Winter Girl

Winter Girl
BAB 25



[Author POV]


12 tahun sebelumnya


"Sana! kamu jangan main sama kami. Kamu anak engga jelas. Tidak punya orang tua" kata seorang anak kecil sambil mendorong temannya hingga terjatuh


"Aku punya orangtua. Tapi mereka udah di surga" jawab si anak yang terjatuh


Begitu lah masa kecil Keyna. Dia di jauhi oleh teman-temannya karena tidak punya orang tua. Sedari kecil dia hanyalah tinggal dengan neneknya. Tanpa pernah melihat wajah orangtuanya meski sekali.


Keyna pun pulang ke rumah dan menemui neneknya yang sedang beristirahat di sebuah kursi berbahan kayu di depan rumahnya yang sangat sederhana


"Kok kamu sudah pulang? Apa dijauhi teman-teman kamu lagi?" tanya si nenek saat melihat cucunya pulang dengan luka di tangannya


"Engga nek. Aku engga di jauhi kok. Aku pulang duluan karena tadi sewaktu main, aku jatuh. Jadi aku pulang mau bersihin luka ini " jawab Keyna kecil


Keyna memang sudah sangat kuat sejak kecil. Dia tidak pernah menceritakan apa yang dilakukan teman-temannya kepada neneknya. Karena dia tahu, bahwa neneknya sudah lelah bekerja. Dia tidak ingin menambah beban neneknya.


"Ya sudah. Nenek bantu bersihkan ya. Nenek ambil air dan obat merah dulu" kata si nenek


Keyna pun mengangguk mengerti. Si nenek pun masuk ke dalam rumah dan mengambil kotak berisi obat-obatan. Setelah itu dia membantu Keyna membersihkan luka yang ada di telapak tangannya


"Nenek dengar, rumah besar di depan gang bakal diisi sama orang baru. Dan dia punya anak seumuran kamu. Kalau memang kamu kurang nyaman dengan teman-teman kamu yang sekarang, mungkin kamu bisa mencoba untuk berteman dengan anak baru itu" kata si nenek


"Tidak nek. Aku berteman dengan nenek saja sudah cukup" jawab Keyna dengan senyuman polosnya


Si nenek pun hanya tersenyum mendengar jawaban cucunya itu. Setelah membersihkan luka di tangan Keyna, neneknya pun segera pergi ke dapur untuk persiapan jualan esok hari.


Nenek Ela begitulah beliau biasa di panggil oleh tetangga sekitar. Beliau merupakan seorang penjual gorengan keliling. Di pagi hari dia akan berjualan gorengan, dan di siang hari dia akan bekerja di rumah salah satu tetangganya. Di sana dia akan membereskan rumah, memasak, mencuci dan pekerjaan rumah lainnya. Semua dia lakukan untuk membesarkan cucu kesayangannya itu. Beliau merasa kasihan kepada Keyna karena sudah di tinggal ke dua orang tuanya sejak dia masih kecil


Keyna penasaran dengan omongan si nenek tentang tetangga baru itu. Dia pun segera pergi melihat tetangga baru tersebut. Rumah yang baru di tempati berada di depan gang rumah Keyna. Rumah itu sangat lah besar. Mempunyai 2 lantai dan halaman yang cukup luas. Keyna mengintip dari balim gerbang rumah yang cukup besar itu. Rumah itu berbanding terbalik dengan rumah yang di tempati Keyna dan neneknya. Rumah yang berada di gang itu tiga kali lebih besar dari rumahnya.


Saat dia mengintip dari balik gerbang, terlihat sorang anak lelaki yang sedang duduk di depan rumahnya. Dia terlihat sedang duduk sambil memainkan bola basket. Memantulkannya, namun dia terlihat tidak begitu gembira. Tiba-tiba si anak laki-laki itu menyadari keberadaan Keyna. Dia pun menghampiri Keyna.


"Hai, nama kamu siapa?" tanya anak itu dengan ramah sambil mengulurkan tangannya


Keyna tidak membalas sapaan anak itu. Dia justru berlari menjauhi anak itu.


"Hey tunggu! " teriak anak itu


Namun Keyna terus berlari ke rumahnya. Setelah sampai di depan rumahnya, Keyna kembali melihat ke belakang, memastikan anak itu tidak mengikutinya. Dia pun berusaha mengontrol nafasnya.


"Kamu kenapa?" tanya si nenek yang tiba-tiba muncul mengejutkan Keyna


"Ti-tidak nek" jawab Keyna dengan nafas terengah-engah


"Kamu di kejar teman kamu ya? Mereka mengganggu kamu lagi?" tanya Nek Ela khawatir


"Tidak nek. Aku tidak di kejar siapapun. Aku cuma lagi latihan lari saja nek" jawab Keyna sambil menunjuk senyuman manisnya


Nek Ela pun hanya bisa mengelus kepala cucunya itu dengan penuh kasih sayang. Merekapun masuk ke dalam rumah karena hari sudah mulai malam.


................


"Nek, Keyna berangkat sekolah dulu ya" kata Keyna sambil berlari keluar rumah


Seperti biasa, setiap pagi Keyna selalu berangkat ke sekolah. Dia berangkat sekolah jalan kaki. Sebenarnya jarak dari sekolah Keyna kerumahnya cukup jauh, namun karena Keyna tidak ingin membebani neneknya, dia pun memutuskan untuk pergi ke sekolah dengan berjalan kaki


Saat ini Keyna duduk di bangku kelas 3 SD. Dia merupakan salah satu murid terpandai di sekolahnya. Namun, karena dia selalu di jadikan bahan ejekan oleh teman-temannya, dia pun memilih untuk tidak berteman dengan siapapun. Di sekolah dia selalu sendiri. Jika dia mencoba bergabung dengan teman yang lain, maka mereka akan langsung menjadikan Keyna bahan ejekan karena Keyna tidak mempunyai orangtua.


Sesampainya di sekolah, Keyna segera berjalan ke kelasnya. Dia kelas, dia duduk di meja paling belakang. Tidak ada yang mau menjadi teman sebangkunya. Dia pun duduk sendiri.


Bel masuk pun berbunyi. Semua murid masuk kelas mereka masing-masing. Guru Keyna pun masuk kedalam kelas.


"Selamat pagi nak" kata Bu Siti


"Selamat pagi Bu" jawab murid-murid serentak


"Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, ibu ingin memberitahu kalian bahwa kita kedatangan teman baru" kata Bu Siti sambil menaruh buku yang dia bawa ke atas meja


"Silakan masuk nak" kata Bu Siti mempersilahkan masuk seorang anak yang berdiri di dekat pintu


Anak itu pun masuk ke kelas.


"Silahkan memperkenalkan diri" kata Bu Siti


"Perkenalkan nama saya Delwyn Geraldo. Saya pindah dari luar kota. Saya pindah kesini karena pekerjaan orang tua saya. Saya harap teman-teman mau berteman dengan saya" kata anak yang bernama Delwyn itu


Keyna seperti mengenali suara itu, awalnya Keyna tidak memperhatikan Delwyn yang sedang berbicara di depan kelas, dia fokus pada buku yang sedang dia baca. Namun saat Delwyn berbicara, barulah dia menyadari sesuatu. Bahwa itu adalah tetangga barunya. Anak yang kemarin mengajaknya berkenalan namun Keyna lari begitu saja


"Okeh, terimakasih Delwyn. Silahkan kamu duduk di kursi kosong yang ada di sana" kata Bu Siti sambil menunjuk sebuah kursi kosong yang berada di samping Keyna


Keyna pun terkejut. Dia tidak menyangka kalau dia akan sebangku dengan tetangga baru itu. Delwyn pun berjalan menuju kursi Keyna. Dia menarik kursi kosong di samping Keyna lalu dia duduki


"Ternyata kita sekelas ya, tetangga" kata Delwyn berbisik kepada Keyna


Keyna terkejut atas apa yang dia ucapkan teman sebangkunya itu. Dia pun tetap berusaha fokus pada pelajaran...


To be continue


.


.


.


.


Thanks for reading 🙏


Don't forget to like, comment, and click favorite


Thank you so much 😘