Winter Girl

Winter Girl
BAB 3



Aku baru pertama kali melihat seorang wanita secantik ini. Pantas saja Delwyn begitu percaya diri kalau aku akan menyukai gadis pilihannya. Aku larut dalam lamunan hingga tidak sadar bahwa pandangan aku tidak bisa lepas dari wanita itu.


“Key!!” panggil Delwyn sambil menggoyangkan tubuhku yang membuat aku kembali tersadar


“Eh, I iya kenapa?” Tanya ku terbata-bata


“Nah, ini gadis yang tadi aku ceritain. Kenalin nama dia Areum” kata Delwyn memperkenalkan kami


“Hai, saya Kim Areum. Kamu Keyna, ya? Delwyn sudah cerita banyak tentang kamu. Dia bilang kamu itu sahabatnya yang paling berharga” kata Kim Areum sambil mengulurkan tangannya


Mendengar perkataan Kim Areum membuatku tertegun. Sahabat yang paling berharga? Ternyata di depan wanita yang dia sukai, dia sangat pandai berbicara. Yah, bukan Delwyn namanya kalau berbicara tidak di beri sedikit drama


“E-eh iya. Saya Keyna. Delwyn juga sudah cerita tentang kamu” kataku sambil membalas jabatan tangannya.


“Kenapa jadi canggung gitu? Kalian ngobrol dulu ya. Aku mau pesan dulu” kata Delwyn sambil berjalan menuju etalase yang sudah di pajang beberapa hidangan


Kami pun duduk sambil berbincang.


“Kamu sahabat Delwyn dari Indonesia, ya?” Tanya Kim Areum memulai percakapan


“Iya” jawabku singkat sambil memberikan senyum tipis


“Yah, aku kenal Delwyn sudah dari awal kuliah. Awalnya aku kurang suka dia. Karena dia selalu di kelilingi oleh gadis-gadis cantik. Aku pikir dia pria yang suka mempermainkan hati seorang wanita. Tapi, saat aku satu kelompok sama dia, aku baru tahu dia yang sebenarnya. Dia baik, murah senyum, humoris, dan tidak pernah memperlakukan seorang wanita semena-mena” kata Kim Areum


“Lalu, aku juga baru tahu, kalau semua gadis yang ada di sekelilingnya itu bukan dia yang berusaha menggoda mereka. Tapi para gadis itulah yang mencoba mendekati Delwyn. Yah, tidak salah sih. Terlebih dengan visualnya yang seperti Idol dan gaya berpakaiannya yang fashionable membuatnya didekati banyak gadis” lanjut Kim Areum


Mendengar perkataan Kim Areum, aku sedikit terkejut. Aku tidak menyangka Kim Areum akan mengungkapkan cara berpikirnya setransparan itu. Aku pikir, dia tipe orang yang tertutup dan sulit untuk diajak ngobrol


“Yah, begitulah Delwyn. Kamu satu kelas sama Delwyn?” tanyaku penasaran


“Iya, bahkan selama di kelas dia selalu berada di sampingku” jawab Kim Areum dengan senyuman manisnya


“Eh iya, ceritain sedikit tentang kamu dan Delwyn. Dia Cuma bilang kalau kalian sudah berteman lama. Apa kalian pernah berpacaran?” Tanya Kim Areum penasaran


Mendengar pertanyaan Kim Areum membuatku terkejut. Berpacaran? Mana mungkin aku ada perasaan lebih ke Delwyn. Dia itu orang paling menjengkelkan.


“Yup, kami sudah berteman cukup lama. Kurang lebih 14 tahun. Untuk pacaran? Aku rasa engga mungkin. Aku engga mungkin ada rasa ke Delwyn” jelasku


“14 tahun? Kalian berteman selama itu? wow, mengagumkan. Aku tidak pernah punya sahabat selama itu” kata Kim Areum


“Kalian bicara apa aja nih?” Tanya Delwyn yang duduk di samping Kim Areum


“Cuma obrolan biasa” jawabku singkat


Delwyn pun mempersilahkan aku dan Kim Areum untuk menikmati hidangan yang sudah di persiapkan.


Terlihat hidangan yang sudah di sajikan sangat menggugah selera. Terdapat beberapa potong kue dengan berbagai toping yg terlihat begitu cantik. Aku hanya meminum minuman yang di sediakan. Walau semua makanan terlihat enak, melihat kedekatan Delwyn dan Kim Areum membuat nafsu makanku berkurang.


Delwyn yang duduk di sebelah Kim Areum terlihat begitu akrab sehingga membuatku merasa tidak nyaman. Entah perasaan apa yang datang. Aku pun tidak mengerti. Saat Kim Areum sedang memotong kue menggunakan garpu yang telah di sediakan dan hendak memakannya, terlihat krim kue tersebut menyenggol pipi Kim Areum dan menempel pipinya. Melihat itu Delwyn segera mengambil tissue dan membersihkannya. Melihat hal tersebut membuatku kurang nyaman. Aku pun memutuskan untuk pergi ke toilet untuk mengontrol perasaanku.


“Delwyn, aku ke toilet dulu ya” kataku


“Oh, oke. Toilet ada di sebelah sana, kamu tinggal lurus saja” kata Delwin sambil menunjuk ke arah toilet. Aku pun mengangguk mengerti


Aku berjalan menuju tempat yang diarahkan Delwyn. Beberapa kali aku membalikkan badan melihat ke arah Kim Areum dan Dewlyn. Mereka terlihat begitu bahagia dengan tawa Delwyn dan senyuman manis Kim Areum. Aku berusaha menahan air mataku dan mempercepat langkahku ke toilet.


Sesampainya di toilet entah tiba-tiba air mataku mengalir. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Bisa di bilang ini kali pertama aku menangis. Dulu bahkan saat aku jatuh dari sepeda, aku tidak pernah menangis. Tapi entah kenapa, sekarang justru air mata ini turun seakan tidak bisa berhenti. Aku berusaha mengontrol perasaanku, tapi ternyata ini begitu sulit. Aku tidak bisa berhenti menangis.


Aku menangis di toilet cukup lama. Sampai akhirnya pandangan aku mulai kabur. Kepalaku mulai terasa sakit. Aku ingat bahwa aku belum makan apapun, dan tadi aku hanya minum minuman yang di sediakan dan itu tanpa kandungan gula. Aku rasa penyakit gula darah rendahku mulai kambuh. Aku mencoba mencari gula kemasan yang tadi aku bawa.


Ternyata gula tersebut tidak ada di tasku. Aku pun mencoba mengingatnya. Dan yap, gula tersebut aku tinggalkan di dalam mobil Delwyn. Aku pun mencoba berjalan keluar menuju mobil Delwyn lewat pintu belakang. Karena jika aku keluar lewat depan, ini akan membuat Delwyn khawatir. Aku tidak ingin mengganggu Delwyn dan Kim Areum.


Aku berhasil keluar dari cafe. Aku berjalan perlahan menuju mobil yang sudah di parkiran di samping cafe. Berjalan dengan pandangan kabur dan dinginnya winter di Korea, ternyata ini sangat sulit. Aku lupa mengambil mantelku. Aku meninggalkan mantelku di kursi yang tadi aku duduki.


“Come on, Keyna. You can do it” kataku dalam hati


Saat jarak aku dengan mobil Delwyn tidak terlalu jauh, pandanganku bertambah kabur. Aku pun mulai kehilangan kesadaran. Aku terjatuh tepat di dekat mobil Delwyn.


"Tolong!!" ucapku dengan suara pelan


Rasa sakit ini membuatku kesulitan untuk meminta bantuan. Dingin dan sakit, hanya itu yang aku rasakan. Apakah ini akhir hidupku? Padahal aku baru satu tahun di Korea. Apa aku akan menyerah hanya karena hal ini? Tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku mencoba membuka mataku dan berusaha meraih pintu mobil Delwyn.


"Tidak, aku tidak sanggup" ucapku dalam hati


Aku pun berpasrah akan nasibku. Saat kesadaranku mulai hilang, aku melihat seorang pria mencoba menggoyangkan tubuhku. Namun, aku tidak tahu siapa itu. Aku pun kehilangan kesadaranku...