
Auuuuu...
Terdengar lolongan suara serigala di malam hari dan bulan purnama menyinari mereka. Mereka sedang tertidur dengan posisi Kath berada ditengah, Lucifer dan Dexter berada disebelahnya sedangkan Rix berada disamping Dexter.
Dexter tertidur dengan keadaan keringat dingin dan mengenggam tangan Kath dengan kuat, Kath terbangun karena genggaman kuat. Kath menoleh kearah Dexter yang terlihat sangat pucat.
"Dexter, Dexter." Panggil Kath berulang kali. Dexter semakin mengenggam erat tangan Kath.
Auuuuu...
Lolongan serigala di bulan purnama tidak akan berhenti sampai matahari terbit.
"Dexter, apa kau baik-baik saja?" Tanya Kath sedikit khawatir melihat wajah Dexter yang semakin pucat.
"Tidak," Jawab Lucifer.
"Tidak?" Kath mengernyitkan dahinya.
"Matanya buta disaat bulan purnama." Ucap Lucifer mencoba menjelaskan.
"Bagaimana bisa? Tetapi ia mengatakan padaku matanya seperti ini sejak ia lahir." Ucap Kath tidak mengerti.
"Tidak" Jawab Lucifer singkat.
"Tidak?" Tanya Kath yang semakin tidak mengerti.
Kath mencoba memegang kain yang menutup mata Dexter tetapi dengan cepat Dexter mengengam tangan Kath dan tersadar.
"Apakah aku menganggumu? Maafkan aku." Ucap Dexter pertama kali saat ia terbangun.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Kath yang melihat wajah Dexter masih pucat.
Dexter mengelengkan kepalanya, "Aku rasa tidak," Ucap Dexter.
Kath berinisiatif memeluk Dexter dan mengusap punggung Dexter agar ia merasa lebih tenang. "Aku sedikit trauma mendengar suara serigala." Ucap Dexter.
"Trauma?" Tanya Kath bingung.
Di siang hari yang indah ketika Dexter berumur 500 tahun, ia masih sangat kecil. Kalau dalam dunia manusia Dexter setara dengan manusia yang berumur 4 tahun.
"Dexter, kesinilah." Panggil Lucifer kecil yang melihat Dexter sedang menatap kearah tumbuhan.
"Ada apa?" Tanya Dexter kecil dengan polos.
Dexter memetik beberapa bunga dan berjalan kearah Lucifer. "Matamu sangat cantik sekali," Ucap Seorang wanita dewasa yang berjalan kearah mereka.
"Aku Dexter." Sapa Dexter dengan sopan dan memberikan setangkai bunga mawar kepada wanita tersebut.
"Lucifer, kakak dari Dexter." Ucap Lucifer yang tidak mau kalah dari Dexter.
Rix berjalan menghampiri Lucifer dan Dexter, "Aku Rix, Aku adik dari mereka." Ucap Rix sambil tersenyum dengan manis.
"Besaudara?" Wanita dewasa itu mengernyitkan dahinya.
"Iya, satu ibu tetapi beda ayah." Jawab Dexter dengan senyuman.
Wanita itu seolah mengerti ucapan Dexter ia mengusap kepala Dexter dan mencubit kecil pipi Dexter. Dexter berjalan kearah Lucifer, tetapi tidak sengaja ia tersungkur karena dahan pohon.
"Berhati-hatilah," Wanita dewasa itu mengangkat Dexter yang terjatuh dan membersihkan pakaian Dexter yang terkena tanah dengan tangannya.
"Makasih," Senyuman Dexter yang manis membuat wanita itu senyum.
Wanita itu berjalan membelakangi mereka dan membiarkan mereka bermain, "Hari ini pasti akan tiba," Ucap wanita dewasa itu sambil tersenyum.
"Sepertinya akan ada badai," Ucap Lucifer yang menatap langit dari jendela.
Dexter menatap Lucifer, sedangkan Rix memainkan jerami yang ada di dalam gubuk.
*Ahhhhhh...
Srettt...
Srattt*....
Di dalam gubuk yang mereka tempati terdengar suara sayatan pedang, hunusan pedang dan teriakan tanpa henti dari ribuan mahluk bahkan jutaan yang membuat ketiga Raja kecil sedikit takut.
Peperangan terus terjadi dari klan peri, klan werewolf, klan vampire dan klan raksasa. Sering terjadi perbedaan pendapat diantara mereka dan hari inilah hari perang itu terjadi. Hari perang terbesar dalam sejarah. Bahkan, perang ini terjadi lebih dari 3 tahun.
"Aku mulai bosan berada disini," Ucap Dexter memecahkan keheningan.
"Tetapi, diluar masih ada peperangan. Kita tidak bisa keluar dari sini." Ucap Lucifer.
Tiga tahun adalah waktu yang tidak terlalu lama bagi mereka makhluk Immortal. Mereka dapat bertahan tanpa makan dan minum selama 10 tahun bahkan lebih. Ini bukanlah apa-apa bagi mereka.
Hari ini adalah hari dimana akhir dari segalanya. Dimana semua klan menunggu kemenangan dari klan mereka masing-masing. Semua makhluk immortal semakin semangat ditambah lolongan serigala pada bulan purnama kali ini yang membuat klan serigala merasa kekuatannya bertambah. Ini sangat menguntungkan bagi klan serigala.
"Aku adalah Dexter anak dari wanita yang terkenal dengan keagungannya. Aku tidak akan tinggal diam." Ucap Dexter berdiri dan keluar dari gubuk tua.
Lucifer dan Rix mencoba menahan Dexter tetapi Dexter pergi meninggalkan mereka begitu saja. Lucifer dan Rix terus mencari Dexter ditengah peperangan tetapi pandangan mereka terhenti ketika melihat Dexter berada di pusat peperangan.
Disana terlihat, Keempat pemimpin klan sedang megeluarkan kekuatan mereka. Klan Werewolf mengeluarkan cakaran yang sangat-sangat tajam melebihi cakaran mereka biasanya. Klan Vampire mengeluarkan Gigi taring mereka yang tajam dan mata sinis mereka. Klan Raksasa yang terkenal dengan kekuatan mereka yang sangat kuat siap menyerang kapan saja. Klan peri dengan kekuatan sihirnya yang terkenal. Mereka saling menyerang dan mengarah ke satu arah, kearah Dexter.
Dekat dan semakin dekat membuat Dexter tanpa sadar menutup matanya, "BERANINYA KALIAN," Suara seorang wanita membuat semua makhluk yang berada di peperangan terhenti dan menatap kearah wanita yang sedang melindungi Dexter.
"I-ibu?" Dexter menatap kearah wanita yang melindunginya dari serangan mereka.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya wanita itu menatap Dexter dengan sinis.
"Aku berusaha mehentikan peperangan," Jawab Dexter dengan polos.
"Menghentikan peperangan? Kau hanya menghalangi peperangan." Wanita itu menatap Dexter dengan tatapan tidak suka.
Para pemimpin klan menatap wanita itu dengan sedikit takut, Wanita yang terkenal paling berkuasa di makhluk immortal dan paling ditakuti diseluruh klan.
"Karena dia sudah berani menghentikan peperangan, maka bagi siapa pun yang bisa mendapatkan kedua bola matanya yang indah maka ialah pemenang dari peperangan ini." Ucap Wanita itu tanpa memedulikan perasaan Dexter.
Dexter menatap ibunya dengan perasaan kecewa, sedih dan benci. Bagaimana bisa ibunya sendiri menawarkan matanya sebagai pemenang. Ibu yang sedari dulu ia kagum-kagumkan sangat tidak punya hati. Jika ibunya mengatakan hal itu bukan hanya keempat klan yang akan mencoba memburunya tetapi semua klan akan mengejar kemenangan. Karena kemenanganlah yang akan membuat klan itu dihormati.
"Aku bersumpah pada diriku sendiri tidak akan ada yang berhasil mendapatkan kedua bola mataku," Ucap Dexter menatap wanita yang berada didepannya dengan tatapan yang bercampur aduk.
Lolongan serigala terdengar semakin jelas dan tanpa henti, "Beraninya kau." Ucap Wanita itu.
Dexter dengan kekuatannya sendiri melukai matanya, pemimpin keempat klan, wanita yang Dexter sebut dengan ibu, Lucifer dan Rix menatap kearah Dexter dengan tatapan tidak percaya.
Lucifer dengan kecepatannya segera membawa Dexter keluar dari sana dan pergi ke gubuk tua. "Bagaimana bisa ini terjadi?" Tanya Lucifer tidak percaya.
Dexter yang sifatnya sangat lembut berubah menjadi sangat berbeda, "Aku tidak ingin mataku disembuhkan," Ucap Dexter dengan tegas.
"Tapi, kau akan selamanya tidak dapat melihat." Rix mencoba untuk menenangkan Dexter.
"Aku tidak ingin melihat kekejaman yang ada didunia ini lagi." Ucap Dexter penuh kebencian.
Dan peperangan itu berakhir ketika Dexter membutakan matanya sendiri. Tidak ada pemenang diantara setiap klan, mereka menganggap peperangan ini sebagai perang tanpa akhir.