
Sudah seminggu Kath seperti ini, suasana hatinya sering berubah. Kadang Kath sangat manja sekali dengan Lucifer. Kadang Kath sangat cemburuan sekali, bahkan ketika Lucifer berbicara pada pelayan saja Kath cemburu. Suasana hati Kath terus berubah, ia bisa bahagia karena hal kecil tetapi ia juga bisa nangis dan marah karena hal kecil.
Lucifer sangat sabar sekali menghadapi Kath dan suasana hatinya yang terus berubah. Lucifer bingung dengan sifat Kath yang terus berubah. Ia sudah beberapa kali meminta Kath agar diperiksa oleh dokter tetapi Kath terus menolaknya. Jika ia memaksa Kath untuk diperiksa oleh dokter, mata Kath akan berair dan mengatakan Lucifer sudah tidak mencintainya lagi karena tidak mau mendengarkannya.
Lucifer terkadang merasa dirinya sangat serba salah. Kath selalu ingin bersama Lucifer dimana pun dan kapan pun itu. Bahkan ketika Lucifer memerintah para pasukannya.
Kath hanya tenang saat ia sedang tidur di dalam pelukan Lucifer, mencium wanginya tubuh Lucifer membuat Kath merasa nyaman dan terlindungi.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Ada yang salah denganku?" Ucap Kath yang melihat Lucifer yang sedang melamun.
Kath memasukan stroberi terakhir ke dalam mulutnya dan membuang asal daun stroberi itu. "Tidak, hanya saja saya sedikit bingung." Ucap Lucifer memegang keningnya dengan tangan kanannya.
"Bingung?" Ulang Kath menatap Lucifer dengan tatapan interogasi.
Lucifer mengangguk, "Bingung dengan suasana hatimu." Lucifer bingung dengan sikap dan sifat Kath yang berubah sangat drastis. Lucifer terus bertanya-tanya di dalam benaknya, Apa yang membuat Kath seperti ini? Apakah Kath salah minum obat? atau Ada yang sedang ingin mencelakainya?
Kath menghela nafas dengan kuat, ini bukan pertama kalinya Lucifer mengatakan hal itu. Hampir seminggu Lucifer mengatakan hal ini berulang-ulang. "Apa kau sudah bosan denganku?" Tanya Kath datar.
"Tidak, bukan itu maksud saya." Lucifer merasa dirinya sudah salah berucap.
"Jadi maksudmu?" Kath mengangkat alisnya dan menatap Lucifer dengan sinis.
"Kamu terlihat lebih bahagia," Ucap Lucifer agar Kath tidak marah dengannya.
"Baguslah, aku kira kau akan mengatakanku aneh. Seperti sebelumnya." Ucap Kath tersenyum dan sedikit menyindir di dalam kalimatnya.
Kath menatap kearah jendela yang sedang hujan, "Aku ingin makan sesuatu yang dingin dan manis." Ucap Kath yang membayangkan sesuatu yang dingin dan manis sangat mengoda mulutnya.
"Tidak boleh," Kali ini Lucifer harus melarang Kath.
"Tidak boleh? Kenapa tidak boleh? Dasar Iblis Pelit." Ucap Kath yang memajukan bibir bawahnya dan menatap Lucifer seperti anak kecil.
"Ini sedang musim hujan, jika kamu memakan makanan yang dingin kamu akan terkena flu dan kamu sudah terlalu banyak memakan makanan manis, hari ini." Lucifer mengelus kepala Kath berusaha membuat Kath agar tidak marah dengannya.
"Bilang saja kau tidak bisa mencarinya untukku, aku adalah serigala. Serigala tinggal di cuaca yang dingin. Tidak mungkin aku bisa terkena flu." Ucap Kath yang tetap menginginkan makanan manis dan dingin.
"Kamu sangat keras kepala sekali," Ucap Lucifer yang masih sabar dengan Kath.
"Sama sepertimu, pokoknya aku ingin makan yang dingin dan manis." Rengek Kath.
"Tidak," Ucap Lucifer dengan nada yang lebih tinggi dan tegas, agar Kath menurutinya.
Kath menatap Lucifer, matanya sedang menahan air mata. "Kau berbicara dengan nada tinggi padaku?" Kath berusaha menahan air matanya.
"Tidak, bukan begitu." Ucap Lucifer merasa bersalah ketika melihat mata Kath yang sedang menahan air matanya.
Kath membalikan tubuhnya dan tidak ingin menatap Lucifer. Ia merasa Lucifer sudah tidak menyayanginya lagi.
Lucifer sangat sabar menghadapi Kath, ia sama sekali tidak keberatan dengan sifat dan suasana hati Kath yang terus berubah. Hanya saja, Kath sangat keras kepala sekali.
Lucifer mendekat kearah Kath dan menghapus air matanya yang mengalir, "Saya akan mencarinya untukmu, setelah matahari terbit." Ucap Lucifer dan mengecup bibir Kath.
"Janji," Ucap Lucifer sambil membalas jari kelingking Kath.
"Sekarang tidurlah," Sambung Lucifer, Kath menganggukan kepalanya dan berjalan kearah kasur untuk tidur.
...****************...
Kath terbangun dan melihat kearah Lucifer yang sudah fokus kepada tumpukan kertasnnya lagi. Kath menghela nafas kuat. Ia sangat tidak suka ketika Lucifer fokus pada kerjaannya, karena Lucifer sangat sering lupa waktu dan tidak ingin di ganggu.
Lucifer melepaskan kacamatanya dan menatap kearah Kath, "Makanan manis dan dingin sudah saya letak di kulkas. Ingat hanya boleh memakan satu. SATU." Ucap Lucifer memperingati Kath dan mengucapkan penuh penekanan di akhir kalimat.
"Sungguh? Makasih,kau sangat baik sekali." Ucap Kath berjalan kearah Lucifer dan mengecup pipi kiri Lucifer. Lucifer hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.
Kath lansung berjalan kearah dapur dan memakan es krim dengan jumlah yang banyak ia sama sekali tidak memedulikan ucapan Lucifer.
Lucifer berjalan kearah dapur untuk melihat Kath yang sudah kalap dengan es krimnya. "Tidak ada yang memakan es krim sebanyak itu di pagi hari." Ucap Lucifer memegang keningnya.
"Aku menyukainya, apa kau mau?" Tanya Kath dengan polos.
Hachii
Suara bersin Kath membuat Lucifer membelalakan matanya, "Berhenti memakan itu." Ucap Lucifer yang melihat kearah beberapa cup es krim yang beeserakan.
Hachiii
Bersin Kath lagi, "Kamu harus segera diperiksa oleh dokter." Ucap Lucifer dengan nada khawatir.
"Tidak mau,"Tolak Kath terus menyuapi es krim ke dalam mulutnya.
Lucifer dengan wajah datarnya menatap Kath dengan serius dan mengambil es krim yang ada di gengaman Kath.
"Kembalikan," Ucap Kath sambil mejulurkan tangannya.
"Menurutlah," Ucap Lucifer dengan lembut.
"Aku tidak membutuhkan dokter. Aku tidak sakit."
"Keras kepala sekali,"Lucifer menatap Kath dengan serius.
Kath merasa Lucifer akan segera memRHinya membuat Kath mau tidak mah menuruti kemauan Lucifer. "Baiklah," Ucap Kath pasrah.
Dokter memeriksa keadaan Kath, memang Kath sedikit flu tetapi ada sesuatu yang lain dari diri Kath. Kath bingung menatap dokter yang mengerutkan keningnya.
"Tuan, saya ingin berbicara. Berdua dengan anda, tuan." Ucap dokter dengan sopan.
Lucifer mengangkat sebelah alisnya dan berjalan keluar dari kamar Kath mengikuti langkah kaki dokter.
"Nona, sedang hamil. Ia harus segera mengembalikan kekuatannya. Jika tidak ia akan kehilangan janinnya, ia semakin lemah dan kekuatannya akan menghilang untuk selamanya. Makluk yang memiliki darah abadi harus memiliki tubuh yang kuat. Jika tubuh seorang darah abadi tidak kuat ia akan menyerap inti tubuh makhluk itu." Ucap Dokter dengan serius.
"Nona, dalam keadaan kritis walau ia terlihat baik-baik saja." Lanjut Dokter