam 7. Kalau di Indonesia ini sudah siang banget. Jangan tidur terus, bangun pagi biar rezeki engga di patok ayam!” kata Delwyn dengan mimik wajah meledek
“ Itu di Indonesia, ini kan Korea. Apa lagi ini musim dingin, matahari aja baru terbit. Lagian ayam disini engga suka patok rezeki. Sukanya patok orang kayak kamu yang ngeselin dan sukanya ganggu orang” jawabku kesal
“ Udah ngomelnya? Yasudah klo gitu aku masuk. Kamu ini tuan rumah paling kejam. Orang ada tamu bukannya disuruh masuk malah di omelin di depan pintu” kata Delwyn sambil berjalan masuk
“ Keluar kamu Delwyn, aku belum suruh kamu masuk. Lagian kamu engga sopan banget main masuk ke kamar orang, apa lagi ini kamar perempuan” kataku kesal sambil mendorong Delwyn keluar
“ halah, kayak orang lain aja” kata Delwyn sambil berjalan masuk dan duduk di kursi yang ada di meja belajarku
“ Terserah kamu. Kamu ngapain kesini? Jangan bilang kamu minta aku nemenin kamu buat ketemu sama teman kamu itu?! semalam aja aku udah temani kamu tapi teman kamu itu engga datang” tanyaku kesal
Balik lagi ke waktu malam. Semalam, Delwyn memintaku untuk menemani dia bertemu dengan temannya. Namun, kami sudah menunggu hampir 2 jam. Tapi, temannya itu tidak kunjung datang. Padahal aku hanya berniat menemani dia sampai jam 8 malam. Tapi karena aku kasihan melihat dia begitu, aku jadi menemani dia menunggu temannya itu sampai jam 10 malam.
“Nah itu, kamu tahu” jawab Delwyn dengan seringai yang menjengkelkan
“Sebenarnya siapa sih orang itu? Dan kenapa kemarin dia engga datang?” tanyaku penasaran
“Ada deh, udah kamu siap-siap dulu sana. Nanti aku kasih tau. Kita hari ini bakal ketemu dia. Nanti aku jelasin di jalan. Soalnya perjalanan ke sana lumayan jauh” jawab Delwyn sambil mendorongku ke arah toilet untuk bersiap-siap.
“Oke oke, sebentar. Kamu tunggu di sini dan jangan pegang barang yang ada di kamar ini. Awas aja kalau sampai ada yang hilang” ledekku sambil berjalan menuju kamar mandi
“Tenang aman-aman paling kasur kamu aja yang aku buang biar kamu engga males-malesan di tempat tidur terus” jawab Delwyn dengan nada meledek
“Heh, sembarangan. Awas kamu kalau macam-macam sama barang yang ada di kamar ini!” teriakku dari dalam kamar mandi
Yah, begitulah Delwyn. Kadang bikin kesal karena sikapnya yang keras kepala dan engga sabar. Tapi kadang dialah orang yang bisa membuatku tersenyum dengan ledekannya atau leluconnya yang cenderung tidak lucu.
Setelah selesai bersiap, aku dan Dewlyn segera berjalan keluar menuju mobilnya. Kami berangkat sekitar pukul 08:30 pagi. Menurut Delwyn perjalanan dari rumahku ke tempat tujuan kami memakan waktu kurang lebih 2 jam. Yah, perjalanan yang cukup jauh.
“Delwyn, coba jelasin deh kita itu mau kemana? Dan mau ketemu siapa?” tanyaku
“Kayaknya kamu penasaran banget nih” ledek Delwyn
Mendengar perkataan Delwyn, membuatku sangat terkejut. Jadi dia semalaman nunggu di cafe Cuma demi orang yang dia sebut calon pacar? Astaga aku engga habis pikir sama orang ini.
“Terus sekarang kenapa kita pergi lebih jauh? Engga ke cafe kemarin aja? Dan kenapa dia kemarin engga datang?” tanyaku penasaran
“Kamu itu dari dulu engga berubah ya. Kalau bertanya engga pernah satu-satu. Selalu langsung ditanyakan semua” jawab Delwyn dengan wajah sedikit kesal
“iya maaf. Yasudah kamu jawab aja pertanyaan ku pelan-pelan. Toh, perjalanan kita masih jauh” kataku
“Oke, jadi sebenarnya kemarin aku ngajak dia ketemu itu mendadak. Dan belum sempat di balas, aku sudah minta kamu untuk temani aku. Waktu aku ngajak kamu pulang karena dia belum datang ternyata dia baru baca pesanku. Dan aku terlambat. Ternyata dia sudah pulang ke rumah orangtuanya. Terus sekarang aku berencana kerumah orangtuanya langsung. Aku juga sudah bilang sama dia. Dan dia setuju, oh iya aku juga sudah bilang kalau aku akan ajak kamu. Dia juga sudah setuju” jelas Delwyn
Aku tidak menyangka, perjuangan Delwyn untuk mempertemukan aku dengan orang yang dia suka begitu sulit. Aku pikir dia tipe orang yang lebih senang bermain-main. Ternyata untuk urusan hati, dia engga pernah main-main.
“Jadi kamu mau aku dengar pendapat aku tentang calon pacar kamu ini?” tanyaku
“Iya, karena aku tahu kamu tidak pernah salah dalam menilai orang lain. Aku juga yakin kamu akan setuju dengan dia. Selain cantik, dia juga baik hati pokoknya beda deh dengan semua perempuan yang pernah aku dekati” ujar Delwyn
“Okeh, tapi gimana kalau penilaian aku tentang dia itu engga sesuai sama ekspektasi kamu? Apa kamu akan tetap mendekati dia atau akan mendengarkan perkataan ku?” tanyaku lagi
“Yah tergantung. Emang seburuk apa penilaian kamu tentang dia? Aku rasa itu engga akan terjadi” jawab Delwyn begitu percaya diri
“Oke, kita lihat nanti” kataku
Setelah kurang lebih 2 jam, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Huh, rasanya semua tulang di tubuhku ini remuk karena terlalu lama duduk di mobil. Kami berhenti di sebuah cafe yang cukup sepi. Aku melihat sekeliling cafe, rasanya aku tidak asing dengan cafe tersebut.
“Delwyn, rasanya aku engga asing sama cafe ini. Apa kita pernah ke sini?” tanyaku penasaran
“Ternyata ingatan kamu tajam juga ya. Kamu ingat tidak waktu kita berusia 10 tahun? Waktu itu keluargaku pertama kali membuka cabang di Korea, dan cafe ini adalah cabang pertama kami di korea. Waktu itu aku mengajak kamu untuk ikut melihat Grand Opening cafe ini” jawab Delwyn
“Ah, iya aku ingat. Sudah lama ya, kita tidak kesini. Sekarang cafe ini sudah sangat modern, walau terletak di salah satu kota yang cukup popular di Korea, cafe ini tetap menunjukkan ciri khasnya yaitu terdapat beberapa ukiran tangan khas Negara asal kita yaitu Indonesia” kataku
“Yup, kamu benar. Even cafe ini di Korea, papaku ingin desainnya tetap memiliki corak Indonesia agar bisa memperkenalkan budaya kita ke Negara lain” sambung Delwyn
“Masuk yuk, sepertinya dia sudah sampai” ajak Delwyn
Aku pun mengangguk setuju. Di dalam terlihat sangat sepi hanya terdapat beberapa pelayan yang sedang sibuk menyiapkan hidangan karena cafe baru saja buka. Mataku tertuju pada sebuah meja yang terletak di ujung kafe dekat dengan jendela. Seorang wanita cantik dengan rambut tergerai panjang, wajah yang imut seperti orang korea pada umumnya. Terlihat gaya berpakaiannya sangat Fashionable. Yah sesuai dengan standar kecantikan di Negara ini.
Delwyn berjala menuju wanita itu. Dia pun melihat kami, dan menyambut kami dengan senyumannya yang begitu indah. Aku sempat terdiam sejenak sampai akhirnya Delwyn menyenggol pundak ku, membuatku kembali tersadar akan sekitar. Aku tidak menyangka bahwa dia adalah wanita yang akan Delwyn kenalkan. Begitu cantik, sampai untuk pertama kalinya aku merasa insecure akan penampilanku. Dia pun memperkenalkan kami. Setelah berkenalan, kami mengobrol banyak hal.
......................
Jangan lupa like yaaa😉